Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 122


__ADS_3

Mayong menelpon papa Suryo saat mobilnya sudah keluar dari area Dirgantara, "Kemana aja kamu Mayong. Dari tadi papa telponin" kata papa Suryo saat mengangkat panggilan Mayong. "Maaf Pa, ponsel Mayong kesilent. Di mana Maya dibawa Pah?" ucap Mayong sedikit berbohong dan langsung menanyakan keberadaan istrinya. Doni hanya tertawa dalam benaknya, mana berani menertawakan langsung sang bos. Bosnya itu pasti takut juga dengan tuan besar Suryolaksono. "Sama ayahmu Maya dibawa kembali ke rumah sakit universitas. Biar langsung ditangani kembali oleh prof. Henri. Tadi bilangnya begitu" jelas papa Suryo di ujung telpon. "Oke Pah, aku segera menyusul ke sana" Mayong menutup panggilannya. "Don, langsung ke rumah sakit tempat istriku dirawat sebelumnya" perintah Mayong. Di perempatan depan pun, Doni akhirnya membelokkan kemudi ke arah tempat yang disebutkan Mayong.


Mayong tiba saat istrinya masih berada di IGD. Papa Suryo telah kembali ke mansion dengan Mama Clara. Hanya tampak ayah Abraham yang terlihat kalut menunggui Maya. "Yah, bagaimana keadaan istriku?" sapa Mayong mendekati brankar di mana Maya berada. "Semoga aja dugaan ayah benar, kalau Maya hanya kelelahan saja" ucap ayah Abraham. Mayong menatap istrinya yang masih belum siuman sampe sekarang, nampak wajah kelelahan di sana. "Memang Maya dari pulang rumah sakit kemarin, kurang istirahat Yah. Ayah tau sendiri kalau istriku ini punya keinginan, pasti akan bertekad untuk melakukannya. Maya sangat ingin merawat sendiri putri-putri kami tanpa mangabaikan Raja Yah" jelas Mayong. Ayah Abraham menepuk bahu Mayong, "Iya ayah paham itu. Semoga saja Maya lekas sadar. Kalau lihat tanda vital di monitor itu, semuanya stabil. Tinggal menunggu Maya siuman saja. Tadi prof. Henri juga barusan dari sini. Hasil pemeriksaan semuanya juga normal" jelas Ayah Abraham.


Maya baru tersadar setelah lebih dari dua jam di IGD rumah sakit, "Hmmm, di mana ini?" gumamnya. Terasa tangannya digenggam erat oleh seseorang. Maya menoleh ternyata suaminya yang berada di dekatnya itu. "Sayang, kenapa aku di sini? Bukannya aku tadi lagi main sama Raja? Terus Raja di mana?" tanya Maya. "Hussstttt. Diamlah" Mayong menempelkan jari telunjuknya ke bibir Maya. Maya hanya bengong.


"Istirahat dan tidurlah!!!!! Kamu itu kelelahan sayang. Setelah infus ini habis baru kita pulang" tukas Mayong. Sementara ayah Abraham pergi sesaat setelah memastikan kondisi putrinya itu baik-baik saja.

__ADS_1


"Mulai hari ini, malam kamu harus istirahat. Aku akan menambah baby sitter untuk baby 3G. Dan tidak ada bantahan" tegas Mayong. "Tapi aku juga ingin bersama putri-putriku sayang" rengek Maya. "Iya kalau kondisimu sudah lebih baik akan aku ijinkan. Tapi tidak untuk kali ini" Mayong kembali menegaskan perintahnya. Maya tertunduk lesu. Begitu kuat keinginannya untuk merawat sendiri putri-putrinya, tapi apalah daya raganya belum mampu melakukan. Maya sendiri akhirnya menyadari, dia masih tahap pemulihan pasca operasinya. Operasi besar saat melahirkan ketiga putrinya.


Maya diperbolehkan pulang setelah menghabiskan infusnya. Maya menengok sebentar keadaan baby 3G yang ternyata tertidur di boxnya masing-masing. Karena sudah malam Maya pun diajak Mayong untuk tidur di kamar utama. "Mulai besok aku akan minta Doni untuk menambah baby sitter untuk mereka" ulas Mayong. Maya hanya bisa mengangguk. Seorang Mayong kalau sudah menyangkut keselamatan keluarganya pasti tidak bisa dibantah. "Yank, bisa minta tolong. Ambilin alat pumping dong" rengek Maya. "Baiklah" celetuk Mayong. Maya pun melakukan pumping karena pabrik ASInya terasa penuh dan tegang. Didapatnya tiga botol kecil penuh ASI untuk baby 3G. "Sudah belum?" celetuk Mayong yang masih sibuk dengan ipadnya. "Sudah. Aku anter dulu ya ke kamar baby" ujar Maya. "Nggak perlu, akan aku antarkan" Mayong bangkit dari duduknya. "Yank bilangin mbak-mbaknya, pakai ASI sebelumnya aja. Yang baru ini biar ditaruh dulu di lemari pendingin" jelas Maya. Mayong mengangguk saja dan bergegas menemui para baby sitter yang sedang menjaga baby 3G.


Menginjak usia dua bulan, pola tidur baby 3G baru teratur. Pipi-pipi gembul mereka mulai kelihatan. Menambah rasa gemas saat berada di dekatnya. Pagi itu ketiganya sedang berjemur di taman belakang mansion. Mayong menemani ketiganya dan juga Raja sebelum berangkat. Maya menyusul saat Raja asyik bercengkerama dengan papanya. Sementara ketiga bayi mungil itu tersenyum melihat polah abangnya. Bahkan Ghina tertawa dengan tergelak. "Wah...wah..putri mama sudah bisa tertawa ini" Maya mencium putrinya itu bergantian. "Aku uga au diium Ma" celoteh Raja. "Ooooo, abang juga mau dicium? Sini lekas peluk mama" Maya membentangkan kedua tangannya. Mayong menggoda Raja dengan memeluk Maya terlebih dahulu. "Pa..pa...no. Angan eluk amama" Raja mengurai pelukan papanya itu. Mayong pun tergelak.


Bara dan Yasmin mampir pagi itu, untuk melihat para keponakan-keponakan lucunya. Anehnya, morning sicknes Yasmin akan sembuh setelah menciumi ketiga putri Mayong. "Hei, kalian ke sini pasti mencari obat mual kan?" gurau Mayong. "Anda benar" Bara tertawa. Sementara Yasmin mulai mengendus-endus bau ketiga bayi itu. "Cin, sudah USG belum? Gimana hasilnya" tanya Maya. "Bulan kemarin sudah, baru tampak kantung kehamilannya" cerita Yasmin. "Ntar sore kita mau ke om Abraham" Bara melanjutkan.

__ADS_1


"Yank, kita sekalian jenguk ayah yuk. Kita bawa anak-anak" rengek Maya. "Bilang aja kalau kamu mau lihat bayiku May" celetuk Bara. "He...he....tau aja" Maya terkekeh. Tapi permintaan Maya juga diiyakan oleh Mayong.


Sore harinya ternyata papa Suryo dan mama Clara juga berada di klinik ayah Abraham. Benar-benar hal yang tak disengaja, karena bertepatan dengan Yasmin dan Bara yang mau periksa. Lima menit kemudian rombongan Mayong pun datang menambah suasana ramai di klinik. Maya mengajak Mayong untuk konsultasi sekalian ke dokter anak untuk jadwal pemberian vaksinasi untuk ketiga putrinya itu. Mumpung di klinik, alasan Maya. Mayong pun menyetujuinya.


Yasmin dan Bara giliran terakhir untuk masuk ke ruang periksa ayah Abraham. Tampak papa Suryo dan mama Clara pun ikutan masuk. Kedua orang itu tetap antusias atas kehamilan menantu yang satunya itu. Tak lama Maya menyusul. Sementara Mayong menunggu keempat buah hatinya di ruangan keluarga yang memang disediakan ayah Abraham di kliniknya itu.


Ayah Abraham mulai menggerakkan probe USG di perut Yasmin yang sebelumnya telah diolesi gel oleh asistennya. Bara nampak serius melihat layar monitor USG. Maya pun ikutan seperti yang dilakukan Bara. Maya mengernyitkan alisnya saat melihat ayah Abraham menghentikan probe USG itu. "Ada apa Om?" Bara menangkap raut aneh di wajah ayah Abraham. Ayah Abraham masih terdiam belum memberikan jawaban yang diminta Bara.

__ADS_1


Happy reading guyssss. Semoga belum bosan dengan cerita ini yaaa. Love you 🤗


__ADS_2