
Ketika pedang Kron dan Zlaruma bertemu sebuah ledakan yang sangat besar terjadi. Semua orang yang melihat ledakan itu langsung berlindung menggunakan segala Mantra pelindung terkuat yang mereka miliki.
Orang orang yang berada di dekat pelindung Para Dewa mengetuk ngetuk agar diizinkan masuk ke dalam perlindung Para Dewa sedangkan Para Iblis berteriak panik.
Ledakan dahsyat layaknya sebuah ledakan nuklir berlangsung selama kurang lebih 1 menit. Semua orang mencoba bertahan dari ledakan yang diciptakan oleh Kron dan Zlaruma.
"Sesuai dugaan, kau masih hidup Pahlawan." kata Zlaruma
"Begitu pula denganmu." jawab Kron
Ledakan berakhir dengan menyisakan asap yang bertebaran di mana mana. Orang orang yang berada di luar pelindung langsung pada sekarat, sedangkan yang berada di dalam pelindung hanya mengalami luka luka kecil saja.
"Syukurlah kita selamaat !!" teriak Uldag
"Yaa !!" teriak para prajurit Bullaford
"Sekarang waktunya serang mereka !" teriak Uldag
Para prajurit Bullaford langsung menyerang orang orang yang berada di dalam pelindung Para Dewa. Melihat Kerajaan Bullaford yang sudah memulai pergerakan, Raja Sweba tidak mau kalah.
"Wahai para prajuritku yang terhormat! Jangan mau kalah dengan Para Prajurit Bullaford! Serang mereka !" teriak Raja Sweba
Para Prajurit Sweba juga berteriak dan mematuhi perintah dari rajanya. Melihat kedua kerajaan memulai penyerangan, Raja Westebar juga mengarahkan para prajuritnya untuk menyerang orang orang yang berada di dalam pelindung.
".. Para.. Prajurit Bullaford ?" gumam Bullaford dengan agak kebingungan
"Dewa, mereka adalah orang orang dari Kerajaan Bullaford. Selama beberapa tahun belakangan sebelum Kron menghilang, serangkaian kejadian telah menimpa mereka." kata Aldizech
"Serangkaian kejadian? Apa maksudmu ?" tanya Bullaford
Aldizech menjelaskan bahwa selama beberapa tahun ini Kerajaan Bullaford diterpa berbagai hal mulai dari penyerangan dan pembantaian dari Kerajaan Sweba, gugurnya Raja Bullaford sekaligus sahabatnya Erdia, hingga politik kotor dari Para Petinggi Bullaford.
Bullaford merasa terkejut mendengar penjelasan dari Aldizech. Merasa bersalah, Bullaford langsung turun dari tempatnya dan menghadang Para Prajurit Bullaford serta Para Petingginya sendirian.
Dengan kekuatan mutlaknya ia merapalkan sebuah Mantra yang mana jikalau orang orang itu adalah orang dari Kerajaan Bullaford, maka orang itu akan tunduk di hadapannya seketika.
"White Mantra : King Bullaford's Order! Berlututlah !" teriak Bullaford
Teriakan Bullaford terdengar dan menggema di dalam ruangan tersebut. Semua orang mendengar teriakan Bullaford dan bingung dengan Mantra yang dirapalkan oleh Bullaford.
Namun, kejadian mengejutkan terjadi di hadapan mereka. Para Prajurit Bullaford yang sedang berlari mencoba menyerang tiba tiba berlutut seolah ada yang memaksa mereka untuk berlutut. Begitu pula dengan Para Petingginya.
"Sialan.. apa yang terjadi !" kata Luca
Orang orang Bullaford yang berada di ruangan tersebut, sudah berlutut semuanya. Justin yang melihat orang orang dari Bullaford berlutut seolah dipaksakan merasa heran mengapa dirinya tidak mendapatkan paksaan untuk berlutut.
__ADS_1
"Jadi.. benar kalau kalian adalah orang orang dari Kerajaan Bullaford." kata Bullaford memandang rendah Uldag dan pasukannya
".. Sialan.. siapa.. anda !" kata Uldag mencoba mengangkat kepalanya dengan kesal
"Tundukkan kepalamu! Kau tidak tahu sedang berbicara dengan siapa ?!" kata Bullaford
Bullaford yang terlihat tegas membuat orang orang dari Westebar dan Sweba gemetar. Niat mereka untuk menyerang seolah sudah mereka urungkan karena melihat betapa tegas dan kuatnya Bullaford hingga bisa menundukkan seluruh pasukan dengan satu rapalan Mantra.
"Aku, adalah leluhur kalian! Aku adalah pencipta kerajaan ini. Aku adalah Dewa Bullaford, Raja dari segala Raja !" kata Bullaford
Semua orang yang belum mengetahui fakta bahwa orang tersebut adalah Bullaford terkejut seketika. Seorang Dewa yang memiliki nama Bullaford dan mengaku bahwa dia adalah pendahulu kerajaan ini sekarang berada di hadapan mereka.
"Anda.. anda pasti berbohong! Seorang iblis tidak mungkin menjadi Raja Kerajaan Bullaford !" teriak Uldag
"Oh ?" kata Bullaford
Uldag tiba tiba merasakan sakit yang bukan main. Dada nya terasa seperti tertusuk beberapa pedang. Pedang pedang tersebut tepat mengenai jantungnya. Ia langsung menggeliat kesakitan dan menangis serta mengeluarkan darah dari mulutnya.
Semua orang yang melihat Uldag, seorang raja yang agung menggeliat kesakitan tentu gemetaran. Mereka sekarang percaya bahwa apa yang ada di hadapan mereka adalah fakta yang sesuai dengan apa yang Bullaford ucapkan.
"Sebagai pendiri aku memberikan kutukan dan perintah, bahwa siapa saja yang mengabdikan dirinya untuk Kerajaan Bullaford. Maka ketika aku memerintahkan mereka, hanya ada satu kata yang bisa diucapkan. 'Baik, wahai Raja'." kata Bullaford memandang orang orang Bullaford dengan kesal dan emosi
Ketika kondisi di dalam pelindung Para Raja sedang tegang karena kemarahan Bullaford, orang orang yang berada di luar pelindung sedang mengalami luka luka yang sangat parah. Pelindung yang mereka ciptakan tidak cukup untuk menahan ledakan yang diciptakan oleh Kron dan Zlaruma.
".. Sialan..! Aku harus tetap hidup! Serahkan nyawa kalian, wahai Para Manusia !" teriak Girana
"Ya! Kalian mati saja! Va !" teriak Vildi
Ketika Girana dan Vildi mau menyerang orang orang yang sekarat dan menghisap kehidupan dari orang orang yang sekarat, seorang Malaikat dengan pakaian tempur layaknya Samurai Jepang langsung menghantam mereka berdua hingga menabrak dinding Pusat Para Rasul.
"Azazel kah?! Terima kasih !" kata Kron di langit
"Tentu saja, wahai Pahlawan." kata Azazel dengan sedikit menunduk
Azazel kemudian memberi pesan kepada Ussehan bahwa orang orang yang ada di luar pelindung Para Dewa banyak yang gugur dan banyak yang harus segera diselamatkan. Ussehan yang menerima pesan dari Azazel langsung mengabari Iris dan tim medis lainnya.
Dengan cepat Tofa membuat sebuah jalan ke bawah tanah yang cukup dalam dan langsung tembus ke dekat Azazel. Azazel berhadapan dengan Matrovir dan Rordo yang sedang terluka sembari menjaga agar tak ada satupun Para Pengawal Zlaruma yang mendekati para Ras Manusia.
Kron yang melihat Azazel sudah mengurus sisanya langsung melayangkan pedangnya ke arah Zlaruma. Zlaruma menghindari serangan dari Kron dan terkena pukulan telak dari Kron di bagian pipi kirinya.
Kron langsung terbang dengan sangat cepat untuk mengambil pedangnya yang terbang ke langit dan menebas Zlaruma hingga seratus kali.
"Mantra : Hundred Slash !" teriak Kron
Satu tebasan dari Kron mampu membelah sebuah gunung dengan mudah. Sedangkan Mantra : Hundred Slash adalah seratus tebasan yang Kron lakukan dalam waktu kurang dari 1 detik.
__ADS_1
Kron menebas dengan sangat cepat hingga membuat Zlaruma tidak bisa berkutik. Pada tebasan terakhir, Kron langsung melempar Zlaruma ke tanah dan membuat gempa yang terasa di seluruh Essaract.
"White Mantra : Gotte Strave !" kata Kron untuk tebasan terakhirnya
Efek dari terlemparnya Zlaruma ke tanah selain membuat seluruh Essaract menjadi gempa, adalah tanah yang berada di hampir seluruh area pertempuran retak dan hancur hingga membentuk sebuah jurang yang sangat dalam.
"Untunglah kita sudah sampai." kata Tofa dengan ketika melihat dalamnya lubang yang diciptakan Zlaruma dan Kron
"Dewa Tofa! Awas !" teriak Azazel
Tofa menahan serangan dari Rordo dengan kedua tangannya, Tofa kemudian memukul Rordo. Meski dapat ditahan dengan pedangnya Rordo, namun Rordo tetap terseret dalam posisi berdiri hingga beberapa meter.
Suasana sempat sunyi sebentar untuk memastikan apakah Zlaruma sudah gugur apa belum. Semua orang dari segala ras terdiam.
Ketika semua orang terdiam, pilar berwarna ungu kehitaman muncul dari dalam jurang. Pilar tersebut muncul dengan sangat cepat dan sangat kuat hingga membuat Kron cukup kesulitan menahan serangan pilar tersebut.
Semua orang terkejut melihat kemunculan Zlaruma dari dalam jurang. Zlaruma yang muncul perlahan dengan tatapan mata yang tertutupi cahaya ungu dan aura bewarna ungu kehitaman membuat siapapun yang melihatnya akan gemetaran.
".. Akhirnya.. dia serius." kata Hellian dengan menelan ludah
"Kron, kami percaya padamu !" kata Para Dewa dalam hatinya
"Hebat hebat.. wahai Pahlawan. Dengan begini, aku bisa serius menghadapimu." kata Zlaruma
Kron membelah pilar Zlaruma dengan tebasannya. Kron merapalkan sebuah Mantra dan dialirkannya ke pedangnya. Cahaya berwarna putih terang muncul dari sekitar tubuhnya.
"Majulah.. Zlaruma !" teriak Kron
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !
Mohon dukungan dari teman teman ya !
Untuk kritik dan saran bisa dicantumkan di kolom komentar !
Terima Kasih !
----------=======-----------
__ADS_1