
Para pengawal Zlaruma langsung menuju ke medan pertempuran dengan kekuatan penuhnya serta seluruh pasukannya. Pengawal Zlaruma adalah iblis iblis tingkat 10.
Para Pengawal Zlaruma dengan cepat langsung berpindah dari hadapan Zlaruma ke pasukannya masing masing. Masing masing dari Pengawal Zlaruma memimpin 10.000 iblis tingkat 7.
Iblis iblis tersebut ada yang berbadan 5 meter dengan otot yang luar biasa besarnya dan urat yang terlihat di mana mana (Azura), lalu ada seoang iblis wanita dengan dua tanduk dan membawa sebuah trisula (Girana), seorang iblis dengan jubah berwarna hitam rambut hitam dengan sklera mata berwarna hitam dan bola mata berwarna merah darah (Rordo), seorang iblis dengan tubuh sekitar 1 meter dan bungkuk serta api yang menyala dan mengalir di seluruh tubuhnya (Vildi), dan yang terakhir seorang iblis yang berdiri dengan satu tongkatnya (Matrovir).
Matrovir mengangkat pedangnya serta mengacungkan pedangnnya ke langit. Langit berubah menjadi merah darah dan perlahan sebuah hujan darah mulai muncul dari langit.
Gigantia yang mengamuk dengan buaus karena kehilangan pengendalinya menjadi semakin mengamuk setelah terkena hujan darah dari Matrovir. Bola mata Gigantia menjadi merah darah. Aldizech yang melihat wajah anaknya semakin beringas menjadi tidak tahan dan mencoba menyerang Gigantia.
Ketika Aldizech terbang ke arah Giganttia di halangi oleh Marquis dan King. Aldizech mencoba menyerang mereka namun dapat ditahan oleh Marquis dan King.
Aldizech ditahan sebentar dan dalam hitungan detik Aldizech mampu mementalkan Marquis dan King. Namun tepat setelah Aldizech melewati Marquis dan King, ia dimentalkan oleh Rordo.
Aldizech terseret ke tanah beberapa meter. Arthur dan Silvanna terkejut melihat Aldizech yang dapat dimentalkan dengan semudah itu.
Mereka melihat ke langit dan menyadari bahwa telah berdiri sosok iblis yang tidak akan mampu mereka lawan. Arthur dan Silvanna memutuskan untuk mundur dulu. Ketika Arthur dan Silvanna mau mundur, mereka diteriaki oleh Para Petinggi Orion dan para prajurit Orion.
"Jangan bawa aku, aku harus menghabisi iblis itu dulu !" kata Aldizech yang mencoba berdiri sembari menatap Gigantia
"Tenangkan dirimu, kita dihadang oleh lawan yang tidak mungkin kita bisa hadapi." kata Silvanna
"Ya, kita hanya bisa mundur dan bersiap sembari menunggu kedatangannya." kata Arthur
Mereka pun mundur dari medan pertempuran. Di tempat lainnya Raptor, RIas, dan Yuno yang menghadapi pasukan Kerajaan Sweba dihadang oleh Girana. Sama kasusnya dengan Para Penasihat Kerajaan, mereka bertiga juga memutuskan untuk mundur dari medan pertempuran dahulu.
Hujan darah yang terus turun perlahan membuat zirah besi dan pelindung (barrier yang diciptakan Bullaford dan Para Malaiakat) meleleh. Ketika darah menyentuhu anggota tubuh, maka anggota tubuh yang terkena darah tersebut akan terasa sangat panas.
Para pasukan gabungan yang tubuhnya terkena hujan darah berteriak kesakitan. Ussei yang melihat hujan darah telah membuat pasukan Para Dewa kocar kacir mulai merapalkan Mantranya.
Ia mengubah darah darah yang sudah turun maupun sedang turun berubah menjadi air yang mengobati. Berkebalikan dengan hujan darah yang menyakiti pasukan Para Dewa, hujan air yang diciptakan Ussei dari hujan darah Martrovir membuat Para Iblis berteriak kesakitan.
Tubuh dari parah iblis mulai menguap karena terkena air dari Ussei. Air yang turun diciptakan Ussei menggunakan White Mantra : Water of Heaven.
Martrovir yang sudah menduga bahwa hujannya akan dapat diantisipasi oleh Para Dewa memberi kode kepada Vildi untuk menjalankan aksinya.
Vildi tersenyum dengan mulut yang sangat lebar dan gigi yang penuh taring. Vildi merapalkan Mantranya dan seketika api muncul dari sekitar area pertempuran.
__ADS_1
Api tersebut berwarna merah dan biru serta berkobar dengan sangat kuat. Vildi kemudian merapalkan Mantranya sekali lagi dan membuat api api tersebut melebar ke langit.
Api tersebut membuat sebuah sangkar yang mengelilingi seluruh area pertempuran. Sebelum jeruji jeruji dari sangkar yang dimunculkan oleh Vildi bertemu, Gigantia yang mengamuk mencoba mendorong balik jeruji jeruji dari sangkar yang dimunculkan Vildi.
Vildi tertawa melihat sosok lemah mencoba mendorong mundur kekuatan Mantranya. Kedua tangan Gigantia ia gunakan untuk menahan dan mendorong balik namun dengan mudah Vildi membalas dorongan Gigantia hingga menembus kedua tangan Gigantia.
"Vahahahahava!! Badan saja yang besar !" kata Vildi dengan tertawa dan api yang keluar di kedua telapak tangannya
Aldizech yang berlari mundur tercengang melihat sosok yang miripi anaknya berteriak kesakitan. Jeruji jeruji dari sangkar tersebut menembus dengan perlahan dan membakar bagian dalam tubuh dari Gigantia.
Gigantia berteriak kesakitan dan mencoba mencabut jeruji jeruji yang menembus tangannya namun ketika ia mencoba mencabut namun ketika ia menyentuh jeruji jeruji tersebut telapak tangannya tergores dan darah yang keluar langsung terbakar.
Api tersebut terus melebar hingga mencapai seluruh bagian tangannya. Vildi semakin tertawa terbahak bahak melihat iblis sebesar Gigantia berteriak kesakitan.
Aldizech menelan ludah dan merasa bingung dengan kondisi hatinya. Di satu sisi ia merasa puas karena sosok iblis yang menggunakan wajah anaknya kesakitan namun di sisi lainnya ia merasakan kesakitan layaknya seorang ayah yang melihat anaknya kesakitan.
Gigantia yang berteriak kesakitan mengingatkannya ketika Treze masih kecil. Aldizech yang bimbang langsung mengambil pedangnya dan merapalkan Mantra.
Ia telah merapalkan Mantranya namun tak ada hasil yang keluar dari rapalannya. Aldizech kebingungan dan ketika ia melihat ke atas, ia melihat sosok iblis Rordo yang mengeluarkan sebuah bola berwarna hitam pekat dan dari bola tersebut terpancar sebuah cahaya hitam.
Pelindung dari Para Dewa mulai menghilang. Bullaford yang mencoba memperkuatnya lagi namun ia merasakan bahwa kekuatan dari Mantra yang ia keluarkan semakin melemah. Para Malaikat yang mencoba merapalkan Mantra untuk membantu Bullaford merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Aldizech.
".. Baiklah, kalian fokus tingkatkan pertahanan di bawah! Urusan pelindung, serahkan padaku! Suruh Hellian untuk segera kembali !" teriak Bullaford
"Baik, Dewa !" jawab komandan Malaikat
Bullaford tanpa basa basi langsung mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk memperkuat pelindung (barrier) yang ia dan Para Malaikat ciptakan. Jeruji dari sangkar api yang diciptakan oleh Vildi semakin mendekat hingga menempel dengan kuat ke barrier.
Sesosok bertubuh besar langsung melompat dari tempatnya ke arah barrier Para Dewa. Sosok tersebut langsung menghantam barrier tersebut dengan satu tangannya.
Barrier tersebut langsung bergetar dan bergelombang hingga membuat tempat Bullaford berdiri juga goyah. Hellian datang dengan kudanya dan ia langsung melompat tinggi ke arah sosok yang memukul barrier Para Dewa.
"Minggirlah kau !" teriak Hellian
Hellian langsung mengayunkan pedangnya dari samping dan oleh sosok bertubuh besar tersebut dapat ditahan dengan satu tangannya.
"Zura zura zura.." kata Azura
__ADS_1
Azura memukul balik pedang Hellian yang ia tahan dan membuat Hellian terdorong jatuh. Hellian terjatuh hingga terdorong beberapa meter. Pasukan dari Para Dewa terkejut melihat sosok Dewa yang dapat dijatuhkan oleh seorang Iblis.
"Kalian fokuslah pada pertarungan kalian!! Jangan remehkan seorang Dewa Perang !" teriak Hellian yang sudah berdiri
Azura langsung melompat ke arah Hellian dan memukul Hellian beberapa kali. Hellian mampu menghindari pukulan pukulan dari Azura, dan ketika Hellian melihat sebuah celah Hellian langsung menendang Azura dengan cukup kuat.
Azura terdorong sekitar 2 meter dari tempatnya dan berlutut sebentar seolah menahan rasa sakit dari tendangan Hellian.
".. Zura zura ZURA !!" teriak Azura
Azura langsung memukul tanah dan membuat sebuah jurang kecil ke arah Hellian. Hellian melempar pedangnya ke arah Azura dan ia langsung lompat beberapa meter ke langit.
Azura menyadari serangan dari Hellian dan menepis pedang Hellian ke langit, Hellian yang sudah menduga bahwa Azura mampu menghindari serangannya langsung mengambil pedangnya yang terhempas ke langit menggunakan kudanya.
Hellian langsung menebas Azura dan membuat sebuah luka dari leher kiri hingga ke dada kanannya. Azura teriak dan langsung mengambil pedang Hellian dan melempar Hellian dari tunggangannya.
Azura yang sudah terluka cukup parah meminta Rordo untuk membatalkan Mantranya. Rordo yang melihat Azura terluka dan paham mengapa Azura ingin Mantra dari Rordo dibatalkan, tidak mengindahkan permintaan dari Azura.
"Zura !" kata Azura memalingkan wajahnya dari Rordo
Hellian yang terlempar langsung berdiri dan bersiap dengan pedangnya untuk menyerang Azura. Azura yang kesakitan menutupi darah yang keluar dari leher kirinya dengan mematahkan kukunya dan "mengancingkan" antar kulitnya.
Mereka berdua langsung melompat dari tempatnya dengan tangan dan pedang yang siap diayunkan.
"Turunlah ke medan perang." kata Zlaruma
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !
Mohon dukungan dari teman teman ya !
Untuk kritik dan saran bisa dicantumkan di kolom komentar !
__ADS_1
Terima Kasih !
----------=======-----------