Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 97


__ADS_3

"Selesai acara lamaran Bara, kalian pokoknya menginap di mansion papa" papa Suryo mengulang titahnya. "Terus mansion ku gimana dong Pa. Baru pulang dari Jepang, tinggal di kediaman ayah. Minggu depan di mansion papa" Mayong mencari alasan. "Bilang aja papa ngiri dengan ayah Abraham" lanjut Mayong. "Ya jelaslah, opa Suryo kan ya kangen sama cucunya" papa Suryo menimpali. Mayong dan Maya hanya saling pandang dengan tingkah para opa-opa itu. Keesokan hari, sesuai nasehat ayah Abraham. Maya melakukan pemeriksaan USG bersama ayah Abraham. "IUDnya aman nak untuk dilepas. Posisinya sudah berada di mulut rahim tuh. Kelihatan kan?" ujar ayah Abraham. "Iya yah. Tapi aku minta tolong dokter Anita aja ya untuk melepasnya" pinta Maya. Ayah Abraham mengangguk. Ayah Abraham tahu bagaimana Mayong, si suami posesif itu.


Hari Minggu sesuai rencana, rombongan keluarga Suryolaksono menuju ke kota "A". Meski ada sedikit drama di perjalanan. Maya bolak balik mengalami emesis. "Sayang, kuat kan?" Mayong sedikit cemas melihat Maya yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Maya menganggguk. "Hanya sedikit lemas aja. Nggak apa-apa kok sayang. Pak Amin, belok ke supermarket ya kalau ada" pinta Maya. "Mau apa?" sela Mayong. "Ingin yang seger-seger yank" seloroh Maya.


Pak Amin membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket pinggir jalan. Maya turun diikuti Mayong. Maya menuju rak minuman dingin di sana. Dia mengambil beberapa gelas natadecoco kemasan. "Huh..segernya" Maya sudah membayangkan enaknya. Mayong melongo melihat istrinya yang sumringah membawa minuman kemasan itu. "Itu apa sehat sayang??" tanya Mayong. "He...he..." Maya hanya terkekeh mendengar pertanyaan Mayong. "Jangan banyak-banyak, secukupnya saja" larang Mayong. "Tapi aku ingin yank" Maya merebut gelas yang dikembalikan oleh Mayong ke raknya. "Ayolah sayang, aku ingin itu" ucap Maya. Mayong hanya bisa menuruti keinginan istrinya yang lagi hamil itu. Ponsel Mayong berdering saat berada di depan kasir. "Ya Pa, masih di supermarket ini. Aku nyusul aja ya langsung ke lokasi. Raja nggak rewel kan?" sambut Mayong menerima panggilan papa Suryo.

__ADS_1


Maya menikmati minuman yang dibelinya. "Segernya...enak yank. Kamu mau nggak?" tawar Maya. "Nggak bikin batuk kan??" seloroh Mayong. "Coba dulu baru komentar" sergah Maya. Mayong mengambil minuman yang telah dibuka Maya. "Seger sih...tapi manisssnyaaaaa luar biasa" jawab Mayong. "Enak tau, minuman favorit ni" tukas Maya. "Jangan banyak-banyak. Glukosanya pasti tinggi tuh" nasehat Mayong. "Baik tuan suami" Maya terkekeh. Mayong mengelus lembut kepala sang istri.


Sementara Bara lakon utama hari ini malah baru keluar rumah sakit, baru selesai operasi emergency dengan Alex. "Lex, aku duluan ya. Buru-buru nih" ucap Bara tergesa keluar dari ruangan operasi. "Mau kemana kak?" tukas Alex. "Ada deh" Bara berlalu tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. Alex segera menyelesaikan hecting kulit. Bara meluncur menuju kota "A". Ponselnya berdering, Bara meloudspeaker panggilan itu. "Halo sayang, sudah otewe aku. Rombongan papa dan kak Mayong sudah duluan" jelas Bara. "*Hati-hati, nggak usah ngebut. Lagian kenapa nggak ambil cuti dulu s*ih yank?" ucap Yasmin di seberang. "Aku sebenarnya sudah ambil cuti. Tapi dokter Anesthesi lain mendadak istrinya sakit. Terus Alex sendiri ini tadi yang meminta tolong. Nggak enak sayang kalau menolak, apalagi ni tadi pasien benar-benar darurat kondisinya" jelas Bara. "Iya aku mengerti. Hati-hati ya. Love you" ucap Yasmin menutup telponnya. Sesungging senyum terlihat di bibir Bara.


Bara sampai sekarang belum percaya, kalau sebentar lagi akan bersanding dengan gadis pujaannya itu. Iya..dialah "Yasmin Melati Sukma". Gadis cantik, mandiri, suka humor dan sedikit slengekan. Dan juga sederhana seperti Maya kakak iparnya. Intensitas bertemu yang sering, membuat Bara mulai menyukai Yasmin. Yasmin yang notabene sahabat Maya, semakin memuluskan niat baik Bara.

__ADS_1


Bara mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Yasmin. Bara yang saat itu menjadi residen anesthesi, dan Maya mengambil pendidikan profesinya membuat mereka sering bertemu. "May, siang ini kamu ada acara nggak?" tanya Bara. "Aku jaga dua puluh empat jam kak, tapi siang ini aku mau ke kost an temenku dulu. Dia baru datang dari kota A" jelas Maya. "Jauh amat????" sergah Bara. "Iya Kak, dia teman SMA ku. Katanya ada titipan buatku dari bapak sama ibu" jelas Maya. "Aku anterin ya???" ucap tulus Bara. "Nggak merepotkan kak?" dijawab gelengan oleh Bara. Cewek yang dekat dengan Bara hanya Maya seorang. Bara sudah menganggap Maya seperti seorang adiknya.


"Assalamualaikum..cin...cin..." panggil Maya sambil mengetuk pintu kamar kos Yasmin. "Wait May, lagi di kamar mandi nih. Tanggung" teriak Yasmin dari dalam kamar. Teriakannya tak kalah keras dengan Maya. Maya menyerobot masuk saat Yasmin membukakan pintu. "Bapak sama ibuk bawain apa cin?" tanya Maya tak sabar. Bara duduk di kursi depan kamar Yasmin, asyik mendengar celotehan dua anak gadis itu. "Sabar...sabar...dong May. Aku juga nggak tau kamu dibawain aja. Bom kali" celetuk Yasmin. "Haissssss...masak bom sih. Bisa bergetar dong kamar kamu" celetuk Maya tak mau kalah. "Bentar, kuambil minum dulu" Yasmin berjalan keluar kamar untuk mengambil air di dapur yang berada di belakang. Yasmin sedikit kaget ada makhluk ganteng, yang dikiranya astral itu. Yasmin sedikit menoel-noel pipi Bara. "Eh, ini hantu pa bukan ya? Ganteng amat" celetuk Yasmin. Maya beberapa kali memang pernah membicarakan Bara, tapi Yasmin belum pernah bertemu dengan Bara sekalipun. Yasmin masih tertegun di tempatnya. "Cin, buruan" teriak Maya dari dalam kamar. "May, ada hantu. Tampan lagi. Aku gemetaran May. Takut, tapi kalau nggak dilihat rugi. Hantunya sempurna May" Yasmin terus berbicara. Bara masih terdiam belum memberi respon. Lucu juga sahabat Maya, batin Bara tertawa. "Haisss..mana ada hantu sempurna" Maya menyusul keluar kamar. Maya terbahak melihat adegan di depannya. Ternyata yang dimaksud Yasmin kak Bara, batin Maya. "Yasmin Melati Sukma" jarang-jarang Maya memanggil sang sahabat dengan nama lengkap. "Kamu nggak lagi mabuk perjalanan kan?" tanya Maya. "Ya nggak lah, mana pernah aku mabuk naik bis" tolak Yasmin. "Mana ada hantu siang-siang gini. Makanya aku nanya kamu mabuk apa nggak?" sergah Maya. "Iya juga ya, kenapa aku disorientasi begini??" Yasmin garuk kepalanya. "Kenalin, ini kak Bara. Yang sering aku ceritain itu lho" ujar Maya. Yasmin mengulurkan tangan ke Bara. Mereka saling menyebutkan nama. Yasmin segera berlalu ke dapur mengambil air minum. Malu nggak ketulungan itu yang dirasakannya. Bara terkekeh melihat ekspresi Yasmin. Cantik, tapi lumayan konyol juga. Batin Bara.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


to be continued, happy reading πŸ€—


__ADS_2