
Keluarga Suryolaksono berkumpul di ruang VVIP tempat Maya dirawat. "Yah, sudah boleh dilepas belum infus sama selang urine ini?" tanya Maya. "Kalau lihat tekanan darah yang stabil, dan tidak ada komplikasi mesthinya sih sudah boleh dilepas. Tapi nunggu prof. Henri aja dulu" ujar ayah Abraham.
"Sayang, boleh ya kugendong mereka??? Gadis-gadis kecilku" rajuk Maya. "Tapi kan kamu masih infusan yank, tiduran aja dulu" tolak Mayong. Seakan tau keinginan sang mama, ketiga bayi itu menangis bersamaan, menambah ramai suasana ruangan itu. "Wah...wah...cucu oma mau sama mamanya ya" mama Clara menggendong bayi yang terdekat dengan papa Suryo dan menyerahkan ke Maya. Dua yang lain pun nangisnya bertambah kencang. "Siap-siap aja Mayong ronda tiap malam" celetuk papa Suryo. Ketiga bayi comel itupun terdiam kala didekatkan dengan sang mama.
"Maaf nyonya, mohon ijin bayi-bayinya kita bawa kembali ke ruangan. Sekarang saatnya minum" ujar perawat paling senior di sana. "Iya mba, silahkan. Kalau nanti aku sudah bisa mobilisasi, biar aku aja yang ke ruang bayi" tukas Maya. Para perawat itu membawa kembali ketiga bayi mungil itu ke ruangannya. "May, selamat ya. Semoga aku segera menyusul" ucap Yasmin dan memeluk sahabatnya itu. "Aamiin. Calon ibu harus bahagia, kalau sedih terus ntar yang ada malah nggak jadi-jadi debay-nya" jelas Maya. Mama Clara ikutan nimbrung, "Benar itu apa kata Maya. Allah akan ngasih di waktu yang tepat" sambil mengelus pundak menantu keduanya itu.
__ADS_1
"Kak, ajarin dong cara buat triplet" celetuk Bara ke Mayong yang sedang mengambilkan minum untuk Maya. "Kok nanya ke aku. Tanya ayah tuh!!!" sergah Mayong. "Kalau om Abaraham hanya pinter teori tuh. Kalau kakak kan jelas-jelas sudah sukses" ujar Bara selanjutnya. Alhasil sebuah kotak tisu mendarat di tubuhnya. "Aaawwwww, beneran ini aku mau belajar" Bara melanjutkan ucapannya. "Ternyata kau mengakui juga kalau kakakmu ini pinter Bar..ha..ha..." Mayong puas bisa mengejek adiknya itu. "Haiissssss...rugi gue nanya sama kakak" sesal Bara. Semua yang di sana pun tertawa. "Satu yang pasti Bar, jangan tiap hari ngocoknya" ucap ansurd ayah Abraham. Maka semakin meledaklah tawa di ruangan itu. "Lah, kalau nggak tiap hari bisa pusing kepala ku" ucap Bara tak mau kalah. "Mau jadi apa nggak adonanmu???" timpal papa Suryo. Bara menggangguk. "Makanya dengerin kalau om Abraham bicara" ucap serius papa Suryo. "Bentar..bentar...papa kok malah serius amat???? Padahal aku cuma mau konsultasi doang loh ke kak Mayong. Lagian pah, belum juga setahun aku menikah, nikmatin bulan madu dulu lah" bela Bara. "Kalau mau bulan madu terus, ngapain nanya cara buat triplet" Mayong ikutan. Ponsel Bara berdering, bedah central caling. Semua pandangan terfokus ke Bara. "Nggak usah nglihatin semua. Sudah tau kalau aku ganteng kok" ucap Bara kepedean. Remot AC ada yang melayang, tapi kebetulan meleset karena Bara dengan cepat berpindah tempat untuk mengangkat telponnya. "Halo, dengan dokter Bara". Setelah mendapat panggilan itu, Bara pamit karena cito operasi dan tak lupa mengajak serta Yasmin. "Yasmin, nanti pulang barengan mama aja. Lagian kamu bakal dianggurin kan sama suamimu" cegah mama Clara. "Kalau gitu, anterin istriku ke apartemen ya Mah. Love you mamahku yang tercantik di dunia" Bara mencium gemas sang mama. "Heh..pergi sana!!!! Istriku bisa habis karena ulahmu" sarkas papa Suryo. Bara berlalu dan tertawa puas karena bisa menggoda papanya.
"Yah, Maya sudah diperbolehkan makan belum ni?" tanya Mayong. "Istrimu juga sudah paham Mayong" jawab ayah Abraham. "Istriku kan sekarang jadi pasien Yah. Harus nurut sama dokter yang merawatnya dong. Mana ada pasien suruh berpikir sendiri" sarkas Mayong. "Ha...ha...Nak, suamimu sewot tuh" ujar ayah Abraham. Maya tersenyum. "Yank, nunggu prof. Henri aja dulu ya. Lagian aku mau istirahat dulu. Nggak tau obat penenang apa yang diberikan prof. Henri, efeknya ngantuk terus" jelas Maya. Mayong menaikkan selimut istrinya dan tak lupa mengecup kening istrinya. "Love You, makasih sudah kasih kado terindah untukku" bisik Mayong. Maya memejamkan matanya. Pikirannya menerawang mengingat pertemuannya dengan sang mama. Semua terasa nyata bagi Maya. Maya pun terlelap di tengah obrolan keluarganya.
"Mayong kita pulang ya. Tuh lihat, istrimu sudah terlelap" mama Clara beranjak. "Ayo Yasmin, kita ke mansion dulu aja ya" ajak mama. Yasmin mengangguk, "Iya Mah, lagian lama juga nggak ketemu sama Raja" ujar Yasmin menyetujui. Papa Suryo pun mengikuti keduanya keluar dari ruangan Maya. "Mayong, ada yang ingin kusampaikan tentang kondisi Maya. Alhamdulillah Maya sudah melewati masa kritisnya, tekanan darahnya juga stabil. Tapi efek pemberian transfusi darah yang begitu banyak semoga tidak menimbulkan efek samping yang parah buat istrimu. Hari ini prof. Henri akan saya minta untuk mengulang cek fungsi ginjal, jantung dan hati istrimu. Smoga semuanya baik-baik saja" ujar ayah Abraham sambil terus memandangi layar monitor yang masih terhubung ke tubuh Maya. Mayong hanya bisa mengangguk pasrah. Melihat Maya yang sudah sadar saja, Mayong merasa menemukan kembali jiwa yang kosong selama seminggu belakangan. Tapi melihat wajah istri yang masih sedikit sembab, kedua tungkai yang masih membengkak karena penumpukan cairan di bawah kulit Mayong hanya bisa berdoa dan berikhtiar. "Makasih Yah, kalau tidak didampingi sama Ayah. Mana bisa aku berpikir jernih, menghadapi keadaan istriku yang seperti ini" Mayong memeluk erat ayah Abraham. "Kita harus berusaha Mayong untuk Maya. Kamu tau kan kalau Maya adalah peninggalan istriku yang paling berharga" ujar ayah Abraham. "Bahkan tanpa kau pinta pun, aku tetap akan ikut menjaganya segenap jiwa ragaku" lanjut ayah Abraham.
__ADS_1
Ayah Abraham menerima pesan yang dikirimkan prof. Henri. Ayah Abraham menelitinya dengan seksama dan tidak ada yang terlewat sedikitpun.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
**to be continued, happy reading 💝🤗
__ADS_1
makasih yang udah setia mengikuti part demi part**