
Para prajurit dan siswa siswa Terresia yang sudah mendaki penghalang tersebut mulai mendekati mulut sang iblis raksasa tersebut.
Ketika mereka sudah berada tepat di bawah mulut sang iblis, mereka baru kepikiran menganai cara untuk memasuki mulut tersebut.
Tak butuh waktu lama, tiba tiba terpancar cahaya berbentuk lingkaran di dekat mereka. Dari cahaya tersebut muncul 3 orang penasihat kerajaan.
"Hah.. makannya jangan tergesa gesa dalam mengambil keputusan." kata Silvanna
"Ma-Maafkan kami, Nyonya Silvanna !" kata para prajurit dan siswa siswa Terresia
"Tapi ya.. mulut ini benar benar besar.." kata Arthur yang menopang pedang raksasanya
"Jadi, bagaimana cara kita masuk ke dalam tubuh iblis raksasa ini ?" tanya Aldizech
"Serahkan padaku !" kata Silvanna
Silvanna kemudian merapalkan Mantra yang memunculkan tanah dari bawah penghalang. Tanah yang muncul tersebut menembus penghalang tersebut dan membuat semacam tangga menuju tubuh iblis raksasa tersebut.
Mereka kemudian berjalan menaiki tangga tersebut menuju ke mulut sang iblis raksasa. Dan ketika mereka sudah sampai di bagian tenggorokan, mereka disambut dengan iblis iblis tingkat 2.
"Wah.. benar benar iblis yang unik ya.." kata Aldizech yang terkejut melihat kemunculan iblis iblis tingkat 2
"Hm, apa kita perlu memanggil bala bantuan ?" tanya Arthur
"Kalau begitu aku izin mundur dulu." kata Silvanna
Silvanna merapalkan Mantra Teleportasi dan menghilang dari pandangan. Arthur dan Aldizech kemudian menyiapkan senjata mereka dan mulai mengarahkan para prajurit dan siswa Terresia untuk menyerang iblis iblis tingkat 2 tersebut.
Di dalam penghalang, Silvanna menemui para petinggi lainnya yang sudah bersiap dengan pasukan yang belum mendaki penghalang. Silvanna memberikan informasi bahwa di dalam tubuh iblis raksasa akan ada banyak hal yang tidak kita duga sebelumnya.
Dan dengan tatapan penuh kesiapan, para petinggi dan prajurit Orion meminta Silvanna untuk membawa mereka menuju ke tubuh sang iblis raksasa.
Silvanna kemudian memindahkan mereka semua menuju ke tempat dimana ia terakhir berpijak. Dan ketika mereka semua sampai, Arthur dan yang lain sudah tidak ada di tempat.
Hanya terdapat pancaran darah hijau (darah iblis) di mana mana serta bangkai atau mayat dari para iblis yang berserakan. Dengan ditinggalkannya pertanda seperti itu maka Silvanna dan orang orang yang baru tiba menyimpulkan bahwa Arthur dan yang lain sudah berjalan lebih jauh lagi.
Silvanna kemudian merapalkan Mantra Teleportasi dan kembali ke dalam area pusat. Ia juga menutup rapat rapat penghalang yang sudah dibuat.
"Baiklah, Nyonya Silvanna sudah repot repot membawa kita ke sini.. dan sebaiknya kita tidak menyianyiakan mana beliau !" kata Edward
"Ya !!" teriak pasukannya
Edward ditemani Tombas, Vitan, Archy, Alfonso, Gordon, Para Pilar, dan Para Prajurit Orion mulai memasuki tubuh dari iblis raksasa tersebut.
Di dalam bagian tubuh iblis raksasa, Arthur dan yang lain sudah berjalan cukup dalam. Mereka sudah menemui berbagai macam iblis tingkat 3 ke bawah yang mencoba menghalangi mereka. Dan ketika mereka terus melangkahkan kakinya, mereka bertemu dengan sosok yang berbeda dari yang menghalagi mereka sebelumnya.
"Kau !" kata Aldizech
"Oik oik oik! Aku kira siapa ternyata orang yang sudah kukalahkan !" kata Buuta
"Aldizech, apa kau kenal **** ini ?" tanya Arthur dengan berbisik
"Ya, dia yang menjadi lawanku di dinding timur kemarin." kata Aldizech
__ADS_1
"Kalau begitu.. dia bukan lawan yang lemah." kata Arthur
Buuta yang tanpa basa basi langsung mengayunkan gadahnya hingga membuat sebuah gelombang kejut yang cukup untuk melempar beberapa orang prajurit.
Aldizech merapalkan sebuah Mantra yang memunculkan perisai raksasa hingga bisa menghalangi gelombang kejut yang diciptakan oleh Buuta.
Arthur yang melihat ada sedikit kesempatan mengayunkan pedangnya dari jauh. Ayunan pedang tersebut menghasilkan serangan jarak jauh berupa tebasan kilat.
Tebasan yang datang dengan sangat cepat tidak bisa dihindari oleh Buuta. Tebasan tersebut merobek bagian dada kirinya.
"Saakiitt!! Dasar cecunguk sialan !" teriak Buuta
Buuta yang jarang menerima sebuah serangan mengayunkan gadahnya ke tanah. Serangan dari Buuta tidak membelah seperti ketika ia melancarkan serangannya di tanah yang sesungguhnya.
Buuta yang kesal karena serangannya tidak memunculkan dampak atau efek apa apa, melemparkan gadahnya ke arah Arthur dan yang lain.
Arthur dan Aldizech kebingugan mengenai serangan tanpa tujuan yang jelas tersebut. Namun ketika gadah tersebut sudah semakin dekat, Buuta merapalkan Mantra yang memperbesar ukuran dari gadah tersebut.
Perisai Mantra Aldizech bertubrukan dengan gadah raksasa yang di lempar oleh Buuta. Ketika bagian depan sedang sengit bertarung, dari belakang datang segerombolan iblis tingkat 1 dan 2 yang mencoba untuk mengepung dari dua sisi.
Para prajurit Orion yang tidak ingin menambah beban para pemimpinnya dengan inisiatif langsung menghadapi serangan dari gerombolan iblis tingkat rendah tersebut.
Buuta tertawa terbahak bahak karena melihat Aldizech yang bersusah payah menahan serangan tersebut. Arthur yang berinisiatif melancarkan serangan balik tidak bisa dilakukannya.
Karena gadah yang dilempar tersebuut, dalam hitungan detik saja sudah bertambah besar ukurannya. Gadah tersebut terus bertambah besar hingga menutupi jalan yang bisa Arthur tempuuh untuk melancarkan serangan balasan.
"Sial! Aldizech aku akan membantumu !" kata Arthur yang menancapkan pedangnya ke tanah
Ketika Arthur menancapkan pedangnya ke tanah, terdengar raungan kesakitan yang menggema. Raungan tersebut adalah raungan iblis yang kesakitan karena bagian tubuhnya diserang oleh Arthur.
Arthur yang langsung paham kemudian menyerang secara asal ke bagian dalam tubuh iblis raksasa tersebut. Ia juga menyuruh para prajurit yang tidak berperang untuk ikut membantunya menyerang secara asal.
Di bagian dalam tubuh lainnya, Edward dan yang lain bertemu dengan Elza dan Spelken. Spelken dan Elza yang tidak suka basa basi langsung menyerang Edward. Spelken dengan cepat langsung melancarkan serangan air ludahnya bertubi tubi.
Tombas yang menyadari serangan tersebut dengan cepat langsung merapalkan Mantra Angin Topan untuk mengembalikan air ludah tersebut.
Elza kemudian mengibaskan sayapnya hingga menciptakan gelombang angin yang mampu menyingkirkan air ludah Spelken yang dikembalikan oleh Tombas tersebut. Air ludah tersebut mengenai bagian dalam tubuh iblis raksasa tersebut.
Dan momen terkenanya ludah Spelken bersamaan dengan ketika Arthur menancapkan pedangnya ke tanah. Spelken yang berteriak membuat bagian dalam tubuhnya bergoyang.
Semua makhluk yang ada di dalam tubuh iblis raksasa tersebut terguncang. Buuta yang kesal kemudian berteriak memerahi iblis raksasa karena terlalu banyak bergerak.
Melihat Buuta yang sedang teralihkan perhatiannya pada iblis raksasa, Arthur dan Aldizech langsung melancarkan serangan kejutan.
Arthur berlari dengan kencang dan mengayunkan pedangnya untuk memotong lehet dari Buuta. Sedangkan Aldizech memunculkan tanah yang membatu dan dan dihancurkan hingga menjadi seperti debu. Aldizech kemudian merapalkan Mantra angin dan menggabungkan debu yang ia buat dengan anginnya.
Dari kombinasi tersebut membuat Buuta tidak bisa melihat dengan jelas. Buuta yang kelilipan mengucek ngucek matanya berharap penglihatannya bisa kembali seperti biasa.
Ketika ia sedang sibuk mengucek matanya ia merasakan kedatangan sesosok makhluk dari depannya. Ia berinisiatif untuk langsung lompat ke belakang.
Arthur yang mengayunkan pedangnya berhasil dihindari oleh Buuta. Seakan sudah tahu bahwa serangannya akan bisa dihindari, Arthur sudah menyiapkan sebuah perangkap.
Ketika kaki Buuta sudah menyentuh tanah, Arthur langsung melempar pedangnya yang sudah dilapisi dengan Mantra Pedang Suci.
__ADS_1
Mantra tersebut merupakan Mantra Cahaya, yang mana Mantra tersebut merupakan Mantra kelemahan para iblis. Jikalau iblis terkena serangan Mantra Cahaya maka bagian tubuh mereka yang terkena serangan akan terasa seperti terbakar tanpa henti.
Buuta yang melihat secercah cahaya merasa bahwa serangan tersebut merupakan Mantra Cahaya, ia mencoba untuk memukul balik serangan Arthur namun ia baru ingat bahwa pedangnya tidak berada di sekitarnya.
"Sialann !!!" teriak Buuta dengan mata merah dan penuh emosi
Serangan yang dilancarkan oleh Arthur menembus tepat di bagian dada Buuta. Buuta berteriak kesakitan karena terkena serangan tersebut. Perlahan namun, dari sekitaran tubuhnya mulai terkikis oleh semacam cahaya berwarna hitam yang ketika jatuh berubah menjadi abu berwarna hitam.
Dan perlahan, tubuhnya mulai menghilang.
"Sialan sialan sialan! Bagaimana mungkin aku bisa kalah oleh cecunguk seperti kalian ?!" teriak Buuta yang bergerak kesakitan
Arthur dan Aldizech tidak menjawab apa apa dan hanya menatap Buuta yang sedang kesakitan.
"Aku berjanji.. kalau aku akan hidup kembali dan akan memenggal kepala kalian dasar cecunguk sialan!! Oik oik oik !!" teriak Buuta yang tinggal bagian kepala yang tersisia
Dan setelah mengatakan hal tersebut, Buuta lenyap menjadi abu. Arthur berjalan menuju ke abu Buuta untuk mengambil kembali pedangnya.
Aldizech yang melihat potensi dari pedang Buuta memutuskan untuk membawa pedang tersebut dan mungkin menjadikan pedang tersebut menjadi miliknya.
Di tempat lainnya, Elza dan Spelken yang menyadari bahwa Buuta telah dikalahkan langsung tertawa. Edward dan yang lain kebingungan melihat kedua iblis tersebut tertawa.
"Apa, apa yang lucu ?!" teriak Edward
"Ahahahaha.. tidak.. tidak ada.. hanya saja ada **** jelek yang baru mati saja.. ahahaha." kata Elza yang menghapus air mata tawanya
"Hugah hugah hugah!! Sebaiknya kalian cepat menyusul **** sialan itu saja !" kata Spelken
Spelken langsung menyerang Edward dan yang lain dengan serangan air ludahnya. Tombas yang sekali lagi merapalkan Mantra Angin Topan untuk mengembalikan serangan tersebut.
Serangan dan balasan dari kedua belah pihak terus monoton seperti itu. Hingga waktu telah berjalan 30 menit dan Elza mulai kesal dengan situasi dirinya saat ini.
"Kalau begini terus maka tidak akan ada kemajuan. Spelken, sebaiknya kita mundur dulu saja." kata Elza
"Hugah?? Kau mau mundur dari melawan makhluk seperti mereka ?!" kata Spelken
"Kalau mereka memang lemah maka **** itu masih hidup. Lagipula aku tidak bisa menggunakan kekuatanku sepenuhnya di sini." kata Elza
"Aghh! Baiklah! Terserahmu saja !" kata Spelken
"Baiklah makhluk rendahan.. kita akan bertemu di lain kesempatan." kata Elza yang kemudian menghilang dengan Mantra Teleportasi bersama dengan Spelken
Edward dan yang lain menyarungkan kembali senjata mereka. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan memasuki tubuh iblis raksasa lebih dalam.
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !
Mohon dukungan dari teman teman ya !
Untuk kritik dan saran bisa dicantumkan di kolom komentar !
__ADS_1
Terima Kasih !
----------=======-----------