Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 42


__ADS_3

Keluar area parkir rumah sakit, Maya bertemu dengan Bara. Alamat kena ledekan lagi nih, batin Maya. Maya menghindari Bara, dengan berjalan cepat Maya berlalu menuju poli kandungan.


"Hayo, buru-buru mau kemana?" Bara menepuk punggung Maya.


"Eh..Kak Bara...ya ke poli kandunganlah. Emang mau ke mana?" Maya balik bertanya.


"Yaaa..barangkali mau ke pantai denganku?" Bara tertawa.


"Yeeee...ogah" Maya menimpali.


"Jelaslah ogah, mana mau sama aku. Maunya kan sama kakakku?" Bara berlari sambil tertawa menjauhi Maya sebelum kena sentil Maya. Semua penghuni rumah sakit sudah paham betul hubungan dokter Bara dan dokter Maya.


"Pagi Nin" sapa Maya ketika masuk ke ruangan poli kandungan.


"Pagi, dokcan. Segar sekali hari ini, dua hari libur kayaknya auranya tambah gimana gitu?" ujar Nina.


"Dokcan? Maya tertawa.


"Yaelah dok, dokcan dokter cantik" Nina menjelaskan.


"Hidup juga perlu santai dok, kesehatan perlu dijaga, kalau perlu secepatnya cari pasangan " imbuh Nina.


"Lama-lama kayak emak-emak kamu Nin" celoteh Maya.


"Dok, tuan Mayong itu cakep lho" Nina sedikit banyak memahami gosip dokternya itu. Maya hanya tersenyum menanggapi Nina, "Kita mulai aja poli nya".


"Oke dok, kayaknya pasien hari ini lumayan antriannya" ujar Nina.


Maya duduk menunggu pasien dipanggil oleh Nina. "Nyonya Bunga, silahkan masuk" panggil Nina.


Pasien itu duduk di depan Maya. Seorang wanita cantik dengan penampilan elegan.


"Selamat pagi dokter" sapanya. Ny Bunga menceritakan keluhannya, bahkan karena merasa nyaman dengan Maya ditambah dengan sesi curhat. Maya hanya tersenyum menanggapi curhatan nyonya Bunga. Bagi seorang dokter obgyn, sudah biasa bagi Maya pasiennya curhat. Bahkan banyak juga yang berkeluh kesah tentang rumah tangganya. Semua dinikmati oleh Maya. Anggap saja sekalian belajar berumah tangga..he..he..


"Nin, selesai poli aku visite pasien rawat inap ya. Hari ini aku belum ada jadwal operasi" Maya pamitan ke Nina setelah menyelesaikan pasien poli terakhirnya.


"Eh iya Nin, kamu makan siang di mana?" langkah Maya terhenti sebelum membuka pintu di poli.

__ADS_1


"Aku pesen online nasi padang saja dok" Nina mulai membuka aplilasinya.


"Aku sekalian ya Nin, habis visite aku balik sini. Uangnya kutinggal di meja ya, buat kamu sekalian. Makasih"


"Oke dok. Sering-sering aja dok kayak gini" Nina tersenyum mengacungkan kedua jempolnya.


Maya melanjutkan ke ruang rawat inap kebidanan dan kandungan untuk visite.


Waktu mau balik ke poli, di koridor rumah sakit ketemu dengan Bara.


"Kita emang berjodoh May" Bara tertawa.


"Jodoh..jodoh..apaan, paling kalau ketemu kakak ngebully aku" gerutu Maya.


"Makan May, resto depan yukkk. Mumpung longgar nih" ajak Bara.


"Nggak ah, aku mau balik ke poli aja. Tadi terlanjur pesen nasi padang barengan Nina, bidanku di poli" terang Maya.


Bara tetap mengikuti Maya, "Kok ngikutin kak, katanya mau ke kantin? Maya menoleh merasa diikutin Bara.


"Aku juga mau pesen nasi padang" Bara menunjukkan ponselnya yang menunjukkan sebuah aplikasi online warna ijo-ijo.


Sesampai di poli, pesenan Maya dan Nina datang. "Tungguin lah May, mba Nina. Pesenanku bentar lagi datang" ucap melas Bara.


"Oke. Tapi kan kakak makannya cepat, ntar nyusul aja ya" Maya membuka kotak makanannya, begitu juga Nina. Bara manyun. Wah, ngerjain Maya bagus juga nih, ide jahil Bara muncul. Bara mengirim pesan ke Mayong, "Kak aku mau video call, tapi jangan bersuara yaa. Pasti kakak suka" pesan langsung centang dua biru. "Oke" balas Mayong. Bara melakukan video call. Mayong yang melihat Maya makan dengan lahap lewat ponsel Bara hanya tersenyum. Bara tidak bisa menahan tawa dan Maya menatapnya, "Kak, ganggu konsentrasi orang makan aja"


"Lihat nih" Bara menunjukkan layar ponselnya.


Maya yang melihatnya, mengejar Bara dan menimpuknya. "Kakak kurang kerjaan" gerutu Maya. Mayong ikut tertawa melihat kekonyolan Bara menggoda Maya.


"Kakak berdua jelek, ngeselin" Maya manyun. Nina yang duduk di samping Maya, baru melihat kekonyolan dokter idola se rumah sakit ini. Dokter Bara, dokter yang dingin, jarang bicara dan jarang tersenyum.


"Wah, ternyata dokter Bara bisa juga bersikap konyol. Mau lihat senyum dokter Bara aja, biasanya nunggu momen langka", ujar Nina.


"Apa Nin, momen langka????" Maya merasa heran dengan Nina. Bara yang jahilnya tiada tanding kok bisa dibilang senyumnya adalah momen langka.


"Ku jelasin ya Nin, Kak Bara itu kalau ada lomba tingkat kejahilan pasti dapat juara satu" Maya masih cemberut merasa dikerjai Bara.

__ADS_1


Terdengar suara Mayong di ponsel Bara, "Kalian kok malah ramai sendiri. Kasihan tuh nasi sama rendang dianggurin"


"Eh, eh...Kakak masih di situ ya? Kirain sudah ditutup sama Kak Bara" Maya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Malu sama Mayong.


Pintu poli diketuk, ternyata pesanan Bara datang.


"Kak, kita lanjut makan ya? Kakak lanjutin aja rapatnya. Kalau ditinggal terus, ntar nggak bisa buat nambah bonusku lho"


"Bentar...bentar..jangan tutup dulu. Maya mana?" cegah Mayong. Bara menyerahkan ponselnya ke Maya, dia sendiri mulai makan.


"Iya Kak" Maya di depan menghadap ke ponsel Mayong.


"Rabu sore aku jemput, bilang pak Amin nggak usah nungguin kamu kerja, suruh langsung pulang aja" ucap Mayong di sana.


"Mesthi begitu? Tuan pemaksa" Maya manyun.


"Nggak usah manyun, kayak anak kecil aja" kekeh Mayong.


"Sudah belum Kak, kututup ya???" Maya menawar.


"Dilarang menutup telpon, sebelum menjawab pertanyaanku tadi" paksa Mayong.


"Iya..iya...baiklah.." Maya mengiyakan saja, daripada drama kejahilan berlanjut. Bara yang menikmati makanannya ikut tertawa.


"Puas...puass..." Maya menirukan gaya Tukul Arwana yang sering dia lihat di TV.


Mayong dan Bara terbahak-bahak. Mayong menutup panggilan Bara setelah mendapat jawaban Maya. Bara pun ikut keluar menuju ruang ICU untuk visite pasiennya.


"Dok, kok bisa akrab banget sama dokter Bara?" akhirnya suara Nina terdengar setelah menjadi penonton drama pembulian oleh kakak adik kepada Maya.


"Mereka kok bisa ganteng-ganteng banget ya dok? Sungguh ciptaan Allah yang sempurna" puji Nina.


"Kasih ke Nina satu aja dok". Maya memegang kening Nina, "nggak panas kok". Maya tertawa melihat muka Nina yang bengong.


Perfect mengalun lagi dari ponsel Maya. Ruang Bersalin calling, Dok, ijin konsul. Pasien Ny B yang tadi diinduksi, sudah pembukaan lengkap. Dan dicoba dipimpin selama dua jam kepala tidak turun dokter. Denyut jantung di bawah normal" suara bidan di ruang bersalin.


"Siapkan operasi aja mba, aku langsung menuju ke sana. Tolong keluarga di konseling dan edukasi dulu ya!!!" Maya pamit ke Nina. Nina mengangguk saja. Tak lupa Maya nelpon pak Amin, memberitahu kalau mau operasi dulu sebelum pulang.

__ADS_1


πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊβ˜•β˜•β˜•β˜•β˜•


#secangkir kopi sangat nikmat saat hujan# kalau cuma up 1 part, mohon othor dimaafkan# πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2