
Justin adalah anak tunggal dari Raja Erdia, dan oleh sebab itu pula dirinya sangat disayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya. Pada awalnya ia hanyalah anak cengeng biasa, namun setelah mengenal pedang dan Mantra dirinya berubah menjadi seorang kesatria di usia belia.
Bakat dalam berpedang dan Mantra nya tidak bisa diragukan lagi, semua orang pada saat itu sepakat bahwa Justin adalah anak terbaik dari generasi muda selanjutnya. Mereka juga berandai-andai bahwa suatu saat nanti, Justin bisa menjadi seorang raja yang hebat menggantikan ayahnya.
Seperti kisah pada umumnya, ketika ada sebuah cahaya yang terang tentu ada kegelapan yang menghantui. Dan begitu pula lah yang terjadi pada Justin. Luca van Lasso, anak dari Uldag van Lasso yang selalu dinomor duakan oleh orang orang di Kerajaan Bullaford.
Ia selalu dianggap nomor 2 dalam segala bidang karena kalah satu langkah dengan Justin meski usia mereka terpaut jauh. Luca dulunya adalah anak paling berbakat di generasi muda Bullaford namun ia tidak pernah diagung-agungkan sebagaimana orang orang mengangungkan Justin.
Rasa iri itu pun terlihat oleh sang ayah. Dan sejak Justin pergi meninggalkan kerajaan untuk menempuh pendidikan di Duca, mereka telah merencanakan sesuatu.
Kembali ke masa sekarang, dimana Justin dihianati oleh orang orang di Bullaford, bahkan oleh keluarga besarnya sendiri. Bhunter adalah keluarga kerajaan yang paling sering mendapatkan giliran menjadikan keturunannya sebagai Raja Bullaford. Selain karena bakat keluarga yang paling menonjol diantara yang lain, kecerdasan dan kepemimpinan mereka pun turun temurun menjadi salah satu yang terbaik di Essaract.
Bhunter merupakan keluarga pertama yang mengusulkan ide untuk mempersatukan 3 keluarga untuk berada di bawah naungan Kerajaan Bullaford, meski raja pertama Bullaford bukan berasal dari Bhunter.
Dulu, Keluarga Bhunter merupakan keluarga yang terkenal akan kesetiaannya pada suatu hal terutama antar keluarga. Ketika mereka menerima misi suatu misi maka mereka lebih memilih mati dan berhasil dalam menjalankan misi daripada gagal dan kembali hidup hidup.
Namun, itu semua sudah berubah. Semenjak menjadi keluarga kerajaan, mayoritas dari Keluarga Bhunter terlena akan harta dan kekuatan. Mereka seolah olah menjadikan harta dan kekuatan diatas segalanya. Mereka menjadi busuk sama seperti Keluarga Kerajaan Bullaford lainnya, atau mungkin Keluarga Kerajaan lainnya.
Kembali ke masa kini, dimana Justin sedang berjalan menuju pintu keluar kediaman Lasso. Ia berjalan dan tinggal beberapa langkah lagi sampai di depan pintu tersebut. Dan ketika tangannya memegang gagang pintu, terdengar suara teriakan memanggil namanya.
"Justin !" teriak Archy dengan berlari
"Archy? Ada Vitan dan Paman Tombas." kata Justin
"Tunggu kami ! Kami akan ikut bersamamu !" kata Archy yang sudah sampai di depannya
"Eh? Mengapa?" tanya Justin
"Kami sudah berjanji pada Ibundamu untuk selalu setia mengikutimu kemanapun dan menjadi apapun." kata Archy
"Dan lebih dari itu, kau adalah sahabat kami ! Serta Raja sah Kerajaan Bullaford !" kata Vitan
"Ya, aku sudah berjanji kepada Kak Reina (Ibunya Justin) untuk menjaga dan membimbingmu. Jadi, mana mungkin aku meninggalkanmu begitu saja, bukan?" kata Tombas
Justin merasa tidak enak dengan tawaran mereka. Namun, ketiga orang tersebut terus memaksa agar Justin mengizinkan mereka untuk mengikutinya. Justin kewalahan dengan paksaan tersebut, ia pun tersenyum.
"Terima kasih, karena di saat yang lain meninggalkanku. Kalian masih mau tetap mengulurkan tangan kalian padaku." kata Justin
Ketiga orang tersebut tersenyum. Tombas tersenyum layaknya seorang paman yang bangga kepada ponakannya, Vitan dan Archy yang tersenyum lebar hingga kelihatan giginya.
Justin membuka pintu tersebut dan ia melihat sudah ada kereta kuda yang menunggu dirinya. Pintu kereta kuda dibuka oleh sang supir, Justin dan ketiga orang tersebut masuk ke dalam kereta kuda tersebut.
Kereta kuda tersebut mulai berjalan. Pagar kediaman Lasso pun mereka lewati. Justin kemudian melihat ke arah kediaman mewah tersebut dan berpikir bahwa ini adalah keputusan yang terbaik. Ia pun tersenyum dan dalam hati mengatakan terima kasih kepada semua orang yang ada di sana untuk terakhir kalinya.
Mereka pun sampai di tempat pengungsian Bullaford. Justin langsung mengambil barang barangnya dan bersiap meninggalkan Bullaford saat itu juga.
__ADS_1
"Yang Mulia ! Anda mau kemana ?!" kata Judo yang melihat Justin berkemas kemas dibantu tiga orang yang datang bersama Justin
"Anda ingin kemana, Yang Mulia ?! Apa anda ingin meninggalkan kami juga ?" kata Kuza
"Jelaskan pada kami, Yang Mulia. Apa maksud dari semua ini !" kata Ista
Futara yang hadir hanya melihat dan tidak berani berkata apa apa. Justin yang tidak menjawab menyuruh orang orang yang datang bersamanya untuk melanjutkan sesuai perintahnya.
Setelah semua siap, Justin menyuruh agar para petinggi dan orang orang yang datang bersamanya segera menyuruh rakyat Bullaford untuk berkumpul di depan kediamannya sesegera mungkin.
Para petinggi awalnya menolak karena mereka bingung dan tidak tahu apa apa. Namun kali ini, Justin dengan tegas membentak mereka agar segera menuruti perintahnya.
Mendengar dan melihat Justin yang belum pernah setegas itu, tentu membuat para petinggi terkejut dan segan sehingga mereka dengan tergesa gesa langsung keluar dari kediaman Justin dan mengumpulkan rakyat Bullaford.
Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, rakyat Bullaford telah berkumpul di depan kediamannya. Tombas pun berjalan dan mengatakan sebuah pengumuman.
"Selamat sore rakyat Bullaford sekalian ! Sore ini saya akan menyampaikan sebuah pengumuman yang mungkin akan menyedihkan bagi kita semua." kata Tombas
Mendengar perkataan Tombas membuat semua orang tambah bingung.
"Pagi ini telah diselenggarakan pertemuan rutin 3 Keluarga Kerajaan. Dan dari pertemuan telah menghasilkan sebuah keputusan !" kata Tombas
"Bahwa Yang Mulia Raja Bullaford, Justin Bullaford, telah diturunkan dari kursi kepemimpinannya !" kata Tombas
"Yang Mulia ! Apakah anda juga ingin meninggalkan kami ?!!" teriak salah seorang warga
"Yang Mulia ! Apa yang harus kami lakukan tanpamu ?!" teriak warga lainnya
"Yang Mulia ! Jangan tinggalkan kami !" teriak seorang warga
Teriakan teriakan ketidakpercayaan banyak dilayangkan, meski banyak pula yang tidak memprotes akan kemunduran Justin dari kursi kepemimpinannya.
Para petinggi Bullaford yang terkejut tidak berkata apa apa seolah mereka sudah menerima akan keputusan dari pertemuan 3 Keluarga Kerajaan. Mereka seolah setuju akan keputusan tersebut dan berpendapat bahwa memang Justin harus diturunkan dari kursi kepemimpinannya.
"Untuk siapa yang akan menggantikannya silahkan tunggu kabar terbaru dari pihak kerajaan. Dan izinkan Justin, untuk menyampaikan pidatonya sebagai seorang Bangsawan Bullaford, untuk yang terakhir kalinya." kata Tombas
Pidato terakhir sebagai Bangsawan Bullaford. Sebuah pernyataan yang tidak pernah diduga oleh siapapun yang hadir di tempat itu. Para petinggi Bullaford yang tadinya merasa lega akan kemunduran Justin mulai merasa gundah karena pernyataan itu.
"Selamat sore semuanya. Seperti yang dikatakan oleh Paman Tombas, aku sudah tidak lagi menjadi raja di kerajaan ini. Aku sudah diturunkan dari tahta berdasarkan keputusan dari Pertemuan 3 Keluarga Kerajaan."
"Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, aku ingin menggunakan kesempatan itu untuk meminta maaf yang sebesar besarnya atas segala hal yang aku lakukan selama memimpin kerajaan ini. Baik ketidakhadiranku saat kalian sedang membutuhkan pemimpin, maupun keputusan kontroversialku mengenai larangan mendekati markas kecil Orion."
"Aku juga mau berterima kasih kepada kalian semua yang selama ini telah mau mendukungku, dan menemaniku di saat saat yang sedang surut seperti ini sekalipun. Dan aku juga mau berterima kasih kepada Para Petinggi Bullaford yang telah rela menghabiskan waktunya untuk memikirkan kepentingan kerajaan."
"Maaf, maaf, dan maaf. Mungkin akan terdengar biasa saja namun hanya kata ini yang bisa mewakilkan perasaanku saat ini."
__ADS_1
"Dan terakhir, semoga kerajaan ini dapat menjadi jauh lebih baik di bawah kepemimpinan selanjutnya. Jauh lebih baik daripada dibawah kepemimpinanku, bahkan dibawah kepemimpinan ayahandaku."
"Rakyat Bullaford sekalian ! Selamat tinggal !" kata Justin menutup pidatonya dengan mata berkaca menahan air mata agar tidak pecah
Pidato singkat dari Justin yang diselimuti keheningan membuat rasa yang ingin dia sampaikan semakin mengena kepada para pendengarnya. Dan setelah menutup pidato tersebut, Justin menghadapkan kepalanya ke langit.
Selama pidato tadi ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Dan setelah pidato tersebut selesai, ia pun merasa lega dan melepaskan kepalannya tersebut. Ia berbalik dan menghadapkan wajahnya ke depan lagi dan berjalan menuruni mimbar.
Ia mencopot jubah kebangsawanannya dan menggondang tas yang berisi barang barangnya. Dengan tersenyum tipis serta mata berkaca. Ia berjalan menuju ke pintu masuk tempat pengungsian.
Ia berjalan melewati kerumunan orang orang yang ada. Semua orang minggir seolah memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Tak ada satupun yang menangis karena mereka paham bahwa Justin tidak ingin kepergiannya diselimuti tangisan.
Dan setelah sampai di depan pintu tempat pengungsian, Justin menegarkan tubuhnya lalu berbalik dan berkata,
"Selamat tinggal semuanya ! Terima kasih atas segalanya !"
Ia mengatakan hal itu dengan senyuman yang lebar dan lambaian tangan. Ia berjalan meninggalkan tempat pengungsian ditemani oleh 3 orang yang ikut bersamanya.
Setelah Justin bersama 3 orang yang ikut bersamanya pergi meninggalkan tempat pengungsian, terdengar suara tangisan seorang anak kecil.
Anak kecil tersebut adalah anak kecil yang menabrak Kron ketika awal kedatangan Kron di tempat pengungsian. Setelah tangisan anak kecil tersebut pecah, air mata yang telah ditahan oleh warga Bullaford tak dapat ditahan lagi.
Meski banyak yang menangisi kepergian Justin, bahkan Para Petinggi Bullaford sekalipun ikut berkaca kaca, namun banyak juga dari mereka yang merayakan kepergian Justin.
"YAAA !! Akhirnya bocah tengik itu pergi jugaa !!" tawa dari salah seorang warga
"Ya ! Pesta ! Mari kita berpesta akan kepergian bocah naif itu !" tawa dari warga lainnya
"Ya ya ! Ayo ! Bawakan bir nya !" kata warga lainnya
Suasana kepergian Justin dari Bullaford terbagi menjadi 2 dengan perbedaan yang sangat kontras. Ada yang menangis karena kekecawaan, dan ada yang menagis karena kebahagiaan.
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !
Mohon dukungan dari teman teman ya !
Untuk kritik dan saran bisa dicantumkan di kolom komentar !
Terima Kasih !
----------=======-----------
__ADS_1