Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 65


__ADS_3

"Sayang tolong dasiku" Mayong sedikit tergesa pagi ini. Doni ngasih kabar kalau jadwal diajukan. Jadwal yang sebelumnya direscedule karena Mayong sibuk mengantar istri dan keluarga jalan-jalan ke mall. Maya menghampiri suami dan memasangkan dasinya.


"Sarapan dulu atau gimana?" tanya Maya. "Nggak usah sayang, nanti aku sarapan sama Doni aja skalian rapat" ujar Mayong.


"Oh ya, kamu hari ini mulai kerja kan? Jangan capek-capek. Ingat Raja sama aku selalu menunggumu" kecup Mayong ke kening sang istri.


"Love you papa" Maya yang sudah menggendong Raja melambaikan tangannya ke sang suami yang mobilnya sudah mulai berjalan. "Love you too" Mayong tersenyum.


Maya berangkat ke rumah sakit diantar pak Amin seperti biasanya. "Ma, aku titip Raja ya" ujar Maya pamitan dengan mama Clara.


"Iya, akan kujaga cucu gantengku dengan segenap jiwa raga" jawab mama Clara sedikit lebay.


"Makasih, oma cantik" seru Maya.


"Mba Rani, aku tinggal kerja dulu ya. Untuk ASI yang mau dipakai, ambil tanggal yang terdahulu ya. Sudah aku tulis semua di kemasannya" Maya mengingatkan Rani segala keperluan Raja.


Rani sang baby sitter mengangguk tanda mengerti.


"Makasih mba" seru Maya berlalu ke mobil dengan pak Amin yang sudah siap membuka pintu untuk sang nyonya. Tak lupa Maya menciumi gemas Raja, Raja yang belum ngerti kalau mau ditinggal malah tertawa menggemaskan.


"Makasih pak Amin" ucap Maya saat masuk mobil .


Maya meluncur ke Suryo Husada, rumah sakit tercintanya. Heleh, Maya ikutan lebay..he..he...


"Pagi Nina, apa kabar?" sapa Maya sedang Nina berberes menyiapkan praktek poli kandungan.


"Pagi dokterku yang cantik. Alhamdulillah kabar baik, apa kabar dokter dan my King?" sambut Nina tak kalah heboh.


"My King?????" Maya menempatkan pantatnya dengan indah di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Raja Maysa dokter, apa kabarnya? He...he...."Nina tergelak.


"Oooooooo buaik Nin. Senyumnya buatku terkangen-kangen" seru Maya bersemangat.


"Kalau tuan Mayong, sudah nggak buat kangen lagi?" goda Nina.


"Kalau itu kangennya beda cerita dong" mereka berdua tertawa terbahak.


"Husssss, ayo kita mulai aja polinya" Maya menaruh telunjuknya di depan bibir. Karena tawa mereka berdua menggelegar. Nina mengurangi volume tawanya.


Pagi itu antrian pasien sebanyak dua puluh lima orang. Rata-rata dengan kasus kontrol kehamilan rutin. Baru setengah yang terlayani, ponsel Maya berdering. Lagu perfect mengalun dengan indahnya, "Sebentar Nin, pasien selanjutnya jangan dipanggil dulu". Maya menunjukkan monitor ponselnya ke Nina "IGD kebidanan calling". "Bukannya hari ini jadwalku cuma poli aja" gumam Maya disertai anggukan setuju Nina.


"Halo dengan dokter Maya" sapa Maya menggeser tombol ponselnya.


"Selamat pagi dokter, maaf mengganggu. Ijin konsul dokter" suara dari IGD.


"Bukannya hari ini jadwal dokter Anita?" Maya memperjelas.


"Oooo..gitu...silahkan, konsul pasien dengan aoa ini" Maya mengiyakan konsulan itu.


"Pasien Ny. S dengan keluhan datang pre syok, keadaan umum gelisah, perdarahan sedikit lewat jalan lahir, riwayat telat haid dan tidak KB, tapi belum bisa dipastikan kehamilannya dokter. Untuk sementara pasien sudah terpasang infus, guyur. Tes urine masih dalam proses" ulasan bidan IGD.


"Baik mba, pasien posisikan syok dengan kepala lebih rendah dari tubuhnya, pasang oksigen, pertahankan infus. Saya meluncur ke IGD" Maya menutup ponselnya.


"Nin, poli kamu pending dulu ya. Aku sudah disambut pasien IGD nih" Maya masih sempat bercanda dengan sang asisten sebelum ke IGD.


"Mba gimana tes urinenya?" seru Maya sesampai di IGD. Maya mendekati pasiennya, "Siapkan USG mba" perintah Maya selanjutnya. Pasien diperiksa dengan teliti olehnya. "Wah mba, Kehamilan ektopik sudah pecah nih, banyak cairan bebas di rongga perutnya" ujar Maya. Sang asisten, bidan jaga di IGD menyodorkan hasil pemeriksaan urine. Di lembar kertas print out itu tertulis hasil positif.


"Oke mba fix, KET ini pasien. Siapkan operasi cito, jangan lupa kabari bedah sentral. Oh iya, orderkan juga darah ke PMI. Whole blood tiga kantong" tegas Maya.

__ADS_1


"Tolong panggilkan keluarganya, biar saya berikan konseling dan edukasi" lanjut Maya. Setelah memberikan konseling dan mendapat persetujuan dari suami pasien, Maya berpindah ke Instalasi bedah sentral. Menunggu persiapan operasi Maya melakukan pumping terlebih dahulu. Resiko ibu menyusui yang bekerja, batin Maya.


Ponsel Maya berdering lagi, "My love video calling".


"Halo sayang, sudah selesai rapatnya. Sudah sarapan belum?" berondong Maya.


"Baru selesai, ni lagi sarapan sama Doni. Kamu lagi ngapain, lihat ruangannya pasti di kamar operasi ya? Bukannya jadwal poli saja hari ini" ujar Mayong tanpa titik koma.


"Dengerin dulu, hari ini dokter Anita cuti sakit. Jadi aku dimintai tolong menggantikan. Ada pasien dengan kondisi jelek keadaannya, makanya aku bantu" alasan Maya.


"Dokter yang lain ke mana?" selidik Mayong.


"Dokter Budi hari ini ada seminar bosku sayang. Sudah ah jangan marah melulu, ntar gantengnya suamiku hilang" rayu Maya. Mayong tergelak di layar ponsel Maya. Hilang sudah marahnya.


"Oke aku siap-siap dulu, I love you sayang" Maya mencium layar ponselnya. Demikian juga yang Mayong lakukan. Doni yang menjadi saksi hanya menatap jengah keabsurdan bosnya. "Kalau nggak suka jangan lihat" Mayong menatap tajam asistennya. "Gimana nggak boleh lihat, dia ada di depan mataku" batin Doni mengumpat.


"Aku tau kau mengumpat Don" sarkas Mayong. "Jangan main potong-potong lagi Tuan, plisssss" wajah Doni dibuat tak berdaya. Mayong kembali ke ruangannya, Doni juga balik ke ruangannya seusai rapat.


Maya menyiapkan diri melakukan operasinya. "Kak, gimana keadaanya?" tanya Maya yang sudah bersiap memakai jubah operasi ke Bara.


"Tekanan darah drop May, enam puluh palpasi. Lakukan operasinya, akan kujaga keadaan umumnya" Bara meminta asistennya mengguyur cairan hes, untuk mengganti cairan yang hilang sebelum darah datang dari PMI.


Maya melakukan operasi dengan cekatan. Saat lapangan operasi terbuka, semburan darah dari rongga abdomen begitu deras. "Gimana Kak?" Maya menoleh ke Bara. "Lanjutkan saja, cepatlah kau temukan sumber perdarahannya" tatap tajam Bara. Maya fokus ke lapangan operasi. Setelah dieksplor kurang lebih lima menit, ditemukan adanya saluran telur kiri pecah dengan kantong kehamilan menempel erat di indung telur. Maya dengan cekatan mengikat sumber perdarahan. Indung telur masih bisa dipertahankan. Saluran telur yang telah pecah parah, tidak bisa Maya pertahankan. Kenapa jaringan-jaringan sekitarnya penuh dengan perlengketan, batin Maya. Pasti ibu ini beberapa kali mengalami infeksi sebelumnya, pikir Maya.


"Alhamdulillah, sudah stabil May. Tekanan darah mulai naik. Darah kolf pertama sudah kumasukkan" ucapan Bara membuat orang yang di kamar operasi bernafas lega.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


to be continued

__ADS_1


Like komen vote dan apalah apalah tetep othor tunggu ya πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ’


__ADS_2