
"Marquis, apa yang harus kita lakukan sekarang ?" tanya Aldizech
"T-Tuan..?" jawab Marquis yang terkejut
"Hm ? Mengapa kau terkejut ? Bukankah selama Yang Mulia tidak ada maka kau yang bisa menggantikannya dalam mengatur perang ini." kata Aldizech
"Be-begitukah.. tapi.. ada anda, dan para penasihat lainnya.." kata Marquis yang masih ragu
"Untuk apa kau ragu ? Percayalah pada kemampuanmu, jikalau kau masih tidak bisa percaya pada dirimu maka kami harus percaya pada siapa lagi ? Perintahkanlah kami dan akan kami laksanakan perintahmu !" kata Aldizech
Para Penasihat dan yang lain mengangguk setuju dengan perkataan Aldizech. Marquis yang mulai percaya akhirnya mengambil alih kursi kepemimpinan perang sementara menggantikan Kron yang sedang mengurus Sterben.
"(menarik nafas) Selama Yang Mulia tidak ada, maka kepemimpinan perang akan saya gantikan !" teriak Marquis dengan lantang
"Yaa !!" teriak pasukan Orion
Marquis pun langsung memberikan arahan ke masing masing petinggi. Arahan tersebut adalah pembagian tugas untuk penyerangan.
"Sisa pasukan musuh tinggal 9000 sedangkan kita masih memiliki 5000 orang yang bisa bertarung." kata Marquis
"Namun 6000 dari pasukan mereka sepertinya sedang dalam keraguan." kata Edward
"Benar, namun kita belum bisa mengasumsikan bahwa 6000 orang tersebut adalah kawan. Oleh karena itu, jangan menyerang 6000 orang tersebut selama 6000 orang tersebut tidak menyerang kita." kata Marquis
"Baik !" jawab para petinggi
"Berarti sisanya adalah 3000 orang.." kata Aldizech
"Ya.. meski 3000 orang namun 1000 diantaranya adalah pasukan khusus Kerajaan Sweba. Mereka terkenal sebagai benteng tak tertembus !" kata Marquis
"Berarti kita belum bisa mengibarkan bendera kemenangan kah.. ah, kecewanya !" kata Arthur
"Seperti biasa Tuan masih bisa bercanda di situasi seperti ini, hahaha.." kata Marquis dengan tawa kecil
"Hahaha ! Tentu saja !" tawa dari Arthur
"Baiklah.. sekarang kita sudah tidak bisa menggunakan taktik serangan kejutan lagi. Kita juga sudah tidak bisa melancarkan serangan dari belakang, mereka telah bersiap untuk menyambut serangan kita." kata Marquis
"Jadi.. yang kita harus lakukan adalah ?" tanya Alfonso
"Kita layani mereka dengan segenap kekuatan kita !" kata Marquis
"Ya !" kata para petinggi
Setelah membahas strategi secara singkat, para petinggi langsung kembali ke medan pertempuran dan menyerang secara berkelompok.
"Laksanakan sesuai rencana !" kata Marquis
"Ya !" jawab para petinggi
"Arthur !" teriak Aldizech
"Ya ! Kirimkan aku ke sana !" jawab Arthur
"Mantra : Tangan Raksasa !" kata Aldizech melempar Arthur
"Hiiiaaaghhh !! Synoo !!" teriak Arthur yang terbang menuju ke arah Syno dengan cepat
"A- Kalian ! Tutup jalurnya !" perintah Syno
"Baik !" jawab beberapa prajurit Sweba
Dengan cepat para prajurit Sweba langsung melompat ke arah Arthur. Arthur yang terkejut karena melihat pakaian yang dikenakan oleh orang orang yang melompat ke arahnya langsung merapalkan Mantra.
"(Jubah itu..) Mantra : Pedang Suci !" teriak Arthur mencoba menerobos para prajurit Sweba
"Mantra : Dinding Penghalang." kata para prajurit Sweba dengan kompak
Kedua Mantra tersebut beradu di langit. Arthur yang tadinya terbang perlahan lahan mulai jatuh karena kehabisan waktu. Para prajurit Sweba yang sudah bersiap menusuk Arthur dari bawah. Namun, Alfonso, Edward, dan King berhasil mengganggu para prajurit Sweba yang siap untuk menusuk Arthur dari bawah.
Tepat setelah Arthur menyentuh tanah, Silvanna melancarkan serangan Mantra dengan kekuatan yang besar langsung menuju ke arah Syno. Mantra tersebut adalah Mantra Es yang dipadatkan menjadi seperti kerucut. Syno yang lagi lagi terkejut dengan serangan yang dilancarkan pihak Orion memerintahkan Rias dan Yuno untuk menahan serangan tersebut.
"Kalian tahanlah serangan itu !" bentak Syno
"Ba-Baik Yang Mulia !" jawab Rias dan Yuno
"Mantra : Perlindungan Dewa." kata Rias dan Yuno
"Hohoo.. tidak semudah itu.. Jessica !" kata Silvanna
"Baik, Nyonya ! Mantra : Penggandaan !" kata Jessica menggandakan serangan Silvanna
"?!" kata Rias dan Yuno yang terkejut
Serangan yang dilancarkan Silvanna yang semula berasal dari satu arah berubah menjadi 3 arah. Serangan yang semula hanya datang dari arah depan tiba tiba ada disamping sampingnya juga.
"Y-Yang Mulia !" kata Rias dan Yuno
"Sial !" kata Syno yang langsung melompat dari singgahsananya
"Agh !" teriak Yuno dan Rias yang terkena serangan
"Sialan.. berani beraninya kalian membuatku turun dari singgahsana ku..!!" gumam Syno dengan emosi tanpa memperdulikan Yuno dan Rias
__ADS_1
"Yuno ! Rias !" kata Raptor yang langsung menghampiri
"Sial.. kondisi mereka kritis !" sambungnya
"Hoi Raptor.. tinggalkan saja mereka yang sudah tidak berguna." kata Syno dengan dingin
"Y-Yang Mulia.. apa, apa yang anda katakan..?" kata Raptor yang terkejut
"Kita sedang berperang ! Yang mau mati biarkan saja mati !" bentak Syno
"Kalau kau memang ingin ikut mati maka matilah bersama mereka !" sambungnya
"Y-Yang Mulia.." kata Raptor
"Ra-Raptor.. tu-turuti apa yang.. dikatakan Yang.. Mulia." kata Yuno
"Y-Ya.. tinggalkan.. saja kami." kata Rias
"Rias.. Yuno.." kata Raptor
"Cih ! Dasar pengecut." kata Syno
"Dengan nama Dewa Perang Hellian, aku mengutusmu. Mantra : Hellian Sword !" teriak Syno
Dari langit muncul pilar berwarna merah ke dengan gradient kuning yang menyala. Sangat terang hingga membuat siapa saja di pertempuran tersebut menjadi teralihkan pandangannya ke pilar tersebut.
"Cahaya itu.." kata Arthur
"Ya.. Mantra tingkat 2." kata Aldizech
"Ma-Mantra tingkat 2 ?" kata King yang terkejut
"Kalau sampai menggunakan Mantra tingkat 2 berarti dia benar benar bertujuan menghancurkan kita ya.." kata Silvanna
"Mantra tingkat 2.. adalah Mantra tingkat lanjutan dari Mantra tingkat 1 dengan kekuatan yang jauh lebih kuat daripada Mantra tingkat 1. Seandainya digunakan oleh seseorang maka sudah dipastikan orang tersebut ingin melenyapkan suatu kerajaan.." kata Jessica
Marquis hanya bisa terdiam membisu karena apa yang dilakukan oleh Syno sudah diluar perkiraan dan kemampuannya. Ia hanya bisa mempasrahkan semuanya pada Para Penasihat Kerajaan.
"Tuan Arthur, Tuan Aldizech, Nyonya Silvanna.. saya.." kata Marquis
"Ya, kami paham.. ini masih diluar kemampuanmu kan." kata Aldizech
"Serahkan urusan dia pada kami.. kau tangani sisanya !" teriak Arthur yang langsung merapalkan Mantra
"Atas nama Dewa Pedang, aku mengutusmu. Mantra : Excalibur !" teriak Arthur
"Atas nama Dewa Tanah, aku mengutus perwakilan daripada-Nya. Mantra : Summon ! Melogar !" teriak Aldizech
"Maju kau, Syno !" teriak Arthur
"Hiiagghh !!" teriak Para Penasihat Kerajaan dan Syno
Pertempuran antar keempatnya membuat orang orang yang ada disekitarnya gemetaran. Karena kekuatan yang dilancarkan oleh keempat orang tersebut sudah diluar nalar pikiran mereka.
"Kalian harus tetap fokus !" teriak Marquis
"Kita masih ada di medan perang ! Jangan sampai perhatian kalian teralihkan !" teriak Edward dan Alfonso
"Y-Yaa !!" teriak pasukan Orion
"Yang Mulia.. di mana Anda.." kata Marquis dalam hatinya
DI TEMPAT LAINNYA
"Namamu Sterben kan..?" tanya Kron
"Apa maumu ?!" bentak Sterben
"Hoho.. kau sama seperti Cerberus yang dulu ya.." kata Kron
"Bro.. jangan samakan aku dengan iblis lemah seperti dia !" kata Cerberus
"A-Cerberus.. sejak kapan kau sesombong ini.. kau dulu hanyalah seekor anjing penjaga biasa, sekarang sudah bisa bermulut besar ya.." kata Sterben
"Akan kubunuh kau sebelum kubunuh temanmu itu !" kata Sterben sembari mulai menyerang Cerberus dengan petirnya
"Ott.. tidak kena lambat.. Rasakan seranganku ini !" kata Cerberus yang menghindari dan membalas serangan Sterben
"A- Agh !" kata Sterben yang terkena sabetan ekor Cerberus
"Hm.. sejak kapan aku sekuat ini..? Atau jangan jangan.. memang kau yang lemah.." kata Cerberus mengompori
"Le-lemah..? Aku yang dijuluki Sterben Sang Badai Petir dikatakan lemah oleh anjing peliharaan sepertimu..? Jangan bercanda.. JANGAN BERCANDAA !!" teriak Sterben sembari mengeluarkan petir secara membabi buta di sekitarnya
"Bro.. dia akan menunjukkan serangan terkuatnya.." bisik Cerberus
"Hm? Baiklah.." kata Kron
__ADS_1
"Hoi Sterben ! Kau bisa mendengarku ?" kata Kron memanggil Sterben
"DIAMLAH KAU MANUSIA RENDAHAN !" jawab Sterben
"Heh.. aku tidak didengarkan kah.." kata Kron
"Mungkin harus ku beri sedikit peringatan.." kata Kron sembari melepaskan sedikit auranya
Tepat setelah Kron melepaskan sedikit auranya, Sterben langsung terdiam. Ia yang awalnya berteriak tidak jelas sembari menyerang dengan membabi buta dengan Petirnya tiba tiba terdiam dengan gemetaran serta ketakutan.
"Oi Sterben.. sekarang kau mengertikan.." kata Cerberus
Sterben hanya terdiam. Ia terdiam karena tahu apa yang dimaksudkan Cerberus. Dan ia juga paham akan seberapa jauh perbedaan kekuatan antara dirinya dengan Kron serta ia paham mengapa Cerberus bisa berpihak kepada Kron.
"Ada apa Sterben ? Mengapa kau terdiam ?" tanya Kron
"... Ti-tidak ada apa apa.." jawab Sterben dengan ketakutan
"Aku tidak akan memaksamu menjadi kawanku. Dan aku akan menawarkanmu 2 pilihan." kata Kron
Sterben pun mulai mendengarkan tawaran Kron.
"Yang pertama adalah kau angkat kaki dari wilayah kerajaanku beserta dengan orang orang dari Kerajaan Sweba yang berniat menyerang kerajaanku. Atau yang kedua adalah kau menjadi kawanku dan kau akan menjalani kehidupan yang lebih baik.. mungkin ?" kata Kron
Sterben pun terdiam. Karena ia tahu jikalau ia melawan maka ia akan seketika mati dan jikalau ia memilih pilihan pertama maka ia juga memiliki kemungkinan mati karena diserang oleh orang orang dari Kerajaan Sweba.
"Ba-baiklah.. aku akan menjadi bawahanmu.." kata Sterben
"Hm.. tidak usahlah." kata Kron
"A-apa maksud anda ?" kata Sterben yang terkejut
"Bukankah sudah kubilang untuk menjadi kawanku. Sejak kapan aku menawarimu sebagai bawahanku ?" kata Kron
Sterben pun terkejut dengan perkataan Kron. Karena selama ini ketika Ras Iblis dengan Ras yang berbeda bertemu maka kemungkinannya hanyalah menjadi bawahan atau menjadi tuan namun Kron dengan senang hati menawarinya untuk menjadi kawannya. Sangat jarang dan sulit ditemukan seseorang yang mau menerima kehadiran sesosok Iblis.
"Be-benarkah..?" tanya Sterben yang ragu
"Apa aku terlihat seperti bercanda..?"
MEDAN PERTEMPURAN
"Sialan kau Syno !" teriak Arthur yang menyerang dengan mengayunkan pedangnya ke leher Syno
"Hoi kalian !" teriak Syno memerintahkan bawahannya untuk menjadi tameng menghindari serangan Arthur
"A-!" kata Arthur yang membatalkan serangannya
"Cih.. sialan kau bocah ! Berani beraninya kau bermain kotor seperti itu !" teriak Arthur
Tangan golem raksasa langsung menghampiri wajah Syno. Namun Syno berhasil menghindari serangan golem raksasa tersebut. Ketika Syno sedang menghindari serangan golem tersebut, ia terkena tebasan air yang dilancarkan oleh Silvanna ke arahnya.
"Agh..!" kata Syno yang terlempar hingga menabrak tebing
"Tepat sasaran !" kata Silvanna
"Arthur, Silvanna, kalian tak apa ?" tanya Aldizech
"Ya !" jawab Arthur dan Silvanna
"Y-Yang Mulia !" teriak para prajurit khusus Sweba
"Dimana, dimana para pengawalnya ?!" teriak prajurit khusus Sweba lainnya
Para pengawal Syno nampak berdarah darah dan terkapar di depan singgahsana Syno.
"Ha ! Mantra : Teleportation !" kata Silvanna yang dengan sigap langsung memindahkan para pengawal Syno ke tempat perawatan
"Aku izin mundur dulu, ada yang sedang benar benar butuh bantuanku !" kata Silvanna
"Ya !" jawab Arthur dan Aldizech
"Baiklah.. sisanya tinggal menghabisinya." kata Arthur
----------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai Chapter ini !
Mohon dukungan dari teman teman ya !
Untuk kritik dan saran bisa dicantumkan di kolom komentar !
Terima Kasih !
----------=======-----------
__ADS_1