Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 60


__ADS_3

Kontraksi yang dirasakan Maya semakin lama semakin sering, "Yang ayo ke rumah sakit, tolong hubungi ayah" pinta Maya.


"Bibi mana Ma? Bisa minta tolong suruh bawa barang-barang kita" Mayong menatap mamanya yang sedikit panik.


"Papa sama mama nyusul aja ya, sambil bawa barang kita. Aku sama Maya duluan" Mayong segera menggendong istrinya cepat ke mobil.


"Mayong, biar disopiri pak Amin, kamu nemani Maya saja" ujar papa Suryo yang melihat anaknya mulai panik. Mayong pindah ke kursi belakang.


"Sakit Yang" Maya meremas punggung Mayong. "Ayah sudah kau hubungi belum???" tanya Maya lagi. Maya ingin didampingi ayah dan suami saat proses persalinan nanti. Ayahnya akan sedikit banyak membuatnya tenang, batin Maya. Mayong segera menghubungi Abraham yang ternyata sedang mengisi kelas, "Oke ayah langsung ke Surya Husada" jawab Abraham ketika Mayong memberi kabar keadaan Maya. Kelas pun diakhiri oleh prof. Abraham.


IGD Surya Husada sudah siap saat mobil Mayong berhenti di depan lobi. Entah siapa yang memberitahu, saat ini Mayong tidak peduli. Mayong angkat tubuh istrinya ke brankar. Genggaman Maya semakin kuat di lengan Mayong.


"Sabar sayang, kita sudah sampai" Mayong ikut mendorong brankar istrinya. Sampai para dokter dan perawat di IGD hanya melongo terkesima melihat wajah Mayong yang kucel karena ulah sang istri.


"Tolong panggilkan dokter Anita" seru Maya ke bidan jaga IGD kebidanan. Maya tidak meminta tolong dokter Budi, karena keposesifan sang suami.


"Baik dok, kebetulan dokter Anita barusan selesai operasi. Saya hubungi ruang operasi dulu" jawabnya.


Dokter Anita tergopoh-gopoh mendatangi seniornya itu, "Hallo kak, gimana? Kontraksinya sudah sering kah?" dan dijawab anggukan oleh Maya.


"Baik, kita periksa semua dulu ya. Terutama detak jantung janin dan pembukaan. Kalau yang lain kakak lebih tau lah" dokter Anita tersenyum sambil menggoda kakak seniornya yang menahan nyeri kontraksi.


"Sakit sekali Nit, beneran. Kalau pasien teriak-teriak karena kontraksi biarin aja ya, ini memang sakit sekali" Maya menahan nyeri sampai mengeluarkan air mata. Mayong menciumi kening istrinya. Dokter Anita mengangguk.


"Kak, kita rekam jantung janin dulu ya. Tadi kakak juga dengar kan kalau irama nya irreguler" cetus dokter Anita. Maya hanya mengangguk. Maya dipasang oksigen oleh bidan jaga.

__ADS_1


"Ada apa dengan bayinya?" Mayong cemas melihat istrinya yang dipasang selang di hidungnya itu. Maya menggenggam tangan suaminya, "Aku tidak apa-apa. Oksigen ini untuk membantu oksigenasi ke bayi. Sayang berdoa saja semoga dilancarkan persalinanku". Mayong mengangguk.


"Sambil diperiksa dalam ya kak untuk tahu pembukaannya" Maya mengangguk lagi. Melihat dokter Anita memakai sarung tangan dan akan memeriksa organ kewanitaan Maya, "Dokter mau ngapain?" sela Mayong menahan tangan kiri dokter Anita. "Sayang, jangan menghambat pemeriksaan dong. Sakit ini" Maya meringis. Maya kembali mencengkeram tangan suaminya dengan erat, saat puncak kontraksi. Jari tangan dengan kuku yang baru dipotong, tajam mengenai lengan Mayong. Mayong pun ikut meringis.


"Pembukaan tujuh Kak, tapi kok aku meraba tali pusat bayi di samping kepala" ujar dokter Anita.


"Berarti tali pusat menumbung, kepala juga belum masuk panggul dengan benar" Maya menyimpulkan sendiri diagnosanya.


"Salut untuk pasienku ini" dokter Anita mencoba bergurau.


"Siapkan operasi aja, saya tidak mau mengambil resiko kalau cucuku kenapa-napa" suara Abraham terdengar di balik tirai ruang IGD.


Maya menatap Mayong, "Jangan cemas aku akan baik-baik saja dengan bayi kita". Kalau biasanya suami yang menenangkan istri, yang terjadi di sini malah sebaliknya istri menenangkan suami.


Segala persiapan sudah dilakukan, Maya dipindah ke ruang operasi. Tak lupa Mayong dan ayah Abraham menyertai. Kalau biasanya keluarga pasien tidak diperbolehkan, ini tidak berlaku untuk Mayong sang pemilik rumah sakit. Papa Suryo dan Mama Clara sudah harap-harap cemas menunggu di depan kamar operasi. Mama Clara sudah kayak setrikaan jalan mondar-mandir.


Di dalam kamar operasi, setelah berganti baju ruang operasi. Dengan setia Mayong mendampingi istrinya. "Gimana perasaanya May, takut nggak?" ujar Bara yang barusan masuk ruangan.


"Sedikit takut aku" keringat dingin mulai menjalar ke kening Maya.


"Yang tenang May, semua akan baik-baik saja. Jangan lupa sering nafas dalam, biar oksigenasinya bagus ke bayi" titah Ayah Abraham. Maya menghirup nafas dalam, diikuti Mayong.


"Kak, ngapain ikut nafas dalam. Bayinya kan ada di perut Maya" gurau Bara yang melihat Mayong.


Maya berposisi duduk, Bara bersiap melakukan anesthesi. "Hati-hati Bar, harus benar ya!!" sela Mayong. Semua yang ada di kamar operasi ikut tegang semua. Kamar operasi yang biasanya penuh gurauan hari ini terasa sangat tenang. Tidak ada yang berani menyela ucapan Mayong.

__ADS_1


"Sayang, sudah percayakan saja sama Kak Bara. Lagian kalau dijelasin akan perlu waktu lama, keburu bayinya mau lahir" Maya mencubit lengan suaminya. Baru Mayong terdiam.


"Diamnya kalau sudah ketemu pawang" ejek Bara ke Mayong.


Operasi berjalan lancar, ketika bayi lahir Abraham mengikuti kemanapun cucunya dibawa.


"Alhamdulillah laki-laki kak, sesuai prediksi prof. Abraham" seru dokter Anita, yang tak kelihatan oleh Maya karena tertutup duk kamar operasi. Mayong menghujani istrinya dengan ciuman, "Makasih sayang" binar mata bahagia Mayong nampak sangat jelas.


"Nit, kok belum nangis???" Maya sedikit cemas.


"Jangan kuatir Kak, bayinya nggak kebiruan kok" jawab dokter Anita.


Bara pun mengikuti di belakang Abraham, melihat kondisi bayinya. Setelah di resusitasi oleh dokter anak terdengar suara tangisan bayi yang memecah keheningan di ruangan itu. "Alhamdulillah" seru Abraham dan Bara bersamaan.


"Selamat datang cucuku" ujar Abraham sambil menitikkan air mata. Dia elus kepala cucunya itu sebelum dibawa kembali untuk disusukan ke mamanya. Bayi dibawa masuk untuk disusukan ka Maya. Bahkan dia begitu pintar menghisap kuat ASI mamanya. "Dia pintar sekali sayang" bisik Mayong. "Sama kayak papanya" jawab Maya lirih. Mereka berdua tergelak.


"Kak, ayo wudhu dulu. Nanti habis ini kakak adzani keponakanku" seru Bara di tengah pintu. Mayong keluar untuk wudhu dan mengadzani putranya. Sementara Maya masih di meja operasi, menunggu dokter Anita menyelesaikan jahitannya. "Selamat ya Kak Maya, putranya ganteng banget. Semoga menjadi anak soleh dan berbakti ya" ucapan selamat dari dokter Anita untuk Maya.


"Terima kasih dokter Anita, semoga lekas nyusul ya" dokter Anita pun tersipu. Dokter yang sebenarnya naksir adik ipar Maya. Tapi sudah kalah duluan dengan sahabat Maya, Yasmin.


Maya dipindah ke ruangan VVIP, diiringi keluarga. Lengkap sudah formasinya. Ada papa Suryo, mama Clara, ayah Abraham. Bahkan Bara dan Yasmin pun ada. Yasmin dihubungi Bara di tengah-tengah operasi berlangsung. Anggota baru dari keluarga Suryolaksono dan Bimantara sangat tenang di gendongan mama Clara.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Hayo, ada yang usul nama. Othor tunggu yaa😊😊😊

__ADS_1


happy reading


__ADS_2