Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 48


__ADS_3

Saat Maya berendam, Mayong mengecek email dan pesan masuk di ponselnya. Ratusan pesan masuk ke ponselnya. Sebagian besar ucapan selamat atas pernikahan dari par kolega-kolega bisnisnya.


Semenit kemudian, panggilan masuk terdengar. Video calling Bara.


"Hallo pengantin baru, kirain masih lembur?" guraunya.


" Maya mana Kak, jangan bilang dia lagi operasi ya. Kasihan banget masak dianggurin" lanjutnya.


"Halah, bilang aja kamu pingin" ejek Mayong.


"Kak, gimana rasanya enak apa enak banget?" Bara masih menggoda Mayong.


"Bangettttt, daripada main sabun" Maya terbahak. Ganti Bara yang manyun.


"Maya kok nggak kelihatan, kasian dia semalam pasti kau ajak lembur ya Kak?" Bara masih mencari Maya.


"Emang apa pedulimu, Maya istriku sekarang" Mayong cemburu.


"Biasa saja bos, Maya itu adikku. Eh salah..sekarang dia kakak iparku" Bara meralat ucapannya. Di tengah obrolan, Maya keluar dari kamar mandi. Dia hanya pakai bathrobe. Mayong menutup kamera ponselnya.


"Kak...Kak..." teriak suara di seberang.


"Ngapain ditutup kameranya, pasti itu Kak Bara kan?" Maya penasaran.


Mayong mengangguk, "Mau video call?" Maya mengiyakan.


"Bajuku nggak ada semua, gimana dong?" bisik Maya.


"Bar, sudah dulu ya, bye". Mayong menutup ponselnya. Ngeladeni adiknya pasti nggak ada habisnya.


"Kak..." panggil Maya lagi.


"Iya..iya..kutelpon Doni, biar nganter baju ganti" jawab Mayong.


"Kok malah ngrepotin Doni sih" Maya mengurai rambutnya yang basah dan mengeringkan dengan handuk.

__ADS_1


"Sini kubantu" Mayong mendekat dan mengeringkan rambut Maya.


"Doni itu asistenku sayang, jadi harus siap kapan saja bos butuh" senyum Mayong sambil menyalakan hairdryer.


"He...he...makasih ya Kak" Maya membalas senyuman suaminya.


"Kakak...kakak terus. Biasakan dengan S-A-Y-A-N-G" perintah Mayong.


"Maaf...maaf...semua butuh proses ya, butuh belajar dan membiasakan" bela Maya.


"Habis ini, kita siap-siap pulang ya. Ke apartemen aja ya?" ajak Mayong.


"Tentu aku ikut kemana suami pergi dong, kecuali kamar operasi. Aku tak akan mengajakmu suamiku...he..he...Di sana kak Bara lah yang setia denganku" ujar Maya tertawa.


Mayong menoel pipi Maya, "Jangan nakal ya!!!" Mayong cemberut.


"Sayang, meski kita tinggal di apartemen, sering-sering ya mampir ke rumah ayah. Ayah pasti kesepian lagi" ajak Maya.


"Pasti kita sering mampir ke rumah ayah dan juga papa mama" tegas Mayong.


"Aku juga, terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan kepadaku. Semoga ke depannya aku bisa menjadi pendamping yang baik buatmu" Maya memeluk Mayong.


"Kita saling mengingatkan ya" Mayong menaruh hairdryer dan mereka saling berpelukan.


Terdengar pintu presidential suite diketuk... Mayong mengurai pelukan dan membuka pintu. "Siang Tuan" sapa Doni sambil menyerahkan paperbag.


"Makasih" Doni hendak pergi. Belum sampai berbalik, sudah terdengar perintah berikutnya.


"Eh Don, kau tunggu kita di lobi ya. Aku sama Maya mau siap-siap dulu. Abis ini tolong anter aku ke apartemen" Doni hanya garuk kepala yang tidak gatal. Emang aku bakat jadi obat nyamuk, batin Doni.


Maya dan Mayong berjalan bergandengan menuju lobi. Aura pengantin baru memang beda, batin Doni yang melihat tuannya itu berjalan mendekatinya.


"Ayo Don, langsung apartemen aja ya!!" Sang asistenpun hanya bisa mengangguk pasrah.


Di tengah jalan, Ed Shireen Maya mengalun indah. Ruang bersalin calling. Maya memandang ponselnya sekali lagi, benarkah ruang bersalin. Bukankah dirinya cuti, kenapa rumah sakit menelpon. Maya melihat Mayong menunjukkan layar ponselnya.

__ADS_1


"Angkat saja, barangkali penting" paham Mayong.


"Halo, dengan dokter Maya" setelah menggeser tombol hijaunya.


"Siang dokter, maaf kan kami mengganggu cutinya dokter Maya. Ijin konsul dokter, seharusnya ini pasien dr. Budi. Tapi beliau berhalangan hadir, karena istrinya juga melahirkan. Sementara situasi di sini urgen banget dokter" suar bidan jaga panik


"Tenang mba, pasien apa yang mau dikonsulkan? Silahkan disampaikan" ucap Maya dengan tenang.


"Begini dokter, Ny A hamil anak pertama, 19 tahun, unmerried, umur kehamilan sudah lewat waktu dokter. Sebenarnya tadi pembukaan lancar sampai sempurna. Setelah ketuban pecah ternyata meconial (\=suatu keadaan ketuban bercampur BAB bayi). Jantung janin awalnya bagus. Setelah kita pimpin ternyata jantung janin turun jauh di bawah normal dokter. Bagaimana ini dokter? Dokter Budi juga minta disampaikan maafnya untuk dokter Maya karena mengganggu cuti anda" suara di seberang mengakhiri sesi konsulnya. Maya melihat Mayong, Mayong mengangguk memberi persetujuan.


"Baik mba, siapkan cito operasi. Tiga puluh menit harus sudah siap semua tim, ibunya berikan oksigen masker, miringkan kiri. Saya meluncur ke sana secepatnya. Ini juga sudah di jalan" tutur Maya dengan lugas dan jelas.


Doni yang berada di depan tidak mengeluarkan suara apapun melihat tatapan tajam tuannya yang dilihatnya sekilas. Padahal dalam batinnya seperti ingin menertawakan tuannya itu, gangguan pengantin baru.


Sesampai Rumah Sakit terburu-buru Maya turun dari sedan mercedes-maybach S680 nya berhenti di lobi IGD, "Yang, aku turun duluan, satu jam-an. Maaf ya?" Maya pamit cium tangan suaminya.


Maya bahkan setengah berlari menuju ke IBS (Instalasi Bedah Sentral). Semoga bayi itu bisa diselamatkan, doa Maya dalam hati. Maya masuk, ternyata semua tim sudah siap. "Baiklah kita mulai segera operasi ini, dokter anak sudah stay?" tanyanya ke staf perinatologi. Staf itu mengangguk.


"Mari berdoa, semoga operasi berjalan lancar". Operasi berjalan lancar seperti biasanya, cuma di tengah-tengah pengambilan bayi Maya agak kesulitan karena posisi bayi yang tidak tepat. Akhirnya dengan agak sulit bayi bisa dikeluarkan. Bayi biru dan terdiam lunglai. Bayi menangis setelah resusitasi sesaat. Semua yang berada di ruang operasi itu bernafas lega. Tidak ada drama kegaduhan di ruang operasi. Karena kebetulan hari ini jadwal Bara off. Maya bernafas lega, dan segera berganti baju. "Dokter Maya, terima kasih karena menyempatkan waktunya" ucap bidan dari ruang sebelah. "Sama-sama mba, aku pamit duluan ya" Maya berlalu.


Di parkiran, selama operasi berlangsung. Doni memarkirkan mobilnya di parkiran karena perintah tuannya yang tidak mau meninggalkan sang istri. Mulai bucin akut, batin Doni.


"Don, aku nggak mau tau. Besok kamu harus sudah bisa menambah tenaga seorang atau dua orang dokter spesialis obgyn di RS Suryo Husada. Tidak ada penolakan" perintah Mayong.


"Tuan Bara pasti lebih paham rekrutmennya tuan"


"Doni, apa aku harus mengulangi?" Mayong menatap tajam lewat spion.


"Baik Tuan, besok akan saya siapkan" menolak salah menerima juga salah.


Mayong tidak mau Maya terlalu lelah dan yang pasti kegiatan enak-enaknya juga tidak terganggu. Sedikit egois ya? Memang iya. Tapi harap dimaklumin aja, baru sehari tes drive-nya.


☕☕☕☕☕


happy reading 💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2