Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Kebiasaan Baru


__ADS_3

Pagi hari Maya bersiap-siap. Yang biasanya tinggal berangkat langsung ke rumah sakit, hari ini Maya sudah ditunggu ayahnya di meja makan.


"Sarapan dulu, sini duduk dekat ayah" Abraham memanggil Maya.


Maya duduk di dekat ayah Abraham, "Biasakan sarapan sebelum memulai aktivitas" nasehat Abraham. Maya mengangguk sambil mengambil nasi.


"Jangan capek-capek May, jaga kondisi. Aku tau kesibukan dokter kandungan seperti apa. Selama operasi bisa dielektifkan mendingan dielektifkan saja, kecuali kalau benar-benar emergency" jelas Abraham panjang lebar.


"Oh ya, sebaiknya kamu juga secepetnya belajar setir mobil. Itu juga bisa membantumu kalau ada cito malam lho" Abraham menambahi.


"Siap Prof" gurau Maya. Abraham tertawa. Abraham tak mengira bisa ketemu putrinya yang sudah dikiranya meninggal.


"Minggu nanti kamu lowong nggak May, kita ke ziarah ke mama mu yuukkkkk" ajak Abraham.


"Aku usahakan Yah" Maya mengangguk


"Oh ya, hari ini jangan lupa mampir ambil hasil tes mu kapan hari itu?" Abraham mengingatkan.


Maya berdiri mau pamitan, "Bukannya kamu barengan Bara?"


"Pagi semua" pucuk dicinta ulam tiba, Mayong datang.


"Tumben seorang CEO pagi-pagi datang?" Abraham merasa heran dengan kedatangan Mayong.


"Mayong datang menjemput putrimu Tuan" Mayong berusaha menjauh dari Abraham, jaga-jaga biar tidak kena timpuk lagi.


"Katanya semalam kak Bara yang mau ke sini?"


"Bara tadi pagi sudah berangkat duluan, karena ada operasi bedah thorax. Karena aku juga mau ke Suryo Husada, skalian aja aku mampir sini" jelas Mayong.


"Ooooooo" Maya dan Abraham serempak.


"Jadi berangkat nggak nih?" Mayong menyenggol Maya.


Maya pamitan ke ayahnya, mencium punggung tangan ayahnya "Maya kerja dulu Yah". Maya berangkat bersama Mayong.


Di perjalanan, ponsel Maya berbunyi. Belum sempat dilihat, Mayong nyeletuk "Jangan bilang ruang bersalin May".


Maya menoleh dan tersenyum, "tuh lihat sendiri".


Ruang bersalin calling. Sambil nyetir Mayong menepuk jidatnya sendiri.


Maya menggeser tombol hijau di ponselnya, "Halo dengan Maya?"

__ADS_1


"Pagi dokter, dari ruang bersalin. Ijin konsul dokter" terdengar suara bidan di sana.


"Iya lanjutkan aja, pasien apa?" Maya tersenyum ke Mayong yang lagi manyun.


"Ny A, dengan gravida 1 umur kehamilan 7-8 minggu, keluar gumpalan dari jalan lahir, perut mules, periksa dalam ada pembukaan, teraba jaringan plasenta. Mohon advis!"


"Baik mba, siapkan USG dulu saja. Calling juga dokter Bara, aku curiga pasien itu ada sisa keguguran. Kalau sewaktu-waktu perlu tindakan curretage, dokter Bara sudah siap" Maya menutup ponselnya.


"Kakak kok manyun aja dari tadi?" Maya ganti menatap Mayong.


"Lagi sibuk mendengar seorang dokter yang menerima konsulan" Mayong menimpali.


"Jadi dokter harus gitu kak, siap sedia terima konsulan. Ini aja ijin praktekku masih satu yang nganggur" Maya serius.


Mayong membayangkan, kalau istrinya dokter. Gimana kalau pas mau lagi mesra-mesraan sama istrinya, ponsel bunyi ada konsulan. Mayong menggeleng-geleng.


Maya menatap Mayong merasa aneh, "Kenapa kak, kok geleng-geleng?"


"Kepo" Mayong menjulurkan lidahnya.


"Kalau ijin praktekmu masih nganggur satu, kamu ada rencana nambah lagi gitu. Emang kurang kesibukanmu?"


"Kalau diijinkan ayah kenapa nggak?" Maya mulai terbiasa menyebut kata itu. Mayong tersenyum.


"Hari ini sudah dua kali loh, aku dengar nasehat begituan. Pertama dari ayah, kedua dari kakak. Aku juga bukan anak kecil lagi kak. Umurku aja sudah 27 tahun bahkan lebih" Maya manyun.


"Lha itu, sudah tau umur segitu? Bukannya umur segitu waktunya nimang bayi May?" Mayong tertawa. Maya tambah manyun.


Di parkiran rumah sakit, mereka berpisah. Maya menuju ruang bersalin, tak lupa mampir ke instalasi laboratorium. Mayong ke ruang manajemen untuk menyelesaikan masalah yang sebelumnya. Semoga dengan bukti-bukti yang ada aku bisa menyeret David. Berani sekali dia main-main di perusahaanku, batin Mayong. Doni sudah menunggu kedatangan Mayong.


"Semua berkas untuk bukti dan saksi sudah siap tuan, terserah tuan Mayong mau melaporkan tuan David kapan" bilang Doni. Pak Bambang direktur rumah sakitnya pun bersedia menjadi saksi di pengadilan.


"Kalau sudah siap semuanya laporkan saja Don. Jangan lupa pengacara perusahaan kamu hubungi" perintah Mayong.


Mayong dan Doni meluncur ke Dirgantara grup. Ada agenda penandatanganan dengan perusahaan retail. Mayong yang sebelumnya sukses di bidang itu, mengakuisisi perusahaan yang diambang bangkrut itu. Setelah sukses agenda itu. Mayong duduk selonjor di kursi kebesarannya. Penat banget rasanya.


"Don, sudah kau mulai penyelidikan di perusahaan David?"


"Sudah tuan, tapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Menurut orang yang kutaruh di sana, Samudera grup perlu suntikan dana yang tidak sedikit" Doni serius.


"Kok bisa begitu? Apa usaha senjata ilegal mereka tidak lancar?" Mayong mengetahui kalau sumber dana terbesar perusahaan David berasal dari jual beli senjata ilegal.


"Bisa dibilang begitu. Negara-negara langganannya mendadak membatalkan pesanan senjata Tuan" Mayong mengangguk-angguk paham dengan penuturan Doni.

__ADS_1


"Kamu siap beraksi Don?" Mayong tersenyum. Giliran Doni yang mengangguk.


Mayonglah yang sebenarnya berada di balik semua itu. Dengan kecerdasannya Mayong bisa mempengaruhi orang-orang di dunia hitam untuk membatalkan pengiriman senjata dari perusahaan David.


Entah apa yang akan dilakukan Mayong ke perusahaan David. Orang yang sudah berani menggangguku, harus dibabat habis. Itu prinsip Mayong. Cukup sudah kesabaran Mayong untuk menghadapi polah David selama ini.


Sementara itu di rumah sakit, Maya sedang melakukan tindakan curretage didampingi Bara yang membius.


"Alhamdulillah, sudah selesai kak. Gimana tanda vitalnya" Maya menoleh ke Bara.


"Semua baik, dalam kondisi stabil" Bara menyahut.


Maya berdiri melepas semua pelindungnya.


"Habis ini mau kemana May?"


"Biasa lah kak, ke kantin. Emang kakak mau ke mana?" tanya balik Maya.


"Sebenarnya sih mau ngajak kamu ke tempat Yasmin, itu kalau kamu mau?" ajak Bara


"Oke kak, lagian ayah pulangnya juga sore. Sebenarnya aku mau menyampaikan hasil laborat ke ayah sepulang kerja. Bagaimanapun hasil laborat itu tetap penting bagiku kak".


"Bagaimana kalau ke Yasmin dulu, setelah itu kuantar kau pulang" usul Bara. Maya mengangguk.


Maya tidak jadi ke kantin, tapi mengekori Bara menuju parkiran. Sambil berjalan, jiwa keusilan Bara berontak..he..he..


"Boleh tau nggak May, gimana perasaan loe diantar kerja seorang CEO, tampan lagi?" Bara terkekeh.


Maya manyun, tau maksud ucapan Bara. "Gak usah ngeledek, salah siapa ninggalin aku operasi duluan. Untung kak Mayong sudi mampir ke rumah sebelum ke rumah sakit..wek.." Maya menjulurkan lidahnya.


Bara malah tertawa,"Wah...wah....kakakku yang dingin itu sudah ada pembelanya".


"Bentar Kak, aku mau ngabarin ayah kalau mau ke tempat Yasmin dulu". Bara mengangguk.


"Sekarang loe punya kebiasaan baru ya May?" Maya mengernyitkan alisnya, "Apaan?".


"Laporan ke Om Abraham" Bara tertawa kembali. Maya menimpuk Bara dengan ponselnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


#Kebiasaan baru untuk laporan dilanjutkan di part selanjutnya aja ya..he..he...# seperti biasa jangan lupa like, komen, atau apapun hadiahnya siap othor terima 😊😊😊


HAPPY READING

__ADS_1


__ADS_2