Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 81


__ADS_3

Mayong datang ke rumah sakit dengan pakaian formalnya. Seperti tak mau lepas dengan sang istri, Mayong tetap menggandeng Maya menuju poliklinik bedah. Sementara di depan belakang pengawal berdasinya siaga. "Sayang, kita kayak pejabat saja" Maya sedikit risih dengan situasi seperti ini. "Demi keamanan kita, aku nggak mau terjadi hal-hal yang tak diinginkan" Mayong menimpali.


"Tapi kan bisa agak jauhan sedikit, biar nggak kelihatan kalau dikawal" Maya memang belum terbiasa dengan itu. "Kamu harus terbiasa sayang, dan tidak ada bantahan. Musuh bisnisku tidak hanya menargetkan aku, tapi bisa juga kamu dan Raja. Jadi terima aja pengawal-pengawal itu. Lagian mereka kan juga nggak mengganggu aktivitasmu kan?" jelas Mayong. Maya yang biasa bebas, bahkan terbiasa kemana-mana sendiri dengan sedikit terpaksa akhirnya menerima keputusan suaminya.


Di tengah jalan Mayong dan Maya melihat Bara dan Yasmin baru sampai. "Hei kalian, pagi-pagi sudah berduaan aja" Mayong memanggil adiknya.


"Emang nggak boleh, kita juga sama dewasanya" Bara mendekat ke rombongan kakaknya.


"Kalau sudah ngaku dewasa, nikah dong" sela Mayong. "Gimana cin, sudah siap belum?" Maya tersenyum ke arah sang sahabat. "Bulan depan kak Bara mau melamarku May" ujar Yasmin.


"Alhamdulillah, lagian niat baik nggak boleh ditunda. Ya kan sayang?" lanjut Maya. Mayong pun mengangguk. "Ngomong-ngomong tanggal berapa acaramu?" tanya Mayong. "Belum pasti kak, ntar kukabari lagi" sergah Bara. "Kak, May kita duluan. Aku ada operasi pagi" pamit Bara sambil menggandeng Yasmin. "Bukan salahku ya Bar kalau nggak ngabari jauh-jauh hari. Aku mau liburan sama Maya" terang Mayong setengah berteriak. Bara mengacungkan jempol tangan kanannya tinggi-tinggi.


"Ayo sayang, ke poli bedah. Dokter Bagus sudah menunggu lho. Dia mengosongkan pasien sejam, khusus untuk melayanimu tuan Mayong" gurau Maya.


"Salah siapa mengajakku ke sini, aku kan sudah punya dokter tetap" elak Mayong. Mayong tetap menggandeng Maya sampai poli bedah. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka memandang kagum. Cowoknya ganteng, ceweknya cantik. Sungguh perpaduan yang pas, batin mereka.


Dokter Bagus bersiap memakai sarung tangan steril untuk mengobati luka operasi Tuan Mayong. "Pelan-pelan aja ya dok" pinta Mayong. "Ada keluhan lain tuan" sapa dokter Bagus sambil membuka perban sang pemilik rumah sakit. "Ini dok, kadang masih terasa ngilu kalau dipakai gerak" jelas Mayong. "Baik tuan Mayong, nanti akan saya tambahkan resep pereda nyeri. Lukanya bagus ya, sudah mulai kering. Ya kan dok?" dokter Bagus menoleh ke dokter Maya seakan meminta persetujuan. Maya mengangguk. "Untuk buka perbannya nanti dokter Maya buka sendiri nggak apa-apa", ujar dokter Bagus. "Lima hari lagi ya dok?" tanya Maya. "Iyalah dok, sama saja dengan pasien kontrol post operasi sectio secaria" gurau dokter Bagus. "Siap dok, makasih ya" tanggap dokter Maya. "Sama-sama dokter" dokter Bagus tersenyum ramah.


"Sayang, ayo. Apa mau seharian dengan dokter Bagus?" ajak Maya. Sementara Mayong masih terduduk di bed pasien. "Emang sudah ya, gitu aja?" Mayong belum beranjak. "Kan kesininya memang untuk ganti perbanmu itu yank, sekalian evaluasi kondisi lukanya" jelas Maya.

__ADS_1


"Ooooooo......" Mayong ber-o ria.


"Makasih dokter Bagus" Mayong beranjak dan merangkul pinggang istrinya. "Kita pamit dokter Bagus, maaf sudah merepotkan" pamit Maya ke sejawatnya. Sepeninggal pasangan fenomenal itu, terlihat helaan nafas panjang dokter Bagus, "Leganya...." gumamnya.


Mayong dan Maya meluncur ke Dirgantara. Doni sudah beberapa kali mengirimi pesan teks ke Mayong. Tuan Akio sudah menunggu di ruang rapat, lapor Doni. "Aku meluncur Don, lima belas menit lagi sampai" balas Mayong.


Sesampai di lobi perusahaan, Mayong tetap menggandeng tangan istrinya. Semua karyawan menyambut ramah pimpinan perusahaannya itu. Mayong berjalan menuju lift khususnya, "Yank, kamu nunggu di ruanganku aja ya?" pinta Mayong. "Baiklah, apa yang tidak untuk suamiku ini" Maya mencubit hidung mancung suaminya. "Haissss, mulai nakal ya" Mayong tertawa. Maya pun tertawa.


Mayong menuju ruang rapat, sementara Maya masih naik satu lantai lagi menuju ruang CEO di lantai teratas. "Siang nyonya, mau nunggu di ruangan tuan Mayong?" sambut Sinta. "Iya Sin. Kamu nggak ikutan rapat Sinta?" Maya berhenti sejenak di depan Sinta. "Nggak nyonya, kan sudah ada tuan Doni" ujarnya. Maya sebenarnya respek dengan Sinta, sebagai seorang sekretaris Sinta pandai menempatkan diri. Pakaiannya juga tertutup. Sinta yang bernasib hampir sama dengan Maya, dari kecil hidup di sebuah panti asuhan. Cuma Maya sedikit beruntung, karena ternyata masih bisa bertemu dengan sang ayah. Kalau orangtua Sinta memang benar-benar sudah meninggal. "Sin, waktu makan siang nanti. Tolong kamu pesankan makanan ya. Kamu hafalkan menu favorit suami saya?" pinta Maya. Sinta menganggukkan kepalanya, "Baik nyonya".


Maya menunggu di ruang rapat, iseng-iseng Maya membuka pesan grub medis rumah sakit di ponselnya. Maya mulai menscrol pesan itu dari atas. Lebih lima ratus pesan belum terbaca masuk ke ponselnya.


"Wah..wah....nyonya besar muncul" dokter Bagus menambahi emoji orang lari-lari di belakangnya.


"Istirahat selesai...kerja..kerjaaa" dokter Budi menambahi. Semua komen dengan emoji orang tertawa.


"Eh...eh...aku muncul, kenapa pada pergi sih" Maya menambah emoji wajah marah.


"Ampun nyonya, kita nggak mau gaji terpotong karena nggibah" dokter Anita nimbrung.

__ADS_1


"Wah, kalian nggak asyik" seru Maya.


"Alex siap menemani mba Maya" Alex menambahkan. Dokter Bagus mengomeni ucapan Alex di aplikasi pesan itu dengan tanda palu, "Jangan macam-macam Lex".


"Yaelah, becanda doang" balas Alex ke pesan kakaknya, dokter Bagus.


"Minggu depan, aku masuk yaa. Dokter Budi tolong share jadwal jaganya" komen Maya.


"Siap nyonya besar, Minggu depan langsung jaga IGD Ponek ya?" balas dokter Budi.


Maya mengirimkan tanda orang yang menepuk kepalanya. Setelah jam istirahat selesai, aplikasi grub itu kembali sepi. Maya mengulang membaca pesan-pesan dari atas sebelum dia ikut nimbrung. Ternyata teman-temannya sedang nggibahin dirinya dan Mayong. Mayong sampai terbahak membacanya.


Sementara Mayong masih serius menanggapi Tuan Akio yang bersemangat untuk mengakuisisi Samudera Group. Tuan Akio setuju untuk membantu Mayong mengambil alih Samudera Group dengan bendera perusahaan Nayaka yang dipimpinnya. "Baik, baik, aku paham maksud anda Tuan Akio. Jadi sekarang anda menyetujui usulan saya sebelumnya?" ujar Mayong. Tuan Akio mengangguk. Tuan Akio mempresentasikan proposal bisnisnya. Mayong menatap serius layar di depannya. Pangsa otomotif di Indo memang akhir-akhir ini berkembang luar biasa, itulah yang menjadi alasan tuan Akio menyetujui usulan Mayong sebelumnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


#to be continued# happy reading πŸ€—


Makasih yang sudah kasih like, vote, komen πŸ’

__ADS_1


__ADS_2