
Keesokan harinya Mayong dan Maya diperbolehkan pulang. Kondisi yang telah membaik dan hanya benturan ringan waktu kecelakaan sehingga tidak perlu lama di rumah sakit. Untung saja waktu kecelakaan itu air bag mobil Mayong berfungsi sempurna. Doni bersiap sedari pagi di rumah sakit.
Papa Suryo, Mama Clara dan Om Abraham sudah pulang semenjak Mayong dan Maya sadar dan membaik. Hanya Bara yang menginap di rumah sakit, itupun tadi pagi Bara buru-buru karena ada konsulan pasien ICU. Jadilah Doni yang menggantikan Bara.
"Kok kamu sudah di sini Don, perusahaan gimana?" Doni membereskan barang-barang Mayong.
"Aman Tuan, Tuan Suryo untuk sementara menggantikan anda. Tuan Mayong disuruh istirahat dulu, menikmati waktu di rumah. Begitu kata Tuan Suryo" Doni menjelaskan.
"Oooooo...begitu kah? Orang tua itu akhirnya mengerti juga" Mayong tertawa.
"Don, ayo sekalian ke ruangan Maya. Bantu Maya berberes skalian" ajak Mayong.
Selesai dari kamar Maya, Doni menyelesaikan administrasi rumah sakit. Doni membawa barang-barang, sementara Mayong mendorong kursi roda yang diduduki Maya.
"Maafkan aku sekali lagi ya May, karena kecerobohanku kita jadi menikmati hotel di rumah sakit ini" gurau Mayong garing.
"Sudahlah Kak jangan dibahas lagi, yang penting kita baik-baik saja sekarang" balas Maya.
Di dalam mobil yang melaju, Maya tertidur lagi.
"Yaaaaahhhh, sudah sampai nirwana lagi" Mayong menoleh ketika mendengar dengkuran halus Maya. Maya memang selalu bisa tidur kapan saja. Pola tidur yang tidak menentu membuatnya seperti itu. Di kala kebanyakan orang tidur dengan nyenyak memeluk bantal guling, Maya melakukan operasi.
Sesampai di kediaman Abraham, Mayong membangunkan Maya. "May....May..... sudah sampai lho". Sepuluh menit kemudian Mayong baru sukses mambangunkan Maya.
Maya turun diantar Mayong, "Om, aku langsung pamit ya"
"Badan juga perlu diistirahatkan Mayong, perusahaan biar di sama Doni dan Suryo dulu" pesan Abraham. Mayong mengangguk dan pamitan. Maya melanjutkan tidurnya, tanpa menunggu Mayong pulang.
Beberapa hari kemudian Mayong dan Maya sudah memulai aktivitasnya. Mayong di perusahaan dan Maya di rumah sakit seperti biasanya.
Saat operasi ponsel Maya berbunyi, "Mas tolong lihat ponselku" pinta Maya pada perawat yang di dalam kamar operasi. Ponsel didekatkan ke Maya. Tuan besar calling, "Mas tolong bantu jawab, bilang aja aku lagi operasi. Makasih ya mas" suruh Maya.
"Selamat siang tuan besar, maaf dokter Maya lagi operasi. Ada yang mau disampaikan?" tanya mas perawat itu. Mayong yang di seberang, 'tuan besar' gerutunya. "Nanti saja saya menghubungi dokter Maya lagi. Makasih" Mayong menutup telponnya.
Selesai operasi Maya menghubungi Mayong by chat
"Kak, tadi telpon ada apaan? Maaf ya tadi lagi operasi" Maya mengirim pesannya. Tak lama kemudian Mayong calling, "May jalan yukkk, makan siang" ajak Mayong.
"Tumben..kakak ngajak?" Maya terkekeh.
__ADS_1
"Mau nggak? Ntar aku berubah pikiran lho" sanggah Mayong.
"Ntar aku ditegur HRD Kak, sering ninggalin kerjaan"
"Kalau gitu ntar pulang kujemput yaa, Bara biar duluan" jelas Mayong. Memang setelah tau Maya putri Abraham, berangkat pergi sering bersama Bara. Selain searah, keluarga Suryolaksono dan Abraham sudah seperti saudara. Mayong yang selama ini menutup hati untuk wanita, mulai sedikit membukanya dengan kehadiran Maya. Maya yang juga tidak pernah merasakan kahangatan laki-laki, terkecuali Bara yang dianggap seperti kakaknya. Kehadiran Mayong dalam kehidupannya serasa memberi warna yang berbeda. Meski Mayong belum pernah mengutarakan isi hatinya. Waktu sekolah dan kuliah, Maya sangat konsen dengan pendidikannya.
Bara pulang duluan setelah Maya bilang kalau mau bareng Mayong. Maya habis kena ledekan Bara. Tersungging senyum kala mengingat semua ledekan Bara.
Jam pulang kerja, Maya menunggu di lobi IGD.
"Dok, kok duduk di sini...tumben?" tanya Anton, perawat IGD shift sore.
"He...he...iya" jawab Maya ramah.
Tiba-tiba datang pasien seorang ibu hamil teriak-teriak turun dari mobil. Pasien itu dipapah suaminya. Anton menyambut dengan mendorong sebuah brankar, "Langsung naik sini aja bu, ayo pak istrinya dibantu naik" sapa Anton dengan ramah. Anton menoleh ke Maya, "Dok, kayaknya mau ada konsulan nih?" gurau Anton.
"Biar ke PONEK dulu yaa" suruh Maya. Anton mengangguk. Pasien didorong Anton ke IGD PONEK.
Dan tidak salah lagi, ponsel Maya berdering. Bukan dari Mayong tapi dari PONEK. Maya menekan tombol hijau di ponselnya, "Halo, ya mba..?"
"Selamat sore dokter, dengan bidan Emy . Ijin konsul?"
"Siap dokter, Ny. A dengan Gravida pertama umur kehamilan 39 minggu, kala I fase aktif dokter. Bayi baik, keadaan umum ibu baik, kontraksi bagus, pembukaan sudah sembilan. Mohon advis dokter" suara bidan Emy merdu di telinga Maya..he..he..
"Baik Mba Emy, observasi lanjut. Pro lahir spontan. Pimpin jika pembukaan sudah sempurna dan kepala turun" advus Maya.
"Baik dokter, terima kasih. Kita konsul lagi jika ada kemacetan kemajuan persalinan?" tanya mba Emy memperjelas advis.
"Oke" Maya menutup telponnya. Maya tidak menyadari jika Mayong sudah berada disampingnya, sedikit terkaget setelah membalikkan badan. Mayong hanya terkekeh. Anton yang melihat itu tersenyum. Akhirnya dokter cantik itu punya gandengan juga, pikirnya.
"Kakak, kayak hantu aja. Tau-tau sudah di belakangku?" ujar Maya.
"Sapa juga yang nyuruh kamu terlalu asyik dengan ponselmu. Ayo jadi pulang nggak?" ajak Mayong. "Ayo, masak mau tidur sini" Maya bergegas bangkit dari duduknya.
Mayong yang biasa dengan Doni setelah kecelakaan itu, hari ini setir mobil sendiri.
"Kakak dengan Doni atau sendiri?" Maya berjalan beriringan dengan Mayong di koridor.
"Sendiri, Doni tadi masih dengan Papa" terang Mayong. Mobil Mayong berada di seberang jalan rumah sakit, karena parkiran di depan IGD penuh.
__ADS_1
Ketika menyeberang, Maya yang tidak hati-hati berjalan hampir saja terjatuh karena kakinya terantuk bata di trotoar. Mayong dengan sigap menangkap tubuh Maya yang limbung...(kayak adegan film India...he..he...)
Denyut jantung Maya tachicardia, denyut yang lebih cepat dari biasanya..jedug..jedug...(kalau ini author hiperbola..hmmm). "May, jantungmu bermasalahkah, kenapa denyutnya cepet sekali" goda Mayong. "Boleh dilepas pelukannya?" lanjut Mayong.
Maya tersipu, buru-buru melepas pelukannya. Mayong tertawa.
Di tengah jalan Mayong mengajak mampir ke suatu tempat. Maya mengangguk saja, karena hari juga masih sore.
"Tadi aku sudah ijin Om Abraham, untuk mengajakmu keluar" Maya menoleh.
"Tadi pas ketemu Om aku bilang sekalian" terang Mayong.
Saat melewati jalan raya yang tak begitu ramai, Maya melihat sebuah pasar malam.
"Kak, kesitu aja yuk!!! mampir bentar aja" ajak Maya.
"Itu tempat apaan May?" Mayong tidak tau tempat yang ditunjuk Maya.
"Pasar malam kak, ada wahana-wahana mainan di sana". Melihat Maya sangat antusias dengan tempat itu Mayong berhenti.
"Ayo Kak cepetan" Maya tak sabar. Mayong melepas jasnya, dan melipat lengan bajunya. Maya yang buru-buru menggandeng tangan Mayong. Tentu Mayong senang.
Saat naik kemudi putar, Maya tertawa lepas. Bahagiamu sederhana sekali, batin Mayong. Setelah puas naik wahana Maya mengajak duduk di kursi, "Huh..capek sekali kak". Mayong menyodorkan minum. "Makasih" sambut Maya menerima air kemasan.
"Aku waktu tinggal di panti, mau ke pasar malam aja nggak berani ijin kak, kasihan bapak dan ibu. Aku hanya bisa memendam keinginan itu" Maya bercerita. Mayong menyimak.
"Gimana kalau kita ke kota "A" wahana yang di sini kita suruh ke panti beberapa hari? Biar adik-adik di sana senang" usul Mayong.
Maya hanya melongo. Tidak begitu juga kali, batinnya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Hari ini othor sibuk wira wiri, jadi baru sempet up..maapken.
*PONEK \= Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif
HAPPY READING ππ
π»π»π»π»π»
__ADS_1