
Mayong sampai di kos Maya. Mobilnya terpaksa di parkir di pinggir jalan, karena akses masuk gang menuju kosnya lumayan sempit. Mayong mengiringi Maya yang berjalan di depannya.
"Jauh May?" Mayong tetap mengekori Maya.
"Nggak kok, lima puluh meteran lah?" imbuh Maya.
"Jadi di gang ini, loe diculik?" Mayong melihat sekelilingnya yang remang-remang.
"Iya kak, waktu penculikan itu lampu yang di sini mati" Maya tetap berjalan.
Sampai di kos an, Maya membuka handel pintu. Mayong melongok ke dalam. Hanya ada ruang sempit yang disekat jadi dua, depan hanya ada kursi sederhana. Mungkin ruang satunya untuk tempat tidur. Sederhana sekali hidupmu May, batin Mayong. Padahal menjadi dokter spesialis, untuk membeli apartemenpun Maya pasti mampu. Mayong duduk di kursi kamar Maya.
"Kak, aku beberes dulu yaa. Mau kubuatkan kopi atau teh" tawar Maya.
"Kopi aja dech, sedikit gula" Mayong mengiyakan.
"Nggak pahit kak, sedikit gula?" Maya memanaskan air di heater, biasalah anak kos semua serba sederhana.
"Kan, manisnya sudah ada di kamu May" Mayong menggombal.
Maya tersipu, "Sudahlah sambil nunggu air panas, aku beres-beres dulu". Maya berlalu. Mayong tersenyum simpul. Ya, Mayong mencoba membuka hatinya setelah sebelumnya dikhianati Jelita. Sosok Maya yang sederhana, dan tidak neko-neko sedikit banyak mulai mempengaruhi kehidupan Mayong. Apalagi kalau ketemu Bara di mansion, tidak pernah absen Bara cerita tentang Maya. Meski Bara sedikit hiperbola kalau cerita tentang Maya. Ucapan-ucapan Bara sedikit banyak meracuni otak Mayong..ha..ha...
"Kak, ini kopinya" Maya datang membuyarkan lamunan Mayong.
"Eh iya" Mayong sedikit tergagap. Mayong mulai menyeruput kopinya. "Hah...hah...panas May" Mayong kepanasan.
"Ih..ya jelas lah panaslah Kak, kan baru jadi" Maya nepuk jidatnya. Mayong meniup-niup mulutnya, lidahnya rasa terbakar.
"Nih, air putih. Cepet diminum, biar bisa ngurangi rasa panasnya !!!" Maya merasa aneh aja, seorang CEO seperti Mayong bisa juga melakukan hal konyol. Maya tersenyum sendiri.
Maya selesai beberes. "Ayo Kak, pamitan ke ibu kos ku dulu", ajak Maya.
Mayong mengikuti Maya. Rumah ibu kos berada di seberang jalan. Barang-barang yang hanya dua koper, dibawakan Mayong. Setelah pamitan, mereka balik ke kediaman tuan Abraham.
"May, boleh nanya nggak?" Mayong membuka suara.
"Apaan kak, asal jangan nanya tentang dalil phytagoras? Aku sudah lupa semua..ha..ha..." Maya tertawa. Mayong ikut tertawa.
"Ada-ada saja kamu May? Nggak, kakak itu cuma mau nanya, kenapa kamu milih tinggal di kos padahal untuk nyewa apartemen pasti kamu mampu lah?" tanya Mayong. Mayong berasumsi, gaji Maya di rumah sakit pasti lebih dari cukup, jasa medis per bulan. Belum lagi kadang sore masih menyempatkan praktek di sebuah apotik.
__ADS_1
"Secara keamanan, apartemen lebih terjamin May" Mayong menambahkan.
"Aku tidak terbiasa seperti itu kak, apartemen sepi. Kalai di kos, lebih rame dan murah..he..he..." jawab Maya asal.
Itulah yang disukai Mayong, kesederhanaan. Kebanyakan wanita suka akan kemewahan, itu tidak berlaku untuk seorang Maya. Sebenarnya Mayong tau, sebagian besar gaji Maya dikirimkan ke panti asuhan "Asih". Tapi Mayong tidak ingin membahasnya.
Sampailah mereka di kediaman tuan Abraham. Mama Clara dan papa Suryo ternyata masih di sana. Tidak tau apa yang mereka obrolkan. Tapi yang pasti, papa Suryo dan Om Abraham betah sekali ngobrol kalau sudah bertemu.
"Ayo Nak, kutunjukkan kamarmu!!" Abraham menyambut Maya. Mayong mengekori di belakang membawa koper-koper Maya.
"Kamarmu di sini ya, sebelah itu kamar ayah. Jangan sungkan ini juga rumahmu" hawa keharuan masih terasa di sana. Maya hanya mengangguk.
Mayong mendorong koper ke dalam kamar.
"Saya bantu beres-beres Nona" Bi Inem datang di waktu yang tepat. Bi Inem berkaca-kaca memandang wajah Maya. Melihat itu, Abraham mengenalkan, "Ini namanya Bi Inem, bibi sudah mulai ikut ayah semenjak menikah dengan mamamu" Abraham menepuk pundak Bi Inem.
"Nona, anda mirip sekali dengan nyonya Gayatri" Bi Inem terbata-bata. Maya memeluk bi Inem, "Terima kasih Bi, sudah menemani ayah selama ini".
Selesai sudah acara beberes nya. Semua sudah menunggu di meja makan untuk makan malam. Setelah membersihkan diri Maya menuju ke sana.
Acara makan malam selesai.
"May, besok ke rumah sakit bawa mobil yang item aja" seru Abraham.
Mayong menyela, "Besok bareng Bara aja May, kan sejalan juga"
"Betul itu" Mama Clara menyahut.
"Ntar Sabtu-Minggu kuajari nyetir" tawar Mayong.
"Emang kamu nggak sibuk?" tanya papa Suryo.
"Yaelah Pa, masak Sabtu-Minggu masih suruh kerja juga" Mayong manyun.
Mama Clara sampe tertawa melihat ekspresi Mayong.
"Anak sendiri masih suruh kerja rodi" gumam Mayong.
"Apa kamu bilang?" Papa Suryo menimpuk Mayong dengan remot yang di dekatnya.
__ADS_1
"Aduhhhh, kalau lebam kulaporkan lho Pa. Laporan KDRT" Mayong menjauh dari papanya.
Maya tertawa melihat kekonyolan Mayong saat bersama papanya. Baru kali ini melihat Mayong di belakang layar.
"Gimana May, loe terima tawaranku nggak? Mumpung aku lagi berbaik hati lho" Mayong mendekati Maya.
"Itu sih bukan baik hati Mayong, tapi modus lho aja" Mama Clara mencibir.
"Jangan gitu dong Ma..kalau aku nggak cepat modusin Maya, Mama ntar nggak punya cucu lho" Ganti mama Clara yang menimpuk Mayong.
"Om, tolongin. Suami istri di depanku ini melakukan tindak kekerasaan" dengan wajah memelasnya Mayong mendekati Abraham.
"Sini-sini anak Om yang ganteng, bahkan gantengnya ngalahin James Bond" Abraham sampai tertawa melihat Mayong. Melihat keakraban keluarganya, Maya tertawa bahagia. Hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
"Pa, Ma ayo kita pulang!!! Saatnya Maya dan om Abraham bernostalgia" ajak Mayong.
"Baiklah, lagian tadi kalian bertiga juga belum mandi semua" Abraham mengulum senyum.
"Nggak mandi juga tetep ganteng Om" Mayong berpamitan.
"Om, bolehkan aku jadi menantumu?" bisik Mayong ke Abraham. Secepat kilat Mayong berlari menjauh, tapi tetap kena timpukan kertas tisu dari Abraham. Kalau sudah kumat konyolnya, memang tidak ada yang ngalahin kekonyolan Mayong dan Bara. Papa Suryo dan Mama Clara hanya menggeleng saja melihatnya.
Sepeninggalan mereka, hanya ada keheningan di antara Maya dan Abraham.
"Yah..." panggil Maya mencoba mengurai sepi,
"Kalau malam gini, ayah biasanya ngapain?"
"Ayah banyak menghabiskan waktu di ruang kerja, baca-baca jurnal medis. Hanya itu yang bisa ayah lakukan untuk mengusir kebosanan" Abraham mengelus kepala Maya yang duduk di sampingnya.
"Mau kubuatkan kopi Yah?" tawar Maya.
"Aku sudah jarang ngopi Nak, bawakan air putih saja" pinta Abraham. Perhatian-perhatian kecil Maya membuat Abraham terharu.
Kehidupan baru Maya di sisi Ayahnya dimulai.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
#Hidup sendiri di dalam hutan, makan minum dibalik ilalang. Jika lelah jiwa dan badan, bertemu keluarga terasa hilang# 😊
__ADS_1
Do the best 👌👌👌
Happy reading