
"Apa kabar tuan Mayong, selamat atas pernikahannya" sapanya sambil menggandeng seorang wanita. Mayong hanya mengangguk dengan muka dingin dan datar, tanpa menjawab apapun. Maya hanya menatap wajah suaminya yang tampak tak nyaman dengan kehadiran mereka. "Terima kasih tuan dan nyonya" jawab Maya mewakili suaminya.
Bara merasakan hawa dingin di area itu. Musuh bebuyutan kakaknya datang menghampiri. Bara sebagai anggota keluarga Suryolaksono tentu mengenalnya. Tapi Bara tidak mengenal wanita yang bersama laki-laki itu.
"Sudah selesai makannya sayang, ayo kita pulang" ajak Mayong menggandeng tangan istrinya tanpa melihat sejoli yang mengucapkan selamat tadi. Laki-laki itu nampak tersenyum sinis. Maya mengikuti langkah suaminya, Yasmin dan Bara pun kompak membubarkan diri. Hawa tidak bersahabat sudah dirasakan Maya dari tadi.
Di mobil, Maya belum berani menanyakan ke suaminya tentang apa yang terjadi. Maya menyodorkan air putih kemasan ke Mayong, "Minum dulu biar lega" suruh Maya.
Mayong menoleh dan meminumnya, "Makasih".
Mayong menghela nafas panjang, "Nanti di Apartemen akan kuceritakan. Sudah saatnya kamu tau" ucapnya. Maya hanya mengiyakan tidak mau menambah panas suasana.
Setelah menurunkan barang-barang belanjaan dan menaruh di tempatnya Maya membuatkan minum untuk suaminya.
"Sayang, duduk sini. Ayo minum dulu" Maya menggeset pantatnya, untuk memberi tempat Mayong. Mayong merebahkan kepalanya di paha istrinya, bantal ternyamannya sekarang.
"Yang, aku sudah menjadi istrimu. Mari berbagi senang ataupun susah. Semua jangan kau simpan sendiri. Kecuali kalau urusan gaji menggaji karyawanmu yang puluhan ribu itu, aku nggak mau ikut-ikut" Maya menunjukkan senyum termanis sementara tangannya membelai rambut suaminya.
Mayong yang melihatnya mulai sedikit tersenyum, "Jangan menggodaku" kilahnya.
"Sapa juga yang menggoda? Aku cuma ingin membantu mengurangi sedikit bebanmu" elak Maya.
"Ayolah, hanya dengan itu sayang, kamu bisa membantuku" bola mata Mayong mengarah tepat sasaran di tubuh Maya. Maya memutar bola mata jengah, pasti ujung-ujungnya mesum. Gerutu Maya.
Mayong yang berada di pangkuan Maya, tangannya mulai mengembara ke mana-mana. Maya yang mulai terbiasa, sudah bisa mengimbangi permainan suaminya. Tangannya pun tak kalah aktif dengan Mayong.
"Bu dokter cepet sekali tanggapnya" Mayong sudah bersiap melahap kedua buah di depannya. Maya tersenyum menanggapi ulah suaminya. Sementara tangan Maya menemukan benda tumpul yang mulai menegak itu. Die elus-elus ujungnya dan keluarlah suara indah Mayong. Mayong semakin gencar bermain di bukit kenyal itu. Dia isap buah ceri Maya, sementara tangan satunya ikut memilin ceri sebelah. Maya meringis nikmat.
__ADS_1
Hujan deras menambah syahdu suasana. Mereka terus berpagut, hingga terdengarlah suara-suara indah mereka berdua. Ruangan tengah itu pun menjadi saksi mereka berbagi peluh. Maya yang berada di atas, ambruk memeluk suaminya saat sama-sama sudah mencapai puncak.
"Sayang, aku ke kamar ya" ijin Maya malu-malu. "Apa, mau di ulang di kamar???" Mayong pura-pura. Maya geleng-geleng melihat keabsurdan suaminya. Maya memunguti baju-baju yang berserakan ke mana-mana, dan ke kamar. Mayong menyusulnya. Tak ada ulangan di kamar ya...he..he.... Maya segera membersihkan diri. Didapatinya sang suami sudah terlelap ketika keluar kamar mandi, yang terdengar hanya dengkuran halus nafasnya.
Maya meninggalkan suaminya yang terlelap. Di dapur, dia mulai membuka ponselnya. Melihat tutorial memasak. Maya sibuk menyiapkan bahan-bahan yang sudah dibelinya tadi siang dan memasak mengikuti arahan dari ponsel. Ternyata memasak lebih sulit daripada operasi, batinnya. Setelah berkutat selama kurang lebih dua jam, jadilah menu capcay dan ayam goreng. Wajah Maya belepotan tepung. Mayong yang sudah mandi keluar kamar dengan rambut sedikit basah. Tertawa melihat casing istrinya sekarang, "Sayang bedakmu habis kah, lihat wajahmu sekarang?" Mayong sampai terpingkal-pingkal sambil menekan kamera di ponselnya. Mayong menunjukkan ke Maya. Maya mencebik tanpa menanggapi Mayong.
Mayong duduk di samping istrinya, dan mencium keningnya. "Makasih"
"Untuk????"
"Untuk menjadi istri yang terbaik buatku" dijawab anggukan Maya.
"Sayang, aku mandi dulu ya?" Maya berlalu mandi. Mayong membuka ponsel, mengecek perkembangan perusahaan sebelum besok memulai aktivitasnya. Mayong membuka email dari Doni, laporan kerjasama dengan Gayatri grup sudah selesai dibacanya dengan teliti. Ada sesuatu yang salah di sini, batin Mayong. Besok akan kutanyakan ke Doni.
Mayong dan Maya menikmati makan malam mereka. "Gimana sayang?" tanya Maya penasaran menunggu reaksi Mayong.
"Bilang aja keasinan" Maya manyun.
Mayong terkekeh menanggapinya. Ditanggapi salah, diam saja juga salah.
Keesokan hari Maya sudah bersiap. Maya membangunkan suaminya. "Sayang, ayo bersiap. Katanya mulai kerja". Mayong membuka mata sedikit malas. "Ayolah sayang" Maya gemas dengan perangai suaminya yang malas bangun. "Lima menit lagi sayang" jawab Mayong. Drama itu berakhir dengan ciuman yang diberikan Maya, hanya itu jurus ampuh supaya suaminya bangun. Mayong yang sudah selesai mandi, tersenyum melihat pakaian kerja yang sudah disiapkan istrinya. Bi Inem yang sudah datang dari jam enam, menyiapkan sarapan untuk tuan dan nyonya mudanya itu.
"Pagi Non, Tuan" sapanya ketika Maya dan Mayong keluar bersamaan.
"Eh bik, panggilnya kok Tuan dan Non?" protes Mayong.
"Ya nggak papa lah, lagian aku juga masih muda kali. Ya kan bik?" Maya tertawa.
__ADS_1
"Ya nggak gitu lah, tuan dan nyonya. Itu baru benar bik?" jelas Mayong. Tuannya ternyata konyol juga, batin bi Inem.
Mayong dan Maya menikmati sarpan yang dibuat Bi Inem.
"Sayang, kamu berangkat sama pak Amin ya. Maaf aku nggak bisa ngantar. Pasti hari ini aku akan sangat sibuk sekali" sela Mayong di tengah makannya.
"Iya nggak apa, aku ngerti kok" balas Maya.
"Oh iya, aku sudah menambah tenaga obgyn di Suryo Husada. Aku nggak mau kamu kecapekan" pesan Mayong.
"Pak Bambang juga sudah kukasih note, untuk mengatur jadwalmu" imbuh Mayong.
"Sayang, aku nggak mau ya diistimewakan. Meski aku istri kamu, aku tetaplah sama statusnya dengan dokter Budi dan dokter yang baru itu" protes Maya.
"Lagian sapa yang mengistimewakan, pak Bambang juga membagi dengan adil kok jadwalnya, tanya aja langsung" elak Mayong. Mayong sebenarnya sudah mewanti-wanti Pak Bambang untuk mengurangi jumlah pasien ke dokter Maya istrinya tanpa sepengetahuan istrinya...he..he...CEO dilawan.
Maya berangkat dengan pak Amin, sementara Mayong masih setia dengan Doni.
"Don, laporan yang kau berikan padaku tentang kerjasama dengan perusahaan Gayatri tolong hari ini kamu teliti lagi. Aku merasakan ada yang tidak beres" perintah Mayong saat di jalan.
Doni yang serius memperhatikan jalan hanya mengangguk menanggapi perintah tuannya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
to be continued
Happy reading π€
__ADS_1