
Tangan David yang terborgol pun, tidak menyurutkan niat David untuk mengancam Mayong. Situasi saat ini menguntungkan dirinya. Padahal saat ini David sendiri tidak tau keberadaan anak Mayong.
"Lepaskan dulu putraku" ancam Mayong.
"Sekarang kau tidak dalam posisi bisa mengancamku Mayong" ucap David sinis, padahal tangannya masih terborgol.
"Oke aku tanda tangani sebuah kertas kosong, terserah mau kau tulis nominal berapa di sana. Bebaskan dulu putraku" ucap Mayong datar. David terkekeh merasa di atas angin. Situasi ini benar-benar berpihak padaku, batinnya tertawa.
Di tengah kegalauan Mayong, ponsel Bara berbunyi. Bara melihat ponselnya sambil bergumam. Siapa sih yang menelpon? Nggak tepat banget waktunya, batin Bara.
"Hah, papa Suryo? Ada apa ya? Pasti papa Suryo merasakan apa yang dialami anaknya" gumam Bara.
"Kak, ayolah angkat. Kok malah dipandang aja" seru Yasmin.
"Halo Pa" Bara akhirny menggeser tombol hijau itu. "Bara, apa kau sedang bersama Mayong dan Maya. Dari tadi aku menghubungi tidak bisa" tanya Papa Suryo di seberang.
"Ah iya Pa, kak Mayong dan Maya bersamaku" ucap Bara tanpa memberitahu keadaan sebenarnya.
" Ya sudah, tolong kau bilang Mayong dan Maya. Kalau Raja sedang bersama Opa dan Omanya. Tadi aku ke mansion, daripada Raja cuma bersama baby sitternya langsung aja Raja kuajak" terang papa Suryo.
"Bilang Mayong tuh, jangan lupa ngecas ponselnya. Masak kuhubungi dua-duanya tidak ada yang nyambung" keluh papa Suryo.
"Baik Pa, akan kusampaikan" Bara menutup panggilan ponselnya.
__ADS_1
Bara mendekati Mayong yang buru-buru membubuhkan tanda tangan di atas sebuah kertas kosong bermaterai. "Kak, Raja aman" bisiknya di telinga sang kakak. Mayong menatap Bara minta penjelasan. "Papa barusan nelpon kalau Raja diajaknya. Dari tadi menghubungi kakak dan Maya tidak bisa" Bara tetap berbisik. Mayong akhirnya berdiri dan menatap sinis ke arah David. Prok....prok....prok....Mayong bertepuk tangan, "Bagus sekali aktingmu David, bahkan kau sangat cerdik memanfaatkan situasiku...ha...ha..... Tapi tenyata semesta lagi-lagi berpihak kepadaku" Mayong tertawa lega.
Tanpa dinyana David berlari dan merebut senjata salah satu polisi yang berada di lokasi dan menembakkan ke arah Mayong. Gerakannya yang begitu cepat, tidak disangka orang-orang yang ada di sana. Polisi yang berjaga melesakkan pelurunya ke arah David. David tumbang duluan daripada Mayong. David terjatuh di tanah dengan darah yang mengucur dari dadanya. Sementara Mayong yang terkulak segera ditangkap oleh Bara. "Kak, sadarlah. Jangan kau tinggalkan Maya dan Raja. Mereka sangat membutuhkanmu . Kak" teriak Raja. Bara pun melakukan pijat jantung pada Mayong.
"Doni....mana mobilnya" teriak Bara bercampur cemas. Air matanya meleleh melihat keadaan kakaknya. Bahkan Maya yang berada di pangkuan Yasmin sampai terlupakan oleh Bara.
Bara segera memapah Mayong ke dalam mobil. "Cepetan Don" suruh Bara setengah berteriak. Doni mengebut dengan konsentrasi penuh. Bara menelpon Suryo Husada. "Cepat siapkan ruang operasi saat ini juga, aku butuh dokter Bagus sekarang" perintah Bara ke staff operasi. Doni yang di belakang setir baru melihat kebengisan Bara saat ini. Orang yang biasa bergurau di tengah keluarganya itu sekarang menatap nanar keadaan sang kakak yang tak sadarkan diri bersimbah darah. "Kak, bangunlah. Raja menunggumu Kak" Bara mulai mengeluarkan air mata memangku sang kakak.
Yasmin bersama Maya yang belum sadarkan diri juga ikut rombongan itu. Tapi dengan mobil yang berbeda. Doni mengemudikan mobil sangat cepat. Bara membebat luka Mayong, untuk mengurangi rembesan darah yang keluar. "Aku titip Maya dan Raja ya Bar" suara Mayong hampir tak terdengar. "Kak, jangan banyak bicara. Diamlah" teriak Bara sambil menangis.
"Cengeng sekali kau Bar" lanjut Mayong sambil tersenyum. Wajah Mayong semakin pias.
Sesampai di IGD para perawat dan dokter jaga sudah menunggu di lobi. Mereka semua lekas membantu Bara menurunkan Mayong ke brankar.
"Cepat restorasi cairan, dan siapkan bedah sentral" teriak Bara yang sedikit kacau.
Dokter Bagus yang merupakan spesialis bedah sudah menunggu kedatangan Mayong.
"Apa yang terjadi dengan tuan Mayong dokter Bara?" minta penjelasan terlebih dahulu.
"Kakakku terkena luka tembak di dada dokter, saya rasa ada hemothorax karena saya lihat saturasi oksigennya menurun" jelas dokter Bara.
"Tapi aku juga perlu bantuan bedah jantung dok, untuk mengantisipasi kalau kena bagian jantung tuan Mayong" imbuh dokter Bagus. Bara mengangguk. Mayong semakin tersengal, sangat susah bernafas.
__ADS_1
Maka dilakukanlah tindakan pembedahan pada tuan Mayong oleh dokter Bagus. "Untungnya peluru hanya menyerempet tubuh tuan Mayong dokter Bara" jelas dokter Bagus.
"Saya membenahi vena pulmonalis yang sedikit ada robekan. Untuk sementara arteri pulmonalis aman. Perdarahan di pleura kiri juga sudah saya bersihkan" ujar sang operator saat ini.
"Baik dok, saturasi di monitor juga membaik. Tekanan darah mulai naik" Bara sedikit bernafas lega.
Pintu operasi terbuka, terlihat dokter Maya masuk ruang operasi dengan berderai air mata. "Kak, bagaimana keadaannya?" suara Maya terbata, kedua matanya pun sembab. "Sebaiknya kamu menunggu di luar aja May, istirahatlah di ruang dokter. Kakak sudah membaik, kalau tak percaya lihatlah di monitor sampingmu itu" Bara menunjukkan angka-angka di monitor. Maya melihat layar monitor yang berbunyi itu. Tekanan darah stabil, saturasi oksigen baik, nadi saja yang masih di atas normal.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Tuan Mayong orang yang kuat. Semoga habis ini tuan Mayong lekas sadar" ucap dokter Bagus. Bara mengangguk tanda terima kasih. Sedikit senyum kelegaan mulai menghiasi wajah Bara dan Maya. Bara keluar dari kamar operasi. Timpukan sandal mengenai bahunya.
"Dasar anak nggak tahu diri. Bagaimana bisa nggak bisa ngasih tau papa kalau keadaan kakakmu sedang sekarat" marah papa Suryo.
"Maaf Pa, aku tidak sempat untuk memberitahu papa" jelas Bara.
"Sudahlah Pa, yang penting Mayong selamat" mama Clara mencoba meredakan emosi suaminya.
"Sekarang di mana Mayong?" papa Suryo bertanya.
"Masih di ICU, papa mau ke sana?" dijawab anggukan papa Suryo.
Saat masuk ruang ICU, ternyata Maya sudah berada di sana mendampingi suaminya. "Sabar ya May, doakan Mayong segera membaik" papa Suryo menepuk bahu Maya menguatkan. Sementara Mama Clara memeluk sang menantu dan menangis tergugu bersamaan. Papa Suryo pun menitikkan air matanya melihat keadaan putra pertamanya itu. "Kau kuat Mayong, ingat pesanku yang pernah kau utarakan. Kamu masih punya kewajiban menjaga istri dan putramu" bisik papa Suryo di telinga Mayong.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
to be continued, happy reading
bantu vote, like, komen dan share ya 🤗🤗