Overpowered Unknown Hero

Overpowered Unknown Hero
Chapter 40 - Hari Pelantikan Part 11 (END)


__ADS_3

Serangan dari para penjahat tersebut ditepis oleh bala bantuan kedua yang datang. Klire datang menjadi bantuan melawan  Basiat, Arthur yang datang membantu melawan Schwerden, dan Silvanna yang datang melawan Butterfly.


"Cih !" kata para penjahat melihat kedatangan dari bala bantuan kedua


"Yo Schwerden.. kita bertemu lagi.." kata Arthur


"Cih.. kau datang lagi ya, Arthur.." kata Schwerden


"Silvanna.. lama tak berjumpa." kata Butterfly dengan wajah serius


"Suatu kehormatan bisa didatangi seorang Raja Elf Klire.." kata Basiat


"Tidak tidak.. aku sudah tidak menjadi Raja lagi.." jawab Klire


Suasana hening sejenak


"Mantra !" teriak orang orang yang bertempur


Pertempuran antar kelompok mereka pun mulai kembali.


"Mantra : Pedang Suci ! Huaghh !!" teriak Schwerden mulai menyerang


"Mantra : Armor Suci ! Mantra : Pedang Suci !" teriak Arthur


Arthur dan Schwerden pun beradu pedang. Ketika pedang mereka bertemu membuat shockwave yang kuat hingga menghancurkan pohon pohon dan tanah disekitarnya.


"Huaghhhh !!!!!!" teriak Arthur dan Schwerden


Mereka berdua pun terpental karena adu kekuatan tersebut. Mereka pun terbaring dan butuh beberapa saat hingga akhirnya dapat berdiri kembali.


"ARRRTHHUURRR !!!" teriak Schwerden


"HAHAHA ! Kau pikir sedang duel melawan ku ?!" tawa Arthur


"?!" kata Schwerden


"Huaaaghhhhh !!!" serangan dari Justin dan Ligit dari samping


"Sialan !" kata Schwerden yang mundur


"Cih ! Apa kau sekarang sudah menjadi pengecut, Arthur ?!" kata Schwerden


"Tutup mulutmu.. *bajinan**." kata Arthur yang tiba tiba sudah dihadapan Schwerden


"Si- Agh !" kata Schwerden yang terpental karena menangkis serangan Arthur


"Kalian ! Cepat gunakan Mantra kalian !" teriak Arthur memerintah


Para pemimpin kelompok pun mulai mengucapkan Mantra dan menyerang Schwerden.


"Si-SIALAANNN !!!!" teriak Schwerden yang melihat serangan yang datang


Setelah serangan tersebut Schwerden mengalami luka yang sangat parah. Darah mengalir keluar dengan deras dari tubuhnya. Arthur pun berjalan menuju ke arah Schwerden.


"Arthur kah..?" kata Schwerden yang sekarat


"..." Arthur terdiam


"Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi ekspetasimu.. maafkan aku.. sungguh.. maafkan aku."


"Selamat tinggal.. Schwerden.. Selamat tinggal, anakku." kata Arthur dengan air mata mengalir dan menusukkan pedang ke Schwerden


DI TEMPAT LAINNYA


"Jadi Silvanna.. apa yang membawamu ke sini ?" kata Butterfly


"Hahaha.. bukankah sudah jelas ?" kata Silvanna


"Cih ! Mantra Hitam : Bola Hitam !" teriak Butterfly


"Mantra : Perlindungan Malaikat !" teriak Silvanna


"Kalian, gunakan Mantra serangan jarak jauh ketika aku perintahkan !" kata Silvanna ke para pemimpin kelompok


"Baik !" jawab para pemimpin kelompok


"Mantra : Teleportation ! Mantra : Shocwave !" teriak Silvanna yang berpindah ke depan Butterfly


"Ap- Aghh !" teriak Butterfly yang terpental ke belakang


"Si-sialan kau Silvanna ! Uagh.." kata Butterfly yang kesakitan


"Butterfly.. kau itu kuat. Tapi sayang hatimu lemah." kata Silvanna


"Tutup mulutmu itu ! Mantra : Summon ! Devil Crus- !" teriak Silvanna


"Sekarang saatnya !" teriak Silvanna


"Baik !" kata para pemimpin kelompok sambil melancarkan serangan mereka


Mata Butterfly pun tertuju ke serangan tersebut. Ia tidak bisa menyelesaikan penggunaan Mantranya karena serangan tersebut sudah di depan matanya.


"Hei Silvanna.." kata Butterfly yang sekarat


"...  ada apa..?" jawab Silvanna


"Apa kau.. masih mau berteman denganku..?" tanya Butterfly yang sekarat


"Ya.. tentu saja !" kata Silvanna yang meneteskan air mata


"Ah.. bahkan ketika aku sudah seperti ini.. kau masih mau menerimaku.." sambung Butterfly


"Ya.. tentu saja !" sambung Silvanna yang menangis

__ADS_1


"Silvanna.. terima kasih." kata Butterfly dengan tersenyum


"Selamat tinggal.. Sahabatku !" kata Silvanna dengan air mata mengalir


Butterfly yang menggunakan Mantra Hitam ketika mati badannya akan menjadi abu. Sehingga Butterfly pun menjadi abu di depan mata Silvanna


TEMPAT PERSEMBUNYIAN


"Hanya segini kemampuan kalian..?" kata Treze dengan meremehkan


"Si-sialan.. jarak kekuatan kita terlalu jauh.." kata Zaragoza


"Ya.. seandainya ada celah..!" sambung Warmer


*dugudugudugdugdudug* suara gemuruh dari bawah tanah


"HOAH ! Akhirnya sampai juga !" kata Kuraraku yang muncul dari bawah tanah


"Kau.. Kuraraku !" kata Treze yang emosi


Tromoro terkejut, karena Kuraraku adalah idolanya.


"Yo Bocah ! Kau sudah tambah kuat ya ! HOHOHOHO !!" tawa Kuraraku


"Sialan kau.. ekhem. Tapi tak apa.. kedatanganmu juga tak akan.. merubah.. apa.. cih ! Kau datang lagi rupanya..!" kata Treze yang mulai kesal lagi


"Treze anakku ! Hentikan semua kegilaanmu ini !" kata Aldizech yang muncul dari bawah tanah juga


"Hah ?! Setelah semua usaha yang aku lakukan ini, kau ingin aku menghentikannya ?!" kata Treze


"Jangan bercanda kau tua sialan ! Gara gara kemunafikkan hatimu itu kerajaan kita harus ditindas kerajaan lain !" kata Treze yang emosi


"Anakku.." kata Aldizech


"Anakku anakku..! Apa hanya itu yang bisa kau katakan ?!" kata Treze membangkang


"Maafkan ayahmu yang gagal mendidikmu.." kata Aldizech


"Sepertinya.. kau lebih baik menyusul ibunda saja.. bukankah kau ingin bertemu dengannya..?" kata Treze


Kuraraku yang tak tahan dengan kata kata Treze yang terus terusan menyalahkan Aldizech pun akhirnya angkat bicara


"HOI BOCAH SIALAN ! KAU YANG TAK TAHU APA APA LEBIH BAIK DIAM SAJA !" teriak Kuraraku


"Cih ! Memangnya kau tahu apa tikus tanah ?!" kata Treze


"Kau.. kau yang tak tahu apa apa tentang perjuangan ayahmu ini.. hingga pengorbanan ibundamu.. bisa bisanya kau.. bisa bisanya kau berkata seperti itu ?!!" kata Kuraraku yang emosi tak bisa dibendung lagi


"Cih ! Lebih baik kau diam saja ! Mantra Hitam : Summon ! Gream Reaper !" teriak Treze mulai menyerang Kuraraku


"Kau harus diberi pelajaran ! Mantra : Bor Raksasa !" teriak Kuraraku mulai menyerang Treze


"Kuraraku !" teriak Aldizech


"HIAAGHHHH !!!" teriak Treze


"Terlalu lemah !!" teriak Kuraraku dengan bornya mementalkan Treze


"Mantra Hitam : Auman Cerberus !" teriak Treze yang terpental


"Si- Aghh !" teriak Kuraraku yang terpental karena Mantra Auman Cerberus


"Kuraraku !" teriak Aldizech


Kuraraku terpental hingga menabrak dinding dan terjatuh ke tanah


"Si-sialan.." kata Kuraraku


Tromoro pun mencoba membantu mengangkat Kuraraku


"Kuraraku ! Kau tak apa ?!" tanya Aldizech yang khawatir


"Tak apa Aldizech.. aku baik baik saja.. yang terpenting, kau harus menyelamatkan anakmu itu !" kata Kuraraku


"Baiklah.. sudah tugas seorang ayah menyelamatkan putranya !" kata Aldizech dengan tekad yang bulat


Aldizech pun mulai berjalan mendekati Treze


"Kalian.. kalian bantulah Aldizech.. aku tak bisa membantu karena dari awal perang aku sudah terlalu banyak menggunakan energi.." kata Kuraraku


"Ba-baik !" kata para pemimpin kelompok


"Para penduduk ! Cepat bawa Tuan Kuraraku ke tempat penyembuhan !" kata Tromoro


"Baiklah.. akan kami bawa dia.. anda fokus saja ke pertempurannya !" jawab para penduduk


"Ya ! Aku serahkan dia padamu !" jawab Tromoro


"Tromoro !" teriak Eclair yang baru datang


"..? Ah ! Eclairoro kah ?!" kata Tromoro


"(melihat Kuraraku) kalian bantulah dia !" perintah Eclair ke para penduduk


Eclair pun mulai berjalan berkelompok dengan para pemimpin kelompok. Setelah itu para pemimpin kelompok pun mengikuti Aldizech


"(Berani beraninya kau menyakiti Tuan Kuraraku..!)" kata Tromoro dalam hatinya


"Kalian.. persiapkan Mantra serangan terkuat kalian.." kata Aldizech mengomandoi


"Aku.. akan memberikan celah.. ketika kalian melihat celah itu, gunakan segenap kemampuan terbaik kalian !" sambungnya


"Baik ! Akan kami laksanakan, Yang Mulia !" jawab para pemimpin kelompok

__ADS_1


"Anakku.. ini akan menjadi didikan terakhir ayahmu !" kata Aldizech menatap Treze


"Terserah kau.. majulah !" teriak Treze


"Mantra : Berkat Dewa ! Mantra : Pedang Suci ! Mantra : Transfer Life to Mana ! Mantra : Amarah Ashura !" teriak Aldizech yang membaca beberapa Mantra sekaligus


"Jadi kau serius ayah.. HAHAHAHA !! Baguslah ! Dengan begini akan aku tunjukkan seberapa jauh perbedaan kekuatan kita !" teriak Treze


"Uagh (merasakan sakit di jantung).. dengan serangan ini.. akan kuakhiri semua penderitaanmu !" kata Aldizech yang mulai menyerang Treze dengan sangat cepat


"Si- Gream Reaper !" respon dari Treze dan memanggil Gream Reaper untuk menepis serangan Aldizech


"Sekarang !" teriak Aldizech memerintah para pemimpin kelompok


Para pemimpin kelompok pun membacakan Mantra mereka dan menyerang dari jauh secara bebarengan


"Mantra : Tebasan Petir !" kata Eclair


"Mantra : Tebasan Pedang Raksasa !" kata Gargantua


"Mantra : Lembing Batu !" kata Tromoro


"Mantra : Tebasan Pedang Ganda !" kata Lizard


"Mantra : Semburan Api !" kata Warmer


Mata Treze pun terbuka lebar ketika melihat serangan yang datang menuju padanya. Seketika, Treze.. terjatuh dan tersungkur sekarat di tanah yang hancur. Gream Reaper pun menghilang dan Aldizech berjalan menuju ke arah Treze


"Nak.." kata Aldizech yang terjatuh di hadapan Treze


"Yah.. kau.. akhirnya bisa mengalahkanku ya.." kata Treze


"..." Aldizech hanya terdiam


"Yah.. aku.. akan ke tempat ibu duluan.." kata Treze


"... ya.." jawab Aldizech yang menggenggam tangan Treze


"Yah.. selamat tinggal. Aku.. menyayangimu." kata Treze yang menutup matanya dan berubah menjadi abu


"...." Aldizech terdiam dalam tangisnya


Dengan kematian dari Treze membuat keberadaan Hopeless juga perlahan menghilang.


"Cih ! Orang lemah itu sudah dikalahkan kah ?!" teriak Hopeless


"Sepertinya.. ini saatnya kau pergi dari Essaract." kata Kron


"A-apa maksudmu ?!" kata Hopeless tidak terima


"Mantra : Summon ! Cerberus !" kata Kron


"Ce-Cerberus ?!" kata Hopeless yang terkejut


Cerberus pun muncul dengan badan yang jauh lebih besar dari kemunculan pertamanya. Bahkan bisa dikatakan ukuran tubuhnya hampir setara dengan ukuran tubuh Hopeless.


"Jadi.. kau berkhianat dengan cara membelot kepada Manusia lemah ini ?" tanya Hopeless ke Cerberus


"Sahabatku.. tidak lemah. Ia, sangat jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan. Tidak, dia benar benar jauh lebih kuat dari mantan Tuanku, Kaisar Iblis !" jawab Cerberus


"Berani beraninya.. berani beraninya kau merendahkan Kaisar Iblis ?!!" teriak Hopeless yang emosi


"Kau itu hanya tingkat 6.. tak mungkin bisa menandingiku yang tingkat 7 !! Mati saja kau ! Mantra : Bola Hitam !" teriak Hopeless


"Kau.. benar benar meremehkanku ya.. Mantra : Auman Cerberus !" teriak Cerberus


Bola hitam dan auman cerberus pun berbentrokan hingga membuat orang orang di sekitarnya terpental. Para warga yang menyaksikan bisa seketika mati seandainya tidak ada Mantra Perlindungan Malaikat yang diucapkan oleh Para Malaikat.


"Kekuatan mereka.."


"Benar benar di luar nalar..!"


Kalimat itulah yang seketika terpikirkan oleh para penduduk.


Adu kekuatan tersebut tidaklah lama, karena Cerberus dapat menekan balik kekuatan dari Hopeless.


"Ba-bagaimana mungkin kau bisa menekan balik kekuatanku ?!" teriak Hopeless


"Sekarang aku.. sudah tidak tingkat 6 lagi, bodoh." kata Cerberus


Hopeless terkejut


"Sudah ku katakan bukan.. tuanku ini jauh lebih kuat. Bahkan ia sering memberikanku makan.. hingga akhirnya aku sekarang sudah ada di tingkat 7." sambung Cerberus


"Ceerrbeerusss !!!!!" teriak Hopeless yang tertekan kekuatannya


*wuisshhh buaaammmmbbbb !!!* Hopeless yang tertekan kekuatannya menjadi satu dengan kekuatan yang beradu tersebut.  Ia menjadi bola hitam seperti sebelum menetas yang kemudian bola hitam tersebut meledak dengan ledakan yang sangat dahsyat. Ledakan tersebut membuat kerajaan hilang seketika karena kekuatan daya ledaknya.


Namun dengan hilangnya Hopeless itu juga, menandai akhir dari perang terbesar dan kehancuran kerajaan tersebut. Cerberus kembali ke dalam tubuh Kron, langit kembali menjadi biru dan bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Para Malaikat yang tugasnya sudah selesai memberi penghormatan pada Kron dan kembali ke langit.


Orang orang yang bertugas mencari pun sudah kembali ke medan pertempuran utama. Mereka berkumpul kembali dengan orang orang di tempat pertempuran utama.


Kron yang masih berdiri di langit bertanya pada dirinya, "apakah yang ia lakukan sudah tepat ?" "apakah orang orang yang ia biarkan gugur sudah tepat ?" "apakah segalanya sudah berjalan dengan benar?" ia memikirkan hal hal tersebut sembari berdiri di langit. Namun ada satu hal yang ia ketahui dengan pasti, yaitu bahwa mereka telah memenangkan pertempuran besar tersebut.


----------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !


Mohon dukungan dari teman teman ya !


Terima Kasih !

__ADS_1


----------=======-----------


__ADS_2