Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 84


__ADS_3

Mayong memandangi layar ponselnya. "Ada apa ya. Biasanya asisten tuan Akio pasti menghubungi Doni duluan?" gumamnya. "Angkat aja lah Kak, pasti penting" sela Bara.


"Halo Tuan Akio, apa kabar. Sudah mendarat kah di Jepang?" sapa Mayong mengangkat telepon.


"Terima kasih Tuan Mayong, saya barusan keluar bandara" ujarnya.


"Ada apa Tuan, apa ada masalah" tanya Mayong langsung ke inti.


"Begini tuan Mayong, sebaiknya kita percepat saja proses akuisisi Samudera" saran tuan Akio.


"Atas pertimbangan???"


"Saya ada informasi, tuan James menggerakkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari penanam saham di Samudera. Sementara sebagian besar dewan direksi lain tidak menyetujuinya, karena dirasa Samudera sudah benar-benar kolaps. Dan ingin segera menjualnya, daripada terus merugi" jelas Tuan Akio.


"Baik tuan Akio, akan saya pertimbangkan. Besok saya kabari. Terima kasih" ucap Mayong.


"Baik tuan Mayong, saya tunggu kabarnya" tuan Akio menutup telponnya.


Tatapan papa Suryo dan ayah Abraham ke arah Mayong. Sementara Bara sudah menyusul para kaum wanita di belakang. Bara kangen dengan keponakan emesnya..he..he..


"Menurutku, kamu beli aja jika saham-saham yang ingin dijual itu melebihi lima puluh persen. Paling nggak Nayaka sudah dominan di Samudera" usul Papa Suryo. "Ingat Mayong, James itu licik. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan perusahaannya" tambah papa Suryo.

__ADS_1


"Ingat kalau James memang tidak berniat menjual sahamnya, otomatis dia juga masih ada saham di sana. Kamu atau Bara akan semakin sering ketemu dengannya" ayah Abraham mengingatkan.


"Sebaiknya, kamu tekan pihak Samudera. Biar mereka menjual semua sahamnya. Kalau tidak dijual semua mendingan Nayaka mundur aja. Uang kamu sama Akio cukup kan..???" papa Suryo merubah usulannya yang tadi dengan sedikit bergurau.


"Jadinya gimana nih, kubeli semua atau tidak sama sekali????" tegas Mayong. "Kalau papa mendingan kamu beli saja semua. Kamu rombak total manajemen di Samudera" tambah papa Suryo. "Aku setuju dengan papamu Mayong, kalau masih berurusan dengan James mendingan tidak usah" ayah Abraham menimpali.


"Oke, nanti saya sampaikan tuan Akio untuk negosiasi secepatnya" ucap Mayong mengakhiri pembicaraan serius ini.


Mama Clara masuk, tepat saat Mayong berhenti bicara. "Pasti ngomongin bisnis. Apa nggak ada tema lain?" seloroh mama Clara menuju meja makan.


"Pa, habis ini ajak semua makan malam. Aku siapin dulu" lanjut mama. "Baiklah istriku" seloroh papa Suryo bergurau. Mayong menyusul sang putra ke taman belakang. Dilihatnya di sana Raja sedang latihan berdiri. Raja yang bolak-balik terjatuh, malah tertawa lebar sambil menunjukkan gigi seri depannya yang baru tumbuh dua itu. "Ih, gemesnya" Bara menciumi keponakannya itu. Kehadiran Raja kecil memberi warna di keluarga Suryolaksono.


"Sayang, Raja sudah selesai makannya?" Mayong ikut gabung di sana. "Sudah, tadi lahap banget disuapin oma" tutur Maya. Raja merangkat, berusaha menggapai papanya. "Sini anak papa" Mayong menggendong Raja.


"Ngapain nanyakan itu, bukannya di sana sudah kutambah satu lagi dokter obgynnya" tandas Mayong.


"Benar Kak, tenaga bertambah pasien juga bertambah. Sementara ada dokter obgyn satu yang diiket kenceng sama suaminya" sindir Bara.


"Biarin, suka-suka gue" jawab Mayong.


"May, dokter Budi sampai kewalahan ngatur jadwalnya" tambah Bara memprovokasi.

__ADS_1


"Kalau dokter Budi kewalahan, pasti sudah njapri aku kak" elak Maya.


"Heiii...mana dia berani, nyolek istri bosss. Bisa dipecat dia nanti ha...ha..." provokasi Bara berlanjut.


"Sudah...sudah...ayo makan. Lagian Maya minggu depan sudah mulai aktif" Mayong menghentikan provokasi Bara.


"Nggak usah ngurusi kesibukan istriku, Yasmin tuh bilangin suruh ngurangi kesibukannya juga." kilah Mayong.


Pagi hari di Dirgantara group, proposal kerjasama dari Nayaka sudah diteliti Mayong. Tuan Akio sendiri juga setuju untuk membeli keseluruhan saham Samudera. Draft kerjasama sudah disiapkan Doni, dan sudah mengirimkan email ke asisten tuan Akio. Tuan Akio ingin bergerak cepat tapi tetap hati-hati. Di ruang kerjanya, Mayong sedang melakukan zoom meeting dengan tuan Akio. Doni juga berada di sana. "Baiklah tuan, aku akan secepatnya mengutus orang kepercayaanku untuk mengadakan pertemuan dengan pihak Samudera. Untuk kerjasama yang dikirim tuan Doni, aku mengikuti apa perintah tuan besar Mayong...he..he..." Tuan Akio sedikit bercanda. "Baiklah tuan Akio, semoga lancar dengan pihak Samudera. Saya hanya ikut mendoakan saja semoga lancar" ucap Mayong menutup zoom meeting pagi ini.


Sementara di mansion, ponsel Maya berbunyi. "IGD kebidanan????". Maya segera menggeser tombol hijau, "Halo, dengan dokter Maya".


"Maaf dokter Maya, saya menyela acara cutinya. Saya bingung mau konsul dengan siapa. Dokter Budi sekarang juga lagi cito operasi pasien eklampsi dilanjut histerektomi ini. Dokter Alex sudah ditunggu pasien poliklinik bejibun. Dokter Anita ijin sakit dokter" jelas bidan itu sebelum konsul pasiennya. "Iya..iya...pasien apa mba, tolong jelasin" Maya legowo menerima konsulan. Tapi belum tentu dengan sang suami..he..he..


"Begini dokter, nyonya "B" dengan post lahir spontan. Terjadi robekan derajat empat. Karena bayi besar dokter, bayi lahir dengan berat 4,5 kilogram. Perdarahan aktif dari luka" jelas bidan jaga itu. "Baik mba, untuk sementara luka ditekan dengan kasa betadin ya, saya siap-siap". Maya segera bersiap. Untung sudah mandi tadi pagi, batin Maya. Tanpa polesan make up Maya langsung turun. Tak lupa pamitan dengan Raja yang bermain dengan Rani. "Mba aku tinggal bentar ke rumah sakit ya". Pak Amin sudah stay di garasi bersih-bersih mobil. "Pak Amin, tolong antar aku ke rumah sakit bentar ya" pinta Maya. "Baik nyonya" pak Amin segera menyalakan mobil. "Lekas ya pak Amin" lanjut Maya. Dijawab anggukan pak Amin.


Maya menelpon suaminya tapi tidak diangkat. Maya mengirimkan pesan, ijin untuk pergi ke rumah sakit. Para pengawal berdasinya tanpa diminta tetap mengikuti mobil yang dibawa pak Amin. Sampai di rumah sakit, Maya buru-buru turun melangkah menuju ruang bersalin. Saat melewati poliklinik kandungan memang benar-benar antrian bejibun. Dokter Alex memang idola para ibu-ibu muda, batin Maya tersenyum.


Sesampai di ruang bersalin, Maya segera mencuci tangan. Tak lupa memakai alat pelindung diri sebelumnya. Maya memeriksa kondisi luka setelah memakai sarung tangan. "Benar mba, ini memang ruptura totalis. Boleh saya minta kateter. Siapkan obat anesthesi lokal dan alat-alat hectingnya ya" pinta Maya. "Baik dokter" bidan dengan cekatan menyiapkan alat yang diminta Maya. Maya melakukan jahitan lapis demi lapis dengan teliti, pasien yang obesitas sedikit menyulitkannya. Setelah selesai melakukan penjahitan, darah mengalir cukup deras dari jalan lahir. "Mba, pasien ini pre syok. Cepet periksa tekanan darah dan nadi. Infus langsung guyur saja, tambahkan injeksi untuk menguatkan kontraksi" tegas Maya. Setelah dilakukan penatalaksanaan, ternyata uterus tidak mau berkonraksi. "Mba, suaminya suruh ke sini. Cepat!!!!" perintah Maya. Perdarahan pasca lahir harus segera cepat tertangani, batin Maya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


to be continued, happy reading 😊


__ADS_2