
"Sialan" umpat Mayong saat membaca pesan dari Doni. "Ada apa Kak?" ucap Bara penasaran.
"David kabur dari kantor polisi" ujar Mayong. "Hah" Maya terbengong. Sedetik kemudian, "Sayang ayo pulang, aku khawatir dengan Raja dan Rani. Raja dan Rani hanya berdua di mansion bersama penjaga di luar" terang Maya. "Pak Amin dengan bi Inem tadi kusuruh beli keperluan rumah tangga" lanjut Maya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa May" Yasmin menguatkan sang sahabat.
Mayong segera mengecek cctv mansion dari HPnya. Dilihatnya penjaga masih berjaga dan Raja bermain dengan Rani di kamarnya. Bara yang ikut nimbrung mengecek, "Kak, kenapa gerakan mereka berulang-ulang. Ini hanya rekaman kak, bukan kejadian saat ini" ulas Bara ikut khawatir.
Mayong lekas berdiri dari tempatnya, "Ayo sayang. Buruan" ajak Mayong. Maya mengikuti langkah suaminya. "Kak, yang tenang jangan kebawa emosi. Semoga Raja tidak kenapa-napa" Bara menepuk pundak sang kakak. Mayong hanya mengangguk, untuk saat ini Mayong tentu tidak bisa berpikir jernih.
Bara menelpon Doni. "Don, kamu dan anggotamu segera meluncur ke mansion kakak" perintah Bara. "Siap Tuan, saya hampir sampai di mansion Tuan Mayong" ucap Doni di ujung telpon. "Jangan bertindak gegabah. Kalau memang David berada di sana, kita harus bergerak silent. Kamu lebih tau liciknya seorang David kan?" Bara mewanti-wanti Doni.
"Baik Tuan. Tolong tuan Mayong kau dampingi. Pasti sekarang tuan Mayong sedang kacau" ujar Doni menutup panggilan ponsel Bara.
"Gimana Kak?" tanya Yasmin yang berada di samping Bara. "Kita ikuti mobil kakak saja" Bara mulai melajukan mobilnya mengikuti mobil Mayong.
Sementara di mobil Mayong, Maya sudah mulai panik. Bayangan-bayangan penculikan mulai muncul kembali di benaknya, "Sayang aku takut. Raja gimana?" Maya mulai meneteskan air matanya. Maya yang biasanya tegar, dan bisa tenang biarpun menghadapi penculik. Tapi ini beda kisah, Maya khawatir dengan keadaan Raja. Mayong menepikan mobilnya, dan menatap Maya. "Sayang, tatap aku" Mayong mengarahkan pandangan mata maya ke arah wajahnya. "Kita harus tenang, semoga Raja tidak kenapa-napa. Tadi yang dibilang Bara kan masih asumsi" Mayong menenangkan sang istri. Maya mengangguk, mencoba menata hati.
Mayong melajukan kembali mobilnya ke arah mansion. Di gerbang depan Mayong melihat dua penjaganya tergeletak tak sadarkan diri. Hal itu menambah kecemasan Maya. Mayong segera bergegas turun dari mobil, "Sayang kamu di sini dulu. Aku lihat situasi di dalam". Mayong melangkah terburu ke dalam mansion. "Sepi, tidak ada barang yang berantakan. Aneh sekali" batin Mayong. Mayong melangkah menuju kamar Raja putranya. Pandangan kamar yang sepi terlihat di sana saat pintu terbuka. Di mana mereka??? pikir Mayong.
__ADS_1
Maya yang berada di mobil, tidak sabar menunggu suaminya balik kembali. Karena tak sabar ingin segera mengetahui keadaan Raja, Maya turun dan masuk ke dalam mansion. "Sayang, Raja ketemu belum?" teriak Maya saat memasuki mansion. Maya dibekap seseorang selepas dia memanggil suaminya. Maya sudah terkulai lemas. Orang itu menyeret Maya, sambil menodongkan senjatanya. Bersiap menunggu Mayong mencari keberadaan sang istri. "Kali ini aku tak akan melepasmu, sebelum suaimumi menuruti semua keinginanku" ancamnya di telinga Maya.
Mayong berkeliling dari kamar ke kamar mencari keberadaan Raja. "Kenapa mansion ini rapi, seperti tidak terjadi apa-apa?" pikir Mayong. Mayong karena terlalu fokus mencari keberadaan Raja, sampai mengindahkan panggilan sang istri.
"Oh iya, tadi kan Maya memanggilku dari ruang depan. Kok nggak menyusulku" Mayong kembali berjalan ke ruang tamu.
"Ha....ha....ha.....kau datang juga Mayong" suara David demikian menggelegar di ruang tamu itu. "Kali ini tak akan kulepas kau dan istrimu. Kau membuat perusahaanku jatuh bangkrut. Kau juga yang membuat aku ditahan polisi. Kau harus menerima pembalasanku Mayong" ancam David sambil menodongkan pistolnya ke arah pelipis Maya.
"Apa hanya itu yang bisa kau lakukan David. Dari dulu kamu memang licik" seru Mayong mencoba mengulur waktu.
"Sepuluh menit kutunggu kau menandatangani berkas ini" David melempar sebuah berkas ke meja di depannya.
"Ha...ha.....putra?????? Putramu bahkan juga keponakanku. Aku juga manusia yang masih punya hati Mayong. Tidak mungkin aku melukai anak kecil, yang nota bene juga masih keponakanku" David masih tertawa.
"Aku tak percaya ucapanmu David, cepat lepaskan istri dan anakku" Mayong mencoba mendekat.
"Ha....ha.....tak.kan semudah itu Mayong. Kau kira ancamanku hanya angin lalu. Hah!!!!" David semakin mendekatkan ujung senjata ke pelipis Maya dan mulai menarik pelatuknya. "Saya hitung sampai tiga, kalau tidak lekas kau tanda tangani. Maka, nyawa istrimu melayang" David menekan kata-katanya.
"Satu....dua...." David mulai menghitung. Mayong segera menghampiri berkas yang ada di meja.
__ADS_1
"Apa ini isinya?" Mayong menatap David berharap melihat kelengahan seorang David.
"Berkas kesediaanmu memberikan uang satu trilyun peruhaanku, dan juga menarik tuntutanmu atas tindakan penculikan istrimu" jelas David sambil menahan emosinya. "Ayo lekas...ti....." David menghitung lagi.
Mayong menandatangani berkas itu. David segera menariknya, sementara tangannya masih menodongkan pistol ke arah Maya. "Mana janjimu David, bahkan kau sudah mendapat yang kau ingin. Lepaskan Maya dan juga bawa kembali putraku ke sini" tambah Mayong.
"Sudah kubilang, aku tidak tahu putramu. Kau pastikan aku aman dulu, baru kulepas istrimu"David tetap menyeret Maya keluar mansion. Bara yang sedari tadi menunggu kelengahan David, belum bisa bergerak. Saat David berjalan ke luar gerbang, dan membawa Maya besertanya. Mayong tetap mengikuti. David segera masuk mobil, dan menyalakannya. Karena sudah mendapatkan berkas itu, David mendorong Maya keluar dari mobilnya. Mayong menangkap tubuh sang istri yang limbung karena masih pengaruh obat bius.
Doni yang berjaga, menembakkan sesuatu ke arah ban mobil David. David yang melaju kencang, tiba-tiba mobilnya oleng dan menabrak pembatas trotoar. David tertatih keluar dari mobil dengan tetap mendekap berkas yang telah ditandatangani Mayong. Sepucuk senjata telah menempel di pelipisnya. David yang tak berkutik, segera mengangkat kedua tangannya. Doni segera meringkusnya. Tak lama kemudian, polisi datang dan memborgol David. Berkas yang dibawanya pun direbut Mayong, dan dirobek oleh Mayong.
"David, di mana keberadaan putraku?" Mayong memegang krah baju David. Sementara Maya yang masih belum sadar berada di pangkuan Yasmin.
"Sudah kubilang Mayong, aku tidak tau keberadaan putramu. Aku datang mansionmu telah sepi" jelas David.
"Kupastikan nyawamu taruhannya, jika terjadi sesuatu dengan putraku" ancam Mayong.
"Makanya serahkan berkas itu, maka putramu akan aman" ujar David sinis. "Tapi kau terlanjur merobeknya, akan kupastikan bagaimana nasib putramu selanjutnya" ucap David ambigu.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
__ADS_1
to be continued, happy reading