
Bara memasuki ruang IBS dengan tergesa. Maya yang telah berganti baju khusus ruang bedah meledek adik iparnya, "Cie...cie...pengantin baru telat aja datangnya". Bara keluar dari ruang ganti, "Jangan ngeledekin terus. Gimana tuh kondisi pasienmu. Gara-gara cito mu pagi ini jadi nggak bisa lama-lama dong dengan istriku?" sergah Bara bersungut. "Ha....ha....aku memang minta kamu kak yang membius" Maya beralasan. "Aku masih nunggu dokter anaknya dulu kak, sebelum beliau datang aku belum mau mulai" jelas Maya. "Kenapa? Keadaan Umumnya gimana, kenapa ditunda?" Bara meminta penjelasan. "Kehamilan masih preterm, perdarahan sebelumnya sudah kukoreksi dengan transfusi dua kantong sebelumnya. Aku harap sih kadar haemoglobinnya mencukupi saat aku ambil tindakan ini" ujar Maya. "Sudah siap darah belum?" Bara memperjelas. "Baru ada tiga kantong untuk pasca operasi kak, ini tadi hasil cek ulang kadar haemoglobin sebelum operasi hasilnya delapan. "Gimana? Kakak berani kan, kalau aku ambil tindakan sekarang?" Maya konsultasi dan sharing keadaan pasien yang akan ditangani. Dokter Iskandar spesialis anak masuk ke ruangan Bara dan Maya, "Maaf dokter Maya dan dokter Bara, sedikit terlambat nih" ucapnya. "Nggak apa-apa dokter, mari kita mulai aksi penyelamatan ibu dan bayi kali ini" tegas Maya. "Oh ya dokter Iskandar, ini kehamilan pasien dengan prematuritas. Sudah saya rawat dua hari sebelumnya. Inginnya kutunda sampai bayi matur, ternyata perdarahan ibunya berlanjut. Hasil USG menunjukkan kalau plasenta menutup sempurna di bawah. Ibunya juga sudah kuberi injeksi yang berguna untuk pematangan paru janin" jelas Maya. "Baik dok, akan saya usahakan yang terbaik untuk bayinya" ucap dokter Iskandar mengangkat jempolnya.
Maya memulai operasinya pagi ini. Sementara Mayong saat ini sudah menjadi mister parkiran. Mayong keluar mobilnya untuk sekedar mencari secangkir kopi di kantin rumah sakit. "Operasi telah berlangsung satu jam, tapi belum selesai juga" gumam Mayong. Mayong dengan pakaian kasualnya, mengirim pesan ke istrinya kalau dia menunggu di kantin rumah sakit.
__ADS_1
Sementara di ruang operasi, Maya sedikit kesulitan membuka lapangan operasi. Karena ada perlengketan di mana-mana. "Kak, gimana kondisi pasien?" tanya Maya tetap fokus di perut pasien. "Kamu fokus aja May di lapangan operasi, aku yang akan menjaga kondisi umum biar tetap stabil" ucap Bara menenangkan Maya. Sungguh duet yang sangat cocok, pikir orang-orang yang berada di ruang operasi. Duet kok di kamar operasi, harusnya kan di panggung. Setelah memisahkan bagian-bagian yang terjadi perlengketan. Maya mengambil pisau bedah untuk melakukan insisi di rahim bawah pasien. Bayi berhasil dilahirkan dan meskipun prematur bayi itu menangis keras. Pasien dan yang juga merupakan ibu bayi itu menangis tergugu, sampai perut yang lagi mau dijahit Maya ikut tergoyang. "Alhamdulillah bu, bayinya telah lahir. Tolong ibu sedikit tenang ya, dipake berdoa. Biar saya juga bisa menyelesaikan tindakan saya" pinta Maya. "Iya...iya...dokter. Makasih atas segala bantuannya" ucap pasien itu. "Sama-sama bu, sudah siapkan kalau aku mulai merapikan perut ibu lagi?" ucap Maya terkekeh di balik maskernya. "Oke dokter" ucap pasien memberi persetujuan.
Oleh perawat ruang bayi, bayi dibawa mendekat ke ibu untuk melakukan IMD (\=Inisiasi Menyusui Dini). Ibu itu menetes air matanya karena terharu. Setelah selama delapan tahun menikah akhirnya diberikan anugrah terindah tepat di hari ulang tahun pernikahannya. Ibu yang sebelumnya pernah empat kali keguguran, akhirnya melakukan program hamil ke dokter Maya. Pasien yang sebelumnya oleh Maya mau dikirim ke konsultan infertilitas, tapi karena kuasa Allah akhirnya berhasil hamil.
__ADS_1
Maya yang telah melepas jubah operasi dan melakukan cuci tangan. Tak lupa Maya memberikan ucapan selamat untuk pasiennya itu. "Selamat ya nyonya, habis ini anda akan dibersihkan. Untuk sementara nanti transit dulu di ruang recovery, sebelum ibu pindah ruang VVIP" ucap Maya. "Baik dokter dan tim. Makasih bangey atas bantuannya" ucap nyonya pasien itu. Maya mengangguk dan pamit undur diri.
Maya menghampiri suaminya yang duduk di kantin. Mayong yang duduk membelakangi pintu masuk, tentu saja tak melihat kedatangan Maya. Maya menutup mata suaminya, "Jangan menggoda sayang, nasi pecelmu sudah siap tuh" ujar Mayong. "He...he....kok tau kalau aku" Maya tertawa, dan ambil tempat duduk di samping Mayong. "Siapa yang berani godain Mayong selain Maya?" Mayong menguyel kepala Maya yang. "Ayo lekas, nanti langsung ikut ke kantor" pinta Mayong. "Terus baju gantinya?" Maya menyuapkan nasi ke mulutnya. Tiba-tiba rasa mual kembali datang. Maya meletakkan kembali sendok makan di tangan. "Kenapa, mual lagi?" tanya Mayong. Maya hanya mengangguk terdiam menahan nafas supaya tak muntah di kantin. Mayong berdiri dan memesan teh hangat untuk Maya. Emang suami siaga musti begitu. Kehamilan ini, istrinya tidak begitu menyukai susu hamil. Malah suka dengan yang namanya teh hangat dengan gula sedikit. Orang hamil mah bebas, iya kan?
__ADS_1
Bara datang saat Maya sudah mendapatkan teh hangatnya. "Eh, nasi pecelnya kenapa dianggurin?" celetuknya. Bara duduk di depan sepasang suami istri itu. "Mba, rawon satu sama jeruk anget satu ya" pesan Bara. Tak lama kemudian pesanan datang. Maya terlihat berbinar melihat menu makanan Bara. "Kak, boleh tukar tidak. Kayaknya rawonnya enak" celetuk Maya. Bara hanya menganga mendengar permintaan Maya. "Kupesankan aja yank" sela Mayong yang melihat liur istrinya hampir menetes itu. Maya menggeleng cepat, "Aku maunya itu". Tunjuk Maya ke arah piring Bara. "Hah.." Bara membego. "Sudah serahin aja, kamu nggak mau kan adiknya Raja ileran" Mayong mengambil rawon yang ada di depan Bara. Maya begitu lahap menikmati rawonnya. "Walah, kalah lagi sama bumil" celetuk Bara sambil menepuk jidatnya.
#to be continued#happy reading 🤗
__ADS_1