
Baru saja tes drive sudah ada gangguan, pikir Mayong.
Tapi Mayong menyadari sepenuhnya, bahwa istrinya mempunyai tugas mulia. Mungkin dengan kehadiran seorang Maya sangat dibutuhkan untuk membantu menyelamatkan seorang bayi mungil itu. Tanpa mengesampingkan campur tangan dari yang Kuasa.
"Don, besok harus sudah ada dokter yang masuk!!!" ulang Mayong tanpa dibantah. Doni hanya mengangguk pasrah. Doni sedikit paham alur sebuah ijin praktek seorang dokter. Bagaimana bisa dalam sehari sudah beres.
Maya berjalan menuju mobil sedan yang terparkir manis itu. Mayong keluar membukakan pintu mobil untuk istrinya. Seutas senyum tersungging di bibir Maya, "Makasih".
"Semua tidak gratis ya" bisik Mayong di belakang telinga Maya. Berdesir bulu kuduk Maya.
"Perhitungan sekali" gerutu Maya. Mayong tersenyum, ada udang di balik rempeyek..he..he...
Meluncurlah mobil mewah itu menuju ke apartemen Royal, kediaman Mayong selama ini. Kembali perfect mengalun. Mayong hanya bisa menepuk jidatnya. Istrinya tak kalah sibuk dengan dirinya. "Ayah yang nelpon, bukan IGD" Maya terkekeh.
"Assalamualaikum wr wb, halo ayah" sapa Maya.
"Waalaikumsalam, ayah hanya ingin tau kabar kamu nak. Sepi lagi rumah" terdengar suara berat di seberang.
"Jangan sedih Yah, Maya nggak kemana-mana. Maya janji akan sering mampir sama kak Mayong" ucap Maya.
"Jangan berjanji, Ayah tau kesibukanmu sama Mayong. Sering-sering kasih kabar aja ke Ayah, Ayah sudah senang Nak" pesan Abraham.
"Jaga selalu kesehatan, salam untuk Mayong ya" lanjutnya.
"Baik, ayah juga jaga selalu kesehatan. Maya sayang Ayah" Maya menutup ponsel, setelah mengucap salam.
Apartemen Royal, salah satu usaha properti milik Dirgantara Grup juga. Di lobi, "Don, kau bawa mobil itu aja. Kuhubungi lagi kalau aku sudah siap berangkat" pesan Mayong.
"Baik tuan" Asisten yang tak kalah keren dengan tuannya itu balik kanan.
Mayong tak lupa menggandeng tangan istrinya menuju unit teratas apartemen itu. Maya masih saja tersipu atas perlakuan manis suaminya.
Mayong menekan kode akses masuk apartemennya. Maya yang melihatnya serasa tidak asing dengan nomor yang ditekan Mayong.
"Kodenya tanggal lahirmu" Mayong seakan menjadi ahli nujum. Maya mengangguk.
Bukannya menuju kamar, Maya malah menuju dapur. "Woowww bagus sekali dapurnya. Apa aku bisa?" tanya polosnya.
"Bisa apa?" Mayong mulai tersenyum mesum.
"Bisa pakai alat-alatnya, aku masih awam dengan ini" Maya menunjuk kompor listrik yang berada di depannya.
"Kirain bisa enak-enak di sini" kekeh Mayong. Maya membuka kulkas, cuma ada minuman dingin.
__ADS_1
"Lapar? Pesan online aja. Aku tau kamu nggak bisa masak" ledek Mayong.
"Enak aja, kalau cuma mi instan rebus saja aku sudah ahli" Maya tak mau kalah.
"Halah, masak air aja bisa gosong" sarkas Mayong.
"He...he...iya sih. Dari dulu cuma bantu-bantu aja di panti" Maya mengakui.
"Sayang, terus baju-baju gantiku gimana dong?" Maya mulai merajuk.
"Ngapain mikirin baju. Lagian kita akan sering nggak pakai baju" senyum Mayong penuh arti.
Sambil nunggu pesanan datang, Maya duduk menyalakan televisi.
"Yang, mau kubuatkan kopi" tawar Maya saat Mayong mulai duduk di sampingnya.
"Boleh" angguk Mayong.
Maya kembali membawa secangkir kopi panas dan cemilan yang sudah ada untuk suaminya.
Setelah drama kesulitan menyalakan kompor tadi.
"Sudah duduk sini aja, nunggu makanan" ajak Mayong.
"Di mana, kamar apa di sini?" Mayong terkekeh.
"Di sini?" ulang Maya menunjuk sofa yang diduduki. Dijawab Mayong dengan anggukan.
Didukung dengan film romantis yang dinyalakan, kedua insan itu terbawa suasana. Mayong mulai menelusuri setiap jengkal tubuh istrinya itu. Semua sudah on, ponsel Mayong berdering memberitahu kalau pesanan datang. Langsung linglung adiknya.
Makanan yang datang cuma ditaruh Mayong di atas meja makan. Mayong mengangkat tubuh istrinya ke kamar, dan tak mau menunda lagi adegan yang tertunda.
Setiap inci tubuh Maya tidak ada yang terlewat sekalipun oleh usapan bibirnya. Seakan sudah menjadi candu bagi Mayong. ******* demi ******* reflek keluar dari bibir Maya. Kedua bukitnya sudah menegak sempurna, membuat sang suami bersemangat untuk menaikinya.
Tak tahu sampai berapa jam dan berapa kali mereka melakukan. Perut yang lapar sampai terlupakan, asyik mereguk kenikmatan dunia.
Maya bangun saat perutnya benar-benar keroncongan, "Sayang ayo bangun, aku lapar" Maya menggoyangkan tubuh suaminya yang berada di bawah selimut. Tak sengaja dia malah menyenggol adik kecil yang mulai bangun.
Mayong membuka matanya. Terpapar indah tubuh polos istrinya. Mayong melihat kedua bukit nan indah itu dan mengerling ke arahnya. Maya reflek menutupnya.
"Boleh coba, aku ingin" rengek Mayong persis anak kecil.
"Tadi kan sudah, sampai kebas rasanya" gerutu Maya.
__ADS_1
"Enak banget..ayolah sekali lagi aja" Mayong memaksa. Maya hanya bisa pasrah.
Bibir Mayong tetap bermain di sana, bahkan sangat kuat mengisapnya. Akhirnya keluar juga suara indah Maya.
"Baiklah ayo makan sayang" ajak Mayong tersenyum puas mengecup kening Maya. Maya hanya manyun. Padahal ususnya sudah berdemo dari tadi.
Mayong memunguti pakaian yang berserakan dan memakaikan untuk istri dan dirinya.
Mayong tertawa melihat istrinya yang dengan lahapnya menghabiskan menu di depannya.
"Sayang, lagi ya?" pinta Maya. Untung saja Mayong pesan beberapa menu tambahan. Mayong ingat, Maya yang tidak ada jaim-jaimnya saat menambah porsi makan di depan Bara dan dirinya saat makan bersama di kantin rumah sakit dulu.
"Ini habiskan" Mayong mengambilkan lauk untuk Maya.
"Emang lapar banget ya sayang?" tanya Mayong.
"Kan kamu yang mengurasku yang" sergah Maya.
"Makan yang banyak, buat stamina nanti. Oke!!" Mayong mengedipkan mata sebelah. Maya menatap jengah, "Aku capek" Maya cari alasan.
"Menolak suami, dosa lho. Di ajak cari pahala kok nolak" bela Mayong.
Mayong mendekati Maya dan mengusap perut istri yang ramping itu. "Semoga lekas hadir di sini Mayong yunior, penerus Suryolaksono dan Bimantara". Maya mengaminkan.
Mayong nampak beres-beres kopernya setelah makan. "Sayang mau ke mana, kok ambil koper?" Maya memang tidak tahu rencana Mayong untuk bulan madu.
"Adalah, besok kamu juga tau" Mayong sengaja membuat penasaran istrinya.
"Kita harus manfaatkan cuti kita untuk melaksanakan perintah papa dan ayah, kalau kita sukses pasti mama Clara akan senang sekali" ujar Mayong.
"Perintah?????" Maya semakin tidak paham.
"Ah, loading terus dari tadi" Mayong menyenggol kening Maya saking gemasnya. Mayong mulai serangan awalnya ke sebuah bibir yang manyun dari tadi.
"Paham kan?????" seringainya.
"Ha...ha...ha.....buat cucu????" tawa Maya setelah menyadarinya.
Mayong mengacungkan dua jempol tangannya, "Istriku memang the best".
To be contiuned
Happy reading
__ADS_1