Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 93


__ADS_3

Sesampai di bandara kota S, Mayong meminta pengawal yang menyambutnya untuk langsung ke rumah sakit tempat ayah Abraham dirawat. Sementara Doni diperintahkan Mayong untuk langsung ke mansion mengantar Raja dan rombongan. "Don, skalian kamu istirahat di mansion saja" pesan Mayong. Mayong menelpon papa Suryo, "Pa, aku dalam perjalanan dari bandara. Bagaimana keadaan ayah?" suara Mayong diusahakan setenang mungkin, agar sang istri tidak bertambah panik. "Langsung aja ke rumah sakit, ini papa lagi bersama mama. Bentar lagi Bara juga sampai. Hati-hati di jalan" pesan papa Suryo. Sementara Maya masih terdiam. Galau dengan keadaan sang ayah.


Di rumah sakit, Bara melihat papa dan mamanya yang berada di luar kamar perawatan Abraham. "Gimana keadaan Om Abraham Pa?" Bara duduk di samping papanya. "Masih demam Bar" jelas papa Suryo. Maya berlari kecil, mendatangi papa Suryo dan semuanya. "Kak, ayah gimana?" Bara yang dituju pertama kali pertanyaan Maya. Bara menggeleng, karena memang belum tau kondisi terakhir sang Om. "Yang merawat ayah dokter siapa Pa, aku akan menemuinya???" tutur Maya. "Yang merawat Prof. Baksono, teman ayahmu juga" jelas papa Suryo. "Baiklah aku akan menemui di ruangannya" jawab Maya. "Aku ikut" ucap Mayong dan Bara bersamaan.


Setelah menanyakan ruangan prof. Baksono kepada perawat jaga di sana, Maya, Mayong dan Bara menuju ruangan prof. Baksono. Mayong mengetuk pintu. "Masuk" terdengar suara dari dalam ruangan. "Selamat sore, pak Baksono" sapa Bara dan Maya berbarengan. Mayong masih terdiam. "Kamu pasti Maya kan, putri Abraham. Duduklah" sapa pak Baksono dengan ramah. "Iya Prof, bagaimana keadaan ayah" cemas Maya. "Yang tenang Maya, ayahmu itu seorang yang kuat. Begini..." prof. Baksono sengaja menghentikan perkataannya sejenak. "Ada apa prof.???" sela Bara. "Lihat demam ayahmu yang masih terjadi di hari ke 5, dan pemeriksaan laborat serial yang sudah dilakukan terjadi penurunan trombosit yang signifikan May" terang prof. Baksono. "DHF (\=Dengue Haemorrhagic Fever) ????" tegas Maya. "Tepat May, cuma sekarang trombosit ayahmu benar-benar jauh di bawah normal" imbuh pak Baksono. "Berapa?" Mayong menyela. Sedikit banyak Mayong tau ilmu penyakit, karena sering juga ikut kebiasaan Maya membaca jurnal medis punya istrinya. "Dua puluh ribu" ujar prof. Baksono jelas. "Hah...." Maya dan Bara terbengong seakan tak percaya. "Untuk saat ini, aku ijin ayahmu aku pindah di ICU ya, meski Abraham masih sadar penuh tapi keadaanya sedang tidak baik-baik saja. Besok masih ada kemungkinan turun lagi trombositnya" lanjut pak Baksono. "Baiklah pak Baksono, berikan yang terbaik untuk ayah kami" imbuh Mayong. Maya segera menemui ayahnya. "Ayahku yang hebat bisa sakit juga" Maya mencoba bergurau di sisi ayahnya. "May, sini duduk dekat ayah. Kenapa sudah pulang, bukannya kamu liburan masih dua hari lagi. Raja di mana?" suara Ayah Abraham terdengar lirih. "Maya kangen ayah, lekas pulih biar bisa bermain dengan Raja" Maya berusaha menghibur ayahnya. Ayah Abraham terkekeh. "Ayah harus bedrest dan banyak minum" nasehat Maya selanjutnya. "Baik dokter, pasien siap melaksanakan" lanjut Abraham. Maya mengutarakan kalau Abraham harus pindah ICU karena trombosit yang benar-benar turun. "Iya ayah sudah tau. Hari ke tiga masih demam aja, ayah sudah mengira kalau kena DHF" imbuh Abraham. "Mana ada pasien mendiagnosa sakitnya sendiri Om" Bara mendekati Abraham. "Sudah jangan banyak bicara, sekarang bawa aku pindah. Bilang Baksono tuh, kalau nangani pasien jangan setengah-setengah" gurau Ayah Abraham diikuti tawa yang ada di situ.

__ADS_1


Keesokan hari, sesuai prediksi prof. Baksono trombosit menurun lagi sampai lima belas ribu, dan didapatkan fungsi ginjal yang mulai turun dan sedikit pembengkakan jantung. Karena cairan yang masuk lumayan banyak. "May, tenang ya. Pasti Om akan baik-baik saja" hibur Bara. "Apa yang tejadi Bar?" Mayong minta penjelasan. "Trombosit yang terlalu rendah dan pemberian cairan yang banyak mulai mengganggu metabolisma dan sirkulasi darah dalam tubuh Om Abraham Kak" jelas Bara. "Terus????" kejar Mayong. Sementara Maya mulai menetes air matanya. "DSS", gumam Maya. "DSS???" ulang Mayong penuh tanda tanya. "Duduklah Kak" Bara memberikan tempat untuk Mayong duduk. "DSS (Dengue Syok Syndrome) itu suatu keadaan syok akibat perdarahan di bawah kulit, perdarahan yang tidak nampak tapi fatal sekali akibatnya karena adanya virus dengue dalam tubuh ayah Abraham" jelaa Bara. Mayong manggut-manggut. Sedetik kemudian Mayong merangkul sang istri berusaha menguatkan.


Maya dan Mayong saling bergantian menemani ayahnya. Keadaan ayah Abraham sudah tidak seperti kemarin yang masih bisa bercanda walau lirih. Ayah Abraham lebih banyak tertidur, badan juga sudah tidak begitu panas lagi. Prof Baksono hanya memberi terapi cairan dan terapi suport untuk jantung dan ginjal. "May, besok kita koreksi darah lengkap lagi, EKG kalau diperlukan, serta tes faal ginjal ya" seru pak Baksono. "Aku ngikut aja prof. Yang penting ayah segera sembuh" imbuh Maya.


Ternyata semua hasil tes sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan. "Ayah tidur di mansion kita dulu aja selama beberapa hari" tawar Mayong. "Kenapa nggak kalian aja ke kediaman ayah??" tolak Abraham halus. Mayong dan Maya saling pandang. "Kenapa musti gitu Yah? Tidur di mansion kan sama aja. Sama-sama tidurnya" ujar Mayong. "Ya nggak sama lah, kalau di kediamanku aku bisa memandang foto istriku dengan puas" lanjut ayah Abraham. "Oke lah, kalau gitu selama beberapa hari aku akan menginap di rumah" keluarlah suara Maya sekarang. Setelah prof. Baksono visite, ayah Abraham diijinkan pulang. "Baksono, makasih ya atas segala bantuanmu" ayah Abraham menyalami sang sahabat dan pamitan. Mayong mendorong kursi roda yang diduduki ayah mertuanya. "Ayah...pulang kongres

__ADS_1


kok bawa oleh-oleh?", gumam Maya. "Oleh-oleh apa May?" seru Abraham. "Oleh-oleh virus Dengue" Mayong tertawa.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2