
Bara mengaminkan ucapan Om Abraham sambil berucap, "Doanya ya Om". "Selalu, om pasti akan selalu mendoakan kalian. Kalian sudah aku anggap seperti putra putriku, sama halnya Maya dengan Mayong" lanjut ayah Abraham.
Bara menunggui istrinya sampai tersadar. Sejam kemudian Yasmin mulai membuka matanya dan melihat ke arah Bara, "Bee, lama-lama aku ikut terbiasa dengan obat biusmu" serunya. Bara tersenyum, "Ini yang terakhir bee, semoga bulan depan kamu nggak merasakan lagi obat biusku..ha...ha..." sahut Bara. Yasmin ikut tertawa meski nyawanya belum balik sepenuhnya.
Di mansion Mayong, Maya mulai terbiasa dengan kerepotan mengasuh ke empat putra putrinya. Tak lupa juga memperhatikan bayinya yang paling besar. Siapa lagi kalau bukan Mayong Saputra Suryolaksono. "Sayang, tolong pakaikan dasiku" panggil Mayong dari dalam kamar utama. Maya yang sedang berada di kamar 3G pun mendengarnya. "Mba, anak-anak bawa aja ke taman belakang nyusul abangnya. Aku nanti ke sana" pesan Maya kepada ketiga baby sitter yang menjaga ketiga bayi itu.
__ADS_1
Maya beranjak menuju ke kamar utama memenuhi panggilan suaminya. Dengan telaten Maya memakaikan dasi seperti yang diminta suaminya itu. "Sudah selesai nih" ucap Maya terakhir merapikan jas yang dipakai Mayong. Mayong mengecup kening istrinya, "Temani sarapan ya??" pinta Mayong berikutnya. Maya tersenyum, "Baiklah, apa sih yang nggak buat papa nya R3G." Mayong pun tertawa, "Indahnya mendapat perhatian penuh istriku." "Nyindir nih, kayaknya ada hawa-hawa nggak dibolehin praktek lagi nih?" tukas Maya. Mayong pun tertawa. "Ya nggak lah, apa sih yang nggak buat istriku tercinta. Mama nya R3G" Mayong pun membalikkan ucapan Maya.
Mereka berdua menikmati sarapan bersama. Bi Inem emang sudah paham betul dengan selera tuan dan nyonya nya. Dan sampe sekarang pun Maya masih jarang-jarang bergulat di dapur mansion. "Sayang, kalau suatu saat aku mau ambil sub spesialisasi alias konsultan boleh nggak?" ucap Maya tiba-tiba. Mayong menghentikan suapan makannya. "Aku pikirkan" tukas Mayong. "Nggak sekarang sayang, nanti kalau anak-anak sudah agak besar" Maya mencoba merayu suaminya. "Aku pikirkan" ucap Mayong sama seperti yang tadi. "Lagian aku inginnya ambil konsultan onkologi. Jadi kalau operasi masih bisa di elektifkan, nggak perlu cito mendadak" imbuh Maya. "Sayang, bukannya aku nggak ngijinin. Tapi untuk sementara jangan dulu ya" Mayong menambahi ucapannya. Mayong sangat menyadari keinginan istrinya itu. Bahkan dulunya sebelum menikah, Mayong memang sudah berjanji tidak membatasi kegiatan istrinya selama itu baik.
"Sayang aku pergi dulu ya, kelihatannya Doni sudah menunggu di depan" Mayong beranjak dari duduknya dan pamit ke Maya yang juga telah menyelesaikan sarapannya. Maya pun ikut mengantarkan suaminya berangkat. Setelah mencium tangan suami, kecupan suami di kening nya pun mendarat. Perhatian-perhatian kecil yang menambah keharmonisan keluarga kecil nya. Eh, sekarang menjadi keluarga besar dengan tujuh orang di dalamnya..he..he... Doni yang melihat kemesraan tuannya hanya bisa menelan ludah, karena usahanya untuk memepet Sinta sampai saat ini belum ada hasilnya.
__ADS_1
Berganti bulan, perkembangan R3G sangat terlihat. Ghina, Ghalya dan Ghania sudah bisa tengkurap dan berceloteh tanpa arti. Perbendaharaan kata Raja pun mulai banyak. Maya sangat menikmati kesehariannya sekarang sebagai mama muda dengan keempat anak batita. Jangan dibayangkan repotnya. Meski baby sitter sudah disiapkan oleh Mayong, selama Maya masih bisa menghandel keempat buah hatinya semua dipegang sendiri oleh Maya. Karena belum ada kesibukan lain, fokus utama Maya tentunya mereka ber empat dan dan juga suami tercintanya.
Pagi itu Yasmin datang sendiri tanpa Bara ke mansion Mayong. Yasmin mendatangi Maya yang ada di taman belakang. Maya yang sedang sibuk dengan ke empat buah hatinya, disapa oleh Yasmin. "Wah, mahmud lagi repot ya??? Perlu bantuan?" sapa Yasmin menghampiri Maya. Maya pun menoleh ke arah datangnya suara. "Eh cin, nggak repot. Kan sudah kebiasaan saben pagi begini" ujar Maya sambil nyuapin Raja. Sementara baby 3G yang sudah didandani cantik-cantik nampak menggemaskan. Yasmin menghampiri mereka bertiga. Senyum lucu ditampakkan oleh baby 3G itu. Yasmin mengambil salah satu dari mereka, seakan tau saudara kembarnya digendong. Dua yang lain pun ikut menangis. "Wah, gimana ini? Kok malah nangis semua?" Yasmin bingung. Maya menertawakan polah Yasmin itu. "Mereka itu begitu, satu digendong yang lain pasti ingin digendong juga" terang Maya. "Terus gimana cara gendong tiga bersamaan??" tanya Yasmin penasaran. Maya pun mengambil mereka berdua yang menangis dan mencoba menenangkan. Dan benar apa kata Maya, mereka berdua terdiam dalam gendongannya. "Musti dua orang minimal yang gendong. Kalau sendiri mana aku mampu. Belum lagi berat mereka sudah semakin bertambah" terang Maya berikutnya. "Kirain kamu sendiri yang gendong May?" seloroh Yasmin dengan tertawa.
"Tumben pagi-pagi sudah di sini. Lagi nggak sibuk di butik?" tanya Maya. "Habis ini aku ke sana, ikut yuk!! Lama loh kamu nggak ke sana" ajak Yasmin. Maya terkekeh menimpali, "Aku ngabari big bos dulu ya. Kalau diijinin aku ikut" seru Maya. Maya menelpon Mayong untuk minta ijin. Untung saja Mayong belum memulai rapat dengan para stafnya. Maya mengirim pesan tanpa menelpon karena paham kesibukan Mayong di jam-jam repot begini. Lima menit kemudian ada balasan Mayong yang mengijinkan Maya pergi. Raja rewel ingin ikut dengan sang mama, "Baiklah Raja ikut mama" seru Maya. "Mba Rani, tolong siapin keperluan Raja ya. Kamu baiknya ikut juga mba" ucap Maya ke Rani. Rani pun bergegas menyiapkan keperluan Raja. "Enaknya jadi nyonya" gumam Yasmin. Maya tertawa.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kamu belum cerita loh hasil pemeriksaan beta hcg bulan ini. Tapi kalau lihat muka segarmu hari ini aku bisa menebak kalau hasilnya bagus" tanya Maya. Yasmin mencium Ghina yang kebetulan masih berada digendongannya. "Aku ingin yang seperti ini" jawaban Yasmin sudah menyiratkan kalau semua baik-baik saja. Maya menarik nafas lega.
to be continued