Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 54


__ADS_3

Dirgantara Group, seminggu Mayong tidak bertemu dengan kursi kebesaran di ruangan itu. Setumpuk berkas sudah setia menunggu. Mayong memijit pelipis melihat pemandangan indah di depannya.


Doni mengetuk pintu. "Masuk Don" perintah Mayong. Tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di mejanya, "Duduk Don, gimana sudah ada hasil?".


"Tuan David kayaknya mulai menyadari Tuan, kalau kita ada andil dibalik gagalnya pengiriman senjata ilegalnya" tutur Doni serius. Mayong manggut-manggut. Itu ternyata tujuannya menyabotase impor-impor alat kesehatan dari Gayatri Group, batin Mayong. Aku harus segera menyelesaikannya sebelum berlarut-larut.


"Don, jadwalkan hari ini pertemuan dengan perwakilan Gayatri. Setelah makan siang!!!" tegas Mayong. Doni sangat memahami perintah tuannya. Doni undur diri dan segera menyiapkan pertemuan dadakan yang diperìntahkan tuannya.


Sementara itu di Rumah Sakit Suryo Husada, Maya memulai kegiatannya seperti biasa. Jadwal poli kandungan bersama Nina. Nina tersenyum simpul melihat kedatangan dokternya itu.


"Pagi dokcan, apa kabar?" sapanya.


"Kabar baik, ngapain senyum-senyum Nin? Pasti ada sesuatu nih?" Maya menaruh tas di laci.


"He...he....nggak kok dok. Cuma ngarep oleh-oleh aja dok. Barangkali aja dibawain Ji Chang Wook" tawa Nina.


"Ji Chang Wook-nya pas aku ke sana lagi liburan ke Indo Nina. Katanya dia sudah mencarimu tapi tidak ketemu" Mereka tertawa bersama-sama. Maya menyerahkan sebuah kotak berisi parfum ke Nina.


"Ayo Nin, mulai aja" ajak Maya.


"Eh iya dok, tadi ada pesan dari pak Direktur. Disuruh menghadap setelah jadwal poli selesai" Nina membuka pintu untuk memanggil pasien pertama.


"Oke" Maya sudah mengerti maksud Direktur memanggilnya.


Pukul sebelas jadwal poli Maya sudah selesai. Maya segera berlalu menuju ruang direktur. Maya menghampiri sekretaris pak Bambang, "Mba, bisa ketemu dengan pak Bambang?" Maya menyampaikan tujuannya. "Iya dok, sudah ditunggu. Di dalam ada dokter Budi dan dokter Anita" jawab sekretaris pak Bambang. Maya nggak begitu hafal dengan nama-nama staf di manajemen. Tok...tok..tok..."Masuk" terdengar suara dari dalam ruangan.

__ADS_1


Pak Bambang berdiri dan menyambut Maya yang barusan datang.


"Selamat siang dokter, silahkan duduk" sapa Pak Bambang.


"Perkenalkan dulu dokter Maya, ini dokter Anita, SpOG. Pak Bambang memperkenalkan kolega baru Maya. Maya menyalami dokter Anita, sambil menyebutkan nama masing-masing. Ini semua pasti ulah suaminya, batin Maya.


"Di sini saya hanya menyampaikan pesan dari pemilik rumah sakit ini, untuk penambahan tenaga obgyn baru. Saya ucapkan selamat datang dokter Anita, semoga berkenan bergabung dengan rumah sakit ini. Untuk jadwal kerja nanti akan disampaikan oleh staf saya" jelas pak Bambang. Mereka ngobrol bertiga, akhirnya dokter Anita tahu kalau Maya adalah senior di kampusnya. Putri dari profesor idolanya.


Maya dan dokter Budi berjalan bersama ke ruang rawat inap untuk visite pasiennya masing-masing. Sementara dokter Anita berganti ke poliklinik untuk melanjutkan pasien rawat jalan. Di depan ICU, bertemulah mereka dengan dokter Bara.


"Siang dokter Bara" sapa dokter Budi .


"Siang juga dokter Budi, eh iya selamat ya atas kelahiran putrinya" Bara menyalami dokter Budi.


"Wah, jangan begitu dokter. Saya jadi nggak enak nih sama kakak ipar saya ini" Bara menepuk pelan bahu Maya. Mereka tertawa bersama.


Maya juga ikut memberi selamat ke dokter Budi.


"Maaf ya dok, waktu itu aku bahkan mengganggu jadwal pengantin baru" gurau dokter Budi.


"Ha...ha...benarkah?" Bara tertawa keras. Bara sebelumnya tidak tahu cerita Maya yang melakukan cito operasi sehari setelah resepsi pernikahannya. Bara membayangkan ekspresi kakaknya yang menunggu Maya operasi di parkiran.


Mereka melanjutkan tujuannya masing-masing untuk visite. Saat istirahat siang, Ed shireen-nya Maya mengalun. "Assalamualaikum" sapanya. "Waalaikumsalam sayang. Sudah makan, jangan telat makan, jangan sampe lelah...bla....bla...." suara di seberang.


"Iya...iya...aku paham. Pasti selanjutnya, kalau operasi jangan banyak-banyak. Mana bisa begitu?" jawab Maya melengkapi ucapan Mayong.

__ADS_1


"Ha...ha....kau sangat pintar istriku. Love You" Mayong tertawa gemas.


"Selepas makan siang, aku ada rapat dengan perusahaan Gayatri. Aku pulang agak sore. Kalau nggak berani di apartemen sendiri, biar bi Inem dan pak Amin balik ke Ayah setelah aku pulang aja" wanti-wanti Mayong ke istri tercintanya.


"Oke, kalau aku ingat ya" goda Maya.


"Awas saja kalau nggak nurut, banyak hukuman yang menantimu" ancam Mayong.


"Hukuman macam apa model begituan?" gerutu Maya. Mayong terbahak-bahak, membayangkan ekspresi istrinya yang pasti mencebikkan mulutnya saat ini. Mayong menutup telponnya setelah pamitan dengan istrinya. Ada kehangatan yang dirasakan Maya atas perhatian yang diberikan Mayong. Setelah visite, Maya membagikan oleh-olehnya ke staf di ruang bersalin, kamar operasi dan juga poliklinik.


Selepas makan siang, Mayong dan Doni meluncur ke perusahaan Gayatri. Direktur, manager keuangan sampai kepala bagian gudang beserta staf masing-masing sudah menunggu kedatangan CEO Dirgantara itu. Perusahaan Gayatri, yang merupakan milik Abraham dan semenjak mengetahui putrinya masih hidup, Abraham alihkan dengan atas nama Maya Cantika Putri. Bahkan putrinya sendiri belum mengetahui kalau sudah menjadi seorang owner sebuah perusahaan. Orang-orang yang berada di jajaran direksi perusahaan Gayatri adalah orang kepercayaan Abraham. Dari awal Abraham tidak pernah terlibat langsung dengan perusahaannya itu, karena kesibukannya sebagai dosen dan dokter kandungan.


Dirgantara yang mempunyai saham kedua terbesar, setelah Abraham. Tentu mempunyai peran penting di Gayatri Group. Mayong yang datang dengan aura dingin, memulai rapat siang itu dengan serius. Mayong menelusuri dugaan sabotase perusahaan David di perusahaan Gayatri. Rapat siang itu akhirnya menemukan titik terang. Beberapa perusahaan kerjasama sebagai penyuplai alat-alat kesehatan ternyata di boikot oleh perusahaan David, sehingga impor agak terlambat. Impor yang terlambat, tentu sangat mempengaruhi kepercayaan perusahaan rekanan yang bekerjasama dengan Gayatri Group. Untung saja Mayong segera menemukan akar masalahnya. Doni sangat mengagumi ketepatan dan kecepatan Mayong menyelesaikan masalah di perusahaan. Mayong undur diri setelah rapat selesai.


"Langsung Apartemen saja Don" begitu mereka masuk mobil. "Siap Tuan" Doni melajukan mobilnya menuju apartemen Royal. "Jangan sampai lengah Don, David kayaknya mulai bergerak maju. Hati-hati" pesan Mayong saat turun. Insting tuannya memang luar biasa, puji Doni dalam hati.


Bi Inem dan pak Amin pamitan, setelah Mayong datang. "Non, kami pamit dulu ya. Besok pagi-pagi kita ke sini" .


"Iya Bik, hati-hati. Oh iya bik, Sabtu-Minggu bibi nggak ke sini juga nggak papa. Aku sama tuan kan libur. Jadi bibi libur juga. Meski di rumah ayah bibi nggak libur..he..he.." terang Maya.


"Iya Non, makasih".


Sementara Mayong langsung membersihkan diri dan memakai kaos rumahan yang sudah disiapkan istrinya.


Happy reading, to be continued 🤗

__ADS_1


__ADS_2