Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 79


__ADS_3

"Menurut cerita Doni, David meninggal di tempat saat kejadian itu. Peluru tepat mendarat di jantungnya. Polisi yang berniat menembak kakinya, meleset karena pergerakan David yang tiba-tiba hilang keseimbangan" cerita Mayong. Maya terdiam menyimak.


"Tanggapan tuan James sendiri???" Bima meneguk air putih yang digenggamnya. "Sejauh ini belum ada reaksi dari Tuan James yang masih berkabung, aku rasa Tuan James juga tidak akan bertindak gegabah kali ini. Melihat kondisi Samudera yang mati suri" jelas Mayong. Bara hanya mengangguk.


"Kak, kenapa nggak kamu akuisisi Samudera Group aja? Saya rasa ini waktu yang tepat" Bara menatap serius wajah kakaknya.


"Terus nanti kamu yang pegang gitu?" Mayong menunggu reaksi Bara.


"Yaelah Kak, untuk apa aku punya kakak yang pintar. Rugi dong kalau aku ikut-ikutan. Lagian kakak juga tahu kesibukanku di rumah sakitmu" Bara mencoba menolak.


"Kalau gitu nggak akan aku akuisisi tuh perusahaan. Malah nambah dong tanggung jawabku" jelas Mayong. Samudera yang awalnya sudah ada di ujung tanduk, saat ini sudah dinyatakan sebagai perusahaan pailit. Karena tidak mampu membayar utang piutangnya. Ditambah dengan kematian David, Samudera Group terancam bangkrut.


"Ayolah Bar, aku yakin kamu mampu. Bantulah kakakmu ini" bujuk Mayong. "Aku nggak akan tergoda bujuk rayumu Kak. Dari awal kan aku sudah bilang nggak tertarik ke dunianya kakak dan papa" tolak Bara. Maya menyela, "Kan sebagai CEO, nggak musti datang tiap hari kak Bara? Nyatanya suamiku juga betah di rumah sakit saat ini. Bahkan sempat juga ngerjain istrinya yang cemas saat belum sadar" sindir Maya. Mayong terkekeh, "Istriku merajuk ya. Sini peluk dulu". Mayong memeluk istrinya.


"Terus...terus saja mesra-mesraan" omel Bara. "Kali ini kau harus ikut membantuku Bar, apalagi bulan depan aku mau liburan sama Maya dan Raja. Kamu gantiin sementara posisiku" Mayong masih memeluk sang istri.


"Kan ada Doni, lagian tiap hari dia juga laporan kan ke kakak? Aku musti ngapain? Nggak mau ah. Ntar waktuku sama Yasmin jadi berkurang donk" Bara masih menolak.

__ADS_1


"Lagian, luka aja belum kering sudah ngrencanain liburan. Ada-ada saja" gumam Bara.


"Aku yang liburan kenapa kamu yang sewot" omel Mayong. "Sudahlah kak, aku pergi dulu. Mau visite. Percuma ngomong sama kakak, ujung-ujungnya nanti aku jadi pihak yang teraniaya" Bara melangkah keluar. Mayong melempar sesuatu ke arah Bara. Tapi tidak tepat sasaran karena Bara buru-buru menutup pintu. "Syukurin nggak kena...ha...ha...." teriak Bara dari luar ruangan itu.


"Sayang, istirahat dulu. Kan lagi pemulihan. Emosi terus dari tadi" Maya menata tempat tidur untuk suaminya. "Capek aku yank, suruh tiduran terus" Mayong yang terbiasa dengan mobilitas tinggi merasa jenuh.


"Jangan ngeles, kemarin aja pura-pura koma betah kok" Maya cemberut. Mayong tertawa melihat wajah istrinya. "Marahpun tetap cantik" rayu Mayong.


Terdengar ketukan pintu dari luar. Maya membukanya. Ternyata yang datang para sejawat Maya. Ada dokter Budi, dokter Anita dan dokter Alex beserta kru kebidanan. Mulai poliklinik sampai ruanh rawat inap semua komplit.


"Eh...eh...kok rombongan. Kalian mau ke mana?" Maya basa basi. "Mau jenguk tuan Mayong suaminya dokter Maya, beliau ada?" gurau dokter Budi. Semua tertawa. Tapi melihat ekspresi Mayong yang datar, semua jadi terdiam.


"Makasih" Mayong masih menunjukkan ekspresi datarnya.


"Maaf ya tuan-tuan dan nyonya-nyonya, monggo silahkan duduk di ruang depan itu. Incip-incip dulu yang ada. Makasih atas doa-doanya" Maya merasa kikuk karena ekspresi dingin sang suami.


"Kalau begitu kita pamit aja, semoga tuan Mayong lekas membaik" tutup dokter Budi.

__ADS_1


"Terima kasih" Maya tersenyum ke arah mereka.


Seusai Maya menutup pintu, "Dasar es balok" gumamnya. "Sayang es balok ini suamimu lho" Mayong sudah beralih ke mode ramahnya. "Yank, kalau ke teman-temanku kalau bisa mode datarnya diganti dengan mode ini dong" Maya menoel wajah sang suami. "Aku kan nggak kenal dekat dengan mereka sayang" Mayong ngeles. "Makanya kenalin dong" sungut Maya. "Baiklah, tapi kapan-kapan aja ya ngenalinnya. Aku mau istirahat saja" Mayong menarik selimutnya.


"Sayang sini, temenin" rajuk Mayong sengaja bergeser agak ke tepi, kasih tempat buat sang istri. "Jangan ngeles ah, mana cukup bednya kuat untuk kita berdua" tolak Maya.


"Jangan salah ya, aku impor kualitas terbaik ini. Lupa ya, kalau Gayatri Group yang nyediain semuanya. Ayo sini lekaslah" Mayong terkekeh. Maya tak ada alasan lain, selain menuruti apa kata Mayong. Maya berbaring di samping suami. "Dasar suami sultan, mana bisa ada penolakan" gumaman Maya masih terdengar di telinga Mayong. "Istriku ini ratunya" Mayong berbalik menghadap Maya. Maya malah tertidur duluan daripada Mayong. "Maaf ya sudah buat kamu kuatir. Terima kasih sudah mau menjadi pendampingku" elus lembut Mayong ke kepala sang istri. Terdengar dengkuran halus Maya. Maya yang kurang istirahat saat Mayong berada di ICU terlihat letih memang. Mata pandanya semakin kelihatan. Mayong pun menyusul Maya yang sudah terbuai ke alam mimpi.


Mayong diperbolehkan pulang oleh dokter Bagus. "Terima kasih dokter, atas segala bantuannya. Maaf sedikit merepotkan" ujar Mayong yang mulai merubah sedikit wajah datarnya. Sesungging senyum tersemat di bibir Maya, es baloknya sedikit mencair karena ucapannya kemarin. "Saya malah ikut bangga Tuan. Tuan yang notabene seorang pengusaha sukses, masih memberi kepercayaan terhada saya untuk menangani anda" ujar dokter Bagus. Mayong hanya tersenyum. Mana bisa aku memilih dokter, sementara kondisiku sendiri saat itu antara ada dan tidak. Batin Mayong.


"Dokter Bara yang merekomkan anda saat itu dokter. Terima kasih sekali lagi atas segala bantuannya" ucap Maya menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Baik tuan Mayong dan dokter Maya, saya undur diri" pamit dokter Bagus. Mayong dan Maya mempersilahkan. Kedua penjaga berdasi yang berada di luar pintu, masuk untuk membantu sang tuan dan nyonya berberes. Mayong dan Maya kembali ke mansion. Saat di mobil Mayong menelepon seseorang, "Don, pulang kerja langsung mansion. Kutunggu laporanmu" perintah Mayong. Tanpa menunggu jawaban Doni , Mayong menutup telponnya. Bos mah bebas. Sementara yang ditelepon di ujung sana, segala macam umpatan sudah keluar semua. Doni mengirim pesan buat sang tuan, "Tuan, Tuan Akio ingin membuat janji temu dengan anda". Langsung centang biru. "Jadwalkan secepatnya" perintah di pesan itu. Cepet amat responnya, batin Doni.


"Sayang, ponsel mulu yang dilihat. Sekarang waktunya pemulihan. Nggak boleh mikir kerjaan dulu" advis sang istri. "Doni ngirimin pesan ini" tunjuk Mayong melihatkan layar ponselnya. "Pasien ngeyelan. Istirahat. Ntar dilanjut kalau Doni ke rumah" Maya mengambil ponsel Mayong dan menaruhnya di dalam tas. Mayong menuruti sang istri, daripada nanti terlanjur keluar tanduknya akan lebih susah merayunya..he...he....


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


#to be continued#happy reading 😊


mohon like, komen, vote nya yaaa. makasih


__ADS_2