
Ayah Abraham sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Mayong dan Maya selama beberapa hari menginap di kediaman sang ayah. "Mayong, tadi papamu nelpon. Kalau acara lamaran Bara diajukan minggu depan. Kamu sudah dikabari belum?" tanya Ayah Abraham saat perjalanan pulang dari rumah sakit. "Sudah kok Yah, pesan papa Suryo bilangnya nanti ke sana hanya keluarga inti saja" sahut Mayong. "Bener tu Suryo. Malah mendingan lamaran Bara sekarang. Daripada lamaranmu ke Maya" tanggap Ayah Abraham. "He...he....jadi malu Yah kalau inget kejadian itu. Lamaran dengan Maya masih pake jas dokter, sementara aku jas kantoran dari pagi nggak berganti" seloroh Mayong dan tertawa barengan ayah Abraham. Jangan tanya Maya di mana, ya sudah pasti berada di Suryo Husada bersama dengan sang adik ipar di kamar operasi.
Dokter Budi dan dokter Anita sedang ikut kongres yang belum selesai. Sementara dokter Alex masih berkecimpung di poliklinik dengan antrian pasien bejibun. Nina sampe geleng-geleng kepala melihatnya. "Dokter Alex, kalau tiap hari begini bisa gempor aku" ucap Nina. "Aku juga nggak ngundang mereka lho Nin, mereka datang ke sini dengan ikhlas..he...he...." elak dokter Alex. "Dokter Maya sudah datang lho dok" beritahu Nina. "Oh ya, aku mau nagih oleh-oleh dari Jepang ntar kalau nanti ketemu" ujar Alex antusias.
Sementara di kamar operasi "Kak, kondisi umum gimana?" Maya menyelesaikan jahitan terakhirnya. "Semua dalam kondisi normal May. Tinggal nungu aja pasien sadar penuh" tegas Bara. "Baiklah, makasih ya Kak" Maya meminta tolong perawat sirkuler untuk membantu melepas jubahnya. "May, keadaan om Abraham gimana?" ucap Bara yang menyusul Maya. "Hari ini pulang, sudah dijemput sama papanya Raja kak" jelas Maya. "Kak, aku duluan ya. Barusan dapat pesan ada pasien pembukaan lengkap di ruang bersalin. Macet lagi" seru Maya. "Kutunggu di sini ya, kalau ada macet persalinannya cepat hubungi ruang bedah. Daripada aku baru sampe parkiran sudah disuruh balik" Bara terkekeh. Karena yang dilontarkan Bara itu sudah beberapa kali dia alami. Baru keluar lima ratus meter dari rumah sakit, kadang baru mau minum pesanan kopi yang baru datang sudah dikonsuli pasien cito operasi. "Oke Kak, coba ku vaccum ekstaksi dulu saja. Doakan smoga bisa lahir spontan" ucap Maya pamitan.
__ADS_1
Di ruang bersalin, Maya memeriksa pasiennya. "Mba, ini tadi dipimpin berapa lama?" tanya Maya. "Sudah satu jam dokter" jelas bidan. "Kepala turun nggak?" tanya Maya. "Belum dokter, kepala bayi masih merapat di pintu atas panggul, pasien juga sudah miring kiri selama setengah jam, kepala nggak turun juga. Denyut jantung janin juga baik, ketuban jernih" jelas bidan jaga itu. Maya melakukan pemeriksaan dalam untuk mengevaluasi penurunan bagian terendah janin. "Kayaknya nggak bisa ini dilahirkan spontan, mau ku vaccum juga kepala masih tinggi. Tolong keluarganya diberitahu ya mba. Motivasi operasi aja ya" jelas Maya. "Mbak kalau keluarga setuju secepatnya konfirmasi ke kamar operasi ya. Dokter Bara tadi masih menunggu kita" perintah Maya. "Baik dokter Maya. Ini keluarga sudah setuju, dan kamar operasi sudah dihubungi" jelas bidan yang satunya. "Oke, aku balik kamar operasi kalau gitu" ujar Maya.
Sambil menunggu persiapan operasi selanjutnya, Maya menelpon Mayong sang suami. Maya masih berjalan di koridor rumah sakit, "Sayang sudah sampai rumah belum sama ayah?" tanya Maya. "Barusan sampai kediaman ayah Abraham. Ayah juga barusan turun. Sayang, aku langsung ke Dirgantara ya. Doni sudah tak sabar bertemu denganku...he...he..." canda Mayong. "Oke, hati-hati sayang. Aku mau nyambung operasi ini dengan kak Bara" jelaa Maya. Panggilan belum diakhiri saat Alex mengangetkan Maya. "Halo, mana oleh-olehnya dari Jepang???" suara Alex. Mayong menajamkan pendengarannya. "Siapa itu yang bicara dengan istrinya, batin Mayong. "Eh, kau dokter Alex. Oleh-olehnya ntar nyusul aja" jawab Maya. Mayong masih ikut mendengarkan pembicaraan Maya dengan Alex. Sampai suara Maya terdengar mengakhiri pembicaraan dengan Alex. Barulah Mayong juga menutup panggilan Maya.
Operasi selesai. "Kak Bara, Minggu ini kan acaranya?" tanya Maya saat sudah duduk di ruang dokter. "Belum diberitahu kakak?" tanya Bara balik. Maya menggeleng. "Iya diajukan minggu ini, yang minta diajukan dari pihak calon mertua" jelas Bara. "Beneran sudah siap kak?" seloroh Maya setengah bercanda. "Haisssss, aku sudah siap dari dulu. Sahabatmu tuh yang nggak siap-siap" elak Bara nggak mau disalahkan. Ponsel Bara berdering, My love calling. Maya mengernyitkan alisnya dan Bara memberikan ponselnya ke Maya. "Tolong angkat bentar, aku mau ke kamar mandi" ujarnya. "Halo sayang, hari ini aku berangkat ke kota A ya. Ayah sama ibu juga sudah menjemput. Operasinya sudah selesai belum??? Salam juga untuk calon kakak iparku yang ter the best" ujar Yasmin bermonolog di ponsel. "Hmmmmm" Maya berdehem. Mendengar suara wanita yang mengangkat ponsel pacarnya, Yasmin meminta panggilan video. Maya menerimanya, "ha...ha....." tawa Maya pecah. Pasti sahabatnya itu cemburu karena ponsel Bara diangkat cowok. "Sialan" umpat Yasmin begitu melihat Maya. Maya masih terlihat terbahak. "Minggu ini kau harus datang bu dokter, tidak ada alasan" ujar Yasmin. "Akan kuusahakan" Maya masih mencoba menggoda sahabatnya itu. "Awas saja kau tidak datang, dirimu tidak kuakui sebagai kakak ipar" ancam Yasmin. "Betewe calon suamiku ke mana? Kok ada di kamu ponselnya?" Yasmin penasaran. "Cieee yang lagi nyari calon suami" Maya terkekeh. Yasmin cemberut. Maya membalikkan layar kameranya, untuk memperlihatkan Bara yang keluar dari kamar mandi. "Tuh calon suamimu, sudah lega??" suara Maya masih terdengar. Yasmin tertawa, "Makasih sahabatku, sudah menjaga calon imamku". Heleh, lebay" gerutu Maya. "Nih kak, calon istrimu" seru Maya menyerahkan ponsel Bara. Maya mengambil ponselnya sendiri, dan melihat beberapa panggilan tak terjawab. Setelah dia buka, Mayong semua yang melakukan panggilan. Sudah dibilangin lagi operasi, batin Maya. Maya buka juga aplikasi pesan, banyak pesan yang dikirim oleh suaminya. "Setelah operasi hubungi aku" isi pesan itu. Maya melakukan panggilan telponnya, ternyata Mayong meminta panggilan video. "Halo sayang" sapa Maya tersenyum. Mayong memindai ruangan sekitar Maya. "Dengan siapa?" sahut Mayong. Maya melongo menatap tak paham. Akhirnya Maya teringat, saat perjalanan menuju ruang operasi ketemu dengan Alex tadi. Ternyata suaminya dalam mode cemburu akut. Maya tersenyum, dan memutar kamera ponselnya. Terlihat Bara yang lagi asyik video call. "Sudah lihat kan?" terdengar bisikan lirih Maya di ponsel. Mayong tersenyum.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading 😊😊
like, komen, hadiah, vote dan semuanya othor tungguin. salam cinta untuk readers 💝
__ADS_1