Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 128


__ADS_3

Setelah acara makan siang selesai, Mayong dan Maya langsung kembali ke mansion. Sementara Bara mengantar istrinya ke butik miliknya. "Selalu waspada sayang, dimanapun berada" ujar Mayong saat dalam mobil. Raja yang sedang pegang snack, menyuapi papanya dengan snack yang dipegangnya. "Pa...pa....aemmm" ujarnya. Mayong tersenyum lebar dan menerima suapan Raja.


"Apa tuan James lagi sayang?" tanya Maya serius. "Kayaknya begitu. Tapi semuanya musti diselidiki dulu" tukas Mayong. "Kenapa tuan James tidak bosan-bosannya mengganggu keluarga papa dan mama?" ucap Maya. "Belum tentu orang itu suruhan tuan James" urai Mayong. "Terus orang tadi mau kau apakan?" lanjut Maya. "Aku akan mengurusnya setelah kupastikan kalian aman di mansion" jelas Mayong.


"Papa, Mama dan juga ayah Abraham sekarang juga sedang berada di mansion kita. Mungkin beberapa hari akan menginap di tempat kita" tandas Mayong.


"Baiklah, mansion kita tambah rame dong" jawab Maya. Mayong tersenyum menanggapi.


Dia harus segera menemui tuan James kali ini, batin Mayong. Apapun yang terjadi keselamatan keluarga lebih penting dari segalanya, isi benak Mayong.


Sesampai di mansion, Maya dan Mayong yang telah turun dari mobil segera menghampiri ayah, papa dan mama yang berkumpul di ruang keluarga. Raja berada dalam gendongan papanya, karena telah tertidur di perjalanan pulang tadi.


"Siang semua, baby 3G di mana ni mba?" tanya Maya kepada baby sitter yang kebetulan lewat sambil membawa botol kosong bekas minum baby 3G. "Mereka bertiga berada di kamar nyonya. Sudah bobok habis minum ASI" jawabnya sambil pamit undur diri.


Akhirnya Maya pun mengikuti Mayong yang menidurkan Raja di kamarnya. Seperti anak kecil pada umumnya, Raja enggan memakai selimut meski suhu ruang lumayan dingin karena AC dinyalakan. Sepeninggal Mayong dan Maya, giliran Rani yang menunggui Raja. "Ran, kita ke ruang keluarga dulu ya" Maya berlalu saat Rani sudah berada Raja. "Baik nyonya" jawab Rani.


Maya dan Mayong balik ke ruang keluarga gabung dengan orang tua nya. Maya duduk mendekat ayah Abraham. "Apa kabarmu May?" tanya Abraham. "Baik dan sehat semua" jawab Maya sambil cipika cipiki ke ayah Abraham.Tak lupa Maya juga menyapa kedua papa dan mama nya.


"Mayong, apa yang terjadi? Papa sudah dengar semua. Makanya aku ajak ayahmu juga sekalian meluncur ke sini" ucap papa Suryo serius. "Abis ini aku mau interogasi seseorang yang ditangkap para pengawalku tadi Pah" jelas Mayong.

__ADS_1


Papa Suryo mendesah dan menghela nafas panjang, ulah James tak berhenti dari dulu. Mama Clara mengelus punggung suaminya. "Sebaiknya selidiki dulu Mayong, belum tentu ulah James" ulas ayah Abraham bijak. "Benar juga Yah, lagian musuh Dirgantara belum tentu tuan James seorang".


Mayong pamitan ke semua, mau balik kantor Dirgantara. "Aku berangkat, nitip hartaku yang paling berharga ya Pah, Mah dan Yah!!! He...he...." ucap Mayong saat akan masuk mobil. Doni sudah stay di posisi nya, di belakang kemudi.


"Don, jangan langsung ke Dirgantara. Aku mau nemui orang yang tadi" jelas Mayong. "Siap tuan" tegas Doni. Doni membelokkan ke sebuah gudang kosong, yang juga masih milik Dirgantara. Di sanalah orang yang ditangkap tadi diamankan oleh para pengawal.


Saat Mayong masuk, kondisi orang itu terikat dengan mulut masih ditutup lakban. Mayong memerintahkan anak buahnya untuk membuka mulutnya. "Aku tau kamu kenal baik dengan istriku" ucap Mayong duduk tepat di depan orang itu dengan tatapan tajamnya. Merasa ditatap penuh selidik orang itu pun menundukkan muka tak berani menatap Mayong yang mengajak bicara.


"Kamu dibayar berapa olehnya?" selidik Mayong seakan atau siapa dalang dibalik orang yang disekapnya itu.


"Bukankah di mall tadi siang kamu pura-pura menyapa istriku...? Untungnya istriku orang baik, jadi tidak tau niat busukmu mendekatinya" tandas Mayong.


Laki-laki itu mulai menengadah menatap wajah Mayong. Tanpa dinyana dia bersimpuh di hadapan Mayong, "Ma..maafkan saya tuan" ucapnya terbata. "Aku memaafkanmu kalau kamu jujur denganku" Mayong mengulangi ucapannya. Orang itu pun mengangguk.


"Kamu teman istriku waktu dulu kerja di resto kan? Siapa yang menyuruhmu" Mayong mulai mencerca pertanyaan untuk orang itu. "Tuan, saya dulu memang teman istri tuan waktu kerja di resto dekat kampus dulu, nama saya Iwan. Saya melakukan semuanya, karena istri saya sekarang dalam kendali tuan James. Saya mulai kenal tuan James, karena langganan di resto tempat saya kerja bersama nyonya Maya dulu" ucapnya tergugu.


"Tuan James menculik istri saya waktu saya kerja. Dan siang ini waktu jam istirahat kerja, tuan James mengirimi saya sebuah pesan untuk mengikuti nyonya Maya. Saya awalnya tidak mau, tapi begitu tuan James yang mengirimkan sebuah gambar yang memperlihatkan istri saya terikat. Maafkan saya tuan, saya tidak bisa menolaknya. Entah bagaimana kondisi istri saya sekarang" air mata mulai meleleh di pipinya.


"Kamu tau lokasi istrimu?" tanya Mayong dan dijawab gelengan oleh Iwan.

__ADS_1


Mayong menoleh ke Doni, Doni dengan sigap mencari titik sinyal terakhir ponsel yang menghubungi Iwan.


Mayong akhirnya menjelaskan strategi bagaimana menyelamatkan istri Iwan. Dan Iwan pun menyetujuinya.


Mayong memerintahkan hampir dua pertiga para pengawalnya bersiap. Dan yang lainnya menjaga mansion. Tak lupa Mayong juga memberitahu Bara untuk bersiap juga. "Bar, kamu antar aja Yasmin ke mansionku" perintah Mayong. Meski mansion papa nya lebih besar, tapi untuk sistem keamanan mansion Mayong lebih canggih.


"Tuan, maaf menyela. Tuan harus hati-hati juga dengan salah seorang pengawal yang sekarang berada di rumah anda tuan" kata Iwan. Mayong menoleh, "Bagaimana kau tau?" Mayong tentu saja belum percaya sepenuhnya ke Iwan. "Saya tadi tak sengaja dengar pengawal itu melaporkan kondisi saya dan kondisi nyonya Maya ke seseorang dengan bisik-bisik. Saat ini pengawal itu telah balik ke kediaman anda" cerita Iwan masih dalam kondisi terikat. Mayong dan Doni saling pandang. "Benarkah ada pengkhianat di mansionnya. Kalau memang benar, rapi sekali mereka sekarang. Batin Mayong.


Doni mengirim pesan ke Bara dan juga pak Amin untuk menyelesaikan pengawal itu. Mayong tak lupa memberi kabar ke papanya kalau ingin segera menyelesaikan urusan yang tertunda. "Sebaiknya kau ajak kami segera ke tempat tuan James" Doni mulai bersuara. Iwan pun mengangguk. Mereka pergi ke tempat di mana sinyal terakhir nomor ponsel yang menghubungi Iwan ditemukan. Para pengawal mengikuti mobil sang bos dengan rapi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


***to be continued.


Maafken beberapa hari tidak up. Baru pegang ponsel mau ngetik, panggilan dateng πŸ™


Othor ucapkan banyak terima kasih sudah kasih like, komen, vote dan juga hadiah😘


Maturnuwun πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ€—***

__ADS_1


__ADS_2