Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 44


__ADS_3

Deg....deg....deg....suara jantung Maya. Kalau di gambaran ECG akan muncul gelombang thrill mungkin..he..he...karena terlalu gugupnya.


Maya mencubit lengannya sendiri. Masih terasa sakit. Ini bukan mimpi, batinnya.


"Berapa lama lagi kamu membiarkan posisiku begini May?" Mayong mulai kesemutan kakinya.


"Terima...terima...terima...terima....terima..." semua yang berada di ruangan itu bersorak kompak. Maya tak mampu mengeluarkan suaranya. Mulai memantabkan hati dan memandang Mayong, Maya menganggukkan kepalanya. Mayong spontan memeluk Maya. Semuanya bertepuk tangan, kecuali Abraham yang mendekati pasangan yang berpelukan itu.


Abraham mengurai pelukan Mayong dan Maya. Abraham menepuk bahu Mayong dengan keras, "enak aja..belum saatnya. Kalau mau pelukan cepat halalin" sengau Abraham.


"Kak, ada yang posesif nih" Bara menimpali. Mayong hanya menggaruk-nggaruk kepalanya. Lamarannya benar-benar tidak sesuai ekspektasinya. Maya yang hanya pakai jas putih kebesarannya, sementara Mayong dari pagi juga tidak sempat berganti jas. Semua yang ada di sana menertawakan Mayong. Sementara Maya hanya bisa tersipu.


Papa Suryo membuka suara, "Lamaran sudah diterima, sekarang langsung saja kita bicarakan kapan kita mantu Abraham?" menoleh ke Abraham menanti persetujuan.


"Lebih cepat lebih baik Pa" sela Mama Clara.


"Bulan depan saja" celetuk Abraham. Kedua orang tua Mayong mengangguk tanda setuju.


"Eh..eh...kok kalian yang mengatur semuanya. Yang menikah aku dan Maya lho" Mayong ikut menyela.


"Sudahlah Kak, terima beres aja. Lagian Kakak ngapain repot. Wong yang direpotin ikhlas-ikhlas aja. Lagian ketiga orang tua di sampingku ini sudah tidak sabar menimang cucu" Bara tertawa. Mama Clara mencubit Bara yang berada di sampingnya.


"Aku tau kerepotanmu May, biar Mama Clara aja yang mengatur semua. Pokoknya Mama is the best kalau urusan atur mengatur" Bara terkekeh. Jitakan Mama Clara pas tertuju ke kepala Bara.


"Pa, Mama tuh...KDRT lagi" wajah Bara sengaja dimelas-melasin.


"Lanjutin aja Ma, kudukung" tidak ada pembelaan Papa Suryo.


"Sudah begini saja, aku yang mengatur semuanya. Acara kita adakan bulan depan, tempat di hotel kita saja" tegas Mama Clara.


Semua yang berada di ruangan itu tidak ada yang berani membantahnya.


"Bulan depan?????" celetuk Maya. Kok cepat sekali, batin Maya.


"Wah Maya kayaknya inginnya dua minggu lagi deh Ma. Lihat tuh ekspresinya" Bara menggoda Maya. Giliran Mayong yang menimpuk Bara.

__ADS_1


"Ha....ha...ha..." Bara tertawa puas bisa menggoda semua yang ada di situ.


"Tunggu giliranmu Bar" ancam Mayong.


"Nggak akan, lagian acara menikahku aku tidak mau dipestain..wek.." celetuk Bara.


"Lagian calon aja juga belum ada" ejek Mayong.


"Tunggu tanggal mainnya" elak Bara.


"Mama juga tau kali Bar, siapa yang kau pepet" sela Mama Clara.


"Sudah...sudah...ayo kita lanjutin makan. Maya sudah kelelahan tuh. Matanya aja tinggal dua watt" Papa Suryo menengahi obrolan. Maya memang nampak lelah.


Sambil makan, Bara nyeletuk "May, kasus pasien hari ini mungkin akan sampai komite medik. Siap-siap aja kamu dipanggil sub komite mutu". Maya hanya mengangguk pasrah.


Mayong menatap wajah kelelahan Maya.


"Maaf ya May, aku memaksamu ke sini. Padahal aku tau kamu lelah" Mayong merasa bersalah.


"Sudahlah kita lanjutin besok aja kasus itu, kamu bisa konsul ke ayah May" Abraham menengahi. Maya mengangguk tanda setuju. Acara makan malam selesai. Maya pulang bersama dengan ayahnya. Sementara yang lain, berpisah sesuai jurusan masing-masing. Sudah kayak trayek bus saja..he..he..


Maya presentasi dengan rinci dan jelas. Pasien dengan bekas operasi, ketuban pecah dini. Sewaktu dilakukan operasi ada perlengketan di mana-mana. Sewaktu durante operasi, pasien sesak, cyanosis. Sudah dilakukan pijat jantung dan intubasi oleh Bara. Pasien tetap tidak tertolong. Penyebabnya diduga emboli air ketuban. Setelah dilakukan otopsi, ternyata terdapat cairan ketuban yang menyebabkan trombus di paru-paru dan jantung. Sehingga pasien gagal nafas. Semua dokter yang hadir di situ tidak ada penyanggahan sama sekali. Emboli air ketuban, siapapun yang menghadapinya akan sangat sulit untuk mempertahankan. Hanya kuasa Allah lah penentu terakhir.


Maya teringat dengan mama yang belum pernah dilihatnya. Mama yang meninggal dengan sebab yang sama seperti kasus yang dihadapinya saat ini. Tak terasa air matanya menetes di tengah-tengah ruangan itu. Bara yang menyadari, segera menepuk pelan bahu Maya.


"Sabar May, sudah jalan Mama Gayatri. Kamu sebagai anaknya, jangan lupa mendoakan ya" bisik Bara pelan. Maya mengangguk.


Karena Maya sudah sesuai prosedur rumah sakit, untuk tata laksana pasien itu maka pertemuan di komite medik itupun diakhiri. Pak Bambang, selaku direktur menutu acara itu.


Maya balik ke poli kandungan untuk melakukan pelayanan yang tertunda karena pertemuan tadi.


"Nin, banyak nggak pasien hari ini??" Maya menarik nafas panjang yang menunjukkan kelegaan. Nina yang menyadari bahwa dokter cantiknya itu lelah pikirannya, menyodorkan air putih.


"Makasih Nin" sambil menyenderkan kepalanya ke kursi duduknya.

__ADS_1


"Pasiennya cuma sepuluh dokter, sudah bisa dimulai?" tanya Nina.


"Sepuluh kok cuma..cuma itu ya cuma satu gitu" sela Maya. Nina terkekeh. Padahal biasanya pasien yang diterima lebih dari dua puluh lima pasien. Nina sengaja hari ini membatasi pasien poli kandungan cuma sepuluh, karena tau Maya masih banyak pikiran.


"Ayo mulai aja Nin" perintah Maya.


"Baiklah dokcan" Nina berjalan mulai memanggil pasien satu persatu. Pasien poli hari inipun berjalan lancar. Tidak ada pasien dengan kasus yang aneh-aneh.


"Tidak visite dokter?" tanya Nina sambil memberesi alat-alat USG.


"Nanti aja Nin, setelah makan siang. Makan siang aku ngikut kamu aja Nin" Maya terkekeh.


"Dok, aku mau pesen nasi pecel. Emang dokter mau?" Nina balik tanya.


"Mau lah Nin, nasi pecel dengan telur mata sapi dan tempe gorengnya...tidak ada tandingannya" celetuk Maya.


Nina bahkan merasa heran dengan semua keserhanaan dokcannya itu.


Makan siang datang, Nina pesan di kantin rumah sakit. Sudah terhidang di depan Maya dan Nina menu sesuai pesanan masing-masing. Terdengar pintu poli diketuk, Nina dan Maya saling menatap.


"Jangan-jangan dokter Bara lagi dok?" ucap Nina.


"Jangan tanya, baiknya kamu buka pintu aja dulu" Maya tersenyum menanggapi.


"He..he...iya ya" Nina menggaruk kepala tanda menyadari kebodohannya.


Pintu terbuka. Nina terbengong melihat manusia di depannya.


"Siapa Nin?" tanya Maya. Sementara Nina masih terdiam di tempat dan tidak ada respon.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻☕☕☕


Happy reading


Othor sempatin up sebelum sibuk..sibuk nonton final thomas cup..he...he...

__ADS_1


#sangat enak secangkir kopi#selamat menikmati#


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2