
Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar sepuluh jam an dipakai Maya untuk menikmati mimpi.
Di tengah penerbangan, ternyata Mayong menyusul istrinya.
Tepat jam enam petang, sampailah mereka di Incheon Airport. Mayong menggandeng tangan istrinya turun dari pesawat.
"Yang, Incheon?????" Maya masih ternganga kagum dengan yang ada di depannya. Mayong mengangguk dan merengkuh bahu istrinya.
"Yuukkk jalan, apa mau di bandara saja?" ajak Mayong.
"Beneran ini, kita di Korsel?" Maya masih belum percaya sepenuhnya. Mayong menyentil kening Maya pelan. "Sakit tau" gerutu Maya.
"Berarti bukan mimpi" Mayong terkekeh.
"Wowwwww, aku di Korea. Yeeeiiiiii" teriak Maya bahagia, persis anak kecil yang dapat balon mainannya.
"Makasih sayang, tau aja kalau aku ingin ke sini" Maya mengecup pipi Mayong. Bahagiamu sederhana May, batin Mayong. Bahkan semenjak menikah, istrinya itu belum pernah meminta apapun.
Maya menggandeng lengan suaminya. Mayong bahagia dengan perubahan istrinya itu, yang sudah tak malu untuk menggandengnya.
"Kita ke hotel dulu ya" ajak Mayong. Mereka meluncur ke hotel bintang lima yang berada di tengah-tengah kota Seoul.
Maya menyibak korden penutup jendela kamar, "Woooooooo, Menara Namsan" teriaknya. Mayong tertawa melihat polah istrinya yang ternyata tidak jauh beda dengan mama Clara. Korea forever, istilahnya. Tidak salah Doni memilihkan tempat bulan madunya.
"Ayo sayang kita ke sana!!!" rajuk Maya
"Kamu nggak capek???" Maya menggeleng. Dia begitu antusias saat ini.
"Tapi jangan sampai lupa, tujuan utama kita ke sini" bisik Mayong tepat sasaran.
Maya mencebik. "Ayolah sayang, tadi kan juga sudah istirahat di pesawat" rengek Maya.
"Baiklah, tapi harus ada hadiah buatku" Mayong tak mau kalah.
Bodo amat, yang penting jalan-jalan dulu. Batin Maya.
"Pakai baju hangat, di sini lagi musim semi. Hawa di sini beda sama di Indo" pesan Mayong. Maya mengangguk.
__ADS_1
Menara Namsan, menara dengan tinggi 236 meter merupakan titik tertinggi kedua di Seoul. Mayong dan Maya sudah berada di sana. "Sayang, fotoin. Mau aku pamerin ke Mama dan Yasmin" pinta Maya.
"Iya..iya..." Mayong mengambil beberapa gambar istrinya yang tertawa lepas. Satu foto, dia jadikan wallpaper ponselnya. Cantik, gumam Mayong.
Di puncak menara Mayong melingkarkan tangannya di perut istrinya, Maya menggenggamnya. "Kota Seoul benar-benar indah Sayang, bunga-bunga Sakura bermekaran"
"Tapi bunga yang kupeluk jauh lebih indah, dan manis rasanya" bisik Mayong tepat di belakang telinga Maya. Maya berdesir.
"Balik hotel yuukkk, besok kita puas-puasin jalan-jalannya" ajak Mayong.
Mereka berjalan menuju hotel, Maya berbelok ke penjual makanan Tteok-bokki. Setelah puas, mereka balik hotel dengan sendau gurau.
"Makasih sayang, sudah mengajakku ke sini. Sayang tau nggak, dari SMA aku berandai-andai ke sini bersama Yasmin. Eh, malah aku duluan yang sampai sini" tawa Maya renyah.
"Semoga selama di sini bisa bertemu Ji Sung" lanjutnya.
"Ji Sung, sapa itu?" sarkas Mayong.
"Aktor idolaku..tapi jangan salah Mama Clara juga tuh" Maya cengengesan. Mayong menepuk jidatnya. Baru tersadar kalau mama dan istrinya itu setipe.
"Barengan aja yuukk" Mayong menggoda istrinya. "Nggak ah, kalau sama kamu ntar mandinya lama" tolak halus Maya.
"Ayolah, ntar kubersihin punggungmu". Tanpa menunggu jawaban Maya, Mayong segera menggendong istrinya itu.
"Sini, balik badanmu. Biar kubersihkan punggungmu" Mayong membalikkan badan Maya yang polos.
"Kayaknya punggung ini dipijat enak deh sayang" pinta Maya.
"Sini???" Mayong memegang pundak Maya. Maya mengangguk. Mayong memijat pundak Maya, tapi lama kelamaan pijatan itu berubah menjadi sentuhan-sentuhan yang membuat buku kuduk Maya meremang. Tangan itu sudah tidak bisa dikondisikan. Janji tinggal janji.
Tangan Mayong mulai merambah bagian depan, dan memilin kedua pucuknya. Suara indah Maya sudah menggema beberapa kali. Mayong membalik badan istri dan mendudukkan di pangkuannya. Semula hanya tangan yeng bergerak, sekarang bibirpun mulai beraksi. Saling bertukar saliva, sementara tangan berpindah ke bagian inti istrinya. Muka istrinya sudah merah padam menahan hasrat. Mayong turun menikmati leher jenjang dan meninggalkan bekas-bekas di sana. Turun lagi sampailah ke kedua puncak yang seakan menantangnya itu. Mayong begitu pintar memainkan lidah di pucuk kemerahan itu. Maya sungguh tak bisa menahannya.."Aahhhhhhhh" teriak Maya sudah beberapa kali mencapai puncak. Mayong membalik tubuh istrinya, Mayong sekarang begitu lihai bergerak maju mundur. Semakin lama semakin cepat..dan...."aahhhhhhhh" teriak mereka bersamaan. Bermandikan peluh.
"Kamu semakin pintar istriku" bisiknya. "Sapa dulu gurunya" seringai Maya.
Habis ini tunggu kejutanku, batin Maya.
Maya sudah selesai duluan mandi. Segera memakai handuk mandinya. Sementara Mayong bergantian mandi.
__ADS_1
Tanpa diketahui Mayong, Maya sudah memakai baju keramat berwarna merah. Hah, begini amat ya mau menyenangkan suami, batinnya. Menyenangkan suami itu berpahala Nak, kira-kira begitu pesan Mama Clara. Maya masih memandang aneh dirinya yang hanya memakai baju minim bahan di depan cermin. Tanpa Maya sadari Mayong keluar dari kamar mandi. Nampaklah pandangan indah yang sangat menggoda.
"Sayang, apa mau menggodaku" Maya terkaget dan berlari bersembunyi di bawah selimut.
"Aku malu" suaranya.
"Aku sudah melihatnya semua, bukannya kamu juga sangat menikmatinya" gurau Mayong. "Ayolah umur kita sudah sama-sama dewasa" Mayong menyibak selimut Maya.
"Ayo goda aku, gantian" pinta Mayong. Mayong yang hanya pakai bathrobe mendekati Maya. Maya pun sudah tau endingnya akan seperti apa. Semua pelajaran sudah ada di bangku kuliah, sekarang tinggal prakteknya..he..he..
Sesuai permintaan Mayong, sekarang Maya yang memegang kendali permainan itu. Menikmati setiap jengkal tubuh di depannya. Gantian Mayong yang merah padam menahannya. Maya mengulum benda tumpul yang mulai menegak sempurna. Giliran Maya duduk di pangkuan lakinya, bergerak naik turun berirama. Mayong menarik bahu Maya, bukit kembar yang berirama di depannya sungguh menggoda. Mayong kulum dan meremasnya. Akhirnya terulang dan terulang lagi. Maya sangat menikmati sesapan itu.
"Sayang" teriaknya. Maya menenggelamkan wajah suaminya ke kedua bukit itu. Mayong sangat menyukainya. Akhirnya limbunglah mereka berdua setelah bersama-sama mencapai puncak.
Baju keramat sudah tak berbentuk. Mayong lagi-lagi mengecup kening sang istri. Mereka seakan-akan tak pernah puas menikmatinya. Hawa musim semi di Korea, sangat mendukung.
Ponsel Maya berdering, Maya mengangkatnya dengan ogah. "Halo" sapanya tanpa melihat siapa yang melakukan panggilan. Mayong masih terlelap di sampingnya. Bahkan mereka masih sama-sama polos.
"May, jangan bilang kamu masih molor ya" teriak Yasmin di seberang.
"He...he....Yasmin...ada apaan?" Maya mencoba membuka matanya.
"Siapa?" suara serak khas bangun tidur Mayong.
"Yasmin" Maya malah mengacuhkan panggilan sahabatnya.
"Mayyyyyy, di sini sudah jam delapan. Bukannya di situ sudah jam sepuluh?" teriak Yasmin di sana.
"Kamu nggak jalan-jalankah? Oleh-olehnya jangan lupa" Yasmin menutup telponnya.
Telpon cuma untuk oleh-oleh, iseng aja. Gerutu Maya.
Mayong mempererat pelukan, Maya membalikkan badannya. "Sayang, nggak makan?"
"Makan ini aja" tunjuknya ke arah dua buah di depannya. Maya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyadari tingkat kemesuman suaminya yang berada di atas rata-rata. Saat Mayong menikmati kedua buah itu, perut Maya berdemo...
"He...he....maaf laparnya tidak bisa ditunda" Maya cengengesan.
__ADS_1