
"Kalau memang Paman Aldizech dan Pak Tua sampai semarah ini, maka si tua itu memang benar benar brengsek." kata Kron
"Sekarang, kita akan masuk ke dalam sini dulu. Bukan bermaksud tidak menghormati perasaan Justin, tapi kita sedang dikejar waktu." kata Kron
Kron mengulurkan tangannya ke Justin. Justin yang mendengar perkataan Kron menghapus air matanya dan meraih tangan Kron. Mereka berdiri dan Justin mencoba mengingat cara membuka pintu tersebut.
Justin mencoba merapalkan Mantra Cahaya sekali lagi namun hal itu sia sia. Kron yang tidak ingin membuang buang waktu meminta izin kepada Justin apakah ia boleh menghancurkan pintu tersebut atau tidak.
Justin mengizinkan. namun Aldizech menyarankan agar pintu tersebut jangan dihancurkan. Karena sejarah yang ada di pintu tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dinilai murah.
Kron setuju untuk tidak menghancurkan pintu tersebut, ia memikirkan cara lain yaitu memindahkan pintu tersebut ke halaman belakang istana dan menutupinya dengan gumpalan tanah yang besar.
Pintu terbuka dengan ruangan yang sangat gelap. Kron dan yang lain memasuki ruangan tersebut. Ketika kaki mereka menapak ke ruangan tersebut, cahaya bergaris muncul dari lantai dan menjalar ke dinding. Garis tersebut membentuk lambang Kerajaan Bullaford.
Di bagian tengah ujung ruangan tersebut, nampak sebuah kubus transparan di atas meja kaki 4 yang seukuran kubus transparan tersebut.
Ukuran kubus tersebut 30x30 cm. Ketika mereka berjalan mendekati kubus tersebut, dari kubus tersebut terpancar cahaya yang sangat terang.
Mereka menutup matanya dengan tangan dan ketika cahaya tersebut sudah tidak begitu menyilaukan, muncul hologram seseorang dari kubus tersebut.
"Salam sejahtera anak ku.. kalau kau melihatku di hologram ini.. itu artinya aku sudah mati." kata Erdia dengan tersenyum
Kron dan yang lain terkejut dengan Erdia yang ada di hologram tersebut.
"Baiklah.. kau mungkin akan terkejut dengan hologram ini dan aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya. Oleh karena itu aku langsung ke intinya saja."
"Mantra yang diturunkan dari Raja Bullaford pertama dikatakan sebagai salah satu Mantra Surga. Dan kita sebagai pewaris Mantra Surga tersebut diberi kepercayaan yang sangat tinggi."
"Oleh karena itu, kekuatan ini tidak boleh disalahgunakan, dan jikalau sampai jatuh ke tangan orang yang salah dan ia bisa memakainya, maka bencana akan datang."
"Justin, sentuhlah kubus ini dan terimalah kekuatan ini ! Kau.. adalah pewaris yang sesungguhnya !" kata Erdia yang tiba tiba hologramnya langsung menghilang
Justin yang merindukan ayahnya mencoba memeluk hologram ayahnya yang sudah hilang. Ketika ia sedang berusaha memeluk tanpa disadari ia telah sampai ke depan kubus tersebut.
Justin melihat ke arah belakang dan Kron memberi isyarat agar Justin menyentuhnya. Justin yang ragu ragu menyentuh kubus tersebut.
Ketika ia menyentuh kubus tersebut, pilar cahaya menembus ruang bawah tanah. Pilar cahaya tersebut langsung mencuri perhatian orang orang yang ada di permukaan.
Orang orang Bullaford yang melihat pancaran pilar cahaya tersebut langsung paham bahwa kekuatan Mantra Surga telah terwariskan. Mereka langsung berlari ke arah cahaya tersebut.
Bangsawan Bullaford yang menyadari aura cahaya tersebut langsung panik dan menuju ke sumber aura yang tidak mengenakkan mereka itu.
Setelah beberapa saat, cahaya tersebut mulai meredup. Justin berjalan keluar dari pilar cahaya tersebut dan merasakan kekuatan yang berbeda dari sebelumnya.
"Yang Mulia.." kata Justin
"Selamat, atas kekuatan barumu itu." kata Kron dengan tersenyum
Setelah mendapatkan kekuatan tersebut, Justin dan yang lain berkeliling sejenak untuk mengecek apakah ada peninggalan lainnya atau tidak. Kron menemukan semacam buku tua yang tersegel dan bertanya kepada yang lain buku apakah itu.
Namun tak ada satupun yang tahu tentang buku tersebut. Kron yang merasa bahwa ruangan ini akan sangat disayangkan jikalau dibiarkan saja dan jatuh ke orang orang Bullaford meminta izin kepada Justin dan Tombas untuk memindahkan ruangan tersebut ke Orion.
Tombas dan Justin tidak keberatan sama sekali dan malah merasa senang dengan permintaan Kron. Kron menyuruh yang lain untuk keluar dari ruangan tersebut.
Setelah semua orang keluar, Kron memindahkan ruangan tersebut ke halaman belakang istana Orion dan ditutupi dengan gumpalan tanah pula.
Setelah merasa cukup atas pencariannya, Kron dan yang lain berjalan ke atas untuk kembali ke permukaan. Dan ketika mereka sampai ke permukaan, mereka menemukan bahwa mereka telah terkepung oleh orang orang dari Bullaford.
"Kalian ! Apa yang kalian lakukan di reruntuhan ini ?!" teriak Judo mengacungkan pedang
__ADS_1
Ketika Justin dan Tombas menunjukkan wajahnya, orang orang dari Bullaford langsung merasa gentar. Judo yang tadinya sudah mengacungkan pedang dengan gagah menjadi ciut.
"Kau ! Mengapa kau takut dengan mereka ?!" teriak Uldag yang baru datang
"Justin sialan ! Kau sudah mendapatkan kekuatan itu ya !" teriak Uldag turun dari kereta kudanya
Orang orang Bullaford mulai berbisik satu sama lain, mereka berbisik mengenai kekuatan turunan Raja Bullaford yang jatuh kepada orang yang bukan lagi orang Bullaford.
Mereka mulai mempertanyakan tentang kepemimpinan raja mereka, mereka berpikir bahwa raja yang memimpin apakah benar benar seorang Raja Bullaford apa tidak.
"Kalian jangan ragu ! Ia hanyalah seorang pengkhianat yang mencuri kekuatan turunan Raja Bullaford !" teriak Luca yang menunggangi kuda
"Ya ! Kalian jangan meragukan sedikitpun raja baru kalian !" teriak Chiwa menunggangi kuda
Orang orang Bullaford yang tadinya ragu mulai percaya kembali setelah mendengar pernyataan Luca dan Chiwa. Mereka semakin percaya lagi setelah melihat dan mendengar para bangsawan yang mengatakan hal yang sama dengan Luca dan Chiwa.
"Tak kusangka Darius sampai menjadi buta seperti ini." kata Aldizech ke Tombas
"Ya.. aku juga tidak menyangkanya." kata Tombas
"HAHAHAHA !! Dari dulu sampai sekarang bodohnya tidak berubah ya ! HAHAHAHA !!" tawa keras dari Arthur
"Hoi Arthur ! Aku tahu kau pasti mentertawakanku bukan ?!" teriak Darius yang kesal
"Wah ! Ketahuan ya ! HAHAHAHA !!" tawa keras dari Arthur
"Uldag, selamat sudah menjadi Raja Bullaford sesuai impianmu." kata Aldizech
"Yayayaya.. ada Aldizech si Raja Duca yang dikhianati rupanya.." kata Uldag memandang rendah Aldizech
Orang orang Bullaford mulai berbisik bisik karena adanya Arthur dan Aldizech. Arthur dan Aldizech adalah orang yang disegani di Essaract.
"Hoya hoya.. pasukan kecil katamu bocah tengik ?" kata Tombas
"Cih! Pengkhianat tua sepertimu diam saja !" teriak Chiwa
Orang orang dari Orion dan Duca pun berdebat. Mereka berdebat dan saling mencoba untuk menjatuhkan satu sama lain. Arthur tertawa terbahak bahak mendengar perdebatan tersebut, Darius yang terus menerus merasa tersinggung dengan tawa Arthur.
Aldizech yang terus mendapat cercaan dan makian dari Uldag, Tombas yang bersilat lidah dengan Chiwa dan Luca, serta Justin yang hanya melihat kecewa ke arah Judo dan Ista.
Kron yang mulai merasa jengkel dengan suasana tersebut menghela nafas.
"Hah.. apa reuninya sudah selesai ?" tanya Kron
Mata dari orang orang Bullaford langsung berubah sinis setelah mendengar perkataan Kron.
"Yayaya.. jadi inikah jawaban atas pertanyaanku kemarin..?" tanya Uldag
"Hm? Bukankah pertanyaanmu hanya menyuruh kami meninggalkan Bullaford siang ini dan meruntuhkan markas kecil ?" kata Kron
Orang orang Bullaford semakin kesal dengan perkataan Kron.
"Haa?! Kau berani menantang, Yang Mulia Bullaford ?? Orang lemah sepertimu ??" kata Chiwa
"Hahaha.. pasti sangat hina bukan memiliki raja rendahan sepertinya.." kata Luca
"Yayaya !! Nampaknya matamu sudah buta ya.. Aldizech !" tawa dari Uldag
Orang orang dari Bullaford tertawa terbahak bahak semua kecuali Judo dan Ista. Mereka tidak berani tertawa karena teringat dengan Cerberus yang dikeluarkan oleh Kron.
__ADS_1
Kron melihat ke arah Judo dan Ista dan tersenyum dengan bibir satu yang terangkat.
"Lemah? Rendahan? Mulut siapa yang berani berkata seperti itu ?" kata Kron
Cerberus langsung mengaum dengan sangat lantang hingga membuat langit menjadi gelap. Sambaran petir yang saling sahut menyahut di langit gelap tersebut.
Cerberus menunjukkan bayangan tubuhnya dari atas belakang Kron dengan pose mengaum dan mau menerkam mangsanya. Dari langit nampak Sterben dengan mata birunya yang menyala menatap tajam orang orang Bullaford.
Archy, Vitan, dan Tombas yang belum pernah melihat kekuatan Kron langsung terjatuh dan ternganga.
"Ini hanya kekuatan kecil Yang Mulia.. tidak, kecil pun belum bisa mendefinisikannya." kata William
Archy, Vitan, dan Tombas yang terjatuh melihat ke arah Kron.
"Inikah.. kekuatan dari Raja Orion..?" kata mereka bertiga dalam hatinya dengan gemetaran
Para pengawal Kron yang melihat Archy, Vitan, dan Tombas gemetaran mencoba membantu mereka bertiga agar dapat berdiri kembali dan meredakan ketakutannya.
Mereka bertiga mulai berdiri meski masih dilanda gemetaran. Mereka bertiga perlahan lahan mencoba untuk mulai memahami siapa sebenarnya raja baru mereka itu.
Orang orang Bullaford melihat ke daerah sekeliling dan ketakutan, mereka terduduk dan tertunduk lemas tak berdaya.
Orang orang yang diatas kuda hanya melihat ke sekeliling dan gemetaran mengeluarkan keringat tanpa henti. Uldag yang sombong tiada tara menutupi dirinya dengan sangat ketakutan dan tak berdaya.
Kron melihat ke sekelilingnya. Lalu ia mendapati satu pandangan seorang anak kecil, seorang anak kecil yang menabraknya, lalu meminta maaf dengan senyuman yang manis.
Anak kecil tersebut matanya berkaca-kaca ketakutan, dan dari jauh, Kron melihat si anak kecil tersebut seolah berkata, "Yang Mulia.. maafkan kami.. tolong hentikan semua ini..".
Kron yang tidak ingin menakuti anak kecil tak berdosa itu lebih jauh lagi segera menyuruh Cerberus dan Sterben agar menyudahi unjuk kekuatannya.
Langit yang gelap dalam beberapa hitungan langsung berubah kembali menjadi cerah, suasana yang mencekam berubah menjadi tenang seperti sebelumnya.
"Kita kembali ke rumah." kata Kron membalikkan tubuhnya
"Baik, Yang Mulia." jawab para pengawal Kron menundukkan tubuh
Kron dan para pengawalnya masuk ke dalam Mobil. Kron yang merasa bersalah karena memperlihatkan pemandangan mengerikan itu kepada anak kecil tadi, mencoba untuk sekali lagi melihat ke anak kecil tersebut.
Dan ketika ia melihat ke anak kecil tersebut, ia melihat senyuman si anak kecil dan gerak bibir yang mengatakan, "Terima kasih, Yang Mulia !".
Kron yang melihat anak kecil tersebut sudah kembali tersenyum, ia pun ikut tersenyum kecil dan memberikan gerak bibir yang mengatakan, "Sama sama.. maaf sudah menakutimu.".
Anak kecil tersebut kembali tersenyum lebar dan melambaikan tangannya sedikit. Ia melambaikan tangan dengan senyuman di tengah orang orang yang sedang tertunduk ketakutan.
Mobil berjalan meninggalkan reruntuhan tersebut untuk kembali ke rumah.
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !
Mohon dukungan dari teman teman ya !
Untuk kritik dan saran bisa dicantumkan di kolom komentar !
Terima Kasih !
__ADS_1
----------=======-----------