
Bara dan Yasmin mendekat. "Hati-hati biang kerok datang sayang" bilang Mayong. Maya yang baru sekali mendengarnya tersipu.
"Cie...cie...sudah ada kemajuan nih? Saayaaangggggg" Bara tertawa.
"Ngiri yaaaa....makanya cepetan tuh halalin Yasmin" sarkas Mayong tidak mau kalah.
"Nggak ngiri, aku milih nganan aja daripada barengan sama Kakak" Bara juga tidak mau kalah. Mama Clara mendekat dan menatap tajam masing-masing anaknya itu.
"Wah, kalau mama datang aku milih gencatan senjata aja deh Kak" Bara mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Aku juga" Mayong bersikap seperti Bara. Papa Suryo hanya menggeleng aja, melihat kekonyolan anak dan istrinya yang kadang tidak tahu tempat.
"Sudah...sudah...ayo pada bubar. Kasih kesempatan pengantin baru buat cucu" ayah Abraham menengahi. Bara tersenyum usil melihat Mayong dan Maya berlalu meninggalkan ballroom. Para tamu sudah pada bubar. Adik-adik Maya, bu Marsinah dan Pak Bowo masih diinapkan Mayong di hotel, bahkan dibokingkan Mayong selama seminggu. Anak-anak sangat senang sekali.
Di kamar pengantin Maya bingung mau ngapain. Tidak ada drama bantuan membuka baju yaa...he..he...karena baju kebaya Maya berkancing depan. Setelah membuka hijab, Maya segera membuka baju dan mengambil baju ganti. Sementara Mayong pamitan mandi, katanya badan terasa lengket. Maya tidak jadi membuka baju pengantin. Maya masih celingak celinguk mencari. Mayong keluar kamar mandi dengan pakaian kasual dan rambut yang masih sedikit basah. Maya hanya bisa menelan ludah melihatnya.
"Ayo gantian kamu cepetan mandi" ujar Mayong.
"Kak, baju gantiku di mana? Tadi sebelum resepsi kan, semua bajuku masih ada di koperku?" Maya masih menelisik seisi kamar. Mayong tersenyum, pasti ini akal bulus adiknya.
"Sudah kau cek lagi?" ulang Mayong pura-pura tak mengerti.
"Nggak ada Kak, malah cuma ada baju ini" Maya menunjukkan dua buah lingeri dengan warna hitam dan merah. Mayong tertawa, istrinya memang sangat lugu. Seorang dokter spesialiaspun ternyata masih ada yang seperti Maya. (dunia pernovelan mah terserah othor ya. Mau dibuat lugu atau nggak he..he...).
" Aku pinjem kaos kakak boleh kan? Daripada pake baju ini. Aku malu lah Kak" lanjut Maya.
"Ya sudah kamu pakai kaos kakak, baju yang dikopermu itu jangan sampai lupa kamu bawa pas kita honeymoon ya" Mayong mengalah. Maya membawa kaos Mayong dan berlalu ke kamar mandi. "Tunggu kau menikah Bara" ancam Mayong. Mayong mengulum senyum karena tau semua itu keusilan Bara yang menguntungkan baginya. Maya keluar kamar mandi memakai kaos Mayong tanpa bawahan. Jelas saja kaki jenjang putih mulusnya terekspos, gantian Mayong yang menelan ludah. Maya menaruh tubuhnya di sisi Mayong yang sudah berada di ranjang.
__ADS_1
"Akhirnya..bisa juga meluruskan pinggang" gumam Maya.
"Kak, ayo tidur" ajak Maya
"Tidur??????" Mayong menatap aneh Maya.
"Kamu nggak ingin taekwondo May?" masih dengan tatapannya. Maya gugup, sudah tau yang dimaksud Mayong.
"He...he...Kak"Maya cengengesan.
"May, gimana kalau panggilan kita dirubah. Jangan panggil kakak lagi ah, nanti aku yang kamu panggil yang nengok si Bara"
"Apa ya Kak? Sudah terbiasa dengan panggilan itu?" elak Maya.
"Saling panggil sayang saja. Kurasa nggak aneh juga panggilan itu. Biar serasa umum, juga nggak papa. Gimana?" usul Mayong.
"Siap sayang" jawab Maya. Mereka tertawa, masing-masing masih merasa geli dengan panggilan barunya. Mayong dan Maya saling menatap, masih terdiam tempat masing-masing. Tiba-tiba ponsel berdering. Dokter Bara calling.
Mayong geser tombol hijau, "Ganggu orang lagi enak-enak aja" Mayong tau tingkat keusilan adiknya itu. Bara tau kalau menelpon kakaknya pasti tidak akan diterima. Mayong menggerutu, dan menaruh ponsel Maya di atas nakas. Dan tak lupa Mayong matikan kedua ponsel yang berada di atas nakas itu.
"Yaaaaahhhhhhhh...cepet banget ilangnya" desah Mayong mendengar dengkuran halus Maya.
Mayong menatap lembut wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Allah begitu memudahkan dirinya untuk menemukan tulang rusuknya itu. Memang kalau sudah jodoh tak kan kemana, kata kiasan itu memang sangat cocok untuk Mayong.
Mayong membelai rambut Maya. Aku akan membahagiakanmu May, sudah begitu banyak cobaan yang kamu hadapi. Janji Mayong dalam hati. Mayong menghentikan belaiannya saat Maya melakukan pergerakan. Tanpa sadar Maya memeluk Mayong dengan erat. Bahkan benda kenyal di dadanya telah menyentuh dada Mayong. Baju yang sedikit tersibak, malah semakin memperlihatkan sedikit gunung kembar Maya. Mayong menelan ludahnya. Godaan mulai datang, ketika adik kecilnya meronta.
Mayong mulai berani, naluri seorang laki-laki akan muncul di saat yang tepat.
__ADS_1
"Kak..." sapanya.
"Hmmmm...akhirnya kau bangun juga. Panggil sayang dong?" tatap Mayong mesra.
"Sudah siapkah?" lanjutnya.
Maya yang belum terjaga sepenuhnya, hanya bisa mengangguk pasrah. Apalagi sudah sah menjadi istri, sudah kewajibannya melayani suami. Mereka berdua memulai malam panasnya. Seakan tidak kehabisan energi mereka merengkuh kebahagiaan duniawi sampai beberapa kali. Bahkan sampai pagipun masih terulang di kamar mandi. Dosis obat saja kalah dengan mereka berdua.
Maya masih terlelap saat jam menunjukkan sepuluh pagi. Mayong tersenyum melihat Maya yang tertidur pulas. "Makasih istriku, terima kasih karena telah menjaganya demi aku" gumamnya. Meski tertidur pulas, perut Maya tak bisa bohong. Mayong minta dikirim makanan ke kamarnya untuk sarapan.Kalau mau turun, kasihan Maya. Dia pasti kesulitan untuk berjalan.
Sarapan datang ke kamar. Mayong membangunkan istrinya, "Sayang, ayo bangun. Kita sarapan yukkk" ajaknya. Maya memaksa matanya yang masih terasa seperti di lem, "Jam berapa ini?".
"Yuukk sarapan sekalian makan siang, baru juga jam sepuluh" ajak sang suami.
"Aku mandi dulu ya Kak" pinta Maya.
"Kakak lagi" Mayong pun manyun
"Sayang, aku mandi dulu boleh" Maya sok manja.
"He...he...nggak boleh. Makan dulu baru mandi. Kan tadi pagi sudah mandinya" kerling Mayong.
"Duduk di situ aja kusuapin" Maya belum menyadari kalau saat ini dirinya masih polos tanpa busana, hanya tertutup selimut saja. Mayong mendekat dan mereka makan dengan piring yang sama. Menu di meja tandas oleh mereka berdua, karena efek lembur semalam.
"Sudah kenyang, boleh mandi yaa?" ijin Maya. Mayong mengangguk. "Kak..eh...sayang...tengok ke tembok dulu. Aku belum pakai baju, malu" seru Maya. Mayong terkekeh. Bahkan seluruh tubuhmu sudah kunikmati, kenapa harus malu. Kugendong ya?" tawar Mayong. Maya segera menggelengkan kepalanya. Maya masih capek terkuras tenaganya. Sejenak Maya terdiam. "Kenapa diam? Mesthi bayangin yang enak-enak kan?" Mayong menggoda istrinya. Tanba aba-aba Mayong segera menggendong istrinya itu ke kamar mandi. Mayong dengan sabar menyiapkan air hangat di bath up. "Berendamlah, biar capeknya segera hilang".
Maya menepuk jidatnya setelah Mayong keluar dari kamar mandi. Ternyata adegan mantab-mantabnya di skip. Dasar ngeres, pikirnya.
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Happy reading 🤗