Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Renovasi Panti


__ADS_3

Sebelum pamitan, Abraham memyampaikan ke pak Bowo untuk diijinkan membenahi panti. Sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat Maya dengan ikhlas. Pak Bowo mengangguk mengiyakan.


Abraham dan Maya kembali ke kota "S". Selepas maghrib baru sampai rumah. Bi Inem sudah menyiapkan makan malam. "Tuan, Nona mau langsung makan atau mandi dulu?" tawar bibi.


"Aku mandi dulu saja bi, badan lengket semua" Maya menuju kamarnya. Demikian juga Abraham. Bi inem tersenyum melihat ayah dan anak itu, ikut merasakan bahagia seperti tuannya. Rumah serasa jadi hidup lagi.


Selepas makan malam, Abraham mencoba telpon Mayong. Tuuutttt.....tuuutttt....tuuutttt..sampai lima kali panggilan belum tersambung. "Anak ini, hari Minggu tetap sibuk aja" gumam Abraham. Selang lima belas menit, ponsel Abraham berbunyi. Mayong calling, "Halo Om, maaf lagi melatih taekwondo ni tadi" suara Mayong langsung terdengar ketika tombol hijau digeser.


"Selesaikan dulu aja, kirain kamu lagi sibuk kerja" Abraham menimpali.


"Nggak lah Om, hari Minggu kerja melulu. Yang ada papa Suryo tambah kaya..ha..ha.... Ya sudah Om aku selesaikan dulu latihannya" Mayong menutup telponnya.


"Telepon siapa yah? Serius amat" Maya menghampiri ayahnya yang berada di ruang kerjanya sambil membawakan air putih.


"Telpon Mayong, tapi dia masih nglatih taekwondo" bilang Abraham. Maya mengamati ruang kerja ayahnya. Buku-buku tebal banyak sekali. Sewaktu kuliah Maya banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk melahap buku-buku itu. Hanya beberapa yang mampu Maya beli. Sekarang di kediaman ayahnya banyak sekali buku jurnal-jurnal medis terbaru.


"Maya boleh pinjam ya Yah? Abraham tersenyum, "Semua yang ada di sini boleh kamu pakai May. Nggak ijin ayah juga nggak apa-apa" terang Abraham. Maya mengambil salah satu jurnal terbaru dan membacanya. Abraham tersenyum, ternyata putrinya juga senang membaca seperti dirinya.


"Assalamualaikum, any body home?" Mayong nyelonong masuk. Mayong sudah tau kebiasaan Omnya, kalau malam begini pasti baca buku tebal di ruang kerjanya. Bi Inem hanya mengangguk saja ketika berpapasan dengan tuan muda itu. Mayong masuk ruang kerja Abraham, "Malam Om, ada hal pentingkah?" Mayong menaruh pantatnya di sofa. Maya hanya memandang Mayong tanpa berkedip. Mayong yang hanya memakai baju kasual dan celana pendek, makin kelihatan tampan. Baru sekali ini Maya melihat Mayong seperti itu. Mayong ngibas-ngibaskan tangannya di depan mata Maya, "Awas ilernya netes tuh". Maya tergagap sambil mengusap bibirnya. Mayong tambah tertawa keras. "Hei, dokter cantik baru lihat orang tampan yaa?" Mayong kumat isengnya. Maya mencubit lengan Mayong. Maya meninggalkan ruang kerja ayahnya sambil manyun. Abraham hanya tersenyum saja melihat tingkah mereka.


Abraham memulai pembicaraan, "Begini Mayong, Om mau minta tolong. Panti Asuhan yang pernah ditinggali putriku, mau aku renov. Bisa kah kamu mengaturnya. Dananya nanti aku siapin semua"


"Gampang Om, nanti aku tinggal bilang Doni. Paling nanti yang repot Doni..he..he...canda om canda, serius banget mukanya. Oke, rencana mulai kapan Om?" Mayong mulai serius.


"Secepatnya Mayong, aku ingin mereka yang tinggal di sana mendadapatkan tempat yang layak" Abraham duduk mendekat di sofa.


"Baiklah Om, segera kuatur" Mayong berpamitan.


Sampai di pintu, Mayong bertubrukan dengan Maya yang mau masuk.

__ADS_1


"Ayah, aku ke rumah sakit yaa, barusan ada telpon. Cito operasi" Maya memang mau pamitan ke ayahnya. Abraham yang sudah paham dengan dunia putrinya hanya mengangguk tanda mengijinkan.


"Kuantar aja May, lagian Om capekkan baru datang dari luar kota" Mayong menyela.


Maya mengiyakan saja. "Jangan malam-malam pulangnya!" pesan Abraham.


"Emang kamu gak capek May, jam kerjamu tidak kenal waktu?" Mayong penasaran.


"Itu pilihanku kak, aku memang senang di dunia kebidanan dan kandungan. Seperti kak Bara yang menjatuhkan pilihannya di anesthesi" Maya menjelaskan.


"Tapi jangan sampai kecapekan May, jaga kondisi" Mayong menasehati. Maya hanya mengangguk.


"Hari ini sama Bara atau yang lain operasinya?" Mayong menoleh.


"Nggak kayaknya Kak, hari ini Kak Bara tidak kebagian jaga" terang Maya. Mayong mengangguk paham.


Sesampai di rumah sakit, Maya turun. "Kak kalau capek, ntar pulangnya ku naik taksi online aja".


Mayong berlalu menunggu di dalam mobil. Lima belas menit kemudian Maya datang. "Ngantuk Kak, nggak bosan kan menunggu?" Mayong duduk di samping Mayong.


"Tadi sih ngantuk, tapi karena kamu sudah datang ngantukku jadi hilang"


"Yuukkk, jalan kak" pinta Maya.


Sebenarnya ada yang mau ditanyakan Mayong, tapi melihat Maya yang telah terlelap di sampingnya Mayong jadi tak tega. "Kamu kelihatan capek sekali May" gumam Mayong. Mayong mengelus kepala Maya..cie..cie...hawa hawa sesuatu mulai muncul nih.


Mayong langsung pamitan Om Abraham, ketika Maya sudah masuk. "Aku langsung pamit pulang Om, sudah malam". Abraham sengaja menunggu putrinya datang. "Iya Mayong, hati-hati. Terima kasih sudah mengantar Maya"


Mayong malah mendekat ke Abraham, "Kalau Om mengijinkan biarkan aku ikut menjaga Maya" Mayong serius dengan ucapannya.

__ADS_1


"Jadi pulang apa nggak? Jawabannya nunggu wangsit ya Mayong?" Abraham tertawa sengaja menggoda Mayong. Ayah mana yang tidak setuju dengan Mayong, apalagi Mayong putra sahabatnya. Bahkan dari kecil sudah dianggap seperti anak sendiri. Tapi semua diserahkan, biar Maya sendiri yang memutuskan, batin Abraham.


Mayong manyun, berlalu pulang. Abraham terkekeh melihat Mayong. Umur sudah tiga puluh tahun lebih, tapi sifat kekanakannya kok ya masih ada. Abraham sampai geleng-geleng.


Paginya, setelah Mayong masuk ruangannya. "Sin, tuan besar sudah masuk?" Doni berbisik. "Iya barusan tuan" jawab Sinta.


Doni mengetuk pintu Mayong, "Masuk!!!!" terdengar suara dari dalam


Doni membacakan agenda Mayong hari ini.


Karena rapat masih diadakan siang hari, "Duduk dulu Don, ada yang mau kubicarakan". Doni duduk di hadapan Mayong.


"Begini, Om Abraham kemarin minta tolong padaku untuk renovasi panti asuhan yang pernah kita singgahi dulu itu lho, kamu ingatkan?" Mayong menjelaskan.


"Tentu ingatlah Tuan, panti tempat dokter Maya kan?" sahut Doni.


"Tolong kamu atur secepatnya, biaya semua dari Om Abraham. Untuk sementara karena panti dibongkar, anak-anak dan bapak ibu panti kamu sewakan hotel di sana. Nanti aku transfer kamu untuk biaya hotelnya" terang Mayong.


"Baik Tuan" Doni keluar ruangan. Mayong yang mengantar Maya sampai malam, pagi-pagi sudah menguap.


Akhirnya panti asuhan mulai direnovasi dengan bantuan Mayong. Anak-anak senang karena menginap di hotel. Ada kolam renang, dan area play ground-nya. Pak Bowo dan Bu Marsinah menangis terharu ketika Maya dan ayahnya menelpon. Hanya ucapan terima kasih tak terhingga yang dapat diucapkan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


to be contuined


please...like, komen, vote 😊😊😊


Happy reading

__ADS_1


πŸ’‰πŸ’‰πŸ’‰πŸ’‰πŸ’‰, anggep aja ini jarum biusnya Bara πŸ˜…


__ADS_2