Overpowered Unknown Hero

Overpowered Unknown Hero
Chapter 126 - Awal Pertempuran


__ADS_3

Pihak Para Dewa dan Para Iblis sudah siap untuk bertemu di medan pertempuran. Tempat tersebut berada di tanah kosong yang sangat luas dan ada sungai yang mengalir di tengahnya.


Tempat tersebut dikelilingi oleh pegunungan dan hutan hutan. Sebuah tempat yang di satu sisi hijau dan sisi lainnya gersang.


Di tempat persembunyian yang sudah hancur, Hellian menyampaikan sebuah pidato singkat guna membangkitkan semangat juang dari pasukan gabungan antar ras.


Ketika Hellian sedang menyampaikan pidatonya, sebuah pilar cahaya muncul dari langit.


"Pahlawan mungkin belum bangkit.. namun kita harus berperang sekarang juga. Oleh karena itu, aku memanggil beberapa bala bantuan." kata Hellian


Dari dalam pilar cahaya muncul beberapa orang. Orang orang itu adalah Zun (Dewa Matahari), Usei (Dewa Air), dan 1.000.000 Malaikat.


Semua orang bersorak melihat kedatangan dari Para Dewa dan 1.000.000 Malaikat. Hellian mengangkat pedangnya guna membakar semangat juang dari para prajuritnya.


Semua orang bersorak dengan mengangkat senjata mereka. Derowe memanggil hewan suci tunggangan Para Dewa. Hellian menaiki kuda merah dengan rambut api memimpin pasukan tersebut menuju ke medan pertempuran.


"(Kron, kami pergi dulu !)" kata Hellian dalam hatinya


Mereka pun berjalan menuju ke medan perang dengan gagah berani. Penghalang yang membuat tempat persembunyian sulit ditemukan dihilangkan.


Tiap tapakan dari Para Dewa membuat tanah sekitarnya yang sudah mati menjadi hijau kembali. Orang orang dari ras gabungan berjalan dengan mata yang berapi api dan memegang senjata mereka seolah sudah siap untuk mati.


"Kita akan memenangkan pertempuran ini !" teriak Hellian


"Ya !!" teriak pasukannya


Ketika mereka semua sudah keluar dari tempat persembunyian sepenuhnya, Ussehan merapalkan Mantra teleportasi untuk berpindah ke medan pertempuran.


Para Iblis yang dipimpin oleh Zlaruma sudah siap dengan peralatan tempurnya dan menunggu kedatangan dari Para Dewa. Mereka sudah berbaris dengan rapi dan tinggal mengibarkan bendera pertempuran.


Kerajaan Sweba dan Westebar sudah tidak sabar untuk segera berperang bahkan tak sedikit prajurit dari kedua kerajaan tersebut yang berteriak kegirangan layaknya iblis iblis yang ada.


Jumlah pasukan dari Para Iblis terdiri dari 8.000.000 iblis gabungan dari tingkat 2 3 6 dan 9, gabungan dari pasukan 8 Kerajaan Besar yang memiliki jumlah pasukan lebih dari 16.000.000, serta pasukan Raja Iblis asli yang terdiri dari 1.000.000 iblis tingkat 3 6 dan 8.


Sebuah lingkaran cahaya muncul dari kejauhan. Zlaruma yang sudah menduga bahwa itu adalah kedatangan dari pasukan Para Dewa langsung menyuruh seluruh pasukannya untuk diam.


"Ketika aku memberi tanda.." kata Zlaruma


Para Dewa dan pasukannya muncul dari lingkaran cahaya.

__ADS_1


".. silahkan berperang sesuka kalian." sambung Zlaruma


Semua pasukannya berteriak. Zlaruma langsung mengangkat satu tangannya ke depan dengan mengacungkan senjatanya. Hellian yang sudah menduga bahwa Zlaruma tidak akan berbasa basi langsung berteriak dan mengarahkan pasukannya untuk maju berperang.


Kedua pasukan langsung berlari dan mulai berperang.


Di tempat lainnya.


"Kron.."


Terdengar suara seorang gadis kecil yang memanggil namanya. Perlahan lahan, Kron mulai membuka matanya. Cahaya terang langsung membuat silau matanya.


".. di mana aku." kata Kron


"Wahh, lama tak berjumpa !" kata seorang gadis


Cahaya yang silau perlahan mulai menghilang. Kron melihat sekitar dan ia menyadari bahwa ada seseorang yang memegang kedua tangannya.


"Ligiel? Dagiel ?" kata Kron


"Akhirnya kau bangun !!" kata Ligiel


"Ti-Tidak! (Dagiel tutuplah mulutmu !)" kata Ligiel


Kron yang kebingungan bertanya mengapa dirinya berada di tempat ini, bukankah seharusnya dia berada di kediaman Para Dewa dan sedang mencoba mengembalikan tubuhnya.


Ligiel dan Dagiel menjelaskan bahwa kesadaran Kron lah yang dibawa ke tempat ini, bukan tubuhnya. Kron kemudian bertanya mengapa hanya kesadarannya saja dan kedua cahaya itu menjawab bahwa kesadaran atau ruh Kron sudah terlepas dari tubuhnya yang ada di Essaract.


Ligiel dan Dagiel menunjukkan jalan menuju ke tempat tubuh Kron berada. Kron mengikuti mereka dan sampai di depan sebuah pintu besar berwarna perak dengan garis berwarna putih.


Pintu tersebut dibuka oleh Ligiel dan Dagiel. Di tempat tersebut terdapat sebuah taman dengan seluruhnya berwarna putih. Di tengah taman terdapat sebuah air mancur dengan air berwarna putih susu.


Dekat air mancur terlihat sesosok orang dengan rambut putih silver berbadan besar penuh dengan luka sedang duduk dan memandang air mancur.


Kron yang tahu bahwa tubuh itu adalah miliknya langsung bertanya kepada Ligiel dan Dagiel mengenai apa yang harus ia lakukan. Ligiel dan Dagiel menjawab bahwa Kron hanya perlu menyatukan kesadarannya dengan tubuh lamanya tersebut.


Kron bertanya apa yang dimaksudkan namun Ligiel dan Dagiel tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, karena pada dasarnya mereka juga tidak tahu apa yang harus Kron lakukan selanjutnya.


Sambil berpikir Kron berjalan mendekati tubuh lamanya. Ia berjalan dan memutari bangku yang diduduki oleh tubuh lamanya. Ia memandangi tubuh lamanya dan tidak menemukan tanda tanda bahwa tubuh lamanya itu memiliki kesadaran.

__ADS_1


Kron mencoba duduk dengan posisi yang sama persis dengan tubuh lamanya. Dan ketika ia duduk dengan posisi yang sama persis dengan tubuh lamanya, sebuah kesakitan yang luar biasa ia rasakan.


Kron berteriak kesakitan. Teriakan tersebut masih menggunakan suara dari tubuh Essaractnya. Teriakan tersebut membuat tempat tersebut bergoyang. Pohon pohon yang ada mulai bertumbangan dan tanah untuk berpijak retak serta membuat lubang.


Perlahan lahan teriakan tersebut terdengar berasal dari dua suara. Ligiel dan Dagiel yang berpegangan pada pintu agar tidak terbang karena teriakan Kron menyadari bahwa perlahan lahan Kron mulai mendapatkan tubuhnya kembali.


Teriakan dua suara tersebut mulai sama kerasnya. Ligiel dan Dagiel menyemangati Kron dari kejauhan. Langit langit yang terbuat dari kaca dengan ketebalan yang sangat tebal mulai retak.


15 menit berlalu dan teriakan dari Kron mulai terdengar keras yang tubuh lamanya. Suara dari tubuh lamanya mulai mendominasi dan membuat langit langit kaca pecah.


Ligiel dan Dagiel terlempar dari ruangan tersebut dan pintu raksasa secara otomatis langsung tertutup. Ligiel dan Dagiel yang tersungkur di tanah langsung berdiri dan mencoba membuka pintu raksasa sekali lagi.


Namun pintu tersebut tidak bisa terbuka bahkan bergeming sedikitpun saja tidak. Ligiel dan Dagiel mencoba berbagai cara untuk membuka pintu tersebut namun usaha mereka sia sia saja.


Teriakan Kron berakhir 15 menit setelah Ligiel dan Dagiel terusir keluar. Teriakan yang tiba tiba berhenti membuat Ligiel dan Dagiel kebingungan.


Mereka saling melihat satu sama lain dengan memasang wajah bingung. Ketika Ligiel dan Dagiel sedang saling kebingungan, mereka merasakan suatu feeling untuk mundur beberapa langkah dari pintu tersebut.


Ligiel dan Dagiel melompat mundur. Dan benar saja, pintu raksasa tersebut terlempar jauh. Dari dalam ruangan tersebut tidak terlihat apa apa selain gelap gulita.


Asap perlahan keluar, dan tiba tiba leher dari Ligiel dan Dagiel terasa ada yang mencekik. Mereka terjatuh ke tanah dan berusaha untuk bernafas.


"Hahh.. hah.. hah.." kata Ligiel dan Dagiel yang baru bisa bernafas


Mereka memegang leher mereka dengan salah satu tangannya dan menghadapkan wajahnya ke arah depan. Pintu perak yang sudah hilang meninggalkan sebuang lubang yang sangat besar.


"Maaf membuat kalian menunggu." kata Kron


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !


Mohon dukungan dari teman teman ya !


Untuk kritik dan saran bisa dicantumkan di kolom komentar !


Terima Kasih !

__ADS_1


----------=======-----------


__ADS_2