Overpowered Unknown Hero

Overpowered Unknown Hero
Chapter 31 - Hari Pelantikan Part 2


__ADS_3

DINDING TIMUR


"Jelaskan padaku ! Apa rencana kalian ?!" tanya Schwerden sambil menyerang Arthur


"Hoi hoi.. jangan bercanda. Mana ada orang bertanya sambil menyerang !" jawab Arthur dengan santai


"Cih ! Mantra : Pedang Dewa !" kata Schwerden


"HAHAHA !! Ternyata kau sudah bisa menggunakannya !" tawa dari Arthur


"Si-sialan kau ! Kau masih saja meremehkanku !" kata Schwerden dengan tak terima dan menyerang Arthur


"HAHAHA !! Mantra : Pedang Dewa !" kata Arthur menangkis serangan Schwerden


Mereka pun terus beradu Mantra dan pedang.


DINDING BARAT


"Bagaimana Sakura ?" tanya Aldizech lewat Mantra


"Sepertinya sudah semua, Raja." jawab Sakura sembari melihat lihat keadaan


"Baiklah, lanjutkan pengawasan, terutama pada warga. Jangan sampai ada yang tertinggal !" perintah Aldizech


"Baik Raja !" jawab Sakura


DINDING SELATAN


Dinding Selatan merupakan tempat pasukan utama pemberontakan menyerang. Pasukan utama tersebut dipimpin oleh Aldizech.


"Siang hari ini kita berkumpul di bawah naungan yang sama. Kita.. akan melakukan sebuah pertempuran yang sangat penting demi kelangsungan hidup para rakyat..." kata Aldizech


Para prajurit terdiam fokus terhadap pidato Aldizech


".. kita akan menghancurkan dinding kerajaan ini. Kita akan menghancurkan dinding pembatas yang mengekang penderitaan rakyat. Kita akan membebaskan penderitaan dari kerajaan ini. Kita... akan memenangkan pertempuran ini !" sambung Aldizech


"YAAA !!!" jawab semangat para prajurit


"Atas nama Dewa Keberkahan..." kata Aldizech sambil mengangkat pedang


"SERANGG**!!**" sambungnya


Dinding selatan pun mulai di serang oleh pasukan pemberontakan.


"Raksasa !"


"Ya ! Serahkan padaku !"


Dinding pun dijebol oleh para raksasa. Aldizech dan pasukan berkuda yang telah bersiap langsung menerobos masuk langsung masuk melalui lubang yang telah dibuat para Raksasa.


"Be-bersiap menahan musuh" teriak pemimpin dinding selatan


"Pemanah, lakukan tugasmu." kata Kron melalui Mantra


"Aaghhh !" teriak kesakitan para prajurit Duca


"Pe-pelindung ! Awasi serangan dari langit !" kata prajurit Duca lainnya


Mantra untuk melindungi serangan dari langit pun dibacakan. Namun ketika mereka telah membangun pelindung yang kuat untuk antisipasi dari langit.


"Elf, sekarang !" kata Kron lewat Mantra


"Mantra : Kobaran Api !" kata para Elf


"Agghhh !!" teriak kesakitan para prajurit Duca


"Hi-hilangkan pelindung di langit !" kata pemimpin dinding selatan


"Ti-tidak bisa ! Kalau dihilangkan akan ada serangan lagi dari langit !" jawab prajurit Duca


"Si-sialan ! Bagaimana mungkin panah panah itu tak berhenti datang ?!" teriak panik pemimpin dinding selatan


"Pemanah, hentikan." kata Kron


"Pa-panahnya berhenti !!" kata salah seorang prajurit Duca


"Bagus ! Sekarang fokuskan pada serangan.. dari.. de.. pan.." kata pemimpin dinding selatan

__ADS_1


Dari pandangan para prajurit Duca, terlihat dengan jelas kaki raksasa yang akan menginjak mereka.


"Si-sialann !!-" kata para prajurit Duca dan pemimpin dinding selatan


Setelah pertahanan dinding selatan dibereskan. Pasukan utama pemberontakan semakin meningkatkan kecepatan berkuda mereka.


"(Kron, terima kasih !)" kata Aldizech dalam hati


"Percepat kuda kalian !!" teriak Aldizech dengan semangat membara


"YAA !!" teriak pasukan berkuda


DINDING TIMUR


"Su-suara apa itu ?!" kata Schwerden dengan terkejut


"HAHAHA ! Sudah dimulaikah ?!" tawa Arthur


"I-itu ?! Raksasa ?!!" kata Schwerden yang semakin terkejut


"Kalian.. apa yang telah kalian lakukan ?!!" kata Schwerden mencoba mengejar raksasa


"HAHAHA !! Mau kemana kau, bocah ?!" tawa olok dari Arthur


"Minggir kau sialann !! Mantra : Tebasan Cahaya Suci !" kata Schwerden dengan emosi


"HAHAHA ! Tak semudah itu ! Mantra : Perlindungan Dewa !" kata Arthur yang menahan serangan Schwerden


"Cih ! Kalian !" teriak Schwerden


"Kalian cepatlah pergi dan lindungi Yang Mulia !" teriak perintah Schwerden ke prajurit


"Ta-tapi Tuan..?" tanya para prajurit


"CEPATLAH !!" bentak Schwerden


"Ba-baik !" jawab para prajurit yang ketakutan dan menuju ke istana kerajaan


"HAHAHA !! Kalau kau seperti itu terus, para prajurit tak akan menyukaimu !" olok Arthur


"TUTUP MULUTMU ORANG TUA !!" bentak Schwerden yang kembali menyerang Arthur


"Jadi inikah.. senjatanya ?" tanya Treze


"Benar Yang Mulia.." jawab Basiat


"hahahaha... Hahahahaha... HAHAHAHAHAHA !!!!!" tawa keras jahat dari Treze


HALAMAN ISTANA KERAJAAN


"Lakukan serangan dari arah samping !" kata Kron lewat Mantra


"Baik ! Serang !!" teriak para pemberontak


Para prajurit Duca pun terkejut akan serangan dadakan tersebut dan langsung membuat barikade pertahanan


"Tahan !! Tahan para penyusup itu !!" teriak para prajurit Duca


"Huaghhh !! Minggir kalian !!" teriak prajurit pemberontak dengan mendorong barikade pertahanan tersebut


"Ta-tahann !! Jangan mau kalah !!" teriak para prajurit Duca


"Si-sialannn !! Mengapa mereka kuat sekalii ?!!" teriak prajurit Duca


"HUAAGHHHH !!!!" teriak para pemberontak dengan semangat yang tambah membara


"Si-sialann !!" teriak para prajurit bersamaan dengan barikade pertahanan yang roboh


"HAHAHAHA !! KITA MENANG !!" kata para pemberontak


"Hoi, pertempuran masih berlangsung. Cepat menepilah, pasukan berkuda akan segera datang." kata Kron


Sesuai dengan perkataan Kron, pasukan berkuda pun langsung datang dengan cepat.


"Wah ! Benar saja jalan masuknya sudah dibereskan !" kata Aldizech


"Kalau begini kita tidak perlu ragu untuk menambah kecepatan" kata prajurit pemberontak lainnya

__ADS_1


"Baiklah.. tambah kecepatan kalian !!" teriak Aldizech


"YAAHH !!" teriak semangat para pemberontak


Tak lama kemudian, pasukan berkuda pun sudah dekat dengan pintu gerbang istana yang telah dibereskan oleh pasukan pemberontak (para Dwarf).


"Mereka tiba !!" teriak salah seorang Dwarf


"Yosh ! Bukakan jalan !" kata Kron


Pasukan berkuda pun melewati gerbang dengan posisi badan seperti akan mendobrak sesuatu.


"Yosshh !! Jangan sia siakan kesempatan yang telah mereka berikan.. Dobrak pintunya sekuat tenaga kaliaann !!!" teriak Aldizech


"YAAAHHH !!!" kata pasukan berkuda


*BRAAKKKK*  pintu kerajaan pun berhasil diterobos oleh pasukan berkuda


"Ba-bagaimana mereka bisa masuk menggunakan kuda ?!" kata prajurit Duca di dalam istana dengan kaget


"MINGGIR KALIANN !!" kata pasukan berkuda sambil menabrak para prajurit Duca


"Aghhh !!" kata para prajurit Duca yang terlempar begitu saja


"Baiklah, lakukan sesuai rencana !" kata Aldizech


"YA !" jawab pasukan berkuda


DI LUAR KERAJAAN


"Liliana ! Oi Liliana !" teriak panik suara seorang wanita


"A-ah.." kata Liliana sembari membuka mata


"Syukurlah ! Akhirnya kau bangun !" kata suara wanita itu (Rose)


"Ro-Rose..? Di mana kita ?" tanya Liliana yang langsung duduk dan terkejut


"Ki-kita.. ada di luar kerajaan !" jawab Rose


"Bagaimana.. bagaimana mungkin ?!" tanya Liliana yang panik


"Tidak tau.. tapi untuk sekarang lihatlah Mantra itu !" kata Rose menunjuk ke arah hologram pertempuran


"Ini.. pertempuran...?" kata Liliana dengan terkejut lesu


Para penduduk telah dievakuasikan ke luar kerajaan. Mereka dikumpulkan di suatu tempat berjarak sekitar 2 km dari kerajaan. Mereka hanya bisa menonton pertempuran itu dengan kebingungan dan ketakutan.


"Apakah kalian semua sudah bangun ??" teriak seorang wanita dengan nada tinggi


Sontak para penduduk pun mencari suara wanita tersebut


"Haii !!" kata Silvanna


"I-itu ?!!"


"Nyonya Silvanna !!"


"Nyonya !!"


"Syukurlah ada nyonya di sini !!"


"Ssttt... dengarkan aku dulu ya !" kata Silvanna


Suara yang tadinya gaduh pun mulai hening


"Jadi.. layar di depan ini adalah Mantra untuk melihat tempat yang jauh ! Dan tempat yang sedang kalian lihat ini adalah.. Kerajaan Duca." kata Silvanna


-----------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !


Mohon dukungan dari teman teman ya !


Terima Kasih !

__ADS_1


-----------=======-----------


__ADS_2