Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 118


__ADS_3

Di mansion Mayong terbangun saat waktu menunjukkan pukul empat sore. Lama juga aku tertidur, gumamnya. Mayong pun beranjak, hendak membersihkan diri. Sejenak terlintas ide di kepala. Mayong segera menelpon Doni, "Halo Don. Kamu sibuk nggak?" tanya Mayong begitu mendengar suara Doni di seberang. "Don, tolong cari seorang arsitek untuk menata kamar putri-putriku. Kalau mereka diperbolehkan pulang semua sudah harus siap" pinta Mayong. "Dikasih waktu berapa hari tuan?" Doni minta penjelasan. "Aku rasa waktu dua hari cukuplah Don" seru Mayong. Doni hanya bisa menepuk jidatnya sendiri mendengar perintah tuannya yang kafang tak masuk akal. "Jangan menggerutu. Aku tau perintahku mendadak. Mana aku tau kalau istriku melahirkannya dimajukan" ujar Mayong. "Tuan ada-ada saja. Mana ada proses melahirkan dimajukan, yang ada adik-adik bayinya sudah nggak kerasan di perut nyonya tuan" sahut Doni. "Don, jangan lupa dua hari lagi semua beres" ucap Mayong mengulangi perintahnya. "Siap tuan" balas Doni.


Mayong beranjak membersihkan diri dan bersiap kembali ke rumah sakit. "Bik, aku ke rumah sakit dulu. Jangan lupa untuk dua hari ini beres-beres mansion. Doakan semoga nyonya dan adik-adik segera diperbolehkan pulang" pesan Mayong ketika melewati bik inem. "Baik tuan" jawab bik inem.


Mayong masuk mobil, kali ini Mayong menyetir sendiri mobilnya menuju rumah sakit. Setelah bisa istirahat yang lumayan lama, badan terasa kembali bugar. Mayong masuk ke kamar perawatan istrinya. Dilihatnya Maya yang lagi ngobrol dengan ayah Abraham. Mayong mendekati istri dan mencium keningnya, "Sudah enakan yank?" tanyanya. "Mendingan sih, cuma kalau dipake duduk agak lama kadang nafas terasa berat" jelas Maya. "Mau kubantu tiduran?" tawar Mayong. Mayong memutar pengatur tempat tidur untuk memposisikan setengah duduk sesuai permintaan istrinya.


"Karena suamimu sudah datang, gantian ayah yang pulang ya nak!" ayah Abraham beranjak. "Mayong, nanti bantuin istrimu pumping. Kalau dibiarin bisa demam tuh Maya" pesan ayah Abraham. "Delapan enam yah" ucap mantap Mayong. "Iya Yah, sama pak Amin kan?" tanya Maya. "Iya, pak Amin sudah stay di parkiran dari tadi" jelas Ayah Abraham.

__ADS_1


Selepas ayah Abraham keluar ruangan, "Yank mau tidur dulu atau pumping dulu?" ucap Mayong. "Aku tiduran dulu aja ya" jawab Maya. "Eh iya yank, tadi putri-putri kecil kita cukup lama loh di sini. Mereka lagi belajar minum ASI" lanjut Maya. "Aku nggak mbayangin gimana nanti yank. Waktu nyusuin Raja aja kamu sedikit kewalahan. Ini malah dengan tiga bayi" ucap Mayong. "Ya diikuti saja prosesnya..he..he..." ulas Maya terkekeh. "Istirahatlah, kutungguin" tutur Mayong menggenggam tangan istrinya. "Makasih ya, atas segala ketulusanmu" kata Mayong menatap mesra sang istri. "Makasih juga atas semua kebahagiaan yang sudah kau berikan yank" jawab Maya. Maya akhirnya terlelap dengan tangan tetap menggenggam tangan suaminya. So sweet pokoknya.


Maya menggeliat membuka mata. Dilihatnya wajah tampan suaminya yang masih setia duduk di samping tempat tidurnya. "Nggak capek yank, duduk di situ terus?" tanya Maya. "Nggak lah, kan demi istriku" goda Mayong. "Gombal ah" celetuk Maya. Mayong tertawa, "Ya nggak lah yank, barusan aku duduk lagi di sini. Tadi juga sempat ngeceki pekerjaan Doni hari ini" urai Mayong.


"Boleh minta tolong" ucap Maya. "Minta tolong apa?" tanya Mayong. "Ambilin alat pumping dan bantuin juga" ujar Maya tersipu. "Siap istriku" jawab Mayong semangat. "Eh yank, kubersihkan dulu badanmu gimana?" Mayong menawari. Maya hanya mengangguk. Lagian badannya memang sudah lengket. Meski tidak mandi langsung tapi lumayanlah biar segar badannya. Mayong menyeka badan istrinya dengan sigap. "Yank, maaf ya jadi merepotkanmu" ucap Maya di tengah kesibukan Mayong membersihkan badannya. "Yank, aku ini suamimu. Aku nggak merasa direpotkan olehmu. Malah aku berterima kasih atas segala pengorbananmu" urai Mayong terus memakaikan baju ganti istrinya.


Maya memanggil suaminya supaya mendekat, "Yank sini sebentar. Gimana nama-nama putri kita. Sudah disiapin belum?" Maya mulai menyuap makanan yang telah didekatkan Mayong di depannya. "Kalau nama tengah sama belakangnya sudah kusiapin sih. Gimana kalau nama tengah dan belakangnya Maysa Bimantara?" ujar Mayong. "Maysa seperti nama tengah Raja, Bimantara nama dari keluarga ayah Abraham biar ikut juga" usul Mayong. "Nama depannya?" sela Maya. "Aku masih terpikir nama-nama ini Ghina, Ghalya dan Ghania" lanjut Mayong. "Wah kalau disingkat nama mereka jadi 3G donk yank, kayak sinyal ponsel..he...he..." Maya tertawa renyah. "Artinya juga bagus lho yank, semoga ketiganya menjadi perempuan cantik, indah dan berharga juga kaya hati seperti mamanya" puji Mayong. "Oke, kalau menurut papanya bagus mamanya ikut aja deh" tutur Maya

__ADS_1


Besok biar diurus sama Doni kepengurusan akta kelahirannya" terang Mayong. "Siapa papanya, siapa juga yang repot" ejek Maya. "Itulah gunanya asisten yank" Mayong tertawa.


"Ghina Maysa Bimantara, Ghalya Maysa Bimantara dan Ghania Maysa Bimantara", gumam Mayong yang masih terdengar oleh Maya. "Setuju" Maya menimpali. Mayong ikutan naik ke tempat tidur Maya. "Apaan sih yank, ntar kalau perawat masuk mau injeksi jadi sungkan dong" elak Maya. "Bentar doang, lagian aku kangen yank" modus Mayong. Mau tak mau Maya pasrah dengan perbuatan suami yang setia menunggunya di kala koma. "Waktu aku nggak sadar kemarin, kamu nangis nggak yank? Aku ketemu mama Gayatri loh. Begitu ketemu, sama mama aku malah disuruh balik. Sedih sih" Maya bercerita. Mayong menyimak apa yang disampaikan istrinya itu. "Jelaslah aku sedih dengan keadaanmu yang kritis sewaktu operasi dan juga pascanya. Pake koma tujuh hari lagi. Aku hanya bisa berdoa. Untung ada ayah Abraham dan prof. Henri yang sigap menangani" jelas Mayong dengan tetap memeluk istrinya. "Kamu dan anak-anak kita adalah sumber kebahagiaanku yank. Jadi jangan pernah mencoba untuk meninggalkanku lagi" Mayong mempererat pelukannya.


Terdengar ketukan pintu kamar.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


to be continued, happy reading guyssss 💝


__ADS_2