
Setelah makan siang, Mayong dan Doni pergi ke kota "A" untuk mencari bidan yang membantu nyonya Gayatri ke ruang kamar operasi.
Sampai kota "A" Mayong mencari hotel untuk menginap. Jarak kota "S" ke kota "A" memerlukan jarak tempuh sekitar tiga jam. Karena kota kecil, Mayong hanya dapat hotel bintang 3. Itupun termasuk hotel yang megah di kota "A".
"Don, istirahat dulu aja. Kita ke rumah bidan itu agak sorean aja" ujar Mayong setelah mendapat kunci kamar dari petugas hotel. Doni hanya mengekor di belakang Mayong setelah mendapatkan kunci.
"Jam lima sore, saya tunggu di lobi Don. Awas jangan sampai ketiduran" Mayong sambil membuka pintu kamarnya.
Mayong merebahkan tubuhnya yang letih. Semoga aja segera kutemukan titik terang keberadaan putri om Abraham, harapnya. Mayong terlelap.
Jam lima sore, Mayong keluar dari lift. Sementara Doni siap sedia menunggu di lobi. Mayong menghampiri, "Don, sudah tau alamat bidannya kan?" Doni hanya mengangguk.
Mereka meluncur ke sebuah desa yang asri. Berbekal map, Doni berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang asri. Doni turun dan mengetuk pintu. Seorang wanita yang kira-kira seusia dengan mama Clara membuka pintu.
"Selamat sore tuan-tuan, mencari siapa?" tanya wanita itu.
"Sore bu, kita mencari bidan Anjani. Apa beliau masih tinggal di sini?" Doni yang menjawab. Mayong tetap berdiri di belakang Doni dengan wajah datarnya.
"Iya, saya Anjani. Ada yang bisa dibantu?" jawab ibu Anjani.
"Eh iya, silahkan masuk dulu", Anjani mempersilahkan Mayong dan Doni.
Doni dan Mayong duduk, "Begini ibu Anjani, ada yang mau kita tanyakan. Ini tentang kejadian yang sudah lama sekali". Doni mengutarakan maksudnya datang menemui bu Anjani.
__ADS_1
Ibu Anjani masih berusaha menelaah ucapan kedua anak muda di depannya.
Mayong memperjelas apa yang disampaikan oleh Doni, "Begini bu. Ibu kenal dengan nyonya Gayatri, istri dokter Abraham?
Ibu Anjani nampak terkejut. Tentu saja kenal, karena istri dokter Abraham terkenal ramah waktu ibu Anjani masih bekerja di rumah sakit itu.
"Kalian siapa?" ibu Anjani mulai waspada.
"Jangan takut bu, saya Mayong putra dari pak Suryolaksono temannya dokter Abraham" Mayong masih menatap ibu Anjani dengan seksama. Dalam benak Mayong, ia yakin kalau memang ada sesuatu yang terjadi saat itu. Mayong sengaja menyebut nama om Abraham. Tidak mungkin bidan yang dinas satu rumah sakit dengan om-nya waktu itu tidak mengenal dokter kandungannya.
Bu Anjani masih nampak belum yakin dengan keterangan Mayong. Bu Anjani nampak mulai berhati-hati dengan ucapan dan tindakannya.
"Kalau memang benar anda mengenal nyonya Gayatri apa buktinya?" tanyanya.
Mayong nampak berpikir sejenak, "Kalau anda juga mengenal nyonya Gayatri, tentu anda tau apa yang beliau kenakan sewaktu mau melahirkan?" Mayong balik bertanya.
Mayong melanjutkan ucapannya, "Tentu anda akan ingat dengan sebuah kalung giok bermata biru yang nyonya Gayatri kenakan waktu itu".
Ibu Anjani sebenarnya ingat betul dengan benda itu. Karena Mayong mengetahui tentang kalung itu, ibu Anjani yakin kalau Mayong mengetahui kejadian nyonya Gayatri waktu itu.
"Baiklah tuan, karena anda sudah menyampaikan tentang kalung itu. Saya yakin anda lebi mengenal nyonya Gayatri ketimbang saya" ujarnya dengan mimik serius.
"Apa kejadian ini ada hubungan dengan orang yang bernama David, tuan?" bu Anjani berusaha mencari kejujuran Mayong. Karena kejadian ini adalah rahasia yang disimpan rapat oleh bu Anjani. Rasanya begitu terbebani menyimpan rahasia ini.
__ADS_1
"Bagaimana anda mengenal David bu?" Mayong merasa heran.
"Saya tidak mengenalnya, tapi beberapa hari yang lalu ada seseorang mengaku bernama David ke sini. Dia juga menanyakan keberadaan anak nyonya Gayatri. Karena merasa ada sesuatu yang janggal saya tidak memberi tahu apapun kepadanya, saya cuma bilang tidak mengenal nyonya Gayatri" bu Anjani bercerita.
Bagaimana bisa David mendahuluiku, apa semua ini ada hubungannya dengan keluarga tuan James dan David? batin Mayong.
"Bisa anda ceritakan kejadian nyonya Gayatri melahirkan bu?" tanya Mayong.
Karena sudah merasa yakin dengan Mayong, bu Anjani akhirnya menceritakannya, "Sayalah yang mengantar nyonya Gayatri pindah dari ruang bersalin menuju kamar operasi. Kedua temanku masih membantu pertolongan persalinan di sebelahnya. Nyonya Gayatri waktu itu nampak gelisah. Dan aku bertanya kepadanya. Nyonya Gayatri bilang kalau ada orang yang mengancamnya, selanjutnya beliau menyerahkan kalung giok dan secarik kertas dengan sebuah nama ditulis di sana. Kalau nanti putriku lahir, tolong kalung ini pakaikan kepadanya, serta tuliskan namanya di gelangnya. Setelah sampai kamar operasi, nyonya Gayatri langsung dibawa masuk. Akupun menyiapkan perlengkapan bayi di ruang resusitasi. Kalung dan secarik kertas itu aku taruh di bawah baju bayi yang telah disiapkan nyonya Gayatri sendiri. Karena aku bukan petugas ruang perinatologi, akhirnya aku kembali ke ruang bersalin. Satu jam kemudian, aku mendengar kalau putri nyonya Gayatri meninggal. Tidak tau kenapa aku ingin balik ke ruang operasi untuk memastikan. Kulihat bayi yang meninggal, ternyata kalung giok dan secarik kertas itu tidak ada di sana. Kucari kemana-mana keberadaannya. Sampailah aku di sekitar ruang mayat, saya melihat ada seorang laki-laki yang mencurigakan menggendong seorang bayi. Saya yakin itu bayi nyonya Gayatri, dengan melihat baju yang dipakai dan warna bedongnya. Karena aku yang menyiapkannya, sebelum bayi itu dilahirkan".
Mayong masih menyimak.
"Aku menunggu orang itu lengah. Beberapa menit kemudian orang itu gelisah. Kayaknya dia menahan sesuatu, begitu pikirku. Aku tunggu. Orang itu ternyata kebelet, kemudian meletakkan bayi itu di dekat pintu kamar mandi. Aku mengendap-endap mencoba mendekat. Aku lihat di bawah bayi terselip sebuah kalung giok dan secarik kertas itu ternyata masih ada di sana. Aku sambar bayi itu buru-buru ketika kudengar kenop pintu berputar. Menunggu situasi aman aku bersembunyi di kolong. Ternyata teman orang itu ada beberapa. Salah satunya wajahnya hampir mirip dengan David yang beberapa hari lalu menemuiku. Aku sangat mengingat dengan wajah agak kebulean itu. Bayi itu kutaruh di sebuah kardus beserta barang-barangnya. Aku membawanya dengan berpura-pura mengangkat sebuah kardus minuman kemasan. Tidak ada orang yang curiga. Tinggal memikirkan bagaimana caranya mengantar bayi ini ke dokter Abraham, pikirku saat itu.
Hampir mirip David???? Apa itu tuan James muda???? Mayong masih menunggu kelanjutan cerita bu Anjani dengan serius
Bu Anjani pamit ambil minum.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
#othor juga pamit minum dulu yaaa, biar nggak dehidrasi π#
#menulis ternyata butuh asupan# cemilan...mana cemilan...#
__ADS_1
Kapan Mayong dan Maya bersatu, othor sendiri juga belum tau kapan mempersatukannya. Ternyata untuk mencari tau seorang Maya butuh part yang banyak. Othor aja heran apalagi readers..
πββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈ