Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 117


__ADS_3

Mayong meluncur ke Nayaka.ind bersama Doni. "Bara sudah kau kabari Don?" Mayong mengingatkan. "Sudah tuan. Kemarin sore selesai tuan memberi perintah. Tuan Bara langsung saya kabari" jelas Doni. "Bisa nggak dia?" lanjut Mayong. "Maaf tuan, sedikit saya paksa. Tuan Bara hari ini sebenarnya banyak menjadwalkan operasi" ucap Doni. Mayong hanya terdiam tanpa menanggapi ucapan Doni. Sekali-kali memang diperlukan memaksa adiknya itu, pikir Mayong. Lagian dokter Anesthesi di Suryo Husada bukan hanya Bara adiknya.


Suasana pagi yang sedikit dingin, terbawa di ruang rapat Nayaka.ind. "Pagi semua" sapa Mayong duduk di kursi direksi. Mayong yang datang belakangan menyapa semua yang sudah datang. Doni dengan setia duduk di sebelah tuannya itu. Sementara rapat akan dipimpin oleh tuan Akio. "Baiklah, karena sudah lengkap kita mulai saja rapat pagi ini" ujar tuan Akio.


Rapat dimulai dengan pembahasan serius tentang perusahaan yang mulai menyerang Nayaka.ind. Nayaka merupakan perusahaan penguasa utama yang bergerak di bidang perakitan kendaraan roda empat di negara ini. Nayaka.ind melaju pesat karena tangan dingin tuan Akio dan Bar yang selama ini menjalankannya. "Kak, kita babat saja perusahaan tuan James" sela Bara yang sudah geregetan dengan pamannya itu. "Makanya kita rapat ini Bar, kita bicarakan strategi kita selanjutnya" ucap Mayong serius. Perusahaan David yang sekarang dikelola tuan James beda bidangnya dengan Nayaka.ind. Tapi berusaha masuk kembali ke negara ini dengan membuka anak perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan Nayaka.ind. Dengan pembukaan perusahaan yang hampir sama dengan Nayaka.ind tentunya juga mempengaruhi pasar saham yang ada.

__ADS_1


Mayong yang sebelumnya pernah berencana mempertemukan mamanya dengan tuan James jadi berpikir ulang. Sang paman bener-bener tak berhenti mengusik kehidupan keluarganya. Belum sekarang lagi memikirkan keadaan istrinya yang belum pulih benar, mambuat Mayong melamun di tengah rapat itu. "Bagaimana tuan Mayong dengan usulan saya?" tanya tuan Akio. Mayong sedikit terkaget. Melihat keadaan tuannya, "Akan dipertimbangkan oleh tuan Mayong, tuan Akio" sela Doni. "Jadi dapat disimpulkan kalau kita harus memperkuat lagi manajemen di Nayaka.ind dan harus bisa memperluas pangsa pasar baik dalam negeri maupun ekspor" tegas Bara mengakhiri rapat itu.


"Kak, aku duluan. Langsung meluncur Suryo Husada" pamit Bara terburu. "Oke, hati-hati. Kenapa nggak kau oper saja jadwal operasimu?" ujar Mayong. "Ha..ha..panggilan jiwa itu" seloroh Bara meninggalkan ruangan. Sepeninggal Bara, Mayong pun ikutan pamit ke tuan Akio. "Sebaiknya lekas dijalankan tuan, apa yang sudah jadi hasil rapat tadi" saran Mayong. "Secepatnya tuan, akan saya susun planing setelah rapat ini" tegas tuan Akio.


Mayong meninggalkan Nayaka.ind. "Dirgantara bagaimana Don????" Mayong membuka percakapaan di mobil. "Kalau Dirgantara relatif stabil tuan. Semua yang terjadi sudah kukirim lewat email" jelas Doni sambil menatap kaca spion di atasnya. Tuan Mayong nampak lelah, batin Doni. "Tuan, langsung rumah sakit atau mampir mansion dulu??" tanya Doni. "Ke mansion aja dulu Don, biar kukabari ayah Abraham" pinta Mayong. Mayong menekan kontak ayah Abraham, "Halo Yah, gimana keadaan istriku sama putri-putriku" tanya Mayong ketika panggilannya tersambung. "Aman, ni juga lagi ada papa sama mama mu di sini. Tuh lihat" ayah Abraham mengalihkan panggilan video. Mayong tersenyum melihat papa sama mamanya lagi bercengkerama dengan ketiga putri kecilnya. Nampak Raja juga di sana, memeluk erat sang mama seakan tak mau lepas. "Halo Raja sayang, nggak kangen sama papa nih?" ucap Mayong di layar ponsel. Raja semakin memeluk erat mamanya, "Pa...pa...pa....mana?" ujar Raja. Mayong tertawa gemas mendengar tutur Raja, "Papa juga mau dipeluk dong, masak cuma mama yang dipeluk" gurau Mayong. "Pa...pa...pa...dak ada" celoteh Raja. "Sayang, aku pulang bentar ya ke mansion" pamit Mayong. Maya mengangguk. Ayah Abraham mengambil alih ponselnya, "Sudah istirahat dulu kamu di mansion Mayong. Kamu juga perlu jaga kondisi. Habis ini kalau kidos triplet dibawa pulang, jangan harap kau bisa nyenyak tidur" ayah Abraham tertawa. Mayong menutup video panggilannya. "Oke Don, langsung mansion" perintah Mayong.

__ADS_1


Di rumah sakit, beberapa selang yang masih menempel di tubuh Maya mulai dilepas. Maya menarik nafas lega, "Nafasku masih kadang terasa berat ya Yah? Oedem paru ku gimana?" tanya Maya ke ayah Abraham setelah menilai dirinya sendiri. Emang gitu ya kalau pasiennya seorang dokter? he..he... "Kalau lihat foto thoraxmu sih, tinggal sedikit cairan di sana dan juga pembengkakan jantungmu masih ada" jelas Ayah Abraham. "Mulai besok terapi suport untuk gejala-gejalamu itu akan diteruskan besok. Semoga kondisimu membaik dengan terapi-terapi suport itu" lanjut ayah Abraham.


"Kemarin dilakukan histerektomi yah?" tanya Maya (Histerektomi\=prosedur pengangkatan rahim). Ayah Abraham sedikit terbata mendengar pertanyaan Maya. "Emang Mayong belum kasih tau?" ucap Ayah Abraham mengambang. "Sudah sih, cuma kan kalau sama papanya Raja tidak sedetail ngobrol bareng ayah. Khusus kasus kebidanan begini loh Yah. Kalau ngobrol yang lain, suamiku panggah lebih asyik sih" gurau Maya. Ayah Abraham mengelus kepala putrinya itu. "Kamu nggak papa kan kalau aku yang jelasin??" Abraham menunggu persetujuan putrinya itu. Maya mengiyakan. Abraham akhirnya menceritakan proses kelahiran triplet, karena saat itu Maya dioperasi dalam keadaan tidak sadar.


"Jadi karena rahimku tidak mau berkontraksi ya Yah? Sudah kuduga sebelumnya. Dengan beban rahim lebih dari enam kilo, pasti akan sulit rahim untuk berkontraksi baik" Maya menambahi. Abraham yang ganti mengiyakan. Sesama dokter spesialis itu akhirnya saling mendiskripsikan sendiri keadaan dirinya sendiri yang juga putrinya itu.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


to be continued, happy reading πŸ€—πŸ’


__ADS_2