Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 63


__ADS_3

Mayong mengambil sepuluh alat pumping yang dipesan setelah membayar dengan black card no limitnya. Pelayan toko yang memberikan alat pumpinh hanya melongo, merasa aneh dengan dua tuan ganteng di depannya.


"Tuan belinya kok banyak sekali?" Doni belum mengerti.


"Nggak apa-apa Don, kalau rusak tinggal ambil yang baru. Daripada bolak-balik beli. Biar praktis kan?" sergah Mayong.


"Iya juga sih, hemat waktu" Doni menyetujui ucapan bos nya itu. Padahal Doni juga tidak tahu kegunaan alat itu.


Sesampai di mansion, Mayong turun diikuti Doni.


"Ngapain ikut masuk?" hadang Mayong.


"Aku kan juga ingin nengok Raja Tuan" sela Doni berjalan mendahului Mayong. Mereka berjalan saling mendahului untuk segera bertemu Raja.


"Loh kok kosong, Raja di mana?" seru Mayong melihat kamar anaknya kosong.


"Ma, Maya sama Raja di mana?" tanya Mayong melewati mama Clara yang berada di ruang makan.


"Tuh di taman belakang. Sama mama dan kedua opanya" tunjuk Mama Clara.


"Mayong, Doni ngapain kalian? Kayak orang balapan jalan cepat aja" mama Clara tertawa.


"Ya jelas aku nggak mau keduluan Doni ketemu anakku" Mayong menyikut Doni yang mencoba mendahuluinya.


"Ha....ha.....ada-ada saja" mama Clara melanjutkan tawanya.


Di taman belakang, "Ayah aku pamit mandi dulu ya???" Maya pamit ayah Abraham yang lagi menggendong Raja.


"Iya, Raja biar bersama denganku dan opa Suryo" Ayah Abraham tergelak saat cucunya ngeces di bahunya.


Maya berlalu balik ke kamar.


"Sayang, anakku di mana?" tanya Mayong berhenti tiba-tiba. Dan bruukkkk, Doni pun menabrak punggung tuannya itu. "Maaf Tuan" Doni menunduk. "Rem mu blong ya Don? Enak aja main tubruk" suara Mayong sedikit meninggi. Padahal tuan sendiri yang berhenti tiba-tiba, umpat Doni dalam hati.


"Jangan mengumpatku" ancam Mayong.


"Eh...eh...apa sih kalian berdua? Malah berantem" sela Maya di antara keseruan Mayong dan Doni.

__ADS_1


"Sayang, mau ketemu Raja? Mandi dulu!!!" suruh Maya.


"Doni juga, bersihkan tangan dulu sebelum mendekati anakku". Perintah nyonya mah tidak bisa dibantah, gumam Doni.


Mayong pun mengikuti sang istri, tidak jadi menemui Raja yang lagi bersama opa-opanya.


"Sayang ni alat pumpingnya" Mayong menyerahkan ke sepuluh alat yang dibelinya tadi. Maya membelalakkan mata, "Banyak banget belinya sayang?" tanyanya tak percaya.


"Emang kamu tadi bilang jumlahnya?" Mayong balik tanya.


"He...he....enggak sih. Kirain sayang juga sudah tahu" Maya cengengesan.


"Di rumah sudah ada satu agak ngadat, jadi tadi aku minta tolong ke kamu" jelas Maya berikutnya.


"Karena kamu nggak bilang berapa jumlahnya, siap-siap aja hukuman dariku" Mayong dengan alibinya.


"Halah, paling minta enak-enak" sarkas Maya.


"Ayolah sayang, sudah hampir sebulan lho. Sudah sampai ubun-ubun ini" Mayong memelas.


"Aku kan masih nifas sayang, mana boleh begituan" elak Maya. Sementara Mayong melihat ASI Maya membasahi bajunya.


"Iya, nggak tahu produksinya berlebih sekali. Biasanya kan aku pumping, lha ini tadi alatnya ngadat. Jadinya ya seperti ini. Rasanya jadi nggak nyaman" jelas Maya panjang lebar.


Mayong mengerling nakal ke suaminya, "Aku bantuin ya?" tawarnya.


"Bantuin gimana?" Maya masih belum ngeh dengan saran sang suami.


"Stok ASImu kan masih banyak di kulkas, kali ini pumpingnya dibuat beda" rayuan maut seorang Mayong pun dikeluarkan untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Mayong berlalu ke pintu dan menguncinya.


"Sayang aku masih nifas, gimana dong?" Maya ragu-ragu.


"Ayolah, bisa pakai cara lain" Mayong tak kalah akal. Maya pun hanya bisa pasrah. Kalau nggak dituruti kasihan juga sang suami, batin Maya.


Mayong dengan semangat membuka kancing istrinya satu persatu. Dan melihat ASI yang menetes kanan kiri. "Keras sekali sayang, apa nggak sakit?" Mayong meraba kedua bukit yang semakin kencang dan menegak keras itu.


"Banget" jawab Maya.

__ADS_1


"Aku bantuin ya? Biar enakan" seru Mayong menelan ludah.


Maya mengangguk pasrah tak kuasa menolak. Secepat kilat Mayong ******* dan menghisapnya dengan semangat.


"Pelan sayang, sakit nih" Maya mengingatkan sang suami. Bibir Mayong berpindah kanan dan kiri bergantian. "Sekarang lumayan enakan sayang" bilang Maya sambil mendesah. Mayong semakin semangat. Dia massage ringan kedua bukit istrinya. Mayong menuntun tangan sang istri ke arah pusaka yang sudah lama puasa itu Maya elus pelan pusaka sang suami, semakin lama semakin cepat. Dan keluarlah lahar putih yang lama tidak Mayong semburkan itu. "Makasih sayang" kecup Mayong dengan senyum sumringah.


Terdengar ketukan pintu kamar, "Ya sebentar" Maya membenahi kancing bajunya dan Mayong langsung ngacir ke kamar mandi. Mereka kayak maling ketahuan. "May, Raja nangis nih" seru mama Clara dari luar pintu.


"Ya Ma" Maya membuka pintu. "Loh, katanya mandi kok belum ganti baju?" Mama Clara menyerahkan Raja untuk digendong Maya.


"He..he...kamar mandinya masih dipakai kak Mayong Ma" Maya beralasan.


"Oooooooo....." sahut Mama tanpa berkata apa-apa. Maya sampai malu sendiri.


"Sayang, cepetan. Raja nangis ini" teriak Maya. Mayong keluar kamar mandi dengan rambut basah, "Kan tinggal kamu susuin?" Mayong merasa tak bersalah.


"Susuin gimana, yang ada Raja minum bekas kamu" gerutu Maya. Mayong terkekeh geli. Maya membersihkan badan yang habis terpakai oleh sang suami. Raja terdiam setelah menyusu dan langsung tertidur karena kelamaan nangis. Maya pun akhirnya bisa mandi beneran. Dilema emak-emak kalau gini mah..he..he...


"Sayang, kita cari baby sitter aja yuuk. Biar kamu juga bisa istirahat. Lagian nggak Raja aja lho yang butuh perhatian" Mayong memulai obrolan selepas makan malam.


"Yeeiiii, bayi besar sudah mulai ngambek nih" gurau Maya.


"Beneran ini, lagian kamu kan akhirnya juga kerja. Baby sitternya biar mulai dari sekarang. Selama kamu di rumah masih bisa mengawasi pola kerjanya" usul Mayong.


"Atau kamu milih nggak kerja, biar bisa sama Raja sepanjang hari. Aku malah senang sekali" ulas Mayong selanjutnya.


"Sayang, makasih banyak atas perhatianmu ya. Tapi menjadi seorang dokter obgyn adalah prioritas keduaku setelah kalian berdua. Sebelum menjadi istrimu, aku kan sudah berada di dunia itu sayang. Kamu nggak keberatan kan?" Maya menangkupkan kedua tangannya. Ridho suami adalah ridho Allah, begitu pandangan Maya.


"Aku sangat memahaminya sayang. Aku ijinkan kamu kembali ke duniamu. Asalkan tak mengurangi perhatianmu kepadaku dan Raja" Mayong mengelus kepala sang istri dengan lembut.


"Tidurlah, mumpung Raja lagi nyenyak tidur". Mayapun merebahkan badannya di samping sang suami. Sementara Mayong masih sibuk dengan notebooknya, mengecek laporan-laporan Dirgantara Group.


"Makasih istriku, kamu dan Raja adalah prioritas utamaku sekarang" bisik Mayong sambil mengecup kening istrinya yang sudah berada di alam mimpi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Makasih buat yang sudah kasih like, komen, vote dan juga hadiah. Othor tunggu yang berikutnya..he..he...

__ADS_1


Happy reading 💝💝💝


__ADS_2