Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 130


__ADS_3

Tuan James mendekati Mayong, dan menatap tajam keponakannya itu. "Gara-gara papa mu dan juga kamu, semua perusahaanku luluh lantak. Ini waktu yang tepat kamu tanda tangani semua Mayong" ucap tuan James. Berkas penyerahan Dirgantara dan Nayaka. "Ayo lekas!!!!" ancam tuan James dengan tetap menodongkan senjatanya.


Tuan James mulai menarik pelatuk senjatanya. Mayong tak bergeming. Tak ada rasa takut sedikitpun di diri Mayong. "Tuan Mayong putra dari Suryolaksono, aku ulangi. Cepat kau tanda tangani berkas itu" ancam tuan James sambil berteriak. Sementara Tuan Akio memerintahkan para anggotanya untuk bersiaga.


"Tidak akan aku tanda tangani tuan James. Dirgantara dan Nayaka adalah murni perusahaan keluarga kami. Bukan warisan dari leluluhurmu. Bahkan dengan entengnya kau meminta hak. Putramu David dan Samudera Group milikmu luluh lantak bukan karena kesalahan dari kami. Tapi karena kau dan putramu yang terlalu serakah" urai Mayong lantang. Tuan James semakin marah dengan jawaban Mayong.


"Kalau itu yang kau harapkan, jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu" sarkas tuan James yang mulai tak sabar. Mayong sengaja memancing emosi tuan James. "Bahkan, kalau sampai aku terbunuh pun itu tidak akan mengalihkan kepemilikan Dirgantara dan Nayaka ke tangan kalian, hei manusia-manusia serakah" tegas Mayong. Tuan James berpikir kembali akan ucapan Mayong. Sedikit banyak tuan James mulai terprovokasi ucapan Mayong.


Tuan Akio mendekat ke arah tuan James dan membisikkan sesuatu. Tuan James kembali mengangkat senjatanya tepat ke kepala Mayong. "Ha...ha....saat ini kau bisa mengelak Mayong. Tapi tidak dengan video ini" tandas tuan James. Dia menunjukkan layar ponselnya, yang menunjukkan video Maya dan keempat putra putrinya di kamar baby 3G. Di video itu nampak Maya bersendau gurau dengan ke empatnya. "Apa yang akan kau lakukan???" tegas Mayong. "Ha...ha....tanda tangani dulu baru aku jelaskan" tawa tuam James dan tuan Akio semakin membahana.

__ADS_1


Doni memberi isyarat ke tuannya. Mayong pun pura-pura mengambil berkas di depannya meski dengan tangan masih terikat. "Bebaskan dulu mereka, dan tunjukkan padaku kalau mereka aman. Baru berkas ini aku tanda tangani" jelas Mayong. Mayong sudah paham isyarat Doni, bahwa video Maya dan anak-anaknya itu hasil rekaman cctv beberapa hari yang lalu. Kalau memang diambil hari ini, pasti oma dan opa-opanya juga akan tampak di rekaman cctv.


Tuan James dan tuan Akio saling berpandangan. Tuan Akio sudah mendapat kabar kalau anak buahnya yang di tempatkan di mansion Mayong berhasil diringkus oleh anak buah Mayong. "Tanda tangani dulu, atau kuhabisi mereka" tuan James kembali mendekati Mayong.


Saat sudah berada di dekat Mayong, secepat kilat Mayong menyerang tuan James. Dengan berbekal ilmu taekwondonya Mayong dengan mudah meringkus tuan James. Demikian juga Doni, saat tuan Akio lengah. Bersamaan dengan Mayong Doni juga menyerang tuan Akio. Alhasil para anggota keduanya yang menodongkan senjata ke arah Mayong dan Doni pun tidak berani menarik pelatuknya. Karena kedua tuannya itu berada di bawah todongan senjata Mayong dan Doni. Keadaan berbalik arah sekarang. Mayong dan Doni berada di atas angin. "Don, bukti sudah kau dapat?" ucap Mayong tegas. "Siap tuan, tinggal menyerahkan ke yang berwajib.


Doni memberi isyarat agar para anggotanya masuk untuk membereskan anggota-anggota tuan James dan tuan Akio. "Berakhir sudah pamanku, tuan Akio. Terima kasih, dengan ini aku tau belangmu tuan Akio" ujar Mayong. Tuan James dan tuan Akio sudah diikat kuat oleh anggota-anggota Doni, begitupun para anggota mereka.


Tak dinyana, tuan James secepat kilat merampas sebuah senjata dari seorang polisi dan menarik pelatuknya ke arah Mayong. Mama Clara yang melihat kejadian itu segera berlari untuk melindungi Mayong. Tembakan itu pun sukses mendarat di perut mama Clara. Mama Clara roboh di pelukan Mayong. "Mamaaaaaaa........" teriak Mayong dan Bara bersamaan.

__ADS_1


Tuan James berdiri tertegun, tidak ada niat dalam hatinya untuk menembak adik kandung satu-satunya itu. Tuan James jatuh terduduk dan menangis. Dalam hati yang paling dalam, dia masih sangat menyayangi adiknya itu. Papa Suryo mendekat ke arah tuan James. "Puas kamu James?" ucap papa Suryo terbata. "Maafkan aku Clara" ucap tuan James lirih. Dan berikutnya tuan James diringkus dan digelandang pihak berwajib.


Mama Clara pingsan karena terlalu banyak kehilangan darah. Bara berlari ke mobilnya. Bara selalu menyiapkan sebuah kotak alat emergency di mobil. Bahkan dengan cekatan Bara melakukan intubasi ke mama Clara yang sudah syok karena perdarahan. Bara menancapkan jarum infus ke lengan mama nya. Dua botol infus telah mengguyur masuk ke dalam tubuh mama Clara. Bara melakukan itu semua dengan deraian air mata. Mayong yang menjadi sandaran tubuh mama nya pun ikut bergetar menangis. Saat ini hanya papa Suryo yang masih tegar melihat keadaan istrinya, meski dalam hatinya dia menangis pilu. Bara berusaha menghentikan perdarahan mama nya.


Doni sudah menghubungi call center Suryo Husada untuk segera meluncur ke lokasi kejadian karena lokasi mereka berada sekarang tak jauh dari rumah sakit itu. Tepat saat Bara berhasil mengurangi perdarahan, ambulance datang. "Pah, aku akan ikut di ambulance. Kalian berdua langsung menyusul saja" ujar Bara. Tepat saat Bara memindahkan mama nya ke brankar pasien, mama Clara membuka matanya lemah. Saat hendak mengatakan sesuatu, Bara memberi tanda ke mama nya untuk tidak bicara dulu. Lelehan air mata mengalir di pipi mama nya. Bara mengusap lembut wanita pertama yang sangat dicintainya itu. Papa Suryo menggenggam erat pergelangan tangan istrinya. Air mata yang ditahan sedari tadi, akhirnya menganak sungai mengalir di pipi nya. Papa Suryo yang terbiasa tegar, saat ini ikut rapuh melihat keadaan istrinya.


Ambulance meluncur ke IGD RS Suryo Husada. Bara sudah menelpon dokter Bedah agar bersiap di kamar operasi. Bara sendiri yang juga menelpon pihak IGD untuk bersiap menyambut kedatangan mama Clara. Di dalam ambulance, mata mama Clara telah mengatup rapat. Di monitor menunjukkan saturasi oksigen yang semakin menurun. Bahkan tekanan darahnya mulai turun signifikan. Bara melakukan VTP untuk membantu menstabilkan keadaan mama Clara. "Ayolah Mah, sadarlah" kata Bara tetap dengan tindakannya. Sementara perawat di ambulance itu dia mintai tolong untuk memasukkan injeksi. Setelah obat masuk, layar monitor kembali menampilkan gelombang ECG yang sebelumnya telah lurus itu.


Di lobi IGD, brankar dilarikan langsung ke ruang bedah central yang posisi ruangannya berada di belakang IGD. Dengan sigap mereka memindahkan ke meja operasi. Darah yang diminta Bara pun bersiap di proses oleh bank darah di rumah sakitnya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


#to be continued#


__ADS_2