Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 43


__ADS_3

Selasa kemarin merupakan hari sibuk bagi Mayong dan Doni. Hari Rabu Mayong ingin bersantai sejenak. Semua pekerjaan sudah diselesaikan kemarin.


"Don, untuk nanti malam sudah selesai semua kan?" tanya Mayong pagi itu.


Sinta masuk membawa dua cangkir kopi buat Mayong dan Doni, "Silahkan Tuan" tawar Sinta.


"Sin, kalau hari ini ada yang datang tanpa janji temu dipending saja ya" perintah Mayong.


"Baik Tuan" Sinta undur diri.


Mayong kembali menatap Doni, "Semua sudah siap Tuan, yang belum siap calonnya yang mau dilamar" Doni tersenyum.


Mayong mendelik, sementara Doni tertawa. Puas sekali Doni ngerjai Mayong.


"Don, aku serius. Aku tidak mau gagal hari ini". Mayong dengan mimik serius untuk menutupi kegugupannya.


Melihat ekspresi tuannya Doni semakin terbahak. "Yaelah, rival-rival anda saja pada ngeri duluan menghadapi Tuan Mayong. Lha ini kok malah gugup menghadapi Nona Maya. Santuy...santuy... aja Tuan"


"Asisten jelek, mau kupotong gaji atau bonus ditiadakan" ancam Mayong.


"Ujung-ujungnya gaji dan bonus yang dibahas. Kalau itu apalah dayaku Tuan" Doni memelas.


Sore hari Mayong langsung meluncur ke rumah sakit Suryo Husada. Doni diperintahkan Mayong mengecek lokasi.


Mayong duduk manis di dalam mobil menunggu Maya. Sudah sejam Mayong berada di sana. Maya kenapa lama sekali, batinnya. Mayong mencoba menghubungi, tapi ponsel Maya tidak aktif. Mayong yang kuatir terjadi sesuatu dengan Maya, turun dari mobilnya.


Jam segini poli pasti sudah tutup, Mayong segera ke ruang bersalin. Mayong menanyakan keberadaaan Maya pada bidan yang jaga sore.


"Dokter Maya, selesai visite tadi siang langsung ke ruang operasi Tuan" jelas bidan itu.


Mayong segera berlalu meninggalkan ruang bersalin. Sementara bidan tadi masih terpana dengan Mayong. Di depan kamar operasi, Mayong menunggu Maya karena Mayong tidak ada akses masuk kamar operasi.


Kebetulan ada perawat dengan baju bertuliskan instalasi bedah sentral keluar dari ruangan.


"Mas..Mas....aku mau nanya, dokter Maya apa masih di dalam?" Mayong menghampiri perawat yang baru keluar itu dengan penuh wibawa.

__ADS_1


"Eh..iya...anda siapanya dokter Maya?" tanyanya. Kenapa mirip dengan dokter Bara ya, batin perawat itu.


"Saya calon suaminya" tegas Mayong. Perawat itu merasa terintimidasi tatapan Mayong, akhirnya memberi tahu keberadaan Maya.


"I..i...ya...Tuan, dokter Maya masih di dalam. Beliau sedang operasi. Setelah ini masih ada satu antrian pasien lagi yang mau operasi" jawabnya menjauhi Mayong.


Mayong bernafas lega, ternyata Maya aman tidak kenapa-napa. Sedetik kemudian Mayong mendesah, karena harus menunggu Maya yang tidak tau kapan selesai operasinya.


Mayong teringat Bara, kuhubungi Bara aja lah barangkalo Bar lagi sama Maya.


Tuuutttt.....tuuuttttt...tuutttttt nada ponsel memanggil.


"Halo Kak, aku lagi operasi sama Maya nich. Pasien lagi tidak baik-baik saja. Kuhubungi kalau sudah selesai ya" Bara menutup telponnya.


Ngomong juga belum, sudah main tutup saja.


Mayong segera menghubungi Doni, "Mundurkan acaranya Don, ada hambatan" perintah Mayong tanpa penjelasan selanjutnya. Doni yang di sana hanya geleng-geleng kepala. Doni sudah tau semua alasan mundurnya acara yang disiapkan tanpa Mayong kasih tau. Doni memang ahli ramal..ha..ha...


Mayong balik lagi ke parkiran setelah tau keberadaan Maya. Meski sedikit lelah menunggu, Mayong tetap sabar demi Maya..cie...cie....


"Maaf ya Kak, pasti lama menunggu. Dua operasi terakhirku bermasalah dan sedikit sulit" wajahnya nampak kusut.


"Aku gagal hari ini Kak, pasienku meninggal di meja operasi" Maya sedikit shock dengan kejadian hari ini. Mayong belum merespon, masih memberi kesempatan Maya berkeluh kesah. Maya terisak. Mayong mendekat dan merengkuh bahu Maya ke dalam pelukannya. Pikirnya Maya butuh sandaran saat ini. Maya tersedu-sedu di bahu Mayong. Mayong hanya terdiam membiarkan Maya meluapkan emosi dengan menangis.


Setengah jam berlalu, tangisan Maya berhenti. "Sudah tenang sekarang? Bisa berangkat?" suara Mayong mulai terdengar. Maya hanya mengangguk. Mereka berangkat menuju ke resto yang disiapkan Doni. Di tengah jalan, Maya sudah tertidus pulas. Mayong hanya tersenyum, kamu memang apa adanya Maya. Batin Mayong.


Sesampai di tempat acara, Mayong yang gagal membangunkan Maya akhirnya menggendong Maya menuju ruangan VIP resto itu. "Biarlah Om Abraham marah batinnya. Sebenarnya Mayong merasa kasihan dengan Maya, tapi Mayong tidak mau gagal dan menunda lagi.


Semua menoleh ke arah pintu ketika Mayong masuk menggendong Maya. Bekas tangisan nampak sekali di kedua mata Maya, meski terpejam. Abraham melotot tajam ke Mayong.


Maya yang diturunkan Mayong, merasa terkejut.


"Om..Om...ini tidak seperti yang kau pikir" Mayong mengerti jalan pikiran Om-nya itu.


Mayong mempersiapkan semua berkumpul di resto itu, untuk menyaksikan dirinya melamar Maya. Tapi semua jadi tersendat karena ada drama-drama tadi. Malah sekarang Mayong merasa menjadi terdakwa di hadapan Om Abraham.

__ADS_1


"Yah, kenapa ayah di sini?" Maya belum memahami benar situasi yang terjadi saat ini.


"Kalau begini caranya, cepat saja kau nikahi putriku. Nggak usah menunggu jawaban dari Maya" pandangan Abraham belum beralih dari Mayong.


"Om..Om..memang aku ingin melamar Maya, tapi aku harus memastikan kalau Maya menerimaku apa adanya. Bukan karena suatu paksaan" jelas Mayong.


"Lantas kenapa kau menggendong Maya dan coba kamu lihat mata Maya itu, kenapa kau buat menangis" tunjuk Abraham ke muka Maya.


Papa Suryo dan Mama Clara yang berada tak jauh di belakang Abraham menahan ketawa. Tak tanggung-tanggung calon mertua itu mengerjai calon menantunya.


"Yah, kenapa marah-marah sama Kak Mayong? Kak Mayong tadi menungguku sampai berjam-jam karena operasiku bermasalah. Dengan kedewasaannya Kak Mayong juga menenangkanku saat aku sedikit shock karena pasienku meninggal di meja operasi. Apa kesalahan kak Mayong ayah?" ucap Maya panjang lebar.


Papa Suryo dan mama Clara bertepuk tangan. "Abraham, ternyata mereka sudah kompak sekali. Lakinya kau marahi, sang wanita datang membela" Papa Suryo bahkan sampai tertawa.


Mayong dan Maya saling pandang. Ketiga orang tua di depannya itu bahkan menertawakan mereka berdua.


"Doooonniiii..., acara romantis yang kau susun kenapa jadi begini" gerutu Mayong. Doni menghindari timpukan sendok yang dilempar Mayong.


"Maaf Tuan, aku mengundang Tuan Suryo dan nyonya Clara juga tuan Abraham agar ikut menyaksikan lamaran romantis Tuan Mayong" Doni beralasan.


Mayong hanya menepuk jidatnya, acara yang disusun semua tak sesuai ekspektasinya, "Kenapa tidak sekalian kau undang Bara juga?"


"Selamat malam semua" yang dibicarakan muncul dari ambang pintu. Semua menoleh ke sana. Bara dengan santai duduk di samping mamanya.


"Maya, karena semua sudah hadir dan tak sesuai yang kurencanakan. Sekarang aku menagih jawaban dari kamu"


"Maukah kamu menikah denganku dan menjadi pendampingku" Mayong mengeluarkan lagi sebuah kotak perhiasan yang sebelumnya pernah akan diberikan ke Maya. Maya menoleh ke ayah Abraham meminta persetujuan. Abraham menggangkat kedua bahunya, seolah menyerahkan semua keputusan ke Maya. Mayong masih mengharapkan jawaban Maya, semua yang hadir di situ bahkan ikut terdiam.


Deg...deg....deg.....suara jantung Maya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued.. and happy reading


β˜•β˜•β˜•

__ADS_1


__ADS_2