Overpowered Unknown Hero

Overpowered Unknown Hero
Chapter 2 - Senyuman Hangat Desa Gradi


__ADS_3

"Heh.. heh.. heh.." dengan nafas terengah engah


"Apa.. apa.. yang harus Aku lakukan..?" dengan kebingunan


"Di tengah kegelapan ini, mengapa ini bisa terjadi..? Bukankah tadi di sekitar sini adalah pemandangan yang indah..?"


Sembari kebingungan ia pun memutuskan untuk mulai berkelana. Dengan perut kelaparan, hati penuh ketakutan, dan pikiran yang berantakan ia pun mulai mencari jawaban. Setelah berjalan cukup lama, ia pun menemukan bahwa bagian yang gelap hanya daerah sekitarannya saja. Ia pun keluar dari sisi gelap dan mulai menginjakkan kakinya di tanah yang hijau.


Setelah ia keluar dari sisi gelap tanah yg ia pijak, ia pun mulai memperkirakan seberapa luas tanah gelap tersebut. Setelah ia memperkirakan dari jauhnya ia berjalan, serta mengetahui bahwa sisi gelap tersebut memiliki bentuk lingkaran, ia mengetahui bahwa kurang lebih luas sisi gelap tanah tersebut adalah 12,6 KM. Ia pun cukup terkejut mengetahui hasil perhitungannya. Ia pun kembali memastikannya dengan menghitung sekali lagi namun hasilnya tetaplah sama. Ia pun mulai berjalan menjauh setelah cukup yakin akan luas sisi gelap tersebut.


Ia berjalan dengan terengah engah layaknya orang yang kelaparan. Setelah cukup lama berjalan ia pun melihat sebuah desa. Ia pun memasuki desa tersebut. Penduduk desa tersebut melihatnya dengan penuh keheranan. kecurigaan. dan ketakutan. Lalu Ia tiba tiba terjatuh dan pingsan di tempat.


"Agh.." mulai membuka mata

__ADS_1


"Di-di mana ini..?"


"Ah! Kamu sudah bangun ya?!" tanya seorang wanita


"Hm? Si-si-siapa kamu?" dengan kebingunan dan ketakutan serta ke pojok kasur


"Eh-eh.. tenang saja sih.." sahut wanita tersebut


"Namaku Liliana, salah seorang warga di desa ini."


"Hahaha.. tak usah malu malu begitu. Hm.. jikalau hanya aku mungkin itu tidak begitu tepat. Para penduduk di sinilah yang menolongmu." jawabnya dengan senyum yg indah.


"Ba-baiklah.." jawabnya lagi

__ADS_1


Setelah bercengkrama cukup lama, ia pun mengetahui bahwa nama desa tersebut adalah Gradi. Penduduk di desa tersebut melihatnya dengan curiga dan ketakutan karena adanya bencana kegelapan yang membuat daerah bukit menjadi penuh kegelapan. Dalam hatinya ia merasa cukup bersalah karena kemungkinan besar ia lah yang menyebabkan bencana tersebut terjadi. Meskipun hanya perkiraan dan penuh dengan keraguan.


"Oh ya.. ngomong ngomong, nama mu siapa?" tanya sang wanita


"Na-nama? Namaku kah..? Nama.." ia pun mulai kebingunan


"A-ah.. mungkin tidak sopan ya menanyakan nama orang yang baru dikenal.." sambung sang wanita


"Ti-ti-tidak.. bukan begitu.. hanya saja.. aku.. lupa.. tidak aku tidak tahu apakah aku.. punya sebuah nama." dengan kesedihan


"Oh.. tak apa.. suatu saat nanti kau pasti akan menemukan nama yang tepat untukmu!" jawab sang wanita dengan upaya menyemangati


"Ya.. Terima Kasih.." dengan senyum yang belum pernah ia tunjukkan di Dunia ini sebelumnya

__ADS_1


Setelah berbincang sekitar 10 menit, ia dan sang wanita berjalan keluar rumah untuk menyapa penduduk lain. Dan pandangan tak mengenakkan sebelumnya pun menghilang dari mata para penduduk. Sambutan hangat akan keselamatannya serta pesta menyambutnya dilaksanakan di desa tersebut.


Terpampanglah wajah ceria, senyuman hangat, dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia pun sadar bahwa pasti ada suatu alasan mengapa ia dipanggil ke dunia ini. Meskipun ia masih merasakan traumanya dahulu akan kesendirian, ia merasa bahwa di desa ini, ia tidak mungkin akan sendirian lagi. Ia yakin bahwa di desa tersebut ia akan menemukan jawaban atas semua pertanyaannya.


__ADS_2