Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 59


__ADS_3

Mayong gabung dengan papa Suryo dan ayah Abraham di ruang kerja. Pembicaraan serius dimulai.


"Mayong, gimana Nayaka?" Papa Suryo menanyakan hasil dari Jepang.


"Meski perusahaan Nayaka, saham terbesar milik kita Pa. Tapi tuan Akio juga punya andil besar di sana, karena sebagai pemilik saham terbesar kedua. Tuan Akio masih belum setuju untuk mengakuisisi Samudera Group, meski pendanaan semua berasal dari Dirgantara. Reputasi Samudera lah yang menjadi dasar pertimbangan. Bagitu sarannya"


"Baiknya kita jadi penonton saja kejatuhan Samudera Group. Asal mereka tidak mericuhi Dirgantara lagi" ujar Papa Suryo.


"Perusahaan Gayatri gimana Mayong?" sela ayah Abraham.


"Sudah selesai ayah, hambatan impor barang kemarin karena ada sabotase saja. Semua sudah tertangani" jelas Mayong.


"Kadang kita juga perlu santai, tapi jangan lengah Mayong. Kelengahan kita adalah hal yang ditunggu rival-rival kita" nasehat papa Suryo. Mayong membenarkan ucapan papanya.


Ayah Abraham pulang dengan pak Amin setelah menunjukkan jam sepuluh malam. Maya yang masih ngobrol dengan mama Clara, dihampiri olehnya. "May, ayah pulang dulu. Banyak istirahat. Kalau bisa operasi yang sekiranya sulit limpahkan ke kolegamu aja. Ada dokter Budi kan?" nasehat Abraham.


"Baik Yah. Lagian sama pak direktur aku banyak dijadwalkan di poli" ujar Maya. Mayong pasti ada dì balik keputusan direktur itu, batin Abraham.


"Oke ayah pulang, jaga diri baik-baik" pesan Abraham keluar dari mansion sahabatnya.


Mayong yang baru keluar dari ruang kerja disusul papa Suryo, "Ma, Maya kan butuh istirahat. Aku ajak ke kamar dulu ya?" sela Mayong.


"Halah, itu hanya modusmu saja Mayong" suara papa Suryo di belakang Mayong.


"He..he..., tuh papa tau" Mayong cengengesan.


Maya tersenyum malu.


"Ayo sayang, mau kugendong apa jalan sendiri?" goda Mayong. Maya menimpuk suaminya, "Malu tuh sama papa mama" ujar Maya.


"Ayolah, biar papa sama mama kepingin juga...ha...ha..." kata Mayong absurd.


"Tapi sekarang mana bisa, papa pasti encok kalau ngangkat mama" Mayong terbahak dan segera menjauh dari mama Clara menggandeng istrinya.

__ADS_1


"Sayang, masih mual nggak?" Mayong menutup dan mengunci pintu kamarnya. Maya hanya geleng kepala.


"Aku kangen, sini peluk" lanjut Mayong.


"Aku mau bersihin muka dulu sayang" alasan Maya.


"Aku bantuin" ujar Mayong semangat.


Mayong membantu istrinya membersihkan muka biar cepat selesai. Dengan tak sabar Mayong mengangkat istrinya ke tempat tidur.


"Boleh ya aku tengok??" ijin Mayong sambil mengerling nakal.


"Sayang, nggak ingat pesen ayah?" elak Maya.


"Pelan aja, please sayang" bujuk rayu Mayong terus terucap.


Kali ini Mayong memimpin permainan, istrinya tidak dia biarkan kelelahan.


"Sayang, tambah berapa ukurannya nih?" tanyanya sesaat sebelum menyesapnya. Maya pun menikmati permainan suaminya. Padahal Mayong masih bermain di area perbukitan kembar. "Lanjutin sayang" pinta Maya mengarahkan puncak bukit ke bibir suaminya. Mayong semakin bersemangat. Bibirnya turun ke area inti istrinya, permainan lidahnya sungguh pintar. Sementara tangan tidak berhenti melenakan pucuk bukit kembar itu. Maya menggelinjang, suara indah itu entah berapa kali terdengar oleh suaminya.


Bulan berganti. Tak terasa kehamilan Maya sudah trimester akhir. Mau tak mau akhirnya Mayong dan Maya tinggal di mansion, kadang sesekali menginap di kediaman ayah Abraham. Mayong tak tega meninggalkan istrinya sendirian di apartemen. Maya sudah mengambil cuti.


Seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya, tiap pagi Mayong mengajak istrinya untuk jalan pagi di sekitar mansion.


"Sayang, kamu semakin seksi" ujar Mayong melihat istrinya hanya pakai dres rumahan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Seksi gimana? Badan kaya balon begini" gerutu Maya.


"Beneran...apalagi yang ini, berisi banget?" tunjuk Mayong ke arah dada istrinya. "Suka benget aku di situ" lanjut Mayong berbisik. Blusssss..pipi Maya kayak tomat.


Maya teringat, selama hamil ini Maya malah sering meminta duluan. Semenjak mual mereda, Maya semakin aktif. Kadang Maya merasa malu sendiri.


Seperti pagi ini, sebelum Mayong berangkat. Mayapun merengek. Mayong seakan mendapat jackpot. Perut yang membesar tek menjadi halangan Maya.

__ADS_1


"Sering-sering malah memperlancar persalinan lho sayang" ujar Maya.


"Itu hanya alasan apa emang ada teorinya?" sela Mayong.


"Beneran, itu ada teorinya. Tapi pelan aja ya" jujur Maya.


"Kalau gini bilang pelan, coba di tengah permainan. Mana mau kamu pelan??" Mayong tergelak. Maya terkekeh. Hormon kehamilan benar-benar menaikkan hasratnya.


Mayong menyibak dres Maya dan melepasnya. Maya yang sengaja tidak memakai dalaman karena merasa tidak nyaman semakin memudahkan suaminya. Bukit kembar itu benar-benar semakin berisi dan padat. Mayong mengisap seperti orang kehausan. Mayong melepasnya, ketika merasakan air susu keluar lumayan banyak. "Sayang, kok sudah keluar?" tanyanya heran.


"Ini kan sudah trimester akhir, ya nggak apa-apa keluar. Persiapan menyusui" terang Maya.


"Wah, bentar lagi aku kalah saing dong???" ujarnya melanjutkan aktivitas yang tertunda. Jakun Mayong sampai naik turun menelannya. Bukan hanya Mayong yang hobi di sana, Maya pun sangat menikmati ulah suaminya. Dan terjadilah lagi pagi itu, mereka bersama mereguk kenikmatan bersama.


Saat Mayong mandi, terdengar teriakan Maya di kamar. Mayong bergegas hanya menggunakan bathrobe keluar. "Ada apa sayang?"


"Kayaknya perutku mulai kontraksi sayang" Maya meringis menahan sakit.


"Ayo ke rumah sakit aja" ajak Mayong. Maya menggeleng, "Tunggu kontraksinya kuat sayang, lagian aku juga belum ngeluarin lendir darah. Mendingan kamu pakai baju dulu deh" ujar Maya.


Mayong mengambil ponsel, dan memberi kabar Doni untuk merescedule jadwalnya.


"Kok nggak berangkat? Nanti kalau tambah sering kontraksinya aku bisa minta tolong papa dan mama" Maya meringis lagi.


"Nggak, aku akan nemenin istriku. Lagian aku bosnya" Mayong menolak usul Maya.


"Aku mandi dulu, badanku lengket" Maya melangkah ke kamar mandi. Mayong mengikuti. "Kok ikut?" Maya menatap aneh Mayong. "Aku tungguin, nggak ada penolakan" Mayong menyiapkan air hangat di bath up. Maya berendam, sesekali meringis menahan nyeri kontraksinya. Semua itu tak luput dari pandangan Mayong. Sikap Maya yang tenang menghadapi persalinan, sedikit banyak juga mempengaruhi suaminya. Bahkan sampai sekarangpun mereka berdua belum memberi tahu mama Clara dan papa Suryo.


Mama Clara mengetuk kamar anaknya, "Mayong Maya" panggilnya. Mayong membuka pintu. "Kok nggak berangkat kerja???" tanya mama yang melihat anaknya masih di rumah. Mama Clara masuk dan bertepatan Maya meringis menahan nyeri, "Eh sudah kerasa kah, Mayong kenapa nggak langsung ke Suryo Husada?" bahkan mama Clara yang panik, lupa kalau menantunya seorang dokter kandungan.


"Bentar lagi Ma ke rumah sakitnya, kontraksinya juga belum sering banget" terang Maya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


enaknya lahir spontan apa operasi bu dokter???? 😅


happy reading


__ADS_2