
Maya masih berbincang dengan bidan yang menyertai visite yang ternyata bernama Anisa itu. "Mba, tolong berkas-berkas rekam medik pasien yang ku visite tadi bawa sini ya. Biar kulengkapi" pinta Maya. Saat Maya fokus melengkapi berkas dan menuliskan resep pasien, datang dokter Alex menghampiri. "Halo kakak senior, apa kabar?" senyum Alex dibuat paling manis. Dalam hatinya Alex sangat mengagumi Maya. Maya hanya membalas dengan senyuman tanpa kata, karena masih repot dengan resep-resepnya. "Dok, sudah tahu belum. Sama dokter Budi kita dijadikan teman jaga lho" seru Alex. "Maksudnya???" beo Maya. "Makanya dok, baca itu info di group" tukas Alex. "Emang ada info apa? Dokter Alex sudah baca kan? Kasih tau lah" ujar Maya. "Dokter Budi membagi dua kelompok, saya dengan dokter Maya minggu ini kebagian rawat inap, sementara dokter Budi dan dokter Anita minggu ini di poliklinik" jelas Alex. "Ooooooo...tapi kenapa dokter Alex nggak barengan dokter Anita saja?" tanya Maya. "Emang kenapa?" Alex kurang paham. "Wah, harusnya aku usul aja ke dokter Budi" usil Maya, membuat Alex tambah penasaran. "Usul agar sesama jomblo disatukan" Maya tertawa lepas. Tawa itulah yang sangat disukai Alex. Andai dokter Maya belum ada ikatan, batin Alex. Jangan jadi pebinor Lex, bisik hati yang baik. Alex memukul kepalanya. "Kenapa kepalanya dok?" tanya Maya keheranan. "Nggak papa kok kak, hanya agak loading aja barusan..he..he.." jelas Alex. "Ya sudah, buruan visite sana dulu. Ibu-ibu muda sudah pada nunggu kedatanganmu di kamarnya masing-masing" gurau Maya. "Baiklah kakak senior, yunior siap melaksanakan tugas" tukas Alex.
Saat Alex berdiri, ponsel Maya berdering. "Halo sayang, jam segini sudah nelpon aja. Nggak sibukkah? Ntar dimarahin Doni lho...ha..ha..." sapa Maya ketika tahu sang suami menelpon. "Oke, jam makan siang ya. Aku sama pak Amin atau bagaimana?" Maya masih melanjutkan obrolan dengan Mayong. "Baiklah, kalau kamu jemput. Pak Amin kusuruh pulang duluan. Bye sayang. Love you" ujar Maya menutup ponselnya. Sementara Alex keluar ruangan dengan wajah masam. "Ingat dok, dokter Maya istri tuan Mayong" celetuk bidan Anisa yang menyertai Alex visite. "He..he....ngga kok mba Anisa. Biasa aja" Alex tertawa dipaksakan. "Dokter Anita juga cantik dok, baik lagi. Malah sering hangout bareng dengan kita-kita. Karaokean, nonton film-film terbaru di bioskop. Dokter Anita asyik dok. Coba aja dokter Alex kenal lebih dekat" bidan Anisa mencoba menjadi biro jodoh untuk kedua dokter jomblo premium itu. Alex hanya menanggapi dengan anggukan. "Nanti kalau pas aku longgar, mau lah diajak karaokean bareng" ujar Alex. "Siap dokter" senyum bidan Anisa. Alex visite sedikit lebih lama daripada Maya. Karena sekarang Alex lah yang paling ngehits di antara ketiga dokter obgyn yang lain di rumah sakit Suryo Husada. Status Alex yang masih single, tampan seperti oppa Korea, ramah pada pasien menjadikannya idola dadakan di antara ibu-ibu muda. Selesai visite Alex kembali ke ruang sebelumnya. Tapi tidak dijumpainya Maya.
__ADS_1
Maya ternyata berada di ruang komite medik, asyik ngobrol dengan Bara. "Kak, papanya Raja kapan hari bilang kalau jadwal liburan kami diajukan. Akhir bulan kami sudah berangkat" tutur Maya duduk di depan Bara. "Emang kenapa diajukan? Pasti ini ada hubungannya dengan Nayaka?" tebak Bara. "Iya sih kak, liburan skalian kerja" Maya terkekeh. Mayong memang pernah menyampaikan ke Maya kalau tuan Akio ingin mempercepat akuisisi Samudera Group. "May...May...Kakak mana pernah mau rugi. Tapi kakakku itu memang number one kalau urusan bisnis" puji Bara. Dokter-dokter lain baru berdatangan. "Eh dokter Maya, tumben aja jam segini sudah di sini" celetuk dokter Bagus. "Iya pak Bagus. Mumpung ketemu skalian nanya dok. Luka hecting suamiku kan sudah kering, perlu ditambahi terapi lagi nggak sih?" tanya Maya. "Dokter Maya tidak tahu apa pura-pura tidak tahu?" celetuk dokter Bagus. Maya hanya tersenyum. "Perlakuan luka post operasiku sama kok dengan luka post operasi sectio cesaria" jelas dokter Bagus. "Baiklah dokter Bagus, makasih ya" jawab Maya.
Ponsel Maya berdering di dalam tas nya. Maya menggeser tombol hijau dan berjalan menjauhi teman-teman sejawatnya. "Assalamualaikum sayang" ujar Maya. "Apa? Sudah di parkiran rumah sakit? Oke aku segera ke sana" ujar Maya. "Apa sayang? Aku di ruang komite medik sekarang" lanjut Maya setelah mendengar jawaban Mayong. Mayong menyusul Maya ke ruang komite medik dengan tetap menelpon Maya. "Aku di depan ruanganmu saat ini sayang. Aku masuk apa kamu yang keluar?" tanya Mayong. Sebentar kemudian, terlihat kepala Maya melongok dari balik pintu. Sebuah senyuman tersungging di wajah Maya saat menyambut kedatangan Mayong. "Bentar, aku pamit dulu ke mereka" seloroh Maya. Maya berpamitan ke sejawat yang ada di sana. "May, mau kemana?" celetuk Bara yang sebelumnya asyik ngobrol dengan sejawat lain. "Diajak tuan bos. Aku duluan ya kak, bye" Maya melambaikan tangan. "Bye..." jawab Bara tapi mengekori langkah Maya.
__ADS_1
"Buka hati untuk siapa Lex????" ujar dokter Budi dari belakang punggung Alex. Hal itu cukup mengagetkan Alex. "Ada deh, seniorku yang ganteng ini kepo aja" tandas Alex sambil tertawa.
Mayong, Maya dan Bara menuju mobilnya masing-masing. Mayong dan Maya langsung ke resto, sementara Bara menjemput Yasmin duluan. "Sayang, aku tadi bilang kak Bara kalau jadwal liburan kita diajukan" Maya memulai pembicaraan saat di mobil. "Bara kau kasih tau juga nggak ada ngaruhnya sayang" Mayong terkekeh. "Nanti kita ke disneyland ya sayang" ajak Maya. "Apa yang nggak sih buat istriku ini" Mayong mencubit hidung Maya. Ponsel Mayong berbunyi, "Ada apa Don? Rapat setelah makan siang? Tentu saja aku ingat. Tapi kamu saja yang datang" perintah Mayong. "Laporan hasil rapat, kutunggu sebelum kamu pulang sore ini. Bye Doni" Mayong menutup ponselnya.
__ADS_1