
Ayah Abraham menarik nafas lega setelah membaca pesan yang dikirimkan prof. Henri. Mayong yang sebelumnya berada dekat Maya, menghampiri ayahnya itu. "Bagaimana Yah?" tanya Mayong. "Kalau dilihat dari hasil laborat dan pemeriksaan rontgen sih, harusnya sudah tidak ada apa-apa ya. Cuma masih ada sedikit pembengkakan jantung. Cairan di paru-paru istrimu juga minimalis" jelas ayah Abraham. "Bisa sembuh kan yah?" lanjut Mayong. "Harusnya bisa, tapi ada beberapa kasus yang meninggalkan gejala sisa" ungkap ayah Abraham. "Semoga aja istriku baik-baik saja Yah" doa Mayong.
"Oh ya Mayong, kamu sendiri tau kan kalau rahim Maya sudah tidak bisa diselamatkan. Perdarahan intra operasi yang begitu hebat kamu juga melihat. Mungkin Maya akan sedikit syok mendengarnya, tolong beritahu pelan-pelan ya. Meski Maya seorang dokter, tapi sebagai seorang wanita dan pasien pasti dia akan sedih" pinta ayah Abraham. Mayong mengiyakan permintaan ayahnya. "Aku akan tetap berada di sampingnya Yah, bagaimanapun keadaannya" janji Mayong. "Kupegang janjimu sebagai laki-laki Mayong. Jangan pernah kau sia-siakan putri tunggalku" ucap Ayah Abraham.
Selama di rumah sakit, ayah Abraham dengan setia ikut menemani Mayong menjaga Maya. "Yah, istirahatlah dulu. Sekarang Maya kan sudah lebih baik keadaannya. Biar kutemani" ujar Mayong. "Baiklah, kutinggal pulang ya hari ini. Masa kritis Maya juga sudah terlewati" ayah Abraham akhirnya berlalu dari ruangan Maya. Sepeninggal ayah Abraham, terdengar pintu diketuk. Ternyata perawat datang untuk memberikan suntikan kepada Maya. Mayong hanya mengamati perawat yang nampak grogi karena tatapan tajam sang empunya ruangan.
__ADS_1
Perawat keluar, ganti Doni masuk. "Don, ngapain ke sini? Aku sudah bilang jangan ganggu aku dulu" tatapan menghunus ke sang asisten. Mati gue, batin Doni. "Ta..tapi...ini urgen tuan" ucap Doni terbata. "Semua emailmu sudah aku cek, ada apa lagi?" ucap Mayong. Mayong beranjak dan mengajak Doni duduk di depan ruangan sang istri. Mayong tak ingin mengganggu istirahat istrinya. "Cepat laporan, hal urgen apaan?" perintah Mayong. "Maaf Tuan saya menemui anda, memang hal ini tidak bisa saya sampaikan melalui telpon" jelas Doni. Mayong masih terdiam mencerna. "Tuan James" lanjut Doni. "Tuan James mulai menyerang Nayaka.ind. Kemarin tuan Akio berusaha menghubungi anda tuan, tapi tidak bisa" ungkap Doni. Mayong membuka ponselnya, dan membaca beberape pesan masuk. Ternyata benar salah satunya dari tuan Akio memberitahukan kalau tuan James berusaha membuat saham Nayaka.Ind di pasar bursa jatuh. Tuan James menyerang melalui salah satu perusahaan di negara yang ditinggali olehnya sekarang. "Bagaimana kau tau kalau itu tuan James??" selidik Mayong. "Perusahaan itu dulunya adalah anak Samudera Group tuan. Ternyata itu adalah perusahaan milik almarhum David, yang dikamuflasekan seolah-olah milik orang lain. Samudera boleh gulung tikar, tapi perusahaan itu ternyata lebih besar daripada Samudera" urai Doni menjelaskan. "Ternyata urusanku dengan tuan James belum berakhir", gumam Mayong. "Besok kita adakan rapat darurat Don, tuan Akio dan Bara jangan lupa" perintah Mayong. Doni meninggalkan Mayong yang terduduk di kursi penunggu pasien.
Sementara itu di mansion papa Suryo terlihat Yasmin dan Mama Clara bermain dengan Raja. "Oooma...atu au maem" celoteh Raja. Mama Clara tersenyum mendengar ucapan cucunya yang masih cadel. "Jadi Raja mau maem??" mama Clara memperjelas ucapan cucunya. Raja mengangguk. "Aunty ambilin ya" Yasmin menawari. "Ote onti" Raja mengangkat jempolnya, menirukan gaya papa Mayong. Mama Clara teryawa melihat polah cucunya yang semakin menggemaskan itu. Saat Yasmin datang dan mau menyuapi Raja. "No...no...no...no...." Raja menolak tawaran Yasmin. "Atu udah jadi akak" celoteh Raja. "Oke..baiklah kak Raja. Mau makan sendiri?" Yasmin menimpali. "Yessss" Raja duduk manis di depan piring yang disediakan Yasmin. Batita itu tidak rewel, seakan mengerti keadaan mama dan adik-adik yang bahkan belum bisa ditemuinya sekarang.
Bara datang untuk menjemput istrinya dan tak sengaja melihat Raja yang sedang lahap makan. "Wah...wah...pintarnya keponakan Om. Om boleh minta????" goda Bara. "No!!!!!" tegas Raja. "Emang benar-benar Mayong yunior" celetuk Bara terus tertawa.
__ADS_1
Ponsel Bara berdering, "Doni???" ujar Bara. Bara sedikit menjauh dari ketiganya. "Halo Don" setelah menggeser ikon hijau di ponselnya. "Maaf tuan, mengganggu. Besok akan diadakan rapat darurat oleh tuan Mayong di Nayaka.ind. Harap hadir tepat waktu" info Doni. Bara hanya bisa menggerutu mendengar ucapan Doni. Padahal besok jadwal operasi elektif sudah berderet menunggunya. "Mukanya kok ditekuk sih bee?" ucap Yasmin saat Bara kembali duduk di sampingnya. "Kak Mayong tuh, senengnya ngadain rapat mendadak. Mana besok jadwal operasiku full lagi" gumam Bara. "Pasti ada hal mendesak kalau Mayong mengadakan rapat mendadak" bela papa Suryo yang baru datang menambah kemanyunan Bara. "Kakakmu juga masih nungguin istrinya Bara, tapi dia juga punya tanggung jawab besar di Dirgantara. Bantulah kakakmu" mohon papa Suryo. "Baik..baik...kalau sudah begini mana bisa aku menolak" tukas Bara.
Papa Suryo melangkah mendekati cucunya. "Cepat gedhe ya Raja, supaya lekas bisa bantu papamu" ujar papa Suryo dengan bergurau. "Jangan kasih doktrin ke anak-anak!!!" cegah mama Clara. "Ha...ha...tuh oma-mu belain kamu loh" gurau papa Suryo. Raja malah bergoyang mengikuti goyang tok-tok yang sedang viral. Semua tertawa melihat polah Raja. "Opaaaaa, atu angen papa" ucap Raja. "Kamu kangen papa ya? Kalau sama mama nggak kangen?" tanya papa Suryo. "No, atu angen papa aja. Mama udah da dik ayi" celoteh Raja. "Ooooo... mama sekarang punya adik bayi? Jadi kangennya sama papa saja???" tangkap mama Clara memperjelas ucapan cucunya. Raja mengiyakannya.
Keesokan pagi, Doni menjemput Mayong di rumah sakit skalian membawakan baju ganti untuk tuannya itu. Mayong pamit ke istrinya, "Sayang nggak apa-apa ya, aku rapat duluan??? Titip istriku ya Yah??" ucap Mayong sambil mengecup kening istrinya. Ayah Abraham hanya berdehem. Maya yang sudah mulai membaikpun berusaha bangkit dari tidurnya. Mayong dengan cekatan menaikkan sandaran tempat tidur. "Iya, kan sudah ada ayah yang menemani. Bentar lagi kan putri-putri kita mau dianter ke sini. Jangan lupa siapin namanya ya pa!!!" ucap Maya menirukan suara anak kecil. Mayong mengacak rambut istrinya dan pergi meninggalkan istrinya. "Ayo Don!!!" suara Mayong masih terdengar meski sudah di luar ruangan rawat inap Maya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading 🤗