Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 105


__ADS_3

Bara memakan nasi pecel yang telah dipesan Mayong untuk Maya. Daripada mubadzir kan belum disentuh Maya, pikir Bara. Seorang sultan pun, masih berpikir barang terbuang sia-sia ya??? "Bar, akhir pekan kutunggu kau di Dirgantara. Sebelum kau pergi ke Maldives!!!!" Mayong meminum kopinya yang tinggal seteguk. "Nggak bisa ditunda apa kak? Tunggu sepulang dari Maldives gitu gimana?" Bara mencoba menego kakaknya. "Nggak ada tawar menawar, apa yang aku ucap tadi perintah" tolak Mayong atas usul Bara. "Nggak suami, nggak istri sama aja. Sukanya menang sendiri" Bara ngedumel pelan. "Aku masih dengar, apa bulan madumu kubatalin aja?" ancam Mayong. "Hadech....iya...iya..aku datang. Kalau nggak ada operasi" Bara masih mencoba ngeles. "Minta tolong kolegamu dong, buat jaga. Atau cutimu ajukan mulai akhir pekan dilanjut Minggu depan" paksa Mayong. "Nggak enak sama yang lain dong kak, aku nggak mau diistimewakan karena statusku sebagai adikmu" jelas Bara. "Lagian siapa yang memandangmu istimewa, paling hanya Yasmin aja..Iya kan yank?" Mayong meminta persetujuan istrinya yang sedang menghabiskan suapan terakhir rawonnya. Maya mengangkat kedua jempolnya menyetujui ucapan Mayong.


"Ayo yank, kalau sudah selesai!!!!" ajak Mayong bergegas untuk berangkat kantor yang kesiangan. Maya berdiri dan meninggalkan Bara yang melanjutkan sarapannya. "Bar, jangan lupa akhir pekan ini" ulang Mayong untuk menegaskan kembali kalau hal itu tidak bisa dibantah Bara. "Siap tuan besar" ujar Bara bersungut. "Good, habis ini pulang aja. Nikmatin belah durenmu yang tertunda..ha..ha..." olok Mayong. Bara semakin cemberut, persis kayak anak kecil yang tidak mendapatkan permen kesukaannya. Semua yang berada di kantin menatap aneh ekpresi dokter yang biasanya datar seperti es balok itu.


Mayong datang ke Dirgantara dengan penampilan yang tak seperti biasanya. Pake kaos, celana jeans dengan sneakers yang semakin menambah pesona sang CEO. "Yank, tadi kok nggak ganti dulu sih? Aneh tau dengan penampilan seperti ini" bisik Maya. Mayong tetap menggandeng tangan istrinya dan masuk lift khusus. "He...he....nggak papa lah sekali-kali. Pakai ini kan juga tidak menjatuhkan wibawaku" ujar Mayong terkekeh. "Pede sekali" cibir Maya. "Kalau nggak pede, mana berani aku nikahin dokter ngehits ini" tawa Mayong. Maya tertawa.


Keluar dari lift, ternyata asisten Doni dan sekertaris Sinta sedang ngobrol berdua membicarakan pertemuan yang akan diadakan dengan perusahaan cabang. "Kalian pacaran???" sela Mayong di tengah obrolan seru mereka. "Eh..enggak tuan" ujar Sinta. "Iya juga nggak papa, lagian sama-sama jomblo kan..he..he..?" tambah Maya.

__ADS_1


"Sin, abis ini tolong pesenin rujak buah di seberang jalan itu ya. Yang di depan kantor" pinta Maya. "Makan lagi yank? Barusan rawon?" Mayong memperjelas permintaan sang istri. "Tadi karbohidratnya, sekarang vitaminnya" Maya berucap santai. "Sekarang aja Sin, tolong belikan" perintah Mayong sambil memberi beberapa lembar uang ratusan ribu. "Baik Tuan, tapi ini kebanyakan" jawab Sinta. "Nggak papa, skalian aja kamu juga beli. Kalau ada kembalian simpan aja" jelas Mayong. "Makasih Tuan" Sinta menuju lift. Doni juga mau beranjak dari tempat duduknya. "Kamu ke ruanganku Don" perintah Mayong. "Giliran aku suruh kerja. Sinta beli jajan, dapat bonus pula" gerutu Doni dalam hati. "Don, apa mau kusuruh ambil es di kutub utara? Biar juga dapat bonus seperti Sinta" Mayong sudah tau isi gerutuan Doni. Doni hanya bisa menepuk jidatnya "Kayak dukun aja, tau jalan pikiranku" batin Doni. "Aku bukan dukun" sergah Mayong. Dan sekarang Doni tidak mau memikirkan apa-apa, karena semua yang ada di pikirannya sang bos tahu.


"Yank, aku ke ruangan sebelah aja ya. Pasti kalian akan bahas hal seriuskan?" Maya berlalu menuju ruangan yang dimaksud. Maya kembali memunculkan kepalanya di pintu. "Oh ya Yank, nanti rujak buahnya masukin kulkas ya. Kayaknya kalau dingin lebih nikmat" pesan Maya. "Emang, di mana-mana dingin pasti nikmat" Mayong memandang sedikit genit ke sang istri. Maya hanya mengedikkan sebelah matanya. Doni di sini hanya sebagai pengamat, atau lebih tepatnya sebagai obat nyamuk.


Setelah Maya tidak kelihatan, "Tuan, jadi tidak bicaranya???" ujar Doni dengan tak sabar karena dari tadi dipameri kemesraan sang tuan. "Makanya cepet tuh halalin si Sinta, biar tau rasanya bermesraan" olok Mayong. Doni hanya menahan nafasnya, sesak mendengar ejekan sang bos. Biar aja dikatain lebai, emang aslinya Doni juga lebai..ha..ha...


"Don, Sabtu ini tuan Akio mau ke sini. Bara juga sudah kuberitahu. Dokumen penandatanganan resmi Nayaka.ind kamu siapkan sekalian. Nanti rapatnya di sini saja, Dirgantara" Mayong memberi penjelasan ke Doni. "Baik Tuan" hanya itu yang bisa diucapkan Doni. "Buatkan juga surat pengangkatan Bara di sana sebagai wakil dirut, biar dia belajar dulu dengan tuan Akio" pinta Mayong selanjutnya. Doni mengangguk menanggapi.

__ADS_1


"Ayo Lex lekaslah. Buru-buri ni" tutur Bara. "Mentang-mentang sudah beristri, inginnya lekas pulang aja. Ntar dulu, abis operasi yang ini. Aku masih ada elektif tumor rahim" ujar Alex sengaja menggoda Bara. Bara menggerutu sambil memasuki ruang operasi. Dua orang dokter kebidanan ini sudah bersatu mengajaknya operasi-operasi hari ini. Alex terkekeh mendengar gerutuan Bara. Meski menggerutu, tapi Alex selalu salut terhadap Bara yang selalu sigap dalam menolong pasien-pasiennya. Meski berasal dari keluarga sultan, Bara tidak pernah membedakan kolega-kolega dokternya. Meski wajah datar selalu menghiasi wajah Bara.


Tepat tengah hari, Bara baru sampai apartemen. Dicarinya keberadaan sang istri, yang ternyata lagi sibuk memasak. "Wah, wanginya" puji Bara yang tiba-tiba memeluk Yasmin dari belakang. "Ih, ngagetin aja" celetuk Yasmin dengn tetap menggoreng ikan. "Kok masak bee? Emang kulkas ada isinya?" tanya Bara. "Belanja dong bee, di supermarket seberang jalan" terang Yasmin.


"Alhamdulillah selesai, Bee tunggu di meja makan aja. Aku siapin dulu" celetuk Yasmin. Setelah siap mereka makan siang bersama. "Maaf ya tadi pagi aku buru-buru karena ada urgent operasi" tatap Bara ke Yasmin. "Sudah biasa Bee, aku kan sering kau php-in" Yasmin terkekeh. Bima ikut tertawa, ingat jaman pacaran yang selalu molor waktu janjian. Kadang juga suka mbatalin janji tiba-tiba, karena kesibukan yang tidak bisa diperkirakan itu. Hanya Yasminlah yang bisa mengerti kesibukannya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


to be continued, happy reading


like, komen, vote ya dear...kopi pun boleh πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ€—πŸ˜˜


__ADS_2