
Tak terasa lima hari sudah kedua insan yang sudah saling bucin itu berada di negaranya Lee Min Ho. Sekarang saatnya kembali ke dunia nyata. Koper yang sebelumnya hanya dua, sekarang bertambah. Mayong hanya geleng-geleng melihat tingkah istrinya.
"Sayang, nggak kurang tuh oleh-olehnya?" tanya Mayong. "Jangan ngeledek ah, ini kan pertama kali aku pergi jauh. Yasmin, adik-adikku, dan bidan-bidanku di rumah sakit semua sudah lengkap kok oleh-olehnya" Maya menghitung satu-satu.
"Bukannya di Suryo Husada semua karyawanmu Yang? Kok malah aku yang ngebeliin, harusnya kamu dong?" ujar Maya.
"Oleh-olehmu itu belinya pake apa? Hasil nggesek kartu ini kan?" Mayong menunjukkan black card nya. Maya tersenyum cengengesan, "Iya juga sih".
"Sayang, aku lupa beliin buat ayah dan Mama Clara. Kalau papa Suryo nggak usah aja, kan papa sudah punya semua" lanjut Maya.
"Ketiga orang tua itu oleh-olehnya cukup yang ada di sini" Mayong mengelus perut Maya.
"Semoga lekas jadi ya sayang" doa Maya. Mayong mengaminkannya. "Tapi secara teori, kalau terlalu dikebut juga nggak bagus" ujar Maya. "Baik dokter, untuk selanjutnya aku ngikut apa kata dokter cantikku" gurau Mayong.
Setelah check out, mereka menuju bandara dan kembali ke Indo. Mayong dan Maya mampir ke mansion papanya. Kebetulan Ayah Abraham juga berada di sana.
"Assalamualaikum, malam semuanya" sapa Mayong sumringah dan tak lupa menggandeng tangan istrinya.
"Wah....wah.....pengantin baru sudah datang, gimana kabar kalian?" sapa Bara.
"Duduk dulu, baru ngobrol" Mama Clara menimpali.
Maya duduk di samping Abraham dan memeluknya, "Ayah, kangen" rengek Maya. Abraham terkekeh, "Lihat tuh suamimu, dia memelototi ayah". Semua yang di sana terbahak kecuali Mayong.
"Wah...wah....ada yang cemburu akut tuh May" ledek Bara. Papa Suryo menengahi, "Gimana Mayong, perintah papa sudah kau laksanakan belum?"
"Pasti lah Pa, hasil tunggu bulan depan" jelas Mayong.
"Pede amat, pasti kau buatnya tiap hari dan beberapa kali kan?" ejek Bara.
"Sok tau" sergah Mayong.
"Bener lho, coba tanya Om Abraham tuh. Kalau keseringan malah nggak jadi, telurnya kebanyakan dikocok. Iya kan Om" Bara mencari pembelaan.
"Kalau hal itu Maya juga paham Bar" Abraham menengahi.
"Bismillah aja, semoga disegerakan" Mama Clara sebenarnya tidak sabar menimang cucu.
"Skalian aja semua makan malam di sini, ayookkk!!!" ajak mama Clara.
__ADS_1
Sekembalinya dari mansion, Mayong dan Maya meluncur ke Apartemen disopiri oleh Pak Amin. "Pak Amin, apa kabar" sapa Mayong.
"Baik Tuan, langsung ke Apartemen?"
"Iya, langsung aja. Nanti abis nganter kita, pak Amin ke kediaman ayah aja ya. Besok kita belum mulai kerja. Lusa aja Pak Amin jemput Maya" jelas Mayong. Pak Amin mengangguk tanda mengerti.
Pak Amin langsung beranjak, ketika Tuan dan nyonya nya turun di apartemen.
"Sayang besok kita ke mall ya" ajak Maya. Mayong yang rebahan di paha Maya mendongak, "Ngapain?"
"Belanja lah, beli kebutuhan rumah tangga" Maya membelai rambut suaminya.
"Emang bisa masak?"
"Ya belajar dong, liat tutorial. Tapi kalau rasanya gimana-gimana jangan diledekin ya" kekeh Maya.
Mayong mendongak menatap istrinya, "Sayang aku nggak nuntut kamu bisa masak, beres-beres apartemen. Yang penting kamu bisa mambagi waktu untuk kerjaan dan untukku aku sudah senang" jelas Mayong.
"Dan tidak usah memaksakan diri. Nanti bi Inem yang ke sini tiap hari untuk bersih-bersih dan masak, skalian bareng pak Amin pas menjemputmu. Aku juga sudah ijin dan disetujui oleh ayah" lanjut Mayong.
"Bentar sayang" Mayong beranjak dari pangkuan Maya ke ruang kerja. Maya berdiri mengambil air putih. Mereka kembali ke ruang tengah, Mayong menyodorkan dua buah kartu black card.
"Untuk?" Maya menanyakannya.
"Satu aja sayang" Maya mengambil satu black card.
"Sayang, itu sudah kewajiban suami untuk menafkahi istrinya. Meski aku tau, kamu juga kerja. Terima dan pergunakan dengan baik, ini sudah menjadi hakmu" terang Mayong.
"Tapi jangan lupa, kewajiban juga harus dipenuhi" Mayong tersenyum nakal.
Maya mencubit gemas hidung mancung Mayong, "Mesthi ujung-ujungnya ke sana".
Mayong terkekeh. Mereka ngobrol sampai tengah malam.
"Ayo ke kamar" ajak Mayong melihat istrinya menguap. Maya langsung pulas, ketika berjumpa dengan bantal guling.
"Capek sekali ya??" Mayong membelai rambut istrinya. Mayong menyusul Maya ke alam mimpi.
Waktu cuti yang tinggal sehari dimanfaatkan Maya untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Mayong mendorong troli sementara Maya memilah-milah barang yang dibeli. Sungguh pasangan ideal. Banyak yang iri melihat pasangan itu.
__ADS_1
"Sayang, mampir sebentar ke butik Yasmin ya" ajak Maya. Mayong mengangguk. Maya memegang lengan suaminya menuju butik Yasmin.
Yasmin yang sedang melayani seorang pelanggan, memberi kode Maya untuk menunggu. Butik Yasmin mulai ramai, pelanggannya banyak dari kalangan atas. Terutama teman sosialita mama Clara. Mayong melihat sekeliling. Mayong dengan wajah datarnya, serasa bunglon kalau sudah di hadapan istrinya.
Yasmin menghampiri mereka, membungkuk hormat menyapa Mayong. "Selamat datang Tuan" sapanya penuh formalitas. Maya terlihat menahan tawa melihatnya. Mayong hanya mengangguk.
"Cin, sini" Maya menarik lengan sahabatnya untuk duduk di sampingnya. Mengeluarkan kotak parfum dari dalam tasnya. "Oleh-olehmu" bisik Maya. "Makasih ya" serunya.
Maya beranjak dan pamitan ke Yasmin. Saat balik badan, kebetulan Bara datang.
"Pas nih" serunya.
"Apanya yang pas?" Mayong menanggapi.
"Pas ingin makan, pas ada yang mau nraktir" Bara tertawa.
"Yeeiiii, pede amat" sela Maya.
"Mumpung ada tuan besar di sini. Manfaatin dong. Ayolah Kak, pelit amat. Sama adik sendiri juga"
"Kak, kalau nggak ada aku. Kakak juga nggak bakalan dapat istri Maya. Sedikit banyak aku juga berjasa lho" lanjut Bara. Mayong terdiam, sedikit banyak membenarkan perkataan Bara.
"Ya sudah ayolah" Mayong mengiyakan.
"Yesssss" Bara langsung menggandeng Yasmin.
"Kalau sudah kebelet, halalin" bisik Mayong ke adiknya.
"Kakak setuju nggak???"
"Hmmmm" Mayong hanya berdehem.
"May, kok bisa ngajak tuan super sibuk ini jalan-jalan? Apa dia sekarang jadi pengangguran? Kalau dia pengangguran ntar nasib dan gaji kita gimana?" ucap Bara beberapa kilometer panjangnya. Maya hanya terkekeh, sudah biasa dengan kekonyolan mereka. Sementara Yasmin masih menyimak.
Mayong melempar tisu ke adiknya.
Saat seru-serunya makan, datanglah dua orang menghampiri mereka.
"Apa kabar tuan Mayong, selamat atas pernikahannya" sapanya sambil menggandeng seorang wanita. Mayong hanya mengangguk dengan muka dingin dan datar, tanpa menjawab apapun. Maya hanya menatap wajah suaminya yang tampak tak nyaman dengan kehadiran mereka, "Terima kasih tuan dan nyonya" jawab Maya mewakili suaminya.
__ADS_1
to be continued
Happy reading 🤗