
Maya memandang takjub monitor di depannya. Demikian juga ayah Abraham. Sementara Mayong yang sedang menggendong Raja mendekati sang istri, diikuti papa Suryo dan mama Clara. "Yank, terlihat tiga embrio di rahimku" ujar Maya. Mayong masih belum ngeh dengan penjelasan Maya. "Ayo duduk yang tenang kalau mau kujelaskan" pinta ayah Abraham. Seperti murid yang diperintah oleh gurunya, ketiga orang itupun menuruti permintaan ayah Abraham. Ayah Abraham sampai tertawa melihat kepatuhan ketiganya.
"Haisss, ayo lekaslah Abraham. Ada apa dengan rahim menantuku. Semuanya baik-baik saja kan?" Mama Clara sedikit memelototi ayah Abraham. "Sabar dong calon nenek empat cucu" ujar Abraham. Papa Suryo mulai mencerna ucapan besannya, "Apa maksudmu? Menantuku hamil kembar?" cerca papa Suryo. "Eit..tunggu-tunggu. Terus apa maksudnya ada embrio tiga?" sela Mayong. "Begini tuan besar dan nyonya, serta tuan muda..." basa basi ayah Abraham. Sampai papa Suryo geregetan. Sementara ayah Abraham puas juga mengerjai besannya. "Kamu akan menerima cucu sekaligus tiga. Karena masih trimester awal, aku sarankan Maya istirahat aja dulu. Kamu tau kan May, kalau kehamilanmu ini termasuk beresiko???" Abraham memandang Maya. Maya tau kalau kehamilannya memang beresiko dari awal, jarak kehamilan yang terlalu dekat, Raja lahir operasi. Apalagi ini mengandung kehamilan triplet. "Maksudnya calon cucuku bertambah tiga langsung??" ucap mama Clara berbinar. Mayong masih bengong mendengar penuturan ayahnya. Setelah tersadar langsung dia rengkuh istrinya. Mayong menangis terharu dengan kebahagiaan yang diterima saat ini.
"Umur kehamilan masih sepuluh minggu ini. Tapi lihat bayinya sudah terlihat denyut jantungnya semua. Mayong jaga baik-baik istrimu dan calon bayi-bayinya" ujar ayah Abraham. Mayong mengangguk sambil mengusap air mata kebahagiaannya, "Iya Yah". "Maya, kamu tahu kan apa yang harus diperbuat?" ayah Abraham memandang terharu juga ke putri satu-satunya itu. "Sudah, sudah kok malah pada sedih sih?" tukas Papa Suryo. "Tapi boleh kan Yah, kalau hanya praktek aja? Aku janji kok kalau tidak ambil tindakan di ruang operasi lagi" Maya mencoba merayu sang ayah untuk mengijinkannya praktek.
__ADS_1
Abraham menatap menantunya. "Nggak..nggak...ayah bilang kalau kamu harus istirahat yank" tanggap Mayong. Maya mencebik mendengar ucapan Mayong. Akhirnya dengan sedikit perdebatan dengan istrinya, Mayong akhirnya mengijinkan Maya praktek. Tapi bukan di Suryo Husada lagi. Tapi di praktekan ayahnya. "Nanti untuk surat ijin praktekmu biar diuruskan Doni" lanjut Mayong. Maya memeluk suaminya, "Makasih yank". "Aku tau, aku suamimu terbaik kan??" seloroh Mayong tersenyum.
Rumah sakit Suryo Husada merasa kehilangan dengan Maya yang mengundurkan diri, "Sudilah mampir dokter Maya. Kita yang di sini tetap keluarga loh" ujar pak Bambang. "Baik pak Bambang, terima kasih semuanya. Mohon maaf juga bila selama di sini ada hal-hal yang kurang berkenan buat pak direktur, juga buat kolega-kolega tetap semangat" ulas Maya. Nina tergugu di pojokan. Sudah tidak menjadi asisten dokter cantik lagi, "Hei Nin, ngapain nangis. Kita kan hanya pisah tempat kerja aja. Kalau longgar mampirlah ke praktekanku ya" Maya menepuk bahu Nina. "Bener boleh dokter, ntar aku dianggap tamu yang tak dianggap di sana" suara Nina sedikit serak. Semua yang di sana tertawa mendengar ucapan Nina.
Bara yang datang sedikit terlambat, "Banyak istirahat May, jaga calon-calon keponakanku" nasehat Bara. "Makasih kak, aku pulang" pamit Maya. "Mau barengan kah? Aku juga mau jemput Yasmin di mansion?" Bara menawari. "Emang mau balik apartemen kah?" tanya Maya dan dijawab anggukan Bara. "Wah, sepi dong mansion?" tukas Maya. "Aku nunggu suamiku aja kak, bentar lagi datang" lanjut Maya. "Wah, ada yang tambah diposesifin nih?" celetuk Bara. Maya tertawa. "Ya udah, aku duluan ya" Bara berlalu. Tak lama Mayong muncul di ruang pertemuan itu. Pak Bambang memang sengaja mengadakan sedikit acara perpisahan untuk dokter Maya. Bukan hanya karena istri seorang tuan Mayong, tapi karena dedikasi baik Maya selama di Suryo Husada. Dengan basa basi sebentar, Mayong dan Maya pulang menuju mansion. "Yank, apa baiknya kita di mansion papa dulu aja ya? Raja juga biar ada yang mengawasi. Kamu juga bisa istirahat dengan tenang" jelas Mayong. "Papa nggak keberatan yank, mansion kita kosong dong" tukas Maya. "Kalau papa sama mama malah seneng tuh direpotin. Ntar kita gantian ngrepotin ayah juga..he..he... Kalau mansion selama ada bi Inem sama pak Amin pasti aman. Beberapa pengawal juga biar gantian nginap di sana. Gampanglah, biat Doni atur semua" ulas Mayong dengan tetap fokus menyetir.
__ADS_1
Abraham mengamati Maya, "Kaki mu bengkak Nak, tanganmu juga kelihatannya begitu??" "Bener Yah, sudah beberapa hari ini mulai bengkaknya" imbuh Mayong. "Tekanan darah sama protein urine sudah kau periksa belum?" selidik ayah Abraham. Dua hari kemarin sih tekanan darah ku berkisar 130an Yah, kalau urine belum sempat periksa" tukas Maya. "Ayah bawa alatnya, sekalian aja kamu periksa. Smoga aja tidak seperti yang ayah duga" tegas Ayah Abraham. Mayong membantu istrinya untuk berdiri. Raja pun akhir-akhir ini sedikit rewel. "Pa...pa....atu ituuttt (Papa aku ikut)" Raja berjalan hendak mengikuti papa mamanya. "Raja sama Oma aja, yuk main" ajak mama Clara. "ain pa omaa??" Mama Clara menggendong cucunya dan mengajaknya ke taman belakang main mobil-mobilan. Sementara di kamar, Maya memasukkan alat yang diberikan ayah Abraham. Menunggu hasil dengan sedikit berdebar. "Emang ada apaan sayang, kenapa musti di cek urine segala? Kayak telat haid aja" tutur Mayong duduk di samping istrinya. "Ini bukan untuk tes kehamilan yank, tapi untuk melihat keadaan protein dalam urine ku tadi" jelas Maya. Mayong semakin tak paham. Hasilnya memperlihatkan positif 2.
"Sayang, tolong panggilin ayah ke sini ya??" pinta Maya. Mayong mengambil ponsel dan mendial nomor ayah Abraham, "Yah, Maya memanggil ayah kemari" ucap Mayong. Papa Suryo dan ayah Ahraham datang bersamaan, "Gimana hasilnya?" tanya mereka bersamaan juga. Maya menunjukkan stik alat yang dibawanya. Papa Suryo yang sudah mengerti karena sudah dijelaskan sebelumnya oleh ayah Abraham, "Lekas bawa Maya ke rumah sakit Mayong" sekarang papa Suryo pun jadi kakek siaga.
"Loh, kan belum waktunya Yah? Kenapa musti sekarang?" seloroh Mayong belum paham. Maya hanya terdiam, karena pening yang dirasa beberapa hari sebelumnya dia anggap hanya sebagai pusing biasa. "Lekaslah, nanti kujelaskan sambil jalan" tegas Ayah Abraham. Mayong, Maya dan ayah Abraham berangkat dengan satu mobil disopiri oleh Doni yang pagi itu sengaja menjemput sang bos lebih pagi karena ada rapat dengan Nayaka.ind.
__ADS_1
to be continued, happy reading 🤗💝