
Maya akhirya terpaksa memakai baju Mayong, daripada kelamaan kalau beli baru. Yang ada kedinginan yang didapat.
Mereka kaum laki-laki melanjutkan obrolan di ruang kerja.
Terdengar ketukan pintu di kamar Maya, "May sudah selesai belum ganti bajunya, mama boleh masuk?"
"Sebentar Ma" suara Maya terdengar dari dalam kamar.
Maya membuka pintu. Mama Clara tersenyum lucu melihat Maya memakai baju Mayong yang kebesaran. Mama Clara sebenarnya mau kasih pinjam bajunya, tapi pasti nggak muat dipakai oleh Maya.
"Aneh ya Ma?" Maya memandangi dirinya sendiri di cermin. "Nggak kok" tapi tawa mama Clara pecah juga.
"Ma, jadi nggak pe-de aku" Maya ngeles. Melihat Maya pakai kaos kebesaran dengan kaki jenjangnya, "eh May, jangan sampai ketahuan Mayong atau Bara kalau kamu pake baju itu. Besok langsung dinikahi kamu"
"Kok bisa??????" Maya bingung.
"Oalah Maya..Maya...kamu itu dokter, tapi kalau bicara tentang hubungan laki-laki dan perempuan kok nggak paham" Mama Clara hanya geleng-geleng kepala.
"Sudah..sudah nggak usah dipikirkan, daripada bengong kita nonton drakor aja yuukkk. Mama mager nih" ajak Mama Clara.
"Drakor Ma? Mama suka juga?" Maya serasa punya teman sehobi.
"Kalau ceritanya bagus ya suka, kamu suka genre apa May?" Mama Clara balik tanya.
"Aku suka sekali yang action Ma, dan juga romance. Kalau mama?"
"Romance lah" tegas Mama Clara.
"Ni mau lihat apaan?" tanya Maya.
"Itu aja dech, bagus tuh ceritanya" ujar Mama Clara ketika layar televisi menunjukkan sebuah judul drakor. "Cocok Ma, aku juga suka itu" Maya tertawa.
"Enaknya punya anak perempuan yang sehobi, seru pasti" ujar Mama Clara.
Tak terasa waktu sudah menunjukka dini hari. Papa Suryo kebingungan, ketika tidak mendapati istrinya di kamar. "Bara, Mayong" teriak Papa Suryo tepat di tengah-tengah depan kamar Mayong dan Bara. Bara dan Mayong kompak memgeluarkan sedikit kepalanya di pintu kamar, "Apaan sih Yah, jam segini pake teriak-teriak?" Bara hendak menutup pintunya.
Papa Suryo segera menahan pintu yang mau tertutup, "Mama di mana?"
"Yaelah, nyarinya kok di sini. Mana kita tahu Pa?" balas Mayong.
__ADS_1
"Keluar dari ruang kerja juga barengan Pa?" imbuh Bara.
Terdengar suara wanita tertawa dari balik kamar Maya. Mereka bertiga kompak menoleh ke arah sumber suara. Papa Suryo diikuti Mayong dan Bara melangkah ke sana.
Tok..tok...tok...suara pintu diketuk. Dua wanita yang di dalam kompak menoleh ke arah pintu.
"Aku aja yang buka Ma" seru Maya. Mama Clara yang sedang seru-serunya nonton mengiyakan saja..
Maya terkaget ketika ada tiga laki-laki di depan kamarnya. Mayong dan Bara terbengong melihat penampilan Maya.
"Sapa May?" tanya Mama Clara dari dalam.
"Ma, kok masih di sini?" Papa Suryo dari depan pintu. Mama Clara keluar dari kamar, "He..he...lihat drakor sama Maya" Mama Clara tanpa bersalah karena sudah merepotkan ketiga lelakinya. Mama Clara yang menyadari arah pandangan Mayong, "May masuk, kapan-kapan kita lanjut ngedrakornya ya. Cepetan istirahat" Mama Clara berlalu diiringi Papa Suryo dan anak-anaknya. Kayak pawai dini hari.
Sabtu pagi, sesuai janjinya Mayong mengajak Maya untuk ikut latihan taekwondo. Meski sudah punya sabuk tertinggi di cabang taekwondo, Mayong tetap rajin latihan.
"Sempatkan ikut latihan taekwondo May, selain untuk sehat dan bugar juga bisa untuk menjaga diri" saran Mayong.
"Iya Kak, kupikirkan dulu yaa. Hobiku tuh olahraga bulutangkis sama volly Kak, tapi ya itu cuma nonton doang" Maya cengengesan.
"Ada saja alasannya, jangan bilang nonton drakor buat olahraga mata ya" Mayong terkekeh.
"Nah itu baru betul Kak, nonton drakor juga menyehatkan mata" sanggah Maya.
"Makasih" Mayong meminumnya. Melihat jakun Mayong yang naik turun, Maya ikut menelan ludah. Mayong yang melihatnya ikut tersenyum, "Mau?" tawarnya.
"Ah..nggak..nggak" tolak Maya.
"Sabtu depan, kamu harus sudah ikut latihan. Tadi sudah kudaftarkan. Perlengkapan habis ini tinggal kubelikan. Tidak ada tawar menawar"
"Itu sih pemaksaan Kak"
"Mau kukuncir bibirmu tuh? Kalau nggak dipaksa pasti kamu nggak akan menyempatkan waktu" gemas sekali Mayong melihatnya.
"Iya..iya...aku mau...tapi...." Maya terpaksa mengiyakan.
"Tapi apa?" Mayong penasaran.
"Aku nggak usah belajar setir mobil lah Kak, kan ada kakak, ada Kak Bara. Ketimbang aku repot-repot belajar nyopir mendingan cari sopir aja" tawar Maya.
__ADS_1
"Operasi darurat malam kan juga belum tentu tiap hari ada?" Maya mencoba mencari alasan kuat, biar Mayong bisa menerimanya.
Setelah dipikir Mayong, ternyata ada betulnya juga ucapan Maya. Kalau seandainya ada operasi malam, tinggal disopirin aja. Maya malah bisa istirahat selesai operasi. Itu juga baik demi keamanan dan keselamatan Maya. Kenapa malah tidal terpikirkan hal itu sebelumnya. Mayong terdiam.
"Gimana Kak, bisa diterima alasanku" Maya menepuk Mayong.
"Oke, aku terima. Akan kuberitahu Om Abraham untuk menerima sopir yang aku rekomendasikan" Mayong menambahkan.
"Makasih ya Kakak Mayong CEO yang ganteng, mau direpotkan oleh Maya" gurau Maya.
"Karena aku sudah direpotkan olehmu May, sebagai gantinya hari ini kamu harus nemanin aku ya" Mayong tertawa.
"Sama aja nggak ikhlas dong" Maya cemberut.
"Bentar ya, aku ganti baju dulu" Mayong berlalu ke ruang ganti. Maya dihampiri seorang laki-laki, "Hei anak baru ya? Kenalin namaku Bima" Bima mengulurkan tangannya mengajak kenalan. Sepintas Bima seumuran dengan Maya. Ketika Maya mau membalas uluran tangan Bima, Mayong sudah menyalami Bima. Bima tertawa, "Oh..jadi ini pacarnya Kak Mayong to. Maaf...Maaf" Bima tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya. Maya hanya melongo melihat kedua laki-laki di depannya. Mayong tentu saja tidak akan membiarkan laki-laki lain mendekati Maya.
Mayong yang hanya memakai pakaian kasual celana pendek selutut dan sepatu sneaker, terlihat serasi dengan outfit yang dipakai Maya. Padahal mereka berdua tidak janjian untuk memakai warna biru. Maya tersenyum melihatnya, "Kak kita seperti sepasang kekasih aja, biru..biru.." Maya menunjuk atasan yang dipakainya dan juga menunjuk atasan yang dipakai Mayong.
"Kalau aku beneran jadi kekasihmu mau nggak?" Mayong tertawa melihat ekspresi Maya. Maya tersipu.
Mereka mampir ke sebuah resto untuk makan siang, "Kak resto makanan Jawa aja, kangen aku dengan menu rawonnya" ajak Maya. Mayong yang terbiasa dengan kesederhanaan Maya, mengiyakan saja permintaannya.
"Kita lanjut ke pantai yuk May, cari suasana sepi, kita lihat sunset" ajak Mayong.
Maya mengangguk, "Setuju Kak, lagian bosan juga kalau libur ke mall melulu".
Makan siang mereka lalui tanpa banyak obrolan. Siang itu juga mereka menuju pantai, "Masih panas Kak" seru Maya.
"Iya juga ya, kita kesiangan sampai sini. Baru juga jam tiga sore" Mayong melihat jamnya.
"Kita minum kelapa muda aja yuk, ke warung di bawah pohon itu" ajak Maya. Mayong mengikuti Maya.
"Kelapa muda Non, Tuan" tawar penjual di warung itu. "Iya pak, dua yaa" Mayong dan Maya duduk di tikar yang disediakan.
"Seger banget Kak hawanya, angin sepoi-sepoi" Maya memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa.
Matahari terbenam sungguh indahnya, Maya bermain ombak di dekat pantai. Mayong mendekat, dan berjongkok di depan Maya. "Will you marry me?" Mayong membuka sebuah kotak cincin yang ternyata sudah disiapkannya. Maya menutup mulutnya, tertegun dengan ucapan Mayong. Belum pernah menerima pernyataan cinta, malah langsung diajak menikah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Makasih yang sudah dukung karya ini, buat othor tambah semangat.
Happy Reading ♥️♥️♥️☕☕☕